Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Retak Pertama
Lin Feiyan duduk di bangku taman kecil, tubuhnya terasa lelah setelah latihan malam sebelumnya. Udara dingin menembus lapisan pakaiannya, namun rasa dingin itu tidak lebih menonjol daripada kekosongan yang terasa di dadanya.
Ia menunduk, jari-jarinya menyentuh permukaan kayu yang dingin, mencari pegangan—bukan pada fisiknya, tetapi pada hatinya yang samar.
Langkah lembut terdengar di belakangnya. Ia menoleh, dan Lin Yue berdiri di sana, senyum hangat menempel di wajahnya. Tidak ada tergesa-gesa, tidak ada tekanan.
Hanya kehadiran yang terasa begitu alami, seolah sudah lama ada di samping Feiyan. “Aku datang menemanimu,” ucap Lin Yue dengan suara lembut, penuh ketulusan yang membuat Feiyan sedikit terhenyak.
Feiyan menelan ludah. “Terima kasih,” jawabnya pelan. Hatinya terasa aneh; ada rasa nyaman, namun sesuatu di dalamnya terasa rawan.
Ia ingin percaya bahwa kehangatan itu nyata, bahwa Lin Yue benar-benar peduli. Namun sebuah ketakutan samar mulai menempel di pikirannya—apakah perasaan ini sepenuhnya miliknya sendiri?
Lin Yue duduk di bangku yang sama, jaraknya cukup dekat untuk terasa hangat, tapi tidak memaksa. “Feiyan, kau terlihat lelah,” ucapnya sambil menatap mata Feiyan. Tidak ada pertanyaan yang menekan, hanya pengamatan lembut.
Feiyan menunduk, menarik napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang sesak. Void Crack di dada mulai berdenyut, halus namun jelas, menandai adanya ruang kosong yang baru saja muncul.
Lin Yue meraih tangan Feiyan perlahan, sentuhan ringan yang nyaris tidak terasa. “Kadang, ketika hati terlalu lelah, yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang mendengarkan,” katanya lembut.
Kata-kata itu seperti aliran hangat yang menembus kekosongan dalam diri Feiyan. Namun bersamaan dengan itu, ada sensasi lain—halus, asing, yang membuatnya ragu.
Perasaan yang muncul bercampur dengan perasaan asli Feiyan sendiri. Ia tidak bisa membedakan mana rasa sayang yang tulus, mana yang mungkin ditanamkan Lin Yue dengan senyum dan kelembutan itu.
Jantungnya berdebar pelan, Void Crack bereaksi lebih jelas, berdenyut dengan ritme yang membuat hatinya terasa sedikit retak. Ada bagian dirinya yang ingin menolak, namun tangan yang menahan itu terasa begitu menenangkan sehingga ia menyerah, sedikit demi sedikit.
“Feiyan…” suara Lin Yue lembut, hampir seperti bisikan angin. “Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri. Aku di sini.” Kata-kata itu menembus lapisan ketakutan yang selama ini menumpuk di dada Feiyan.
Ia menatap Lin Yue, mata sedikit berkaca-kaca, perasaan hangat bercampur rasa kehilangan kendali membuatnya gemetar.
Void Crack di dadanya berdenyut lebih nyata, seperti ruang kosong yang terisi perlahan oleh ketergantungan baru. Feiyan menunduk, mencoba menenangkan diri, namun ia merasakan satu hal yang menakutkan—rasa kesepian yang sebelumnya ia kenal kini berubah bentuk.
Ia merasa kehilangan sebagian dari dirinya sendiri, namun tidak bisa melepaskan perasaan hangat yang muncul dari kehadiran Lin Yue.
Lin Yue tersenyum tipis, menyadari efek yang telah tercipta. Tidak perlu kata-kata panjang, tidak perlu pengakuan. Senyum itu sendiri sudah cukup untuk menandai kemenangan halusnya.
Ia menatap Feiyan lama, menyaksikan bagaimana setiap reaksi, setiap keraguan, dan setiap titisan ketergantungan mulai membentuk ikatan yang sulit dilepaskan.
Dalam hatinya, ia bergumam pelan: “Dia akhirnya mulai mengerti siapa yang menguasai hatinya.”
Feiyan menarik napas dalam-dalam, tubuhnya lelah, namun ada kehangatan yang menempel di hati. Ia berjalan pulang, langkahnya berat namun ada rasa penasaran yang membuatnya terus melangkah.
