Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Cklek.
Anton memutar gagang pintu kayu apartemennya dengan perlahan.
Pintu itu tidak terkunci rapat seperti saat dia meninggalkannya tadi pagi.
Ada bekas goresan kasar di sekitar lubang kuncinya.
Anton menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu masuk.
"Ada yang masuk secara paksa ke dalam kamarku," ucap Anton pelan di dalam hatinya.
Dia tidak buru-buru menerobos masuk ke dalam.
"Sistem, aktifkan kemampuanku," perintah Anton di dalam hati.
[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]
Pandangan Anton langsung menembus ketebalan pintu kayu di depannya.
Di dalam ruang tamu yang gelap gulita, ada tiga orang pria dewasa yang sedang bergerak mengendap-endap.
Mereka memakai jaket kulit hitam dan masker kain penutup wajah.
Satu orang berdiri di dekat televisi sambil memegang linggis besi.
Satu orang lagi sedang mengacak-acak laci meja di dekat sofa.
Orang ketiga berdiri berjaga di dekat pintu masuk sambil memegang sebilah pisau panjang.
"Cepat cari dokumen atau cetak biru chip itu," terdengar suara bisikan dari pria yang memegang pisau.
"Aku tidak menemukan apa-apa di meja ini, Bos," jawab pria yang mengacak-acak laci.
"Cari lebih teliti lagi, Tuan Muda bilang barang itu pasti ada di sini atau di tempat CEO wanita itu," balas si bos preman.
Anton mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu dengan saksama.
"Tuan Muda? Dokumen chip? Sudah pasti ini ulah Kevin Kusuma," pikir Anton menyimpulkan situasi dari obrolan mereka.
Anton mendorong pintu itu dengan tangan kanannya hingga terbuka lebar.
Brak.
Pintu menabrak dinding bagian dalam dengan suara yang sangat keras.
Ketiga preman itu langsung menoleh ke arah pintu masuk dengan raut wajah kaget.
"Siapa itu?" teriak bos preman sambil menodongkan pisaunya ke depan.
Anton melangkah masuk dengan santai dan menutup pintu di belakangnya.
Klik.
Dia mengunci pintu itu dari dalam.
"Kalian yang masuk tanpa izin ke rumahku, kenapa kalian yang bertanya siapa aku?" jawab Anton dengan nada datar.
Anton menyalakan sakelar lampu yang ada di dinding.
Klik.
Ruangan tamu yang tadinya gelap kini menjadi sangat terang benderang.
Ketiga preman itu menyipitkan mata mereka karena silau oleh cahaya lampu.
"Oh, jadi kamu yang namanya Anton?" tanya bos preman itu setelah matanya terbiasa dengan cahaya.
"Ya, ini rumahku," jawab Anton tenang.
"Baguslah kalau kamu pulang lebih cepat, kami tidak perlu repot-repot mencarimu di luar," ucap bos preman itu dari balik maskernya.
"Kalian mencari dokumen chip milik Star Technology kan?" tebak Anton terang-terangan tanpa basa-basi.
Ketiga preman itu terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan Anton.
"Dari mana kamu tahu?" tanya preman yang memegang linggis.
"Tentu saja aku tahu, bos kalian yang sombong itu baru saja kupermalukan di pameran tadi siang," jawab Anton mengejek.
"Jangan banyak bicara, serahkan dokumen itu sekarang juga," bentak bos preman sambil melangkah maju mendekati Anton.
"Dan kalau aku tidak mau menyerahkannya?" tantang Anton melipat tangannya di dada.
"Maka kami akan mematahkan kedua kakimu dan menyiksamu sampai kamu mau bicara," ancam bos preman itu dengan nada tinggi.
Anton tertawa pelan mendengar ancaman preman tersebut.
"Kalian bertiga terlalu percaya diri untuk ukuran maling amatir," ucap Anton santai.
"Habisi dia sekarang juga!" perintah bos preman itu kepada dua anak buahnya yang berada di belakang.
Dua preman yang memegang linggis langsung berlari menerjang Anton secara bersamaan.
Preman pertama mengayunkan linggisnya ke arah kepala Anton dari sisi kanan.
Wush.
Suara angin terdengar saat besi berat itu berayun sangat cepat.
Anton masih mengaktifkan kemampuan penglihatan tembus pandangnya sejak dari luar tadi.
Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana otot lengan preman itu menegang dan aliran darahnya mengalir sebelum mengayunkan linggis.
Gerakan preman itu terasa sangat lambat di mata Anton.
Anton memiringkan kepalanya sedikit ke sebelah kiri tanpa panik.
Linggis besi itu lewat meleset hanya beberapa sentimeter dari telinga kanan Anton.
"Apa?" ucap preman pertama kaget karena serangannya bisa dihindari dengan mudah.
Sebelum preman itu bisa menarik kembali senjatanya, Anton sudah bergerak membalas serangan.
Anton mengepalkan tangan kanannya dan meninju perut preman itu dengan tenaga penuh.
Bugh.
"Ukh," preman pertama langsung melotot kesakitan dan memuntahkan air liur dari mulutnya.
