NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 7 Saat Putri yang Dibuang Menolak Kembali

Menit-menit berlalu dengan sunyi. Udara pagi yang semula terasa sejuk perlahan berubah menjadi tegang tanpa alasan yang diketahui penghuni penginapan.

Mobil SUV hitam itu tetap terparkir beberapa puluh meter dari gerbang.

Namun, belum sempat pria berkacamata hitam menjalankan rencananya, suara mesin kendaraan lain terdengar memasuki jalan sempit menuju Penginapan Melati.

Sebuah sedan mewah berwarna hitam perlahan berhenti tepat di depan gerbang.

Pintu mobil terbuka,Keluar lebih dulu seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal. Wajahnya masih terlihat berwibawa meski dihiasi gurat kelelahan,

Di belakangnya turun seorang wanita berpenampilan elegan dengan gaun bermerek dan perhiasan yang mencolok. Tatapannya langsung menyapu bangunan tua itu dengan ekspresi tidak suka.

"Itu penginapan tempat dia bekerja?" gumamnya sinis.

Tak lama kemudian seorang wanita cantik ikut turun dari mobil, Mereka adalah keluarga Mahardika

Bagaskara Mahardika.

Maya Mahardika.

Dan putri mereka, Clarissa.

Orang-orang yang pernah menjadi keluarga Arunika. Atau lebih tepatnya...Orang-orang yang pernah mengusirnya dari rumah tanpa sedikit pun rasa iba, Di dalam penginapan.

Arunika sedang menyapu teras ketika suara mobil membuatnya menoleh.

Seketika gerakannya terhenti, Sapunya menggenggam lebih erat. Tatapan hangat yang biasanya selalu menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Digantikan oleh wajah yang dingin, Tenang, Dan sangat tegas.

maya yang melihat Arunika langsung melangkah cepat.

"Arunika."

Suara itu terdengar seolah penuh keakraban.

Namun bagi Arunika sebuah sandiwara, Suara itu hanya mengingatkannya pada malam ketika koper miliknya dilempar keluar rumah. Ia masih mengingat dengan jelas.

"Mulai hari ini kamu bukan bagian dari keluarga Mahardika."

"Keluarkan dia!"

"Kami tidak membutuhkan anak seperti dia!"

Semua kalimat itu masih terukir jelas di dalam ingatannya, Arunika menarik napas pelan. Lalu menatap lurus ke arah wanita itu.

"Selamat pagi."

Nada suaranya sopan, Tetapi tidak mengandung sedikit pun kehangatan. maya tampak sedikit terkejut. Ia mengira Arunika akan langsung menangis atau menghampiri ayah nya.

Ternyata tidak, Yang berdiri di depannya sekarang bukan lagi gadis yang dulu selalu ramah pada ayah nya. Bagaskara ikut mendekat.

"Nika..."

Arunika memandang pria itu beberapa detik.

Dulu...Ia memanggilnya Ayah dengan penuh kebanggaan. Namun Kini...Perasaan itu sudah lama hilang.

"Maaf."

"Ada yang bisa saya bantu?"

Kalimat itu sederhana, Namun terdengar seperti ucapan kepada tamu yang sama sekali tidak dikenalnya. Bagaskara tampak kehilangan kata-kata. Clarissa melangkah maju.

"apa kabar ka..."

Arunika hanya melirik sekilas, Tatapannya datar. Menatap mereka dengan kebencian.

tidak ada kerinduan, Hanya ketidakpedulian.

Maya mulai merasa kesal.

"Kamu bicara seperti itu kepada orang tuamu?"

Arunika menatapnya tanpa perubahan ekspresi.

"Orang tua?"

Ia mengulang pelan.

"beberapa hari lalu, Ibu sendiri yang mengatakan saya bukan lagi bagian dari keluarga Mahardika."

"Jadi..."

"Saya rasa tidak pantas memanggil Ibu dengan sebutan itu."

Suasana mendadak sunyi,Bahkan suara burung di halaman terasa begitu jelas.

Wajah maya berubah.

"Kamu masih menyimpan dendam?"

Arunika menggeleng pelan.

"Saya hanya mengingat kenyataan."

Jawaban itu jauh lebih menusuk daripada kemarahan. Bagaskara menundukkan kepala.

Ia tahu. Semua ini memang dia yang tidak teliti, Maya masih berusaha mempertahankan harga dirinya.

"Kami datang baik-baik."

"Setidaknya ajak kami masuk."

Arunika mengangguk pelan.

"Silakan."

"Penginapan ini terbuka untuk siapa saja."

"Tetapi sebagai tamu."

"Bukan sebagai keluarga saya."

