NovelToon NovelToon
Don`t Sleep With Dhamphyr!

Don`t Sleep With Dhamphyr!

Status: tamat
Genre:Vampir / Kutukan / Horor / Tumbal / Hantu / Iblis / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.

Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.

Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps. 21

Rowena terkekeh pelan. Ia merasa sangat senang menemukan Darcel di sana.

Jari-jarinya gemetar mencengkeram setir. Mulutnya langsung berair, seperti anjing Pavlov yang terbiasa diberi hadiah.

Inilah malaikat mautnya. Datang untuk membalas dendam. Pisau berlumuran darah di tangan, sarung tangan kulit yang tampak menggoda.

Rowena menyukainya.

Ia sangat menyukainya.

Ia bisa membayangkan hal-hal apa saja yang akan dilakukan pria seperti itu padanya. Bahkan sentuhan brutal dan kejam yang membuatnya merasa puas.

Belum lagi Darcel sempat menelepon polisi dan mencoba mengurungnya di rumah sakit jiwa.

“Rowena, Rowena, Rowena,” desah Darcel sambil mengetukkan ujung pisau ke rahangnya yang bersih dan tegas. “Kita benar-benar perlu melatih kamu supaya tidak melakukan hal-hal berisiko.”

“Kamu mau mengubah aku jadi vampir?” tanya Rowena.

“Tidak,” jawab Darcel singkat. Mata ungunya mengunci tatapan Rowena.

Rowena menoleh ke sekeliling, ke arah mayat-mayat itu, hanya ingin membebaskan kepalanya dari mobil yang terasa semakin sempit.

“Lalu?”

Darcel tersenyum padanya. Tatapan mereka saling bertaut.

Apa pun yang disembunyikan pria itu di balik topengnya membuat Rowena gugup sekaligus bersemangat. Mungkin sejak pertama kali melihat Darcel, ia sudah merasakan jati diri aslinya. Mungkin itulah yang membuatnya tertarik, meski ia tidak menyadarinya.

Suara jangkrik dan dengungan lampu pom bensin terdengar nyaring. Darcel mengatakan Rowena bukan vampir, padahal ia meminum darahnya. Dan kini, pria itu ingin memasukkannya ke rumah sakit jiwa.

“Oh, atau kamu mau aku jadi peliharaan kamu?” teriak Rowena.

“Hm, mungkin,” jawab Darcel sambil sedikit memiringkan kepala.

“Oke,” desis Rowena. Amarah mulai naik, mengikis rasa takut dan cemas. Jari-jarinya mencengkeram gagang pintu mobil.

Belum sempat ia menariknya, tangan Darcel sudah mencengkeramnya lebih dulu. Sandaran kursi diturunkan, lalu tubuh pria itu dengan cepat menindihnya.

Tubuh Darcel melayang di atasnya, otot-otot lentur di balik lengannya berlumuran darah.

Gairah itu meledak, menyapu seluruh indranya. Tulang belikat Rowena menempel ke kursi. Rasa minuman stroberi masih tertinggal di mulutnya. Ia sadar betul betapa berbahayanya pria yang kini menindihnya.

Pisau itu masih berada di tangan Darcel, hanya beberapa inci dari wajahnya, entah disengaja atau tidak.

Mata ungu Darcel tampak lebih gelap di dalam mobil. Lututnya menekan di antara paha Rowena saat ia menunduk di atas tubuhnya. Dua jari bersarung tangan menekan bibir Rowena, meraba, merasakan lidahnya, memaksa mulutnya terbuka.

Jari-jari itu menyusuri lidahnya, menggenggam, membelai. Mata Darcel menyala penuh nafsu ketika Rowena membiarkannya menjelajahi bagian dalam mulutnya.

“Kamu gadis baik, Rowena,” gumamnya.

Rowena tidak sanggup menolak kenikmatan itu.

Inilah yang selalu ia inginkan. Darcel merebut ruang pribadinya, menerobos tubuhnya. Jantungnya berdengung ketika jari pria itu mengusap giginya, memastikan apakah ia memiliki taring.

Tubuhnya bergetar dan ia menggeliat. Gerakan itu membuatnya semakin sadar akan lutut Darcel yang menekan di antara pahanya, menyentuh bagian paling sensitif. Rowena tidak tahu apakah pria itu sengaja membuat tubuhnya kacau atau tidak.

“Tunjukkan taring kecilmu,” bisik Darcel.

Lalu denyut nadi penuh darah itu tiba-tiba berada di antara bibir Rowena, persis seperti malam sebelumnya. Erangan berat lolos dari tenggorokannya saat rasa itu menyerbu.

Mungkin darah itu meracuni pikirannya, menjadikannya budak, menghapus akal sehatnya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada darah Darcel. Pada teksturnya yang mengalir, panas, dan hidup.

Rasanya kembali memenuhi mulutnya, mengecap di giginya, menempel di lidahnya. Saat Darcel mendesah pelan, Rowena ambruk dalam kenikmatan yang membuatnya sadar bahwa ia menyukainya.

Kali ini Darcel membiarkannya menjilat dan menghisap sepuasnya. Hingga kepalanya terasa ringan, tubuhnya melemas, dan ia merasakan darah itu mengalir dari ujung kukunya yang terkelupas hingga ke akar rambutnya.

