NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sinar ungu samar memancar dari ujung jari Arina yang menyentuh pergelangan tangan anak itu. Ia menggunakan kekuatannya untuk menelusuri apa yang tersembunyi di balik kulit sang pasien.

Arina memejamkan mata, memusatkan seluruh indranya. Perlahan, aliran energi ungu menyusuri pembuluh darah anak itu.

Beberapa saat kemudian, ia menemukan sesuatu.

Ratusan makhluk kecil menyerupai ular bergerak liar di dalam aliran darah dengan kecepatan tinggi. Tubuh mereka hitam pekat, sementara dari mulutnya terus keluar uap berwarna biru yang perlahan menyebar ke seluruh tubuh sang anak.

Basilyx.

Arina membuka matanya.

Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah semakin dingin.

Ia berdiri, lalu menoleh kepada Putri Vega, Panglima Darius, dan yang lainnya. Rupanya, Darius telah selesai mengatur pasukan dan kini ikut menyaksikan pemeriksaan tersebut.

"Bagaimana, Lady?" tanya Putri Vega penuh harap.

"Ini bukan wabah, Yang Mulia." Arina melangkah mendekati mereka. "Anak ini diracuni. Racunnya bernama Basilyx, salah satu racun paling mematikan yang pernah ada."

Panglima Darius mengernyit. "Lady Wezen, kau yakin?"

Arina mengangguk yakin.

"Saya yakin. Bahkan jika Mahaguru Archibald berada di sini, beliau akan memberikan kesimpulan yang sama."

Semua orang terdiam.

Tak seorang pun menyangka wabah yang membuat seluruh Asterra lumpuh ternyata bukanlah wabah sama sekali.

"Apakah ada cara untuk menyelamatkan mereka?" tanya Putri Vega. Nada suaranya dipenuhi kecemasan. "Adakah obat yang dapat menetralisir racun itu?"

Arina terdiam sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kepada Edmund.

"Wali Kota Edmund, apakah Anda pernah mendengar tentang Astralis Alba?"

Edmund tampak berpikir keras. Namun beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.

"Maaf, Lady. Ini pertama kalinya saya mendengar nama bunga itu."

Arina memijat pelipisnya perlahan. Kalau begitu, hanya tinggal satu cara.

"Panglima, bisakah Anda menunjukkan peta wilayah Asterra?"

"Tentu."

Darius segera mengeluarkan gulungan peta dari balik jubahnya, lalu membentangkannya di atas meja.

Tatapan biru Arina menyapu setiap sudut wilayah Asterra. Gunung. Sungai. Hutan. Dan… Matanya berhenti pada sebuah bukit yang menjulang paling tinggi di bagian timur.

Bukit Astrion.

Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa tempat itulah yang sedang ia cari.

Arina menoleh kepada Saiph. Pria itu telah bersiap sejak tadi, seolah hanya menunggu perintah darinya.

"Saiph."

"Ya, Nona."

"Pergilah ke Bukit Astrion. Jika kau menemukan bunga berwarna putih kebiruan dengan putik berwarna emas, segera petik dan bawalah kemari secepat mungkin."

"Baik, Nona."

Saiph membungkuk hormat tanpa sedikit pun keraguan.

Namun, Darius masih tampak ragu.

"Lady Wezen, bagaimana jika bunga itu tidak pernah ada?" tanyanya. "Selain dirimu, tidak seorang pun di ruangan ini pernah mendengar nama Astralis Alba."

Arina menatap panglima itu dengan tenang.

"Itulah sebabnya bunga itu disebut bunga langka." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Selama Astralis Alba masih dapat ditemukan, aku yakin seluruh korban masih memiliki kesempatan untuk diselamatkan."

"Tapi—"

"Panglima." Putri Vega memotong ucapan Darius dengan lembut. "Lady Arina telah diuji langsung oleh Mahaguru Archibald. Di antara kita semua, hanya dia yang memiliki pengetahuan pengobatan yang cukup untuk menangani keadaan ini."

Putri Vega menatap Darius dengan serius. "Setidaknya, kita harus memberinya kesempatan."

Darius terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia mengembuskan napas pelan lalu mengangguk.

"Baiklah." Ia menoleh kepada beberapa prajurit yang berdiri di dekat pintu. "Kalian berlima, temani Saiph ke Bukit Astrion. Pastikan dia kembali dengan selamat."

"Siap, Panglima!"

Saiph memberi hormat singkat kepada Arina sebelum berbalik.

Tak lama kemudian, ia bersama lima prajurit kerajaan meninggalkan pusat perawatan darurat dan bergegas menuju Bukit Astrion, sementara harapan seluruh warga Asterra kini bergantung pada keberhasilan mereka menemukan Astralis Alba.

Setelah itu, Arina beralih ke pasien yang kondisinya mulai kritis.

