NovelToon NovelToon
Fotografer: Rahasia Kecil Seorang Fotografer

Fotografer: Rahasia Kecil Seorang Fotografer

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Horror Thriller-Horror / Psikopat / Misteri / TKP / Dark Romance
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Andrian adalah seorang mahasiswa yang menjalani pekerjaan freelance sebagai fotografer. Sejak kapan semuanya dimulai, tidak ada yang benar-benar tahu. Kini, ia menjual jasa foto jalan-jalan yang tengah populer di kalangan anak muda.

Ia memotret siapa saja yang ingin terlihat cantik di depan kamera. Mereka tersenyum, dan ia.. di balik lensa.. tersenyum lebih lama.

Setiap jepretan membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar. Bukan karena hasilnya ,melainkan karena sesuatu yang hanya ia pahami sendiri. Dua folder tersimpan di komputernya: satu untuk dunia, satu untuk dirinya.


[Jika kamu sudah membaca, tinggalkan Like & komentar kamu sebagai bentuk penghargaan untuk penulis.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Hening

Beberapa minggu setelah kejadian itu, Ardian tinggal di rumah orang tuanya selama masa pemulihan. Ia kembali ke kamar lamanya. Semuanya masih tampak sama nyaris tak ada yang berubah.

Ardian berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar. Dari balik jendela yang terbuka sedikit, cahaya siang masuk samar. Seekor burung hinggap di ambang jendela, diam, menatap ke dalam.

Kenangan tentang rumah itu menyeruak begitu kuat. Itulah alasan Ardian tak pernah ingin kembali ke sini.

DOR!

Tubuh burung itu terpental jatuh ke bawah. Ardian tersentak dan langsung bangkit setengah duduk. Ia bergeser ke tepi ranjang, lalu menoleh ke arah jendela.

Di halaman, Tuan Joseph berdiri sambil menggenggam senapan angin. Pria itu mengangkat moncongnya ke arah Ardian hanya sesaat lalu terkekeh pelan.

Ardian tidak bereaksi.

Tatapan dingin Tuan Joseph bertahan sejenak sebelum ia berbalik pergi. Tawanya masih terdengar samar, menyatu dengan bunyi tembakan berikutnya satu per satu menghantam burung-burung yang hinggap di pohon besar di sekitar rumah.

Ardian kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia tidak menutup jendela udara masuk perlahan, membawa bau mesiu yang samar. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang sudah ia hafal retaknya sejak kecil.

Suara tembakan di luar terdengar lagi satu, lalu jeda, lalu satu lagi. Ardian tidak bergerak. Detak jantungnya tetap tenang. Tidak ada rasa takut, tidak juga marah. Hanya sesuatu yang bergerak pelan di dalam kepalanya, seperti roda yang mulai berputar.

"Burung itu mati tanpa sempat terbang" tersenyum " Dia masih suka bermain-main,” gumamnya.

Ia memejamkan mata, membiarkan suara tembakan itu menjadi latar. Bukan sebagai ancaman melainkan pengingat , rumah ini tidak pernah berubah dan begitu pula dirinya.

Menjelang malam, suara tembakan di luar rumah akhirnya berhenti. Cahaya di halaman meredup, berganti lampu-lampu kecil yang menyala satu per satu. Dari kamarnya, Ardian masih berbaring di posisi yang sama. Waktu seolah berjalan tanpa ia sadari.

Ketika gelap benar-benar turun, rumah itu berubah... lebih sunyi, lebih sempit. Ardian membuka mata. Langit-langit kamar tenggelam dalam bayangan. Jam dinding berdetak pelan, ritmenya terlalu teratur. Malam pertama di rumah itu pun dimulai.

Pintu kamar terbuka pelan. Langkah ibunya mendekat. Ardian yang masih terjaga segera memejamkan mata. Ibunya berhenti di sisi ranjang. Tatapannya jatuh pada nampan berisi makanan dan obat yang sama sekali tak tersentuh.

Ia menghela napas, lalu duduk perlahan di samping Ardian. “Ardian… bangun, Nak,” ucapnya lembut sambil mengusap rambutnya.

Ardian membuka mata. Ia melihat ibunya tersenyum tipis. Ia langsung memalingkan wajah.

“Kamu nggak makan lagi?” suara ibunya terdengar khawatir. “Kamu harus makan supaya cepat pulih.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Polisi meminta mu memberikan keterangan.”

“Aku mengerti,” potong Ardian datar.

Ibunya menatapnya, “Ibu tahu kamu pasti nggak nyaman diikuti polisi. Karena itu ibu sudah membicarakannya dengan ayahmu. Kamu nggak perlu khawatir. Kamu hanya perlu datang, memberi keterangan, dan semuanya akan selesai.”

Ardian menoleh perlahan.

