Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 35
"Baiklah, kita akan menyelenggarakan pesta meriah itu dua bulan lagi"
Semuanya sepakat, hanya saja bagi Darren itu terlalu lama. Ia telah menunggu sepuluh tahun lamanya dan sekarang harus menunggu dua bulan lagi
Tapi ini semua permintaan Reya, wanita itu pasti ingin tampil sempurna dihari pernikahan nya
***
"Gimana Rey? Betah kerja disini?" Tanya seorang pria pada Reyhan
Reyhan telah bekerja di sebuah pabrik garmen selama hampir satu bulan, Sekarang ia benar-benar jauh dari Arlo putranya
Beruntung Reya masih mengizinkannya untuk melakukan panggilan video demi melihat wajah sang putra
Reyhan juga telah mendengar jika mantan istrinya itu akan menikah kurang dari satu bulan lagi
Ia ikut senang jika Reya kembali menemukan cintanya, menyesal juga rasanya tak berguna
"Rey!" Suara rekan kerjanya membuat pria itu tersadar dari lamunannya
"Iya Gal?"
"Ngelamun yaa?" Pria bernama Galih itu melihat jika wajah sahabatnya itu tampak murung
"Kangen anak aja! Udah sebulan gak ketemu!" Jawab Reyhan
"Sabar yaa Rey, namanya juga kerja. Kita kerja gini kan juga buat anak!" Ucap Galih memberi semangat
Keduanya kesini untuk merantau, jika Reyhan berstatus duda maka Galih adalah suami serta ayah dari dua anak
Tak jarang Reyhan merasa cemburu jika sahabatnya itu tengah melakukan panggilan video pada keluarganya
Sore harinya keduanya kembali ke tempat tinggal mereka, keduanya memang tinggal bersama disebuah kontrakan kecil
"Mampir makan dulu yuk!" Ajak Galih dan Reyhan setuju saja "Disana aja! Warung sotonya kayaknya rame"
Keduanya mampir kesebuah warung soto. Duduk disebuah kursi, sepertinya memang tempat ini enak
Hari hampir malam tapi warung pinggir jalan ini tetap saja bertambah ramai
"Mau pesen apa mas?" Seorang wanita datang kemeja Reyhan
"Sotonya dua ya mbak!"
Jika Galih menjawab maka Reyhan diam saja, ia seperti mengenal suara yang baru saja ia dengar
Sudah beberapa bulan dan dirinya tidak akan salah. Reyhan yang duduk membelakangi wanita pelayan itu berbalik
Begitu matanya bertemu manik hitam nan bulat keduanya diam. Seolah disekitar mereka tak ada apapun
"Rani?"
Wanita itu diam, tak banyak yang berubah. Dia masih Rani yang sama, cantik dan teduh
Reyhan membawa pandangannya pada perut wanita itu yang membuncit. Jika dihitung dari terakhir kali keduanya tidak bertemu, mungkin usia kandungan Rani telah berusia delapan bulan
"Ditunggu yaa mas!"
Wanita cantik itu hendak berlalu namun Reyhanbdengan cepat mencegat dengan mencengkram lengannya
"Tunggu Rani!"
"Maaf mas!" Rani berlakon seolah dirinya tak mengenal pria dihadapannya ini
"Rani aku mau ngomong!"
Rani melihat sekelilingnya, disana ada banyak sekali orang, dirinya bisa kehilangan pekerjaan jika membuat keributan di tempat ini
"Kita bicara diluar!"
Wanita hamil itu berjalan lebih dulu diikuti oleh Reyhan dibelakangnya. Galih yang melihat itu jelas dibuat bingung
Ia tak tahu apa hubungan yang Reyhan miliki bersama wanita yang tengah hamil itu
"Kamu mau bicara apa lagi?" Rani terlihat marah, dadanya naik turun. Sesekali ia mengusap perutnya yang terasa kram
"Aku nyari kamu selama ini" Ujar Reyhan pada akhirnya
Ia tak bohong, setelah mengetahui jika wanita itu hamil, Reyhan selalu mencari keberadaan nya
"Untuk apa? Aku sudah nyaman dengan hidupku sekarang Rey!"
