Nisa. gadis yang tidak sengaja bertemu dengan laki-laki yang bernama Aslan. dan keduanya dalam kondisi terpuruk.
Nisa yang mendapati kenyataan, kalau kekasih hatinya lebih memilih perempuan lain merasa sangat terpukul, padahal hari itu Mereka sudah berjanji akan pergi mendaftarkan pernikahan mereka.
dan ketika melihat laki-laki yang didorong keluar dan sampai terjatuh itu, dan kejadian yang tepat di depan matanya membuatnya langsung berpikir dan bertindak. Nisa langsung mengajaknya menikah, walaupun dia tahu kalau laki-laki itu adalah orang asing.
lalu bagaimana kelanjutan mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirta_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. ditunggu.
singkat cerita, setelah hampir 3 hari 3 malam melakukan perjalanan, akhirnya sebentar lagi mereka akan tiba di desa duku. dan orang tua Nisa Di sana sudah menunggu kedatangan mereka.
"sayang.. di kota kabupaten ini, kita beli sembako ya." ucapnya. kota kabupaten itu sangat kecil tapi lumayan padat penduduk. Aslan pun yang baru pertama kali datang ke kota ini merasakan perbedaannya.
"kita belanjanya di kota kecamatan aja Kak. di sana harganya juga lumayan murah." tutur Nisa kepada suaminya.
"oh ya udah. terserah kamu aja dek.. yang penting kita belanja sembako untuk dibawa pulang." nisa langsung menganggukkan kepalanya, dan Aslan fokus kembali membawa mobilnya itu.
sepanjang perjalanan menuju desa dukuh, hanya segelintir pemukiman warga yang ditemukan. selebihnya lebih banyak hutan dan lahan-lahan kosong lainnya, di mana dimanfaatkan oleh warga setempat untuk berladang.
Aslan Yang penasaran tentu saja bertanya kepada istrinya, dan Nisa menjawab serta menjelaskan dengan seksama.
Sehingga, Aslan langsung paham. kalau di kota kabupaten yang terpencil ini memang penduduknya tidak sampai jutaan jiwa, tapi kehidupan di sini jauh lebih santai ketimbang hidup di kota.
karena hasil tanah di sini melimpah. walaupun miskin karena tidak bisa mencari uang dengan instan, tapi di sini Mereka bisa bertahan hidup dengan kebun dan pertanian mereka.
selang hampir dua setengah jam perjalanan, Mereka pun tiba di kota kecamatan. melihat kota kecamatan yang sedikit memiliki perubahan, membuat Nisa sedikit mengulum senyumnya.
"lewat sini dulu kak. kita ke toko sembako terbesar yang ada di sini." ujarnya.
"baiklah dek. beli buah sama aneka kue-kuean juga ya sebagai oleh-oleh kita. di provinsi tadi kita tidak beli banyak." Nisa yang mendengar itu menganggukkan kepalanya lagi.
"baiklah kak.."
sesampainya mereka di sebuah toko yang lumayan besar dan lengkap, Mereka pun langsung turun dari atas mobil setelah memarkirkan mobil dengan aman.
di sana, Aslan membantu istrinya untuk mendorong troli, sementara membiarkan Nisa untuk mengambil semua kebutuhan yang diperlukan.
Aslan juga tidak tinggal diam, dia terus mengingatkan istrinya untuk membeli berbagai perlengkapan yang mungkin saja dibutuhkan di sana.
selang hampir 1 jam mereka berbelanja dan membeli banyak sembako serta kebutuhan-kebutuhan lainnya, akhirnya Nisa selesai membayar dan langsung memindahkan barang belanjaannya yang lumayan banyak itu ke dalam mobil Pajero yang juga sudah terisi penuh dengan barang bawaan mereka dari kota.
"makasih ya bang.."
"Iya Kak sama-sama.."
"ayo Kak kita pulang.. atau mau isi bahan bakar dulu ?" tanyanya.
"boleh dek! Di mana kita bisa isi bahan bakar mobil..?" tanya Aslan.
"di depan sana ada SPBU kak. kita isinya di sana saja.."
