Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu Yang Menakutkan
Elisa terlihat sengaja menjaga jarak. Langkahnya tertinggal beberapa meter di belakang Pangeran Erlan, seolah-olah ada garis tak kasatmata yang tidak berani ia lewati. Berada terlalu dekat dengan pria itu membuat seluruh tubuhnya menegang.
Bukan tanpa alasan.
Selama ini, setiap kali mereka bertemu, tingkah Erlan selalu di luar dugaan. Kadang pria itu mengintimidasinya dengan tatapan tajam, kadang tiba-tiba menariknya mendekat tanpa peringatan, bahkan tak jarang membuat jantung Elisa hampir copot karena ulahnya.
Karena itulah, kali ini Elisa memilih menjaga jarak. Menurutnya, semakin jauh dari Erlan, semakin aman dirinya.
Pangeran Erlan melirik ke samping. Melihat gadis itu berjalan dengan ekspresi waspada sambil menjaga jarak, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Kau memperlakukan calon suamimu seperti penyakit," sindirnya santai.
Elisa mendengus pelan."Itu salah Anda sendiri karena sering membuatku takut." Jawabannya terdengar spontan, tanpa berpikir panjang."Aku masih ingat semua yang pernah Anda lakukan padaku. Jadi, lebih baik aku berjaga-jaga."
Erlan mengeluarkan tawa pelan yang begitu lirih hingga hampir tak terdengar."Aku tidak akan memakanmu, Nandikara," ucapnya dengan nada tenang."Jadi kemarilah. Mendekat padaku."
"Tidak!" Penolakan Elisa begitu cepat hingga membuat Erlan sedikit mengangkat alisnya."Aku tetap di sini saja." Ia bahkan mundur setengah langkah, seakan takut pria itu mendadak menghampirinya."Kalau Pangeran memaksa, aku akan pulang."
Erlan memandangnya beberapa detik sebelum terkekeh kecil."Kau sudah pintar mengancam."
"Aku belajar dari Pangeran."Balasan itu membuat Elisa sedikit mengangkat dagunya dengan bangga.
Bukannya merasa tersinggung, Erlan justru semakin menyeringai. Ada sesuatu yang terasa menyenangkan setiap kali gadis itu mulai berani membalas perkataannya.
"Cepat kemari, Nandikara." Langkah Erlan akhirnya berhenti. Ia berbalik menghadap Elisa, lalu perlahan mengulurkan tangan kanannya."Pegang tanganku." Tatapannya tetap lurus menatap mata Elisa."Aku berjanji tidak akan melakukan apa pun selain itu."
Elisa masih diam. Matanya bergantian menatap wajah Erlan dan tangan yang masih terulur di hadapannya. Namun sebelum ia sempat menjawab, Erlan kembali berbicara.
"Lagipula," Senyumnya berubah semakin lebar."Jika kau terus membantahku seperti ini, aku justru akan semakin menyukaimu."
Ucapan itu membuat Elisa terdiam. Keningnya berkerut pelan.
Jadi begitu, semakin aku menjaga jarak, semakin pria itu tertarik? Semakin aku berusaha menghindar, semakin besar rasa penasarannya? Berarti semua usahaku selama ini justru memberikan hasil yang berlawanan? Aku terlihat menarik karena bersikap acuh padanya?
Dasar pria aneh.
Elisa mengembuskan napas panjang. Matanya kembali menatap uluran tangan Erlan yang masih menunggu tanpa sedikit pun bergeming. Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Akhirnya, Elisa menyerah.
Dengan langkah pelan dan penuh keraguan, ia mulai mendekat. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah ia sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak dapat ia hindari.
Sesampainya di depan Erlan, Elisa kembali menatap tangan pria itu selama beberapa detik. Lalu, perlahan, jemarinya terangkat. Dengan sangat hati-hati, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Erlan.
Begitu tangan mereka saling bersentuhan, jemari Erlan langsung menggenggam tangan mungil itu dengan pas, tidak terlalu erat, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat melepaskannya.
Senyum kemenangan pun muncul di wajah sang pangeran. Seringai tipis menghiasi bibirnya, seolah baru saja memenangkan pertarungan kecil yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri.
Sementara Elisa hanya bisa menghela napas pasrah. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, tidak lagi berjalan dengan jarak yang memisahkan.
Mereka melangkah berdampingan, bergandengan tangan, sementara senyum tipis di wajah Erlan tak juga menghilang sejak Elisa menerima uluran tangannya.
Suasana berubah menjadi hening.
Hanya suara langkah kaki mereka yang beradu dengan jalan berbatu, Elisa terus menundukkan kepala. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada tangan mereka yang masih saling bertaut.
Aneh. Ini bukan pertama kalinya Erlan menyentuhnya, tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Mungkin karena tidak ada paksaan, atau ancaman. Pria itu hanya menggenggam tangannya sambil berjalan di sampingnya dengan tenang.
Sesekali ia melirik ke arah Erlan dari ekor matanya."Kita mau kemana?"
"Entahlah. Kita berjalan saja sampai lelah." Jawab Pangeran Erlan asal, dia berjalan dengan santai, wajahnya tetap datar seperti biasa. Namun, sudut bibirnya yang sedikit terangkat menandakan suasana hatinya sedang sangat baik.
"Apakah kau masih takut padaku, Nandikara?"
Elisa tidak langsung menjawab, dia menatap jalan di depannya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan."Takut."
"Kenapa takut?"
"Karena Anda sering tiba-tiba menarikku, mendekat, memegang tanpa ijin, itu menakutkan Yang Mulia, tolong lain kali jangan seperti itu lagi," Elisa langsung mengungkapkan isi hatinya.
Erlan menyeringai tipis."Itu agak sulit. Nandikara. Karena kau sudah menjadi canduku."
Jawaban itu membuat Elisa merinding. Apa yang harus dia lakukan agar bisa lepas dari Obsesi Pangeran Erlan?