Pukulan Anton mendarat sangat presisi mengenai titik lemah di ulu hatinya.
Preman itu langsung ambruk ke lantai sambil memegangi perutnya yang kesakitan luar biasa.
Preman kedua yang melihat temannya jatuh langsung merasa marah besar.
"Sialan kamu!" teriak preman kedua sambil menusukkan ujung linggisnya lurus ke arah dada Anton.
Anton dengan tenang menepis batang linggis itu menggunakan punggung tangan kirinya dari arah samping.
Tangkisan itu membuat arah tusukan linggis melenceng jauh dari sasarannya.
Anton kemudian melangkah maju dan menghantamkan siku kanannya langsung ke wajah preman kedua.
Krak.
Terdengar suara tulang hidung yang patah akibat benturan keras dari siku Anton.
"Aaaargh," teriak preman kedua kesakitan sambil memegangi hidungnya yang mulai mengeluarkan banyak darah segar.
Preman kedua itu terhuyung mundur beberapa langkah lalu jatuh terduduk di lantai sambil mengerang.
Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, dua preman berbadan besar itu sudah dilumpuhkan dengan mudah oleh Anton.
Bos preman yang melihat kejadian itu menelan ludah dengan susah payah karena merasa gentar.
"Orang ini bukan pekerja kantoran biasa, gerakan tubuhnya sangat terlatih," batin bos preman itu mulai ketakutan.
"Tinggal kamu sendiri sekarang, mau menyerah atau mau dipukul juga?" ucap Anton menatap bos preman itu.
"Jangan sombong dulu anak muda, aku punya pisau tajam," kata bos preman mencoba menakut-nakuti Anton.
"Pisau tidak berguna kalau orang yang memakainya bergerak sangat lambat," balas Anton meremehkan.
Bos preman itu merasa harga dirinya direndahkan dan langsung hilang kesabaran.
"Mati kamu!" teriak bos preman sambil menusukkan pisaunya lurus ke arah perut Anton.
Anton sama sekali tidak melompat menghindar ke belakang atau ke samping.
Dia malah melangkah maju satu langkah menyongsong serangan pisau tersebut.
Tepat saat ujung pisau hampir mengenai perutnya, tangan kiri Anton bergerak secepat kilat.
Grep.
Anton menangkap pergelangan tangan bos preman itu dengan cengkeraman jari yang sangat kuat.
"Lepaskan tanganku!" teriak bos preman sambil meronta berusaha menarik tangannya ke belakang.
Namun tenaga fisik Anton jauh lebih besar darinya setelah mendapatkan uang miliaran dari sistem.
Anton memelintir pergelangan tangan preman itu ke arah luar dengan sangat kasar.
Krek.
"Aaaaaakh!" jerit bos preman kesakitan karena persendian tangannya bergeser paksa.
Jari-jarinya otomatis terbuka karena rasa sakit dan pisau panjang itu jatuh terlepas dari genggamannya.
Klang.
Pisau itu beradu dengan lantai marmer apartemen yang keras.
Anton lalu menendang bagian belakang lutut bos preman tersebut dengan kaki kanannya.
Bruk.
Bos preman itu kehilangan keseimbangan dan dipaksa berlutut tepat di hadapan Anton.
Anton melepaskan cengkeramannya dari tangan preman itu.
Dia membungkuk dan mengambil pisau yang jatuh di lantai tadi.
Anton kemudian menempelkan sisi tajam pisau itu langsung ke leher bos preman yang sedang berlutut.
"Sekarang, mari kita bicara dengan baik dan jujur," ucap Anton dengan suara pelan tapi menakutkan.
"Tolong, tolong jangan bunuh aku," mohon bos preman itu dengan tubuh gemetar hebat.
"Kevin Kusuma yang menyuruh kalian ke sini malam ini kan?" tanya Anton memastikan informasi yang didengarnya tadi.
"Iya benar, Tuan Muda Kevin yang membayar kami untuk datang malam ini," jawab preman itu jujur karena takut mati.
"Dia membayar kalian berapa untuk menyelinap dan mencari dokumen itu?" tanya Anton lagi.
"Seratus juta rupiah kalau kami berhasil membawa dokumen cetak biru chip itu kepadanya," jawab bos preman dengan suara parau.
"Lalu apa perintahnya kalau dokumen itu tidak ada di kamarku?" tanya Anton mengorek informasi lebih dalam.
Bos preman itu mendadak terdiam sejenak, ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Anton.
Anton sedikit menekan ujung pisau itu ke leher si preman.
Ada sedikit darah segar yang keluar dari kulit lehernya yang tergores tajamnya pisau.
"Bicara, atau aku akan mengiris urat lehermu pelan-pelan sekarang juga," ancam Anton sungguhan.
"Aku akan bicara! Tolong jauhkan pisau itu dari leherku!" teriak bos preman panik ketakutan.
"Katakan semuanya tanpa ada yang ditutupi," perintah Anton tegas.
"Tuan Muda Kevin menyewa dua tim preman bayaran malam ini," jelas bos preman itu terburu-buru.