Di dadanya, Void Crack berdenyut pelan, tanda pertama dari hati yang retak, menunggu tekanan berikutnya.
Di kejauhan, Lin Yue berdiri di bawah cahaya rembulan, senyumnya masih menempel, penuh kepuasan.
Ia tahu satu hal pasti: kontrolnya kini mulai sempurna, dan hati Feiyan telah membuka pintu pertama untuk dikendalikan.
Malam itu sunyi, namun dalam keheningan, ikatan yang beracun itu perlahan mengakar, siap untuk berkembang lebih dalam lagi.
Feiyan berdiri di ambang pintu rumahnya, tubuhnya terasa berat seolah setiap langkah membutuhkan usaha ekstra.
Ia menunduk, mencoba mengatur napasnya yang masih berdebar, sementara Void Crack di dadanya berdenyut samar—tetapi cukup untuk mengingatkannya akan kekosongan yang baru saja muncul.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri, namun perasaan kehilangan kendali itu tetap menempel, hangat dan menyakitkan.
Langkah lembut terdengar dari belakangnya. Lin Yue muncul lagi, senyum tipis tetap menempel di wajahnya.
Kali ini ia tidak langsung berbicara, hanya berdiri di dekat Feiyan, memberinya ruang namun tetap terasa mengawasi.
Keheningan itu berat, tetapi bagi Feiyan, ada kenyamanan yang aneh—rasa ditemani yang bercampur dengan ketakutan halus bahwa ia tidak bisa sepenuhnya memahami perasaannya sendiri.
“Aku… aku tidak tahu,” ucap Feiyan akhirnya, suaranya hampir berbisik. “Perasaanku… campur aduk. Aku… bingung.”
Kata-kata itu keluar tanpa direncanakan, tubuhnya sedikit gemetar. Void Crack di dadanya berdenyut lebih jelas, seakan merespons kebingungan batinnya.
Lin Yue mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap mata Feiyan dengan lembut. “Itu wajar,” katanya. “Kadang hati kita bisa terasa penuh, tapi juga kosong. Kau hanya perlu membiarkan perasaan itu ada.”
Sentuhannya ringan, hampir tidak terasa, namun cukup untuk membuat Feiyan menunduk, merasakan jantungnya berdetak tidak teratur.
Feiyan menelan ludah, mencoba menyingkirkan rasa tidak nyaman yang merayap di hatinya. Namun semakin ia menahan, semakin jelas rasa ketergantungan itu muncul.
Setiap detik yang ia habiskan dekat Lin Yue membuatnya ingin tetap berada di sisi itu—ingin mendapatkan pengakuan, ingin merasakan hangatnya perhatian, meski itu menimbulkan sakit yang lembut di dada.
Void Crack kini berdetak pelan namun pasti, menandai retakan batin yang baru terbentuk.
Lin Yue tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih puas.
Senyum itu memikat dan berbahaya sekaligus, menandai bahwa ikatan emosional Feiyan mulai melekat, sulit dilepaskan.
Ia menepuk bahu Feiyan perlahan, tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat Feiyan merasa aman. “Kau tidak sendirian,” ucapnya lembut. “Dan kau tidak perlu menanggung semuanya sendiri.”
Kata-kata itu menempel di pikiran Feiyan, seperti lilin kecil yang menyala di kegelapan hatinya.
Ia menunduk, hampir tidak menyadari air mata yang menetes di pipinya. Bukan karena kesedihan semata, tapi karena kelegaan yang bercampur rasa sakit—kehilangan kendali atas hati sendiri.
Void Crack berdenyut satu kali, pelan namun jelas, menandai hati yang retak pertama kali.
Feiyan menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur diri. Namun setiap kali matanya menatap Lin Yue, ketergantungan itu kembali muncul, hangat dan menyesakkan sekaligus.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah, tubuhnya terasa lelah, namun hatinya terikat oleh perasaan yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Di luar, Lin Yue tetap berdiri sejenak, menatap rumah Feiyan dari kejauhan. Senyum tipis itu masih melekat, penuh kepuasan.
Ia tahu bahwa langkah pertamanya berhasil: Feiyan kini merasakan perasaan yang ia ciptakan sendiri—satu retakan batin yang menjadi jalan untuk kontrol lebih dalam.
Malam itu sunyi, namun dalam keheningan, perasaan yang bercampur antara ketergantungan dan kehilangan kendali mulai mengakar, siap untuk berkembang lebih jauh lagi.