Apa benar cinta tanpa restu dari kedua orang tua itu akan kandas di tengah jalan?
Pasrahkan semuanya pada Sang Maha Cinta.
Apa benar cinta akan hilang begitu saja ketika maut memisahkan?
Hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbawa Kapal
Matahari sedikit meredupkan cahayanya. Awan gelap menyelimuti wajah langit. Sepertinya akan turun hujan. Alia masih bersama Aufar di dalam kapal.
Mereka bersenda gurau sembari bercerita keseharian yang mereka lewati tanpa bertemu satu sama lain. Aufar menceritakan kesehariannya tanpa Alia, begitu pula sebaliknya.
Namun keasyikan canda sepasang kekasih itu harus terhenti karena ada seseorang yang membuka pintu kamar.
Cekreeeek...
Daun pintu terbuka. Nampak seseorang berdiri di muka pintu dengan nafas ngos-ngosan dengan tangan masih menggenggam handle pintu.
"Far...kapal udah jalan." Rizki mencoba memberitahu Aufar tentang keberangkatan kapal yang tiba-tiba dipercepat.
"Apaaaa??? Serius ki?" Aufar membulatkan matanya sempurna. Tidak percaya dengan berita yang dibawa temannya itu.
"Buat apa gua becanda masalah ginian ah. Buruan bawa Alia turun semoga masih bisa keluar. Gua tunggu di bawah. Pintu belakang Far." Kiki berlalu mendahului Alia dan Aufar.
Seketika itu juga wajah Alia terlihat memucat. Ia takut bagaimana jika ia terbawa kapal? Memerlukan waktu lima sampai enam hari untuk kembali ke kota itu.
Aufar melihat wajah Alia yang terlihat penuh kekhawatiran ketika itu juga meyakinkan ia bahwa ia pasti bisa keluar sebelum kapal menjauh dari pelabuhan.
"Tenang ya sayang..kamu pasti bisa pulang. Ayo Mas antar ke bawah."
Mereka keluar dari kamar dan mengunci pintunya kembali. Aufar terpaksa menggenggam tangan Alia agar bisa mengurangi rasa ketakutan Alia.
Mereka mulai menuruni satu persatu anak tangga melewati dua dek untuk sampai ke dek dasar. Di sepanjang perjalanan banyak mata yang memandangi mereka. Tentu saja pandangan penuh selidik melihat mereka berlarian seperti dikejar hantu.
Aufar dan Alia tidak mempedulikan hal tersebut. Tujuan utama mereka adalah secepat mungkin bisa sampai di pintu keluar bagian belakang.
Ketika sampai di lantai dasar, Aufar berhenti di pintu keluar utama. Ia melihat jarak kapal dan tepi steher (pelabuhan) cukup jauh tidak memungkinkan Alia untuk melompat.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti saran Rizki. Ia bergegas kembali menarik lembut tangan Alia dan berlari ke pintu belakang.
Rizki sudah terlihat standby di pintu itu menunggu kedatangan Alia dan Aufar. Ia juga bersama beberapa tiga orang ABK lainnya.
"Ki..gimana?" Aufar yang tergopoh-gopoh telah sampai di muka pintu.
"Kayaknya bisa ni Far, jaraknya nggak begitu jauh. Coba deh lu ukur." Kiki meyakinkan Aufar.
Aufar mengira-ngira kemungkinan terburuknya. Kemudian ia memandang Alia.
"Sayang..kamu bisa lompat?" Tanya Aufar tidak yakin.
Alia melongokkan kepalanya ke muka pintu melihat jarak antara kapal dan steher. Ketika itu juga ia meringis ketakutan.
"Iiiissssh aku takut mas. Ntar jatoh aku nggak bisa berenang." Alia hampir saja menangis.
Kemudian Aufar berinisiatif. Ia tidak yakin Alia mau melakukan cara yang sedang ia pikirkan. Namun ia harus bertanya dahulu kepada Alia.
"Hmmm ya udah, gini aja sayang. Apa kamu mau kalau Mas gendong?" Aufar kembali meragukan hal itu. Ia merasa Alia pasti menolaknya.
Namun hal yang tak disangka terjadi, Alia langsung mendekat kepada Aufar dan mengaganggukkan kepalanya berkali kali.
"Mau..mau..Mas.."
Aufar tersenyum dan mulai menumpukan kaki kanannya ke steher dan kaki kiri masih kokoh di badan kapal.
"Sayang..maaf ya Mas gendong sekarang." Ia dengan ragu menyodorkan kedua tangannya dan membopong tubuh mungil Alia. Hal yang baru, konyol, mendebarkan dan akan menjadi kenangan manis bagi mereka berdua.
Aufar lantas mengangkat tubuh Alia yang tidak terlalu berat menurutnya. Memindahkan Alia dari badan kapal ke atas steher pelabuhan. Kemudian ia menarik kaki kanannya kembali ke badan kapal dan bernafas lega.