Anton langsung mengerutkan dahinya mendengar informasi baru ini.
"Dua tim? Di mana lokasi tim yang satunya lagi sekarang?" tanya Anton dengan nada mulai mendesak.
"Tim kedua dipimpin oleh temanku, mereka dikirim langsung ke apartemen Siska, CEO wanita dari Star Technology itu," jawab bos preman.
Mata Anton langsung membelalak kaget mendengar nama Siska disebut.
"Apa perintah Kevin kepada tim kedua itu?" tanya Anton dengan rahang yang mengeras karena marah.
"Sama seperti kami, mereka disuruh mencari dokumen chip di rumah wanita itu," jawabnya.
"Hanya itu saja tugas mereka?" Anton menekan pisaunya lagi karena merasa preman ini masih menyembunyikan sesuatu yang penting.
"Aduh, sakit! Iya, iya! Kalau wanita itu tidak mau menyerahkan dokumennya, mereka disuruh menculiknya," aku bos preman sambil meringis kesakitan.
"Menculiknya lalu dibawa ke mana?" bentak Anton dengan suara keras.
"Dibawa ke sebuah gudang kosong di daerah pelabuhan utara, Tuan Muda Kevin ingin menginterogasi wanita itu secara langsung," jelas bos preman itu panjang lebar.
Hati Anton mendadak terasa panas terbakar oleh amarah yang luar biasa.
"Jam berapa tim kedua itu bergerak ke rumah Siska?" tanya Anton cepat.
"Mereka bergerak bersamaan dengan tim kami sekitar setengah jam yang lalu," jawab preman itu pasrah.
Anton sadar bahwa Siska dalam bahaya besar pada saat ini.
"Siska tinggal sendirian di apartemennya, dia pasti tidak akan bisa melawan preman-preman sewaan itu," pikir Anton panik di dalam hatinya.
Anton menarik pisau itu menjauh dari leher bos preman.
Kemudian Anton memukul bagian belakang tengkuk pria itu menggunakan gagang besi pisau dengan sangat keras.
Bugh.
Bos preman itu langsung pingsan dan tubuhnya ambruk ke lantai menimpa kaki teman-temannya.
Anton membuang pisau itu sembarangan ke lantai karpet.
Dia berbalik dengan cepat dan berlari keluar menuju pintu apartemennya.
Anton membuka kunci dan menarik pintu itu dengan kasar tanpa mempedulikan kerusakan engselnya.
Dia berlari menyusuri lorong menuju lift secepat yang dia bisa.
"Sialan kamu Kevin, kalau sampai terjadi apa-apa pada Siska, aku akan menghancurkan seluruh keluargamu," gumam Anton sambil menekan tombol lift berkali-kali.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Anton langsung menerobos masuk ke dalam.
Dia menekan tombol menuju lantai parkir bawah tanah.
Di dalam lift yang bergerak turun, Anton mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
Dia mencari nomor kontak Siska dan langsung menekan tombol panggil.
Tuut... Tuut...
Suara nada sambung terdengar beberapa kali dari pengeras suara ponselnya.
"Ayo angkat teleponnya Siska," ucap Anton tidak sabar sambil terus menatap layar ponsel.
Namun panggilan itu sama sekali tidak dijawab oleh Siska sampai nada sibuk berbunyi.
Anton mengakhiri panggilan dan mencoba meneleponnya lagi untuk kedua kalinya.
Tuut... Tuut...
Hasilnya masih sama, tidak ada jawaban dari seberang sana.
Kekhawatiran Anton kini semakin memuncak dan membuat jantungnya berdebar cepat.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar di area lantai parkir bawah tanah apartemen.
Anton berlari keluar dari lift menuju tempat mobil BMW merahnya diparkir.
Dia menekan tombol buka kunci di remot mobilnya sambil berlari mendekat.
Pip pip.
Lampu mobil berkedip menyambut kedatangan pemiliknya.
Anton membuka pintu mobil dan langsung duduk ke dalam kursi kemudi.
Dia menyalakan mesin mobil itu dengan menekan tombol starter dengan cepat.
Brumm.
Suara mesin mobil sport itu menderu keras di area parkir yang sunyi senyap.
Anton menginjak pedal gas dalam-dalam tanpa keraguan sedikit pun.
Ciiit.
Suara ban bergesekan tajam dengan lantai beton terdengar saat mobil itu melesat keluar dari area parkir.
Anton menyetir mobilnya membelah jalanan malam kota dengan kecepatan penuh.
Dia mengabaikan beberapa lampu merah di persimpangan jalan yang sedang sepi kendaraan.
"Aku butuh waktu setidaknya lima belas menit untuk sampai ke apartemen Siska dengan kecepatan ini," hitung Anton di dalam kepalanya.
Dia terus mencengkeram kemudi dengan kedua tangannya yang berkeringat dingin.
"Semoga saja para preman bajingan itu belum sempat masuk dan menyentuhnya," doa Anton berharap Siska masih baik-baik saja.
Mobil BMW merah itu terus melaju semakin kencang menembus kegelapan malam jalanan kota.