“Ibu tahu?”

Ibunya mengerutkan dahi, bingung.

“Tahu apa?”

“Ibu tahu aku yang membunuhnya?”

Wajah ibu Ardian seketika berubah. Ia terdiam, lalu menunduk. Tangannya kembali mengusap rambut Ardian, lebih lama dari sebelumnya.

“Sudah,” katanya pelan. “Istirahatlah.”

Ia bangkit hendak pergi.

“Ibu tahu,” suara Ardian kembali terdengar, tenang . “Dan ibu menutupinya. Kenapa ibu membiarkan aku seperti ini? Padahal ibu bisa menghentikan ku sejak awal.”

Langkah ibunya terhenti. Ia berbalik dan menatap Ardian sesaat, “Semua ibu akan melakukan yang terbaik untuk anaknya,” ucapnya singkat.

Ardian terkekeh pelan. Tatapannya kosong.

“Yang terbaik untuk anaknya…”

Ibunya tak menjawab. Ia hanya menghela napas, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Ardian memandangi punggung ibunya yang menghilang. Ia tetap diam. Dan malam itu menjadi awal dari sesuatu yang selama ini tersembunyi perlahan mulai terbuka.

Malam semakin larut, lampu kamar Ardian telah padam. Ia tertidur, tetapi napasnya tak stabil, keringat dingin mengalir di dahinya. Mimpi itu kembali datang tentang ayahnya tidak utuh, tidak pernah benar-benar jelas. Ardian tak pernah benar-benar mengingat apa yang terjadi saat ayahnya masih ada. Yang tertinggal hanyalah potongan-potongan kecil: gelap, sunyi, dan satu suara yang selalu sama.

“Tidurlah… kembali ke kamarmu.”

Dalam mimpinya, Ardian kecil berdiri di lorong. Pintu ruang kerja itu setengah terbuka, cahaya redup menyelinap keluar. Ia mengintip, tanpa tahu apa yang sebenarnya ia cari. Ayahnya sudah berdiri di sana tidak marah, tidak berteriak. Wajah itu tenang, suaranya lembut, hampir menenangkan. Tangannya terangkat sedikit, seolah menuntunnya kembali.

“Sudah malam. Tidur.”

Dan seperti biasa, Ardian berbalik. Kembali ke kamarnya. Menutup pintu berbaring Lalu gelap. Setiap kali mimpi itu datang, bagian setelahnya selalu hilang.

Ardian tersentak mimpi itu terasa nyata, ia duduk di ranjang memegang kepalanya.

" Sial mimpi itu lagi.." Gunamnya.

Ia terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada ruang kerja ayahnya, ruangan yang sejak kecil selalu membuatnya penasaran. Bahkan setelah ayahnya ditemukan meninggal di dalam ruangan itu, pintunya langsung dikunci rapat dan tak pernah sekalipun dibuka kembali. Yang menjadi pertanyaan Ardian hanyalah satu: mengapa ibunya begitu tergesa menguncinya?

Ardian beranjak dari ranjang. Ia melangkah perlahan keluar kamar. Rumah tampak sunyi malam itu, entah sudah pukul berapa, tapi kesunyian terasa begitu menekan. Dengan hati-hati, ia menyelinap menuju ruangan tersebut. Tangga kayu berderit pelan setiap kali kakinya menginjak anak tangga.

Ia berhenti tepat di depan pintu yang tergembok. Gemboknya bahkan sudah berkarat. Ardian mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh besi dingin itu.

" Ada apa di dalam sini.." gunamnya

1
StellaY
aku suka ceritanya semakin berkembang, semagat terus thor
Aji Soko Santoso
Wow, plot twist yang bagus👍 Nadya dikorbankan dan kita punya tokoh antagonis baru.
meongming: makasih yah komentarnya 😄 tunggu kelanjutannya yah
total 1 replies
Aji Soko Santoso
seperti yang diharapkan dari Ardian
nah ini mulai baru tanpa pengawasan ortu psychonya
meongming: wah ternyata pembaca lama yah 😄 makasih udah ngikutin cerita ini
total 1 replies
終焔星 静寂 無帰~Uda Balik
Adrian ini emang misterius sekali lah...tapi aku curiga dia nih psycho..🤭😭. ...
meongming: hehe iya bener,..😄
total 1 replies
StellaY
dasar si nadya bodohhhhh bucin sampe jadi bodohhhhh
meongming: wah makasih untuk komentar mu 🤍
total 1 replies
StellaY
aku suka ceritanya .. runutan peristiwanya rapi dan enak di baca adrian gelap banget disini aku bisa merasakannya 😱😱 coba deh baca btw aku nemu ini di sebelah ikut kesini deh 🤭
StellaY
cerita bagusnya thor jangn berhenti menulis💪
meongming: 😍😍mksh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!