Sebenarnya akan sangat membahagiakan bagi Aufar jika Alia harus ikut ke Jakarta. Mereka akan mempunyai waktu lama untuk bersama.
Namun Aufar tidak ingin egois. Ia menyadari bahwa Alia memiliki tanggung jawab lain. Ia harus tetap kuliah dan bekerja. Apa yang akan dipikirkan teman-temannya jika Alia ikut dengannya? Pastinya mereka akan mengecap Alia sebagai wanita yang tidak baik. Aufar tidak ingin itu terjadi.
Dari muka pintu Aufar memandang Alia sambil melambaikan tangan. Pandangan menyesal akan kelalaiannya. Bagaimana ia bisa melupakan jadwal keberangkatan kapal? Ia sungguh merasa sangat bersalah dan tidak enak hati kepada Alia.
Pandangannya menyapu seluruh wajah gadis polos pujaan hatinya itu. "Aku akan selalu melindunginya," gumam Aufar dalam hati.
Alia membalas lambaian tangan Aufar. Menatap lekat manik matanya dengan penuh cinta. Ia merasa sangat disayang dan dilindungi. Alia terharu.
Tak terasa mata Alia berkaca-kaca. Tak kuasa menahan air mata yang hampir tumpah, akhirnya ia berbalik arah berjalan perlahan menuju parkiran. "Terima kasih untuk semuanya Mas," batin Alia.
Alia menghampiri motornya. Mengenakan helm dan memasang kunci pada kontak motor. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah.
Setelah lima belas menit berkendara, ia menghentikan motor di depan rumah kontrakannya. Ia melirik jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.
Jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Sejurus pikirannya tersentak mengingat bahwa ia belum melaksanakan shalat ashar. Lebih-lebih lagi yang membuatnya menepuk jidat adalah ia lupa membelikan martabak yang ia janjikan kepada Isni.
"Astaghfirullah..bagaimana aku bisa melupakannya? Hmmm ini pasti efek ketakutan tadi. Bagaimana ini?"
Ia sejenak berpikir sambil menggigit ujung kukunya. Akhirnya ia memutuskan untuk melaksanakan shalat ashar dahulu kemudian mengajak Isni keluar bersama untuk membeli martabak.
Lantas ia mengunci ganda motor dan melepas helmnya. Ia menarik nafas berat sambil menutup mata dan melepaskannya secara perlahan. Ia masih terkejut dengan perpisahan yang mendadak itu.
Alia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Isni menjawab salam Alia dan membukakan pintu.
Wajah Isni yang awalnya sumringah kemudian meredup ketika melihat tangan kosong Alia. Alia yang menangkap ekspresi kecewa sahabatnya itu langsung menghambur memeluk Isni.
"Is, sorry ya tadi terjadi tragedi kecil jadi aku lupa beli martabaknya." Alia meregangkan pelukannya dan memegang kedua tangan Isni.
"Aku shalat ashar dulu ya, kamu boleh siap-siap. Setelah itu kita pergi beli martabak, oke." lanjut Alia seraya menepuk manja bahu Isni dan berlalu menuju kamar.
Bibir mungil Isni yang tadinya cemberut seketika sumringah kembali sambil jingkrak-jingkrak saking bahagianya. "Oke sayangku..aku ganti baju dulu ya."
***
Sesuai janjinya kepada Isni, selesai melaksanakan shalat ashar Alia pergi mengajak Isni pergi untuk membeli makanan favorit sahabatnya itu.
Sebelum membeli martabak, Isni mengajak Alia mengukur jalan (menyusuri jalanan) menikmati waktu senja terlebih dahulu.
Setelah lama berkendara, akhirnya mereka sampai di pasar Kota Baru. Pasar itu terkenal dengan bermacam jenis jajanan pinggir jalan. Sore-sore menikmati suasana kota dengan pemandangan langit jingga sungguh menyegarkan mata kedua sahabat itu.
Alia menghentikan motornya di sebuah gerobak penjual martabak yang terkenal enak di pasar itu. Tekstur kulit martabak telornya yang krispi dan tidak terlalu tebal dengan potongan daging yang cukup banyak membuat antriannya mengular.
Mereka harus bersabar menunggu giliran. Setelah mendapatkan yang ia inginkan. Alia dan Isni memutuskan untuk pulang karena waktu sudah menjelang maghrib.
Alia merasa sangat bahagia karena telah mengobati kekecewaan sahabatnya tersebut. Di sepanjang jalan Isni mengoceh dengan logat khasnya sedangkan Alia merespon sebisanya.
Menghabiskan waktu bersama Isni sejenak mengalihkan pikiran Alia yang sedih akibat perpisahannya dengan Aufar tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like dan vote ya man temaaaan💞 thank you🙏🙏
mampir juga ya kak 🙏😊
Mampir juga ya kak ke karya ku 🤗🤗🤗👍
Ditunggu karya terbarunya, Kak 😊