Stella yang anak konglomerat hanya berpura-pura miskin di hadapan mertuanya. Dia menikah dengan Soni,yang merupakan karyawan swasta di sebuah bank ternama yang ternyata punya Stella sendiri. Tetapi Soni tidak tahu kalau bank itu milik mertuanya.
Semenjak Stella menikah dengan Soni,mertuanya mengira dia anak orang biasa. Dan di rumah dia di suruh kerja layaknya pembantu.
Kalau ada kesalahan sedikit dia di marahin dan di maki sama ibu mertuanya sendiri. Stella dan Soni sudah empat tahun menikah dan mempunyai putri yang sangat cantik. Sebenarnya Stella sudah capek hidup di rumah mertuanya seperti di neraka. Tetapi demi anak dia bertahan sampai akhirnya dia jenuh.
Akankah rumah tangga Soni dan Stella akan bertahan. Atau Stella memutuskan untuk bercerai dari Soni?
Ini hanya ringkasan cerita saja ya. Untuk selengkapnya silahkan di baca per bab nya ya. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tok..tok...pelayan mengetuk pintu ruangan Ririn.
"Masuk",sahut Ririn dari dalam.
Kedua pelayan masuk ke ruangan Ririn sambil membawa makanan dan minuman.
Mereka menatanya ke meja. Setelah itu kedua pelayan pamit undur diri.
Baru saja Maureen mau makan tiba-tiba papanya menelepon.
"Kamu di mana",tanya Richard langsung.
"Bukannya berkata hallo justru langsung tanya di mana",sungut Maureen.
"Iya hallo princess nya papa,kamu di mana",ucap Richard kembali.
"Aku lagi di ruangannya Tante Ririn."
"Memangnya papa di mana?"
"Papa di star cafe."
"Aku juga di sini,pa. Papa naik aja ke sini. Bilang ke pelayannya minta antar ke ruangan Tante Ririn."
"Baiklah kalau begitu."
Telepon terputus. Maureen mematikan teleponnya.
"Tante,nggak apa-apa kan kalo papa ikut makan diruangan Tante",tanya Maureen.
"Nggak apa-apa kok. Kan kamu juga sudah suruh papa kamu ke sini",jawab Ririn dengan santai.
Ya,ruangan Ririn lumayan besar. Ruangannya berukuran 5m x 5m. Selain meja dan kursi kerja,ada juga lemari tempat dokumen-dokumen atau berkas-berkas cafe,ada sofa panjang dan dua sofa tunggal serta meja kayu.
Lumayan luas jika untuk ramai-ramai. Stella yang meminta para pekerja bangunan untuk memperbesar ruang kerja cafe.
Di saat mereka baru mulai makan tiba-tiba pintu ruangan Ririn di ketok seseorang.
Tok..tok..
"Biar Maureen saja yang buka pintunya. Mungkin itu papa yang ketok pintu."
Ririn dan Stella hanya mengangguk.
Maureen membuka pintu ruangan Ririn dan benar,Richard yang mengetok pintu tersebut.
"Silahkan masuk,pa."
"Terima kasih."
Richard masuk dan dia masih berdiri. Karena bingung mau duduk di mana.
"Kenapa pa",tanya Maureen.
"Papa duduk di mana",tanya Richard.
Ririn dan Maureen saling pandang sambil memberi kode.
"Duduk saja di sebelah Tante Stella."
Stella melotot kan matanya. Ririn dan Maureen menahan ketawanya.
Richard akhirnya duduk di sofa panjang sebelah Stella. Yang sebelumnya diduduki Maureen. Sedangkan Maureen dan Ririn duduk di kursi tunggal.
Mereka makan dengan tenang. Karena tadi pelayan juga sudah mengantar makanan yang Richard pesan.
Richard sesekali melirik Stella yang sedang makan dengan anggun.
Maureen yang melihat papanya melirik Stella melihat ke Ririn.
Ririn menaikkan alisnya sambil melihat Maureen sekilas. Maureen tersenyum ke arah Ririn.
Stella sudah selesai makan. Dia melihat ketiganya belum selesai makan.
"Lama banget kalian makan",ucapnya.
"Ya ampun Sel,makan loe cuma sedikit. Itu pun hanya steak. Sedangkan kita nasi. Ya pasti makannya cepetan loe lah."
"Sama aja. Loe aja makan sambil ngobrol."
"Kayak loe nggak aja",protes Ririn.
"Gue dari tadi makan sambil diam. Sedangkan loe sama Maureen saling pandang dan senyum. Mau menggoda gue lagi loe",ternyata Stella tahu kalo Ririn dan Maureen saling ngasih kode.
Ririn dan Maureen hanya terdiam.
"Kok dia tahu ya kalo gue sama Maureen mau menggoda Stella",ucapnya dalam hati.
"Apakah dia cenayang",pikir Ririn.
Nggak usah mengumpat,gue tau arah pikiranmu Rin,jawab Stella dengan santai.
