"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Investasi dan Pertumbuhan
Seminggu setelah Nadia masuk Lapas Pondok Bambu, Diana memanggil Surya ke Palazzo Residence.
Bukan untuk perkara.
Di ruang kerjanya yang menghadap lampu kota, Diana membuka laptop. Di layar, grafik harga aset kripto bergerak seperti detak jantung orang gelisah. Di sampingnya ada akun Indodax, tabel manajemen risiko, dan catatan tangan yang lebih rapi daripada kebanyakan draf gugatan.
"Kamu pernah trading?" tanya Diana.
"Pernah menukar kupon diskon minimarket."
"Berarti belum."
Surya duduk. "Bu Diana, kalau ini soal investasi, saya bukan orang kaya."
"Justru karena itu kamu harus belajar. Orang kaya bisa salah beberapa kali. Orang miskin sering hanya punya satu kesempatan."
Kalimat itu membuat Surya diam.
Diana menunjuk grafik. "Saya tidak menyuruhmu berjudi. Saya menunjukkan peluang berisiko tinggi. Aset ini sedang membentuk pola breakout setelah sentimen regulasi dan volume asing masuk. Aku memakai leverage terbatas, maksimal dua puluh kali, dengan stop loss ketat. Kalau salah, uang hilang. Kalau benar, modal kecil bisa menjadi pondasi."
"Kenapa memberi tahu saya?"
"Karena kamu sudah belajar menunggu dalam hukum. Sekarang belajar kapan harus berani dalam investasi."
Surya menatap angka di rekeningnya. Tabungan dari kompensasi, honor bantuan perkara, sisa dana pribadi setelah membeli apartemen dan Brio. Tidak besar dibanding ruangan Diana. Tetapi bagi Surya, itu darah yang baru kering.
"Dalam hukum, kamu harus sabar," kata Diana. "Dalam investasi, kamu harus berani. Tapi orang bodoh mengira berani berarti tanpa rem."
Malam itu, Surya tidak langsung menekan tombol apa pun. Ia membaca. Tanya. Memahami margin, likuidasi, biaya, dan risiko. Diana memaksanya menulis angka terburuk di kertas.
Kalau rugi penuh, apa kamu masih bisa makan?
Kalau jawabannya tidak, jangan masuk.
Surya masuk hanya dengan bagian yang bisa ia relakan hilang.
Tiga hari pertama, grafik bergerak melawan mereka. Surya hampir menutup posisi tiga kali. Diana melarangnya panik. Namun, juga tidak membiarkannya berharap buta. Stop loss tetap dipasang. Risiko tetap dihitung.
Hari keempat, pasar berbalik.
Hari ketujuh, harga menembus garis yang ditunggu Diana.
Hari kesepuluh, Surya menatap layar dengan jantung seperti dipukul.
Angka di akun tradingnya bukan lagi ratusan juta.
Miliaran.
Beberapa minggu kemudian, setelah beberapa kali keluar masuk posisi dan menarik keuntungan secara bertahap, aset bersih Surya melonjak ke angka yang dulu hanya ia lihat di proposal perusahaan: puluhan miliar rupiah.
Ia tidak berteriak.
Ia mematikan laptop, lalu mencuci muka lama sekali.
Keesokan harinya, ia menelepon Dewi.
"Kak, ikut aku ke Karawang."
"Ada apa?"
"Aku mau beli pabrik."
Kalimat itu terasa tidak nyata di lidahnya, justru karena itu ia tahu hidupnya sudah berpindah kelas sosial baru.
Dewi tertawa karena mengira adiknya bercanda.
Ia berhenti tertawa saat berdiri di depan kompleks pabrik komponen di Kawasan Industri Karawang. Bangunannya tidak baru. Cat beberapa sisi mulai kusam. Mesin di dalam butuh perawatan. Tetapi izin dasarnya bersih, lahan berstatus SHGB, pekerja inti masih bertahan, dan pemilik lama ingin menjual cepat karena utang bank.
Harga akhirnya disepakati Rp 8 miliar tunai melalui notaris dan rekening escrow.
Diana memeriksa dokumen. Meilu memastikan tidak ada nama jaringan kriminal di belakang penjual. Wulan memeriksa reputasi pemasok. Surya menandatangani hanya setelah semua lampu merah padam.
