NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Senyap

Meski Ranti setuju untuk membantu putrinya, melawan keluarga Luneth membuatnya berpikir ribuan kali. Nama besar, pengaruh, dan kekuatan mereka bukan sesuatu yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.

Namun Rania benar. Candy adalah satu-satunya jalan agar Rania dan Bara bisa bersatu.

"Mama pasti mendukungmu," ucap Ranti akhirnya.

Rania tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Sejak awal dia tahu—ibunya tak pernah benar-benar akan meninggalkannya. Rasa takut itu hanya soal waktu. Dan waktu, bagi Rania, selalu bisa diatur.

"Gitu dong, Ma," balas Rania ringan.

"Tapi tidak dalam waktu dekat," sambung Ranti serius. "Rencana kita harus lebih matang. Mama nggak mau meninggalkan jejak, apalagi sampai ketahuan kalau kita yang jadi dalang perceraian Candy nanti."

Rania sudah siap membantah, tapi penjelasan itu cukup masuk akal. Perlahan, dia mengangguk.

Kali ini Ranti benar-benar bisa bernapas lega. Ia mendekat, lalu membelai rambut Rania dengan lembut—gerakan seorang ibu yang ingin melindungi, sekaligus mengorbankan apa pun.

"Sekarang kamu istirahat dulu. Kamu pasti capek. Besok Mama masakin makanan kesukaan kamu," ujarnya penuh kasih.

Rania mengangguk pelan. Namun, matanya tetap terbuka—dingin, penuh perhitungan. Dia tidak pernah pandai menunggu tanpa melakukan apa-apa.

Sementara itu, Clara yang mendengar percakapan mama dan kakaknya merasa gelisah di dalam kamar. Gadis yang baru menginjak usia remaja itu berjalan mondar-mandir, jemarinya saling meremas tanpa sadar.

Dia berusaha menyusun setiap potongan kata yang sempat tertangkap telinganya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti.

"Oh… sekarang aku paham!" serunya sambil menepuk dahi.

"Nama suaminya Kak Candy itu Revo Bara Luneth. Jadi, Revo itu Bara, dan Bara itu Revo!" Clara menumbuk telapak tangannya sendiri, wajahnya berseri penuh kebanggaan atas kesimpulan briliannya.

Tawa kecil lolos dari bibirnya. Namun, kesenangan itu hanya bertahan sesaat sebelum sebuah kenyataan menyusup ke benaknya.

"Tapi… Kak Rania dan Mama mau misahin Kak Candy sama Kak Revo," gumamnya pelan.

Clara menjatuhkan tubuh ke ranjang, menatap langit-langit kamar yang terasa terlalu sunyi.

"Aduh, aku harus gimana?" keluhnya lirih.

Dia menyayangi kedua kakaknya. Rania dengan sikap cueknya yang diam-diam selalu peduli, dan Candy yang hangat serta penuh perhatian. Clara tidak ingin memilih. Tidak ingin berpihak. Apalagi menjadi alasan hubungan mereka semakin renggang.

"Masalah orang dewasa memang ribet," ujarnya akhirnya, mengembuskan napas panjang.

Ranti kembali ke ruang makan. Kosong. Tidak ada siapa pun. Itu berarti Adrian sudah kembali ke kamar atau tenggelam dalam pekerjaannya.

Dengan langkah berat, dia mulai membereskan sisa makanan dan piring-piring kotor. Tangannya bergerak canggung. Seumur hidupnya, baru kali ini dia mencuci piring dan membersihkan rumah sendiri.

"Kalau begini terus, bisa-bisa kulitku kering," gerutunya sambil mengucek telapak tangan.

"Besok aku harus cari pembantu."

Dapur kembali sunyi, hanya suara air dan denting piring yang menemani pikirannya yang semakin kusut.

 

Malam itu, adalah malam kedua Candy tidur bersama seorang pria.

Meski sudah sah, tetap saja rasa canggung tidak mau pergi.

"Aduh…" Candy berjalan mondar-mandir di kamar, langkahnya pendek-pendek.

Gugup. Sangat gugup.

Jika malam sebelumnya dia terlalu lelah untuk memikirkan apa pun, maka malam ini berbeda. Kesadarannya utuh. Terlalu utuh. Mereka berada di ruangan yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi keheningan yang terasa… berat.

Pandangan Candy tanpa sadar tertuju pada ranjang yang tertata rapi. Terlalu rapi. Seolah-olah ranjang itu hidup, bergoyang dangdut, dan mengajaknya ikut bergoyang bersama.

"Hua… gimana dong ini," keluhnya sambil menjatuhkan diri ke lantai.

