Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Betul sekali, Pak Ilham. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, apa yang menimpa istri Anda di luar kendali kami," jawab Dokter, membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebagai permohonan maaf.
Ilham memejamkan mata sejenak seraya menahan sesak. Kedua kakinya melemas, tubuhnya gemetar. Ia tidak akan pernah memiliki keturunan lagi, sementara kedua buah hatinya masih belum diketahui keberadaannya hingga saat ini. Rasanya benar-benar putus asa. Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula, karirnya pun berada di ujung tanduk.
"Ya Tuhan, mengapa Engkau timpakan cobaan yang luar biasa kepadaku? Kasihan Dona, dia pasti syok banget. Dia begitu menantikan anak ini dan sekarang harus kehilangan bayinya sekaligus rahimnya," gumam Ilham, buliran bening seketika memenuhi kedua mata.
"Silahkan Anda ke bagian administrasi untuk menandatangani surat kuasa dan menyelesaikan administrasinya, Pak Ilham," pinta Dokter, membuyarkan lamunan panjang seorang Ilham.
"Berapa biaya operasinya, Dok?" tanya Ilham, seraya mengusap kedua matanya yang berair.
"Untuk biaya operasinya saja sekitar 25 juta, Pak. Itu belum termasuk biaya perawatan pasca operasi dan yang lainnya. Kalau ditotalkan, bisa mencapai 100 juta."
Ilham terkejut, matanya membulat. "Se-seratus juta?"
"Betul, Pak. Silahkan ke bagian administrasi agar kami bisa segera melakukan tindakan operasi," ucapan terakhir sang Dokter sebelum akhirnya berbalik lalu kembali memasuki ruang pemeriksaan.
Ilham terbeku, tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya operasi istrinya? Ia memang memiliki tabungan, tapi hanya cukup untuk biaya operasinya saja.
"Nggak ada pilihan lain. Aku harus melakukannya lagi, gak peduli meskipun aku dipecat dari perusahaan, yang penting Dona selamat," gumamnya seraya menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju bagian administrasi.
***
Sementara itu, Kaila dan juga Keano berjalan di trotoar. Wajah mereka nampak pucat dan berkeringat. Mereka sudah berjalan sangat jauh, bahkan bermalam di pinggir jalan, tapi tidak kunjung tiba di rumah pria bernama Radit membuat Keano putus asa. Anak itu tiba-tiba berjongkok karena kelelahan.
"Aku udah nggak sanggup lagi, Kak. Capek banget, mana laper lagi," keluhnya seraya memegangi perutnya yang mulai keroncongan.
Kaila menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, berjongkok tepat di depan sang adik mencoba untuk memberinya semangat. "Bentar lagi kita nyampe, Keano. Tahan sebentar lagi, kita jalan lagi, ya," ucapnya, meski sejatinya ia sendiri tidak tahu tengah berada di mana.
"Kakak bohong, dari kemarin ngomongnya gitu terus, tapi mana? Kita nggak nyampe-nyampe ke rumah Om Radit. Kita bahkan sampe tidur di pinggir jalan," rengek Keano dengan suara lantang.
"Ya udah, kita istirahat dulu kalau begitu. Kita duduk di sana, yu." Kaila menunjuk halte yang berada di depan sana dan hanya dijawab dengan anggukan oleh adiknya.
Keduanya pun berdiri tegak seraya bergandengan tangan, melangkah menuju halte lalu duduk dengan tubuh lelah, menahan lapar, pakaian yang mereka kenakan pun nampak kotor lengkap dengan rambut yang sedikit berantakan. Keano memegangi perutnya yang keroncongan seraya menghela napas dalam-dalam.
"Aku laper banget, Kak," keluhnya lagi, menoleh dan menatap wajah sang kakak.
Kaila melakukan hal yang sama seperti sang adik. Perutnya mengeluarkan bunyi gemericik karena sudah menahan lapar sedari pagi. Kaila menarik napas dalam-dalam seraya menatap tempat sampah yang berada di sisi kanan.
"Kamu tunggu sebentar, ya," pintanya kepada sang adik, lalu berdiri dan melangkah menuju tempat sampah.
"Kakak mau ngapain?" tanya Keano, melakukan hal yang sama.
"Kakak mau nyari makanan, siapa tau ada makanan sisa di sini," jawab Kaila, membuka tempat sampah lalu mengorek isi di dalamnya.
"Tapi, masa kita makan makanan dari tempat sampah, Kak? 'Kan jorok."
"Terus, kita mau makan apa? Kakak nggak punya uang, Keano."
Keano terdiam sejenak, sepertinya mereka tidak memiliki pilihan lain karena tidak mempunyai uang sepeser pun, sementara perut mereka belum diisi makanan. Keduanya mengorek tempat sampah, tapi tidak menemukan apapun di sana. Hanya ada sampah kering bekas camilan dan botol air mineral.
"Nggak ada apa-apa, Kak. Aku laper banget," rengek Keano seraya menangis sesenggukan. "Aku mau pulang. Aku mau ketemu Ibu, Kak. Huaaaa!"
"Udah, jangan nangis, Keano. Kita istirahat dulu, ya."
Keano mengusap kedua matanya yang membanjir seraya menahan isakan. "Kenapa kita nggak mengemis aja, 'Kak? Atau, kita minta makanan sama orang. Aku udah gak tahan, laper banget."
"Masa kita ngemis? Nggak akh, gak mau. Kecuali kalau ada orang yang ngasih makanan, baru kita terima. Pokoknya, nggak boleh ngemis. Kita tunggu orang baik aja. Kakak yakin, Tuhan pasti akan mengirimkan orang baik buat kita. Oke?"
Keano menganggukkan kepala seraya memegangi perutnya. Rasa haus dan lapar benar-benar tidak mampu lagi ia tahan. Keduanya kembali duduk di trotoar dengan raut wajah sedih.
"Sini tiduran di pangkuan Kakak," ucap Kaila, dan segera dijawab dengan anggukan oleh sang adik.
Keano meletakan kepala di pangkuan Kaila, meringkuk seraya menatap kendaraan beroda empat berlalu lalang di jalanan.
"Kak," lirih Keano, seraya mengedipkan matanya dengan pelan.
"Iya, Keano," jawab Kaila, mengusap kepala Keano dengan lembut.
"Kenapa sih keluarga kita jadi kayak gini? Dulu kita bahagia, sama Ayah, sama Ibu. Kenapa mereka harus bercerai segala?"
Kaila terdiam, kedua matanya seketika memerah dan berair. Bayangan masa lalu seketika singgah di otak kecilnya, kenangan-kenangan indah bersama ayah dan ibunya melintas silih bergantian membuatnya merindukan masa-masa itu, saat keluarganya belum tercerai berai seperti sekarang.
"Kakak kangen sama Ibu," lirih Kaila, tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan. "Kenapa Ayah bisa berubah jadi jahat? Semua ini karena Tante Dona."
"Apa kita bisa kembali ke rumah Om Radit? Dari kemarin kita cuma jalan kaki aja, tapi nggak nyampe-nyampe. Aku pengen pulang, Kak."
Kaila terdiam, menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. Kedua sisi bibirnya seketika tersenyum lebar seraya menunduk, menatap wajah sang adik.
"Kakak punya ide, Keano," ujarnya, raut wajahnya seketika berubah ceria.
Keano sontak duduk tegak seraya menatap wajah sang kakak dengan sayu. "Kakak mau ngapain?"
"Eu ... gimana kalau kita minta tolong sama orang yang lewat? Kita berhentiin mobil dan minta tolong anterin ke rumah Om Radit, gimana?"
Bersambung ....