Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jebakan Batman dan Senyum Kemenangan
Di taman belakang sekolah yang sepi, Clarissa masih berusaha membujuk Maura. Ia tidak tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya terekam jelas dan dikirim langsung ke perangkat Rangga.
"Pikirkan baik-baik, Maura," ujar Clarissa dengan nada keibuan yang palsu. "Arazka itu egois. Dia hanya peduli pada kekuasaannya. Kalau kamu memberikan data itu padaku, aku bisa menjamin beasiswa kuliahmu ke luar negeri aman. Aku punya koneksinya."
Maura berpura-pura menyeka air mata, jari-jarinya menyentuh mikrofon di kerah. "Tapi... kalau Arazka tahu, dia bisa menghancurkanku, Kak."
"Dia tidak akan tahu. Saat ini dia sedang sibuk dengan egonya yang terluka. Ayo, Maura. Bergabunglah dengan pihak yang menang."
🎙️ Checkmate!
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari balik pohon beringin besar.
"Akting yang bagus, Kak Clarissa. Benar-benar kelas kakap," ujar Arazka sambil melangkah keluar dari kegelapan. Wajahnya tidak lagi menunjukkan amarah, melainkan seringai kemenangan yang mengerikan.
Clarissa berdiri dengan kaget. "Arazka? Kamu... bukannya kalian sedang bertengkar?"
"Kita memang sering bertengkar," sahut Maura yang tiba-tiba berdiri tegak, menghapus air mata palsunya dengan senyum dingin. "Tapi kita tidak pernah sebodoh itu untuk percaya pada orang luar seperti Kakak."
Rangga, Asean, dan Miko muncul dari arah belakang Clarissa, menutup jalan keluar. Rangga memegang sebuah tablet yang memperlihatkan grafik rekaman suara.
"Data internal ALVEGAR yang Kakak incar itu sebenarnya sudah gue ganti dengan virus trojan," ujar Rangga dengan nada datar tanpa emosi. "Begitu Kakak mencoba membukanya dengan perangkat Kakak, semua data pribadi dan bukti transfer Kakak ke pihak Black Roses akan terkirim ke server kepolisian dan dewan sekolah."
Wajah Clarissa mendadak pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam kandang singa yang sengaja dibuka.
🐍 Ular yang Terpojok
"Kalian... kalian anak kecil nggak tahu apa-apa!" teriak Clarissa frustrasi. "Kalian pikir ALVEGAR itu apa? Cuma organisasi sekolah? Ada kepentingan besar di balik dana sumbangan itu!"
Arazka melangkah mendekat, mengintimidasi Clarissa dengan tatapannya. "Apapun kepentingan itu, selama gue ketuanya, nggak ada yang boleh nyentuh anggota gue. Terutama Maura."
Arazka menoleh ke arah Miko. "Ko, panggil satpam dan minta mereka hubungi komite sekolah. Bilang ada alumni yang mencoba melakukan pencurian data dan sabotase."
"Siap, Bos! Akhirnya drama ini selesai!" seru Miko semangat.
🌑 Benih Keraguan Rangga
Setelah Clarissa dibawa pergi, suasana di markas ALVEGAR sedikit lega. Namun, ada satu momen yang luput dari perhatian yang lain.
Arazka merangkul bahu Maura. "Loe hebat tadi. Akting nangis loe hampir bikin gue pengen meluk beneran di depan umum."
Maura tertawa kecil. "Loe juga, teriaknya kenceng banget. Hampir aja gue budek."
Namun, di sudut ruangan, Rangga menatap mereka berdua dengan tatapan yang sangat dalam dan sulit diartikan. Ia melihat bagaimana Arazka mulai sering mengabaikan logika demi perasaan terhadap Maura.
"Arazka terlalu melibatkan emosi," batin Rangga. "Suatu saat, emosi ini akan jadi kelemahan terbesarnya. Dan kalau saat itu tiba, gue harus siap milih: Arazka, atau ALVEGAR."
Tanpa disadari siapapun, di sinilah benih pengkhianatan Rangga mulai tertanam—pemikiran bahwa organisasi jauh lebih penting daripada persahabatan.
🍦 Penutup yang Manis
Sore itu, Arazka membawa Maura ke kedai es krim favorit Miko. Kali ini bukan untuk akting, bukan untuk kontrak, tapi karena dia memang ingin.
"Loe mau rasa apa?" tanya Arazka.
"Matcha. Dan jangan pake acara 'ada sisa di bibir' ya," sindir Maura sambil tersenyum.
Arazka terkekeh. "Tergantung. Kalau loe makannya berantakan lagi, gue nggak janji."
Mereka duduk berdua, menikmati senja tanpa beban fitnah lagi. Untuk sejenak, dunia terasa sempurna. Mereka tidak tahu bahwa di Bab 30 nanti, rasa cemburu akan membakar kedamaian ini, ALVEGAR akan hancur dari dalam.
TO BE CONTINUED