Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekelebat Ingatan
“Kapan sih aku bisa ketemu dokter?” tanyaku dengan kesal sambil asal klik kuesioner kepribadian di komputer. Kita lagi di ruangan kecil yang entah kenapa disebut lab komputer.
Lantainya laminasi warna putih pucat berbintik abu-abu, dindingnya ditempeli poster bertuliskan "Tetap Sehat" dengan gambar anak kucing yang hampir jatuh dari dahan. Ruangan ini baunya aneh.
Aku mulai berpikir kalau perawat Agnes sebenarnya enggak pernah berniat membawaku ke dokter, dan semua ini cuma akal-akalan dia biar aku nurut.
Tes kepribadian ini tolol. Cuma pertanyaan benar-salah yang gampang banget buat dibohongi.
Aku malah paling suka di bagian pertanyaan soal apakah aku sayang sama ibu atau ayahku?
Mengingat aku enggak punya dua-duanya.
Jadi aku klik benar, aku sangat menyayangi mereka.
Jelas saja.
Kalau aku jujur dan berpikir kalau mereka ingin aku mengganti Ayah dan Ibu itu dengan Tante dan Paman, aku bakal bilang mereka pantas masuk neraka. Tapi ya, itu kalau aku orang jujur.
“Nanti,” desah Agnes sambil mengecek berkas-berkas yang sudah aku isi. Dia juga pegang dokumen lama.
Di formulir alergi, aku menulis semua obat yang bisa aku ingat, plus kentang goreng, sayuran, daging, milkshake merah, junk food, dan Perawat Agnes.
Jujur saja, dia sudah benci sama aku, jadi sekalian saja aku nikmati. Aku juga sengaja menulisnya berantakan sebagai balas dendam karena dia menusukku tadi.
Terus muncul pertanyaan di layar.
...16. Mengapa Anda TIDAK menjelaskan apa yang terjadi semalam?...
...Jawaban :...
...A. Semuanya agak kabur....
...B. Mungkin karena obat-obatan yang—...
“Kalian maksa aku buat nelannya,” potongku.
...17. Jiwa kamu kadang meninggalkan tubuh kamu....
...Jawaban:...
...A. Benar...
...B. Salah...
Aku mendengus dan mengklik benar.
“Cepetan. Sesi kelompok pertama kamu mulai dalam …” dia menengok jam tangannya. “... Sepuluh menit.”
Aku memutar mata dan melewati sekitar dua puluh pertanyaan. Lalu aku condong ke depan dan menemukan satu set pertanyaan yang belum pernah aku lihat di tes kepribadian mana pun sebelumnya.
...45. Apakah kamu memakan manusia?...
...Jawaban:...
...A. Benar...
...B. Salah...
Alisku naik, tapi aku lanjut baca.
...46. Sinar matahari membakar tubuh kamu?...
...Jawaban:...
...A. benar...
...B. Salah...
...47. Kamu membunuh lebih dari sepuluh orang?...
...Jawaban:...
...A. Benar...
...B. Salah...
Salah.
Enggak.
Belum terbunuh.
Tapi aku berharap aku sudah membunuh setidaknya sepuluh orang.
Aku garuk kepala.
“Kalau aku membunuh kurang dari sepuluh orang, aku harus klik Salah?” tanyaku ke Agnes dengan nada sarkas.
“Iya,” jawabnya datar, tanpa berkedip atau repot-repot melihat aku, dia sibuk mengetik dataku ke komputer.
“Kalau jumlahnya sembilan?”
“Klik salah!”
“Kalau aku cuma nonton temanku yang membunuh mereka?” lanjutku sambil tersenyum geli.
Membayangkan mayat-mayat tergantung tiba-tiba menyelonong ke kepalaku. Aku geleng-geleng, tapi otakku mendadak seperti diserbu lebah. Gambar-gambar berkelebat, pisau yang mengiris leher seorang pria, darah muncrat ke mana-mana.
Jantungku langsung berdegup tiga kali lipat. Keringat mengucur di dahi. Aku menunduk di atas keyboard sambil mengeluarkan suara tercekik karena kepalaku berdenyut keras.
“Apa-apaan sih ini?” erangku sambil pegang kepala dengan kedua tangan.
Barusan itu apaan?
“Nonton teman kamu membunuh enggak dihitung!” desah Agnes cuek sambil meninggalkan meja dan memasukkan berkasku ke map cokelat. Suaranya terdengar sangat jauh.
Ada sensasi panas berdenyut di pergelangan tanganku, dan aku refleks menggaruk lengan bajuku yang kebesaran. Ada sesuatu yang terjadi dua hari terakhir ini. Sesuatu yang membuatku ada di sini sampai-sampai aku bisa pakai kemeja cowok dan sekarang kepala aku dipenuhi kilasan-kilasan aneh tentang sesuatu yang benar-benar kacau.
Aku mengepalkan tangan dan menatap pembuluh darahku dengan mulut sedikit terbuka. Kulit pucatku membuat semuanya terlihat jelas. Pembuluh darah biru itu sekarang berubah menjadi warna gelap pekat.
Aku usap telapak tangan ke kulitku dan tarik napas dalam lewat gigi. Dengungan di kepalaku semakin parah saat aku melihat kilasan seseorang berjalan ke arah aku sambil membawa pisau, tangannya bersarung kulit hitam.
“Cepetan!” teriak Perawat Agnes dari belakangku.
Aku terkejut. Dengungan itu langsung berhenti, sensasi panasnya pun lenyap.