Saat akta jual beli ditutup, Dewi masih berdiri seperti orang tersesat.
"Dik... ini benar?"
Surya menyerahkan map kepadanya.
"Kakak, ini pabrik pertama kita. Mulai sekarang, kamu bukan buruh lagi. Kamu bosnya."
Dewi membaca namanya sebagai Direktur Utama.
Tangannya gemetar.
"Aku cuma lulusan biasa. Aku kerja pabrik dari bawah."
"Justru karena itu kamu tahu pabrik dari lantai, bukan dari ruang rapat."
Dewi menutup mulut. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahannya.
Surya memeluk kakaknya di tengah lantai produksi yang masih berdebu.
"Dulu Kakak membesarkan aku. Sekarang giliranku membangun tempat Kakak berdiri."
Hari itu juga, Dewi meminta bertemu para pekerja lama. Ia tidak duduk di kursi direktur. Ia berdiri di depan mesin potong yang suaranya dulu menjadi bagian dari hidupnya.
"Saya tidak datang dari keluarga kaya," katanya kepada dua puluh lebih pekerja yang menatap ragu. "Saya pernah berdiri di lantai pabrik seperti kalian. Jadi jangan coba menipu saya soal kerja lembur, bahan rusak, atau mandor yang suka main potong upah. Saya akan keras. Tapi kalau kalian kerja benar, tempat ini juga harus memberi kalian hidup yang lebih benar."
Beberapa pekerja saling pandang.
Seorang mandor tua akhirnya bertepuk tangan pelan.
Surya berdiri di belakang, tidak ikut bicara. Untuk pertama kalinya, ia melihat kakaknya Sebagai pemimpin yang baru menemukan suaranya sendiri.
Kabar pabrik baru itu menyebar lebih cepat daripada yang Surya duga. Tiga hari kemudian, seorang pria bertubuh besar datang dengan rombongan kecil dari Jepara. Kemeja batiknya mahal, suaranya keras, tawanya lebih keras lagi.
Guntur Wibisono.
Raja furnitur Jepara, pemilik jaringan workshop dan showroom yang memasok proyek hotel, vila, dan rumah kelas atas.
"Jadi ini anak muda yang beli pabrik tanpa ribut di media?" katanya sambil menjabat tangan Surya.
"Saya hanya tidak punya tim media."
Guntur tertawa. "Bagus. Orang yang terlalu sibuk difoto biasanya lupa kerja."
Ia berjalan mengelilingi pabrik, bertanya soal mesin, kapasitas, rantai pasok, dan rencana produk. Surya menjawab apa yang ia tahu, lalu jujur saat tidak tahu. Dewi menambahkan detail teknis dari pengalaman lantai produksi.
Di akhir kunjungan, Guntur berdiri di kantor kecil pabrik.
"Gue suka cara lo," katanya. "Lo bukan cuma beli gedung. Lo beli kemungkinan."
Surya menunggu.
"Gue belum pernah ketemu orang semuda lo yang senekat ini. Mulai hari ini, lo saudara gue."
Dewi terkejut. "Pak Guntur..."
"Bos Guntur aja." Ia tertawa. "Kita bikin sederhana. Bukan upacara kerajaan."
Di meja kantor pabrik, mereka menuang teh panas sebagai pengganti arak, menyalakan dupa kecil yang biasa dipakai staf lama untuk selamatan, lalu berjabat tangan di depan Dewi dan beberapa pekerja senior.
"Mulai hari ini," kata Guntur, "Surya Prasetyo saudara angkat gue. Pabrik ini dapat kontrak suplai komponen pendukung furnitur untuk tiga tahun. Semua order custom hotel yang cocok, gue lempar ke sini dulu."
Surya menatapnya.
"Bos Guntur yakin?"
"Gue yakin sama mata gue."
Saat Guntur pergi, ia menoleh kepada asistennya di mobil.
"Cari tahu Surya ini. Anak muda kayak begitu pasti ada orang besar di belakangnya."
Asistennya mengangguk.
Guntur menatap pabrik lagi.
"Atau lebih menarik... mungkin dia sedang jadi orang besar itu sendiri."
Kalimat itu menjadi catatan pertama Guntur tentang Surya, jauh sebelum orang lain berani menyebutnya calon raja baru.