Kalimat itu membuat Clarissa mengepalkan tangannya, Ia baru menyadari. Arunika memang semenyabalkan ini, Di ruang tamu penginapan. Nenek Sulastri menyambut mereka dengan ramah.

"Silakan duduk."

"Mau minum teh?"

Bagaskara mengangguk sopan.

"Terima kasih."

Arunika menyajikan teh seperti biasa, Gerakannya tenang. Profesional.

Tidak sekali pun ia menatap mereka lebih lama dari yang diperlukan, maya akhirnya tidak tahan.

"Arunika."

"Kamu benar-benar membuat ayah sedih kali ini."

Arunika meletakkan cangkir terakhir.

"Lingkungan baru mengajarkan banyak hal."

"Termasuk belajar menerima kenyataan."

maya tersenyum tipis.

"Kamu masih bisa kembali."

"Kami bisa melupakan semuanya."

Arunika langsung menjawab tanpa ragu.

"Tidak."

Jawaban itu begitu cepat hingga semua orang terdiam.

"Saya sudah memiliki kehidupan sendiri."

"Saya nyaman di sini."

"Tidak ada alasan untuk kembali."

Bagaskara mencoba berbicara.

"Nika."

"Ayah..."

Namun kalimatnya terhenti, Arunika menatapnya.

"Maaf."

"Saya sedang bekerja."

"Kalau Bapak ingin menginap, saya akan menyiapkan kamar."

"Tetapi kalau hanya ingin membahas masa lalu...Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."

Bagaskara merasakan dadanya sesak, Ia tidak pernah membayangkan gadis yang dulu selalu menja pada nya kini bahkan tidak ingin berbincang dengannya.

Di lantai dua, Adrian berdiri di balik jendela.

Ia sejak tadi memperhatikan semuanya. Ekspresinya tetap datar. Namun sorot matanya berubah tajam. Ia belum pernah melihat Arunika seperti itu.

Biasanya gadis itu selalu tersenyum, Selalu lembut, Selalu mengutamakan orang lain.

Tetapi di depan keluarga Mahardika...

Ia berubah menjadi sosok yang dingin dan sulit didekati.

Adrian perlahan memahami, Luka yang pernah diterima Arunika pasti jauh lebih dalam daripada yang dibayangkannya.

Di bawah.

Maya kembali membuka suara.

"Nika."

"apa tempat ini lebih nyaman di bandingkan rumah keluarga mu?"

Belum sempat Arunika menjawab, Nenek Sulastri lebih dulu berdiri.

"Maaf, Bu."

"Saya memang bukan keluarga kandung Nika."

"Tapi saya tidak pernah mengusirnya saat ia sedang membutuhkan tempat pulang."

Ruangan kembali sunyi, Wajah maya langsung memerah. Bagaskara menutup matanya sesaat. Ucapan wanita tua itu memang benar.

Tidak ada yang bisa mereka bantah, Arunika memandang neneknya dengan mata yang sedikit melembut. Lalu ia kembali menatap keluarga Mahardika.

"Dulu...Saya berkali-kali berharap ayah percaya kepada saya."

"Tapi tidak ."

"Sekarang saya sudah tidak berharap lagi."

"Saya juga sudah memaafkan."

Bagaskara tampak sedikit lega, Namun kalimat berikutnya membuat wajahnya membeku.

"Tetapi memaafkan bukan berarti saya harus kembali."

"Saya tidak membenci kalian."

"Hanya saja...Saya sudah tidak peduli lagi."

Ucapan itu terdengar tenang, Tanpa emosi.

Justru karena itulah kalimat itu terasa begitu menyakitkan. Bagi seseorang...Tidak ada hukuman yang lebih berat daripada menjadi orang yang tidak lagi dianggap penting.

Clarissa menundukkan kepala dengan menyembunyikan senyuman tipisnya, Bagaskara mengepalkan kedua tangannya pelan. Sedangkan maya hanya diam.

Di luar penginapan, Pria berkacamata hitam yang sejak tadi mengawasi mengangkat sudut bibirnya.

"Menarik..."

"Hubungan mereka benar-benar sudah hancur."

Ia segera menekan alat komunikasi.

"Keluarga Mahardika telah tiba."

"Situasi emosional target sedang tidak stabil."

Suara dari seberang terdengar dingin.

"Bagus."

"Semakin banyak kekacauan, semakin mudah menjalankan rencana."

Namun beberapa meter dari sana, sosok berjaket hujan yang memegang liontin tua masih berdiri di balik pepohonan. Tatapannya bergantian mengawasi keluarga Mahardika dan mobil SUV hitam.

"Celaka..."

"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku."

Ia menggenggam liontin itu semakin erat.

"Arunika..."

"Apa pun yang terjadi, kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."

1
sinnox
50k mana cukup😭
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!