"baiklah.." akhirnya keduanya kembali masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkan tempat itu yang masih dipadati oleh para pendatang.
sementara tepat di depan SPBU, Aslan langsung mengisi bahan bakar minyak dengan cepat. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Aslan pikir, sebentar lagi mereka akan sampai. nyatanya masih harus menempuh hampir 20 menit dengan menggunakan mobil untuk menuju desa dukuh. ternyata desa istrinya ini lumayan sedikit terpencil, tapi yang bikin dia senang, desa istrinya tidak terlalu jauh dari pantai dan bisa ditempuh hanya sekitar 5 menit dengan menggunakan sepeda motor, Di sana juga ada sungai yang melintang jauh, yang tentunya memiliki daya tarik tersendiri.
setelah hampir 20 menit mereka berkendara, akhirnya rumah kelahiran Nisa pun terlihat. di sana dia mendapati bahwa di teras rumah kedua orang tuanya, ada keluarganya yang duduk mengobrol sambil menunggu kedatangan mereka.
"ayo Kak! kita sudah sampai.." ucap Nisa sambil menurunkan kaca mobilnya. Aslan tidak menjawab, namun dia tetap fokus memarkirkan mobil.
"bapak!! Ibu!!" panggil Nisa dari dalam mobil. mendengar panggilan itu, semua orang pun yang ada di sana langsung menoleh dan berdiri ketika melihat kedatangan Nisa dan suaminya dengan menggunakan transportasi mereka.
"assalamualaikum!!" ujar Nisa yang langsung menghampiri keluarganya Setelah turun dari atas mobil.
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. kalian sudah sampai nak..?" tanya sama ibu dan langsung memeluk tubuh putrinya dengan penuh rasa kerinduan. setelah itu Nisa bergantian memeluk tubuh ayahnya yang sudah mulai terlihat menuah itu.
tak hanya di situ, dia juga menyapa dua saudaramu kandungnya, kakak iparnya, dan juga keponakan-keponakannya yang perlahan-lahan mulai tumbuh dewasa.
"Apa kabar kalian semua.. Sehat kan..?" ucapnya.
"oh iya.. Kak sini!!" panggil Nisa kepada suaminya yang masih tampak berdiam di belakang istrinya dan membiarkan sang istri melepas rindunya dengan keluarganya.
"bapak, ibu. abang dan kakak ipar.. perkenalkan, ini suamiku. namanya Kak Aslan.. Kak Aslan, ini keluarga kandungku. sementara ini adalah saudara-saudara kita juga.." Nisa memperkenalkan mereka satu persatu kepada suaminya. dan Aslan juga hanya sedikit canggung saja dan menerima uluran tangan mereka.
"selamat datang di desa duku nak. inilah rumah Kita. Maaf ya nak, beginilah kehidupan kami di desa. bapak dan Ibu harap, kamu bisa terbiasa tinggal di sini." ucap Ibu Nisa merasa sedikit tidak enak kepada menantunya ini.
dia melihat tampang menantunya sangat tampan dan juga putih terawat. Karena itulah dia merasa sedikit segan. padahal, Ibu Nisa tidak tahu saja, kalau Aslan sendiri adalah anak yang ditelantarkan dan dirawat beberapa hari oleh Nisa. sehingga wajahnya menjadi tampan dan kulitnya putih seperti itu.
"tentu saja Bu.. Nisa sudah menceritakan semuanya kepadaku. dia menceritakan bagaimana kehidupan di tempat ini dengan jujur. dan aku juga sudah menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas menerima kehidupan di sini. lagi pula Bu, pak.. saya juga bukan anak orang kaya.. kehidupan kita sama.. jadi, bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian tidak perlu sungkan padaku. aku juga tidak pemilih dalam tempat tinggal ataupun makanan. asalkan bisa tidur dengan nyenyak dan bisa kenyang, aku bisa melakukannya." ucap Aslan dengan senyum di bibirnya.
"baguslah kalau begitu nak.. kami turut senang mendengarnya.." ujar salah satu saudara Nisa yang juga ikut datang menunggu kepulangan dirinya.
"kalau begitu kita ngobrol di dalam aja Bu, pak. dan abang, tolong bantuin kita pindahin beberapa barang bawaan dan oleh-oleh ya bang.. kita di dalam aja, ngobrol sambil menikmati oleh-oleh.." ucap Nisa kepada saudara-saudaranya.
"oh baiklah kalau begitu!!"
akhirnya para perempuan pun masuk ke dalam rumah, kakak ipar pertama Nisa langsung beralih mengambil sapu dan menyapu lantai tersebut. Kakak kedua Nisa juga langsung mengambil karpet untuk digelar di atas lantai yang masih belum berkeramik itu.
sementara Ibu Nisa yang bernama Ibu Salma, dia langsung bergegas masuk ke dapur untuk melihat air yang ia masak tadi. dan tentunya dibantu dengan beberapa saudara Ibu Salma lainnya.