Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Lewat tengah malam, pintu kamar terbuka perlahan. Gilbert masuk dengan langkah berat. Bahunya terasa kaku setelah berjam-jam menghadapi drama Raina. Begitu melihat Jenara yang meringkuk di balik selimut, rasa bersalah yang tajam menusuk hatinya. Ia tahu ia telah mengabaikan istrinya di hari-hari pertama mereka tinggal bersama.
Gilbert melepaskan kemeja dan celananya dengan gerakan pelan, hanya menyisakan boxer hitam. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Saat ia merayap naik ke atas ranjang, hawa dingin dari AC seolah kontras dengan suhu tubuhnya yang panas. Ia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Jenara, menarik tubuh wanita itu hingga menempel pada dada bidangnya yang telanjang.
Jenara yang memang tidur dengan perasaan tidak tenang, langsung bereaksi. Aroma maskulin yang bercampur sedikit keringat itu sangat ia kenali. Ia mengerang pelan, mencoba melepaskan tangan Gilbert yang mengunci pinggangnya.
"Lepaskan, Gilbert... Lepas!" suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur, namun penuh dengan nada kekesalan.
"Diamlah, Jenara. Aku lelah," bisik Gilbert di ceruk lehernya. Napas hangat pria itu membuat bulu kuduk Jenara meremang.
"Lelah? Kalau lelah kenapa tidak menginap saja di sana? Kenapa pulang?" Jenara mulai menyikut dada Gilbert dengan kasar.
"Jangan memancing amarahku di jam dua pagi, atau aku akan membungkam mulutmu dengan caraku," ancam Gilbert, suaranya memberat, memberikan peringatan yang sangat nyata.
Jenara justru semakin tertantang. Ia membalikkan tubuhnya dengan paksa, membuat mereka kini berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Nafas mereka beradu. Mata Jenara berkilat kesal di bawah cahaya temaram.
"Cium saja kalau berani! Kau pikir aku takut dengan ancaman klasikmu itu?" tantang Jenara, suaranya sedikit meninggi.
Gilbert menatap mata istrinya. Ia bisa melihat ada luka dan kerinduan yang disembunyikan di balik amarah itu. Tanpa menunggu sedetik pun, Gilbert meraup tengkuk Jenara. Ia tidak menciumnya dengan lembut, melainkan dengan tuntutan yang membara. Sebuah ciuman yang merupakan akumulasi dari rasa frustrasi, lelah, dan rasa rindu yang selama ini ia tekan.
Jenara terkesiap. Tubuhnya seakan tersengat aliran listrik. Telapak tangan Gilbert yang besar dan hangat menekan punggungnya, menariknya semakin rapat hingga tidak ada celah di antara mereka. Jenara bisa merasakan detak jantung Gilbert yang berdegup kencang melawan detak jantungnya sendiri.
"Yaakkk! Kamu tidak pakai baju!" Jenara berhasil melepaskan tautan bibir mereka sebentar, ia mendorong dada Gilbert dengan kedua telapak tangannya yang gemetar.
"Gerah, Jenara! AC-nya ini tidak terasa sama sekali," gerutu Gilbert pelan, suaranya serak. Ia tidak membiarkan Jenara menjauh. Ia kembali mengurung tubuh wanita itu dengan lengannya yang kokoh.
Jenara menarik selimut, menutupi tubuhnya sendiri hingga dagu, mencoba membangun benteng pertahanan. Namun Gilbert justru menyusup ke dalam selimut yang sama.
"Gilbert, menyingkir! Aku sedang marah padamu!"
"Marahlah besok pagi. Sekarang, biarkan aku seperti ini," gumam Gilbert. Ia kembali mencium Jenara. Kali ini lebih lembut, lebih dalam, mengeksplorasi setiap jengkal bibir Jenara dengan cara yang membuat pertahanan wanita itu luruh sepenuhnya.
Jenara yang awalnya meronta, perlahan mulai kehilangan kekuatannya. Aroma tubuh Gilbert yang maskulin dan intim mulai memabukkannya. Hormon kehamilannya seolah bekerja sama dengan suasana malam ini, membuatnya merasa sangat mendambakan kehangatan pria itu. Tangan Jenara yang tadinya mendorong, kini perlahan merayap naik ke bahu Gilbert yang lebar, meremas otot-pundaknya yang keras.
Gilbert melepaskan ciumannya, namun wajahnya tetap hanya beberapa milimeter dari wajah Jenara. Ia menatap bibir Jenara yang kini sedikit bengkak dan kemerahan.
"Kau berbau mawar," bisik Gilbert, jemarinya mengusap pipi Jenara yang panas. "Kenapa kau selalu harus terlihat kuat, hah? Kenapa kau tidak bisa bilang saja kalau kau kesal karena aku pulang terlambat?"
Jenara membuang muka, matanya berkaca-kaca. "Karena aku tidak mau terlihat lemah di depanmu. Kau hanya peduli pada bayi ini, bukan aku."
Gilbert terdiam. Ia memegang dagu Jenara, memaksa wanita itu menatap matanya kembali. "Kau benar-benar berpikir begitu? Kau pikir aku akan repot-repot memasak di dapur restoran orang lain hanya demi sebuah 'investasi'? Kau pikir aku akan pulang secepat ini dari rumah Althaf jika pikiranku tidak terus-menerus tertuju padamu?"
Jenara tertegun. Kalimat Gilbert terasa jujur, meskipun pria itu mengatakannya dengan nada yang masih sedikit keras.
"Aku membencimu," bisik Jenara pelan, meski tangannya justru memeluk leher Gilbert lebih erat.
"Aku tahu. Dan aku juga membenci fakta bahwa aku tidak bisa berhenti memikirkanmu," balas Gilbert.
Gilbert kembali membenamkan wajahnya di leher Jenara, memberikan kecupan-kecupan kecil yang membuat Jenara memejamkan mata, menikmati sensasi yang menjalar ke seluruh sarafnya. Di bawah selimut yang sama, dalam keheningan malam, mereka tidak lagi bicara tentang saham, perusahaan, atau masa lalu. Hanya ada dua orang manusia yang saling mendambakan dalam diam, mencoba mencari arti dari pernikahan rahasia yang semakin hari semakin mengikat jiwa mereka lebih dalam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Jenara tertidur dengan perasaan benar-benar aman, dalam dekapan erat pria yang paling ia benci sekaligus paling ia butuhkan.
,, pokokny kalian berdua akn terus dihantui malam penuh ehem itu dn membuat kalian gk bisa tenang /Grin/
minimal tertantang bang, kamu ice king dia ice queen,, ayo lawan! jangan kasih kendor /Determined/