Ririn hanya diam dan melanjutkan makannya.
Setelah semua selesai makan,mereka turun ke bawah. Stella nanti akan mengajak Maureen ke tempat makanan non halal. Richard hanya mengikuti dua wanita berbeda genre tersebut. Sedangkan Ririn mau ke supermarket sendirian. Mau belanja mingguan.
Saat mereka turun ke bawah,Stella justru ketemu Gaby,mama Gaby dan Ana. Mereka ternyata makan di cafe Stella atas rekomendasi Gaby.
Ana yang melihat Stella merasa marah.
Dia langsung berjalan ke arah Stella dan ingin menamparnya. Tetapi ditahan Richard.
"Apa-apaan ini mau tiba-tiba mau menampar Stella",marah Richard.
"Kamu siapa,kenapa ikut campur. Apa kamu selingkuhan dia?"Ana juga marah dan menunjuk Stella.
"Kita temannya,kenapa Tante?"Ririn langsung menyela.
"Kalo memang Stella punya pasangan emangnya nggak boleh ya",Ririn tetap menatap Ana sambil bersedekap dada.
"Bagus,sudah punya suami tapi masih mau selingkuh. Bersyukur saya menyuruh Soni menceraikan kamu dan menikah dengan Gaby."
"Gaby juga orang yang santun dan terpelajar. Dia juga seorang pekerja kantoran. Tidak seperti kamu hanya orang miskin yang malas bekerja. Tahunya hanya meminta uang suami saja",Ana memuji Gaby dan merendahkan Stella.
Stella hanya tersenyum sinis. Ana tidak tahu sisi gelap Gaby.
Gaby merasa di puji Ana merasa senang. Dia mendapat dukungan dari Ana.
"Puji saja terus calon menantu mu,nyonya. Tapi suatu saat kamu jangan menyesal",ucap Stella dengan tegas.
"Oh ya,satu hal yang mau ku katakan pada kalian berdua. Saya juga sudah bercerai dari Soni. Silahkan nyonya nikahkan Gaby sama Soni. Toch Soni juga belum tentu menikah sama Tante menor. Apalagi Soni sekarang merasa paling dekat dengan anaknya. Mana mau anaknya di siksa sama kalian yang kayak iblis",Stella menyudutkan Ana dan Gaby.
Ana merasa senang ternyata Stella dan Soni sudah bercerai. tetapi dia marah dan tidak suka Stella menyindir Ana dan Gaby. Dia sangat marah kepada Stella.
"Di mana kamu menyembunyikan Soni?"
"Mana saya tahu. Saya saja sekarang masih di Palembang. Sudah lama tidak bertemu Soni. Waktu sidang pengadilan saja hanya saya sendiri yang datang. Kenapa tanya pada saya?"Stella pura-pura bingung.
"Tante kan punya menantu kaya tuch. Coba Tante suruh menantu tersayang Tante buat sewa detektif untuk mencari Soni",Ririn menyindir Ana.
"Lihat saja kalo saya ketemu Soni,saya akan membawa pulang Soni dan anak kalian. Akan ku bawa ke panti asuhan anak kalian. Dan Soni hanya boleh punya anak dari Gaby."
Setelah itu Ana meninggalkan Stella dan yang lainnya.
"Dasar nenek lampir. Tega-teganya tidak mengakui cucu sendiri",gumam Stella.
"Sabar,setidaknya anakmu sudah mendapatkan kasih sayang dari papanya dan keluargamu. Itu nenek lampir hanya mengancam saja. Mana mungkin dia bisa masukin anakmu ke panti asuhan",bisa mengamuk itu Soni,hibur Ririn.
"Ya sudah yuk,kita pergi. Kita pisah ya. Gue mau ke supermarket. Mau belanja mingguan. Lagi pula kalian mau pergi makan lagi kan,gue nggak bisa ikutan."
"Ok dech",jawab Stella.
Mereka keluar dari restoran dan berpisah.
"Oh ya,kamu tadi naik apa",tanya Stella ke Richard.
"Aku sewa mobil",jawab Richard dengan singkat.
Stella melirik ke kanan dan ke kiri. Maureen sudah berjalan di belakang Richard.
Maureen yang melihat Stella belum jalan,langsung memanggil Stella.
"Tante bengong aja. Ayo jalan. Itu papa sudah mau masuk ke mobil",tutur Maureen.
"Oh iya,ayo."
Stella berjalan menuju ke Maureen dan Richard. Mereka naik dengan satu mobil. Richard duduk di sebelah sopir sedangkan Maureen dan Stella duduk di kursi belakang.
Richard menyuruh sopir ke toko kerupuk dan pempek. Dia memesan kerupuk dan pempek untuk di bawa pulang ke Jakarta. Setelah selesai pesan,Richard sekalian membayar semua yang dia pesan.
Setelah selesai,baru Stella menyuruh sopir menuju ke rumah makan non halal.