"Aku akan bertanggung jawab atas anak ini!" Reyhan membawa pandangannya pada perut buncit yang berisi buah cintanya bersama Rani
Hubungan terlarang itu pada akhirnya menumbuhkan kehidupan baru di dalam perut Rani
"Aku gak butuh tanggung jawab dari siapapun!" Jawab Rani
Wajahnya terlihat penuh amarah. Rani telah menerima semuanya, selama berbulan-bulan ia hidup seorang diri dengan segala kekurangan
Ia hanya ingin hidup tenang bersama anaknya. Ia tak butuh siapapun termasuk ayah dari bayi ini
Rani pikir ia tak akan bertemu orang-orang dari masa lalunya setelah pergi sejauh ini, tapi takdir malah mempertemukan dirinya dengan orang yang paling tidak ingin ia temui
"Bagaimanapun juga aku punya hak atas anak ini Rani!" Keukeh Reyhan
"Hak? Kamu punya keluarga Reyhan, aku yang bodoh karena mencintai milik orang lain!" Tanpa diminta, air mata itu luruh dari manik berwarna hitam itu
"Aku dan Reya telah berpisah!" Ujar Reyhan membuat Rani terkejut
"Apa Reya tau tentang kita?"
"Ya, Reya marah dan memilih untuk mengakhiri pernikahan kami!" Jawab Reyhan
Mendengar itu membuat rasa bersalah dalam hatinya bertambah, sebagai wanita, harusnya ia tidak menghancurkan rumah tangga wanita lain
"Reya pasti sangat terluka, aku sudah menghancurkan hati wanita lain!" Lirihnya
"Reya telah melanjutkan hidupnya, Rani. Dia akan segera menikah dalam waktu dekat"
Rani dibuat terkejut, apa karena itu Reyhan memilih untuk pergi sejauh ini
Reyhan meraih tangan wanita itu, Rani berusaha menepis namun Reyhan memaksa
"Reya telah melanjutkan hidupnya, izinkan aku untuk bertanggung jawab atas kamu dan anak kita
Reyhan berusaha meyakinkan wanita itu, Rani masih diam, ia tak tahu harus menjawab apa
Dirinya hanya ingin merasa tenang, selama ini juga ia baik-baik saja. Ia tak butuh siapapun termasuk Reyhan
"Aku gak butuh!"
"Anak ini perlu ayahnya, Rani! Kamu gak bisa bersikap egois!" Reyhan Keukeh, sebagai ayah dirinya jelas memiliki hak atas bayi yang dikandung Rani
"Selama ini kamu kemana Rey? Malam itu aku ketakutan! Ayah ngusir aku dari rumah"
Pada akhirnya Rani meluapkan emosinya, ia diam karena tak ingin membuat keributan tapi Reyhan bicara seenaknya
"Aku telepon kamu tapi kamu mengabaikannya" Ingatan Reyhan kembali pada malam saat dirinya mengabaikan telepon dari Rani
Ia tak tahu jika malam itu wanita dihadapannya ini sangat ketakutan. Diusir oleh ayahnya, lalu terlunta seorang diri hingga berada dikota ini
"Maafkan aku!"
"Pergi dari sini Rey! Aku lagi sibuk!" Rani hendak masuk tapi Reyhan kembali menarik lengannya
"Tapi aku tetap ingin bertanggung jawab!"
Rani melepas paksa genggaman tangan Reyhan pada lengannya "Anak aku gak butuh ayahnya!"
Setelah mengatakan itu, Rani berlalu masuk kedalam warung tersebut. Meninggalkan Reyhan dengan segala rasa bersalahnya
"Kamu gak jadi makan Rey?" Tanya Galih begitu ia keluar dari warung soto tersebut
Ia makan lebih dulu karena tak ingin mengganggu sahabatnya yang sepertinya tengah bicara serius
"Aku gak laper! Kita pulang!"
Pada akhirnya Reyhan meninggalkan Rani disana, ia cukup tahu jika wanita itu ada dikota ini
Reyhan akan mengunjungi wanita itu lagi besok "Aku tetap akan bertanggung jawab atas bayi itu Rani!"
Reyhan bergumam lalu menjauh dari warung tersebut, sementara Rani kembali bekerja
Wanita cantik itu tidak lagi fokus pada pekerjaannya, sungguh, pertemuan dengan Reyhan hari ini tak pernah ia bayangkan
"Kenapa aku harus ketemu lagi sama dia!"
Sesekali Rani mengelus perutnya, mungkin karena stres membuat perutnya terasa tegang