Wajahnya mengerut. Ekspresi sedih yang, kalau dipikir-pikir, tidak terlalu cantik. Tapi pikirannya justru melayang pada sosok Bu Siti, guru agamanya dulu, yang dengan suara tenang selalu menjelaskan kewajiban seorang istri terhadap suami.

Meski pernikahan ini bermula dari keterpaksaan, Candy tahu statusnya kini jelas. Dia adalah seorang istri. Dan kewajiban itu… nyata.

Masalahnya, jangankan membayangkan, dia bahkan tidak benar-benar tahu bagaimana hubungan suami istri seharusnya berjalan.

Di saat genting seperti ini, Candy mendadak menyesali satu kebiasaan buruknya.

Kenapa dulu dia selalu bolos setiap pelajaran biologi yang membahas alat reproduksi manusia?

"Ini baru benar-benar yang namanya penyesalan datang belakangan. Haish!" keluh Candy.

Kepalanya tertunduk, bahunya merosot seolah seluruh tenaga tersedot oleh sesuatu yang tak kasatmata. Sesaat kemudian, sebuah nama melintas di benaknya.

"Mbok Sarah!" pekiknya sambil berdiri tegak.

Candy berbalik hendak menuju pintu keluar, namun—

Bruk!

Pintu itu terbuka lebih dulu dari luar.

"Aw!" Candy memekik sambil mengusap hidungnya yang langsung perih.

Revo berdiri tepat di depannya. Pria itu hanya melirik sekilas, ekspresinya datar seolah tidak terjadi apa-apa. Ia lalu menutup pintu.

Klik.

Suara kunci yang diputar membuat mata Candy membulat sempurna.

"Mampus," gumamnya lirih.

Revo berjalan santai menjauh, memutar-mutar kunci kamar di jarinya dengan malas.

Siapa suruh menghinaku lansia, batinnya dingin.

Candy menunduk lesu. "Habislah aku…" ucapnya tanpa sadar.

Revo terkekeh kecil—pelan, nyaris tak terdengar—lalu melangkah menuju kamar mandi.

"Siapkan baju tidur," perintahnya singkat.

Tak ada jawaban. Tak ada pergerakan.

Revo berhenti, lalu berdehem cukup keras.

"Ehem."

"Apa?" tanya Candy lemas, masih berdiri di tempat.

"Pakaian tidur," ulang Revo sambil melirik ke arah walk-in closet.

Candy mengerjap. Baru sekarang dia ingat—sangat ingat—bahwa sejak beberapa jam lalu, statusnya telah resmi berubah.

"Oh…" gumamnya.

Namun, lidahnya bergerak lebih cepat dari pikirannya.

"Kan om punya tangan dan kaki," celetuk Candy.

Langkah Revo terhenti.

Ia menoleh perlahan. Tatapannya tenang, terlalu tenang.

"Bukannya aku juga punya istri?" balasnya datar.

Candy menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, padahal sejak tadi dia belum berhenti menelan.

Revo menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang Candy harapkan. Tidak tajam, tidak marah—justru itu yang membuat Candy makin salah tingkah.

"Cari di lemari," ucap Revo akhirnya, lalu berbalik.

Langkah pria itu tenang, stabil, seolah tidak sedang membuat seseorang di belakangnya hampir mati gaya.

Candy berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya tersadar.

"Oh… iya… iya," gumamnya terbata.

Tangannya bergerak membuka walk-in closet, tapi pikirannya tidak fokus sama sekali. Barisan pakaian di depannya tampak seperti kabur. Terlalu banyak. Terlalu rapi. Terlalu… asing.

Baju tidur… baju tidur… yang mana, sih? batinnya panik.

Jelas-jelas tadi pagi dia sudah menghafal semua isi lemari pria itu, tapi sekarang malah lupa total.

Dari arah kamar mandi terdengar suara pintu dibuka, lalu ditutup kembali. Tak lama kemudian, suara air mengalir menyusup keluar—pelan, tapi cukup jelas untuk membuat Candy membeku.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Astaga… dia mandi.

Candy meremas ujung bajunya sendiri. Wajahnya memanas tanpa aba-aba. Padahal tidak ada apa-apa. Benar-benar tidak ada apa-apa. Tapi justru itu yang membuat pikirannya berisik.

"Astaghfirullah… kuatkan hamba mu ini ya Allah," gumamnya pelan, lebih ke usaha menenangkan diri sendiri.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Satu set baju tidur akhirnya berhasil dia keluarkan—entah bagaimana caranya.

Candy memeluk pakaian itu ke dada, seolah itu satu-satunya pegangan hidupnya saat ini.

Suara air dari kamar mandi masih terdengar.

Dan setiap detiknya, rasa gugup itu bukannya berkurang—justru makin menjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!