Kali ini pasiennya adalah seorang wanita paruh baya. Warna biru di kulitnya jauh lebih pekat dibandingkan anak kecil tadi, hingga sekilas tubuhnya tampak seolah terlahir dengan kulit kebiruan.

Arina kembali melakukan pemeriksaan yang sama.

Sinar ungu samar mengalir dari ujung jarinya, menembus kulit dan menyusuri aliran darah wanita itu. Sesaat kemudian, Arina menemukan perbedaan yang mencolok.

Jika pada anak tadi racunnya masih berbentuk ratusan ular kecil, kini ular-ular itu telah berubah menjadi satu tubuh besar dengan banyak cabang. Setiap cabang melilit erat pembuluh darah, sementara uap biru terus keluar dari mulutnya dan menyebar ke seluruh tubuh korban.

Tatapan Arina seketika berubah serius.

"Racun yang mengerikan..." gumamnya pelan. "Mereka bahkan memutasi racun ini di dalam tubuh korbannya sendiri sebelum akhirnya mengubah seluruh jaringan tubuh menjadi hitam."

Wajahnya perlahan memucat.

Cultus Ophion...

Satu-satunya organisasi yang mungkin mampu menciptakan racun seperti ini hanyalah kelompok sesat itu.

Namun...

Kenapa mereka menyerang rakyat biasa?

Pertanyaan itu terus berputar di benaknya.

Selama bertahun-tahun diasingkan di kediaman keluarga Volans, Arina telah menghabiskan sebagian besar waktunya membaca buku-buku kuno yang, entah disengaja atau tidak, ditinggalkan oleh ibunya.

Buku-buku itu dipenuhi tulisan kuno yang bahkan tidak dapat dipahami oleh para tetua keluarga Volans. Namun, Arina mampu membacanya dengan lancar.

Di dalamnya tersimpan berbagai pengetahuan yang nyaris terlupakan, termasuk catatan mengenai Cultus Ophion, organisasi rahasia yang telah ada sejak ratusan tahun lalu dan terkenal karena eksperimen mereka terhadap racun.

"Ada sesuatu yang Anda temukan, Lady?" tanya Edmund dengan cemas.

Arina mengangguk pelan. "Ini jauh lebih berbahaya daripada yang kita bayangkan."

Semua orang langsung memusatkan perhatian kepadanya.

"Karena ini bukan wabah, aku yakin pelakunya hanya ingin membuatnya terlihat seperti wabah menular. Padahal, seseorang diam-diam telah mencampurkan racun ini ke dalam sesuatu yang digunakan oleh penduduk kota."

"Sesuatu?" Edmund mengernyit. "Apa mungkin sumber air? Seluruh warga Asterra menggunakan air dari sungai dan sumur yang sama."

Arina menggeleng pelan.

"Kalau sumbernya air minum, seharusnya Anda juga sudah terinfeksi. Bukankah Anda meminum air yang sama dengan mereka?"

Edmund terdiam.

Benar.

Selama ini ia tidak menunjukkan gejala sedikit pun.

"Kalau begitu..." Putri Vega ikut berpikir. "Bagaimana dengan pakaian? Mungkinkah racun itu disebarkan melalui kain atau pakaian yang dikenakan para korban?"

Arina tidak langsung menjawab.

Tatapan birunya justru semakin tajam, seolah sedang menyusun setiap kemungkinan di dalam pikirannya.

Apa pun media penyebarannya, satu hal telah dipastikannya. Seseorang di Asterra sedang menyebarkan Basilyx secara sistematis.

Dan orang itu kemungkinan besar masih berada di dalam kota.

"Saya akan memerintahkan para prajurit untuk menyelidikinya," kata Panglima Darius.

"Itu keputusan yang tepat," sahut Arina. "Dan untuk sementara, jangan gunakan apa pun yang berasal dari Asterra sebelum kita mengetahui dengan pasti sumber racun ini."

Darius mengangguk singkat.

Di samping Arina, Putri Vega diam-diam menatapnya dengan rasa kagum.

Bagaimana mungkin wanita ini masih bisa berpikir setenang itu dalam keadaan seperti ini?

Bahkan setelah mengetahui bahwa seluruh kota sebenarnya sedang diracuni, Arina tetap mampu menganalisis keadaan tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.

"Aku akan memeriksa pasien yang berada di ambang kematian. Setelah itu, kita berkumpul kembali untuk membahas langkah selanjutnya," ujar Arina.

Ia kemudian memberi isyarat kepada Alhena untuk mengikutinya.

Kali ini, hanya Arina, Edmund, dan Alhena yang berjalan menuju ruang perawatan terakhir.

Suasana di ruangan itu jauh lebih sunyi.

Tak terdengar lagi rintihan kesakitan.

Yang ada hanyalah napas berat para pasien yang perlahan berada di ambang batas antara hidup dan mati.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!