Darah menetes dari sudut mulutnya, membasahi kerah bajunya. Rowena tidak peduli jika setelah ini mereka harus saling berhadapan. Atau jika Darcel memiliki rencana untuk mengkhianatinya. Saat ini hanya ada dirinya dan darah vampir itu yang mengalir ke dalam tubuhnya.

Ketika akhirnya ia melepaskan pergelangan tangan Darcel, pria itu kembali memasukkan jarinya ke mulut Rowena, meraba giginya. Senyum gelap terukir di wajah tampannya.

“Itu dia, Rowena. Anak baik,” gumam Darcel.

Dada Rowena langsung berdebar. Ia menyukai saat Darcel menyebutnya baik, saat ia berhasil membuat pria itu senang.

“Bajumu kotor,” kata Darcel sambil berkerut. Ia lalu condong lebih dekat dan membisiki telinga Rowena.

“Nah, dhamphyr kecil, lupakan soal datang ke rumahku malam itu. Lupakan juga soal hari ini.”

Pikiran Rowena langsung berputar seperti ramuan yang diaduk. Kenangan-kenangan itu tersapu begitu cepat hingga ia tidak sanggup mempertahankan apa pun.

Ia mendorong dada Darcel, mencoba menjauh. Ia tidak ingin lupa. Justru karena kejadian semalam, ia menyadari bahwa Darcel adalah belahan jiwanya. Mereka diciptakan untuk satu sama lain. Darcel mencoba menghapus takdir. Ia mencoba menjauh darinya.

Rowena meronta, memukuli tubuh Darcel, mencakar lengannya yang terbuka, meraih gagang pintu. Ia menjerit putus asa dan frustrasi, tetapi hanya mayat-mayat di sekitar mereka yang menjadi saksi saat ingatannya perlahan menghilang.

Darcel mencengkeram kedua pergelangan tangannya, membuatnya nyeri. Lutut pria itu menekan lebih keras di antara pahanya, membuat tubuh Rowena kembali bergetar. Darcel tahu persis apa yang ia lakukan, menggesekkan lututnya ke titik sensitif, membuat tubuh Rowena semakin basah.

Putingnya mengeras, terasa geli, sementara tangannya masih berusaha mencakar dan mendorong. Tubuh Darcel menempel erat padanya, mulut pria itu berada di dekat telinganya. Napasnya pelan dan berat, membuat bulu kuduk Rowena meremang.

Saat itu Rowena sadar, ia tidak bisa kabur.

“Lupakan aku,” bisik suara berat Darcel di telinganya. Kata-kata itu menyusup ke dalam kepalanya, menembus setiap celah. Desahan lolos dari tenggorokannya.

“Bajingan,” erangnya di leher Darcel.

Pandangan Rowena mengabur dan menggelap saat Darcel mundur dan menatapnya. Wajah puas pria itu terlihat samar ketika ia menarik sehelai rambut Rowena yang tebal dan merah tua, memasukkannya ke dalam mulut, mengisapnya sambil menarik dengan bibir yang menggoda.

“Lupakan aku.”

Suara itu terus bergema.

Dan Rowena pun tertidur.

1
Adellia❤
ya darcel rowena... siapa lagi😂😂
Adellia❤
hah... kok Apollo enggak mati😂😂
DityaR 🌾: dia itu serigala kak,
total 3 replies
Adellia❤
hhh ya mana bisa ketawa lah km beracun yah di mana" cogann itu beracun😂😂
Adellia❤: rumus dunia lah semua cewek di dunia ini tau kalo semua cogan itu beracun 😂😂
total 2 replies
Adellia❤
yaah di hapus lagi ingatan rowena padahal itu penting buat rowena..
Adellia❤
ampuun deh darcel👻👻
Adellia❤
sikopat itu serius rupanya..
Adellia❤
hiii merinding sebadan" tuh orang bener" sikopat eh bukan orang dink👻
Adellia❤
km di cap pasien gila rowena tapi dokter terapi km dy orang gila yg sebenernya👻👻
Adellia❤
serruu karna gak cuman gairah pingin di tindih tapi juga gairah pingin minun darah👻👻👻
Adellia❤
hhhh rowenaaa🤦‍♀️🤦‍♀️
Adellia❤
hah... menguntit??? berati ilmu dr darcel buat menghapus ingatan itu enggak mempan??? 😱😱
DityaR 🌾: kan yg di hapus ingatan hari itu aja kak 🙏
total 1 replies
Adellia❤
sereem tapi seruu sekaligus menegangkan semangaatt thorr tulisanmu bagusss💪💪
Adellia❤
sama" senyum tapi beda arti.. hati" rowena dy vampir berbulu dombaa🤗🤗
Adellia❤
dr darcel bolehkah q bertemu km q ingin menghapus ingatanku sama seseorang😭😭
Adellia❤: boleh gak kasih no wa dr darcel thorr pliiisss🙏🙏
total 2 replies
Adellia❤
Torvald... heyyy emang km punya mental🤣🤣 kalo punya mah km enggak bakal tinggal di paragon ✌
Adellia❤
palingan km bakal di gigit sama darcel ..
Adellia❤: itu apa anu😱
total 4 replies
Adellia❤
astaga.. ngegantung🤔
Adellia❤: ciyuuss???
total 14 replies
Adellia❤
ya ampun pak dokter chat mulu... sugardady 😍
Rainn Ziella
Beuhh!
Rainn Ziella
Pelit kali 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!