Apa jadinya jika seorang gadis remaja berusia 16 tahun, dikenal sebagai anak yang bar-bar dan pemberontak terpaksa di kirim ke pesantren oleh orang tuanya?
Perjalanan gadis itu bukanlah proses yang mudah, tapi apakah pesantren akan mengubahnya selamanya?
Atau, akankah ada banyak hal lain yang ikut mengubahnya? Atau ia tetap memilih kembali ke kehidupan lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 - Tawanan Pesantren
~💠💠💠~
Langit sore di pesantren tampak kelabu, matahari yang hampir tenggelam menciptakan semburat jingga di ufuk barat.
Di bawah pohon mangga yang rindang, Miska duduk terpisah dari santri lainnya. Bukan karena takut akan ancaman Ustadz Dayat, tapi karena pikirannya sendiri yang kini terasa membebani.
"Keluar dari pesantren? Seharusnya ini kabar baik. Tapi... kenapa rasanya malah aneh?," batin Miska.
Dulu, ia selalu mencari cara untuk kabur dari tempat ini. Tapi sekarang, seolah ada sesuatu yang menahannya.
Mungkin karena kasus Novi?
Atau karena hal lain?
"Gue mikir apa sih?," gumam Miska seraya menggelengkan kepalanya.
Sementara itu, di sisi lain lapangan, beberapa santri putra tengah bermain basket. Sorakan dan tawa terdengar riuh, meski tidak terlalu menarik perhatian Miska yang masih tenggelam dalam pikirannya.
Sampai tiba-tiba…
"AWAS!!"
BUK!
Bola basket melayang cepat, tepat ke arah kepala Miska! Refleks, Miska mengangkat tangan dan menangkap bola itu dengan dua tangan.
Plak!
Suasana pun hening seketika. Semua santri yang menyaksikan kejadian itu membelalakkan mata.
"WOAH!"
"Gila, tangkapan yang bersih!"
Beberapa santri putra langsung berdiri dari duduknya dan menatap Miska dengan takjub. Santri putri di sekitar Miska juga berbisik-bisik.
"Miska bisa main basket?"
"Baru tahu, keren juga!"
Tapi ada juga yang mendengus.
"Ah, paling cuma kebetulan."
Tanpa banyak bicara, Miska berdiri dan menatap bola di tangannya. Kemudian, ia mulai berjalan ke tengah lapangan dengan langkah yang santai.
Beberapa santri masih menatapnya dengan penasaran. Lalu, salah satu santri putra yang memegang bola lain berseru, "Hei, balikin bolanya!"
Miska pun berhenti tepat di depan ring basket. Ia menimbang bola di tangannya sebentar, lalu…
DOR!
Bola melesat, memantul ke papan dan masuk ke dalam ring dengan sempurna.
"WOAAAAHH!!"
Sorakan pun terdengar bergemuruh. Bahkan santri yang tadi meminta bola pun sampai melongo.
"Gokil! Dia bisa nge-shoot dari situ?!," seru salah satu santri.
Beberapa santri putri pun bertepuk tangan, sementara yang lain hanya terdiam dengan wajah tidak percaya.
Kemudian, Miska menepuk tangan untuk menghilangkan debu dari telapak tangannya. Lalu, ia melirik santri putra yang tadi memintanya mengembalikan bola dan berkata,
"Tuh, bolanya udah di balikin."
Miska lalu berbalik dan mulai berjalan keluar dari lapangan. Namun, sebelum keluar, samar-samar ia mendengar seseorang berkata,
"Hei… Kayaknya bakal seru kalau dia ikut tanding besok," dengan sedikit bercanda.
**
Beberapa saat kemudian, langit mulai menggelap, pertanda maghrib akan segera tiba. Santri-santri mulai bergegas meninggalkan lapangan, kembali ke asrama atau menuju masjid.
Namun, Miska masih berdiri di luar lapangan sambil menatap ring basket yang baru saja ia taklukkan.
"Kenapa rasanya… menyenangkan?," batinnya.
Sejak masuk pesantren, hidupnya terasa seperti terkurung dalam sangkar. Tapi tadi, saat bola itu melayang di udara…
Ada perasaan bebas.
Tiba-tiba…
"Assalamu'alaikum, Miska."
Sebuah suara membuatnya menoleh.
Dan nampaklah Rehan yang berdiri beberapa langkah di depan Miska. Ia tampak ragu namun akhirnya berkata, "Besok ada pertandingan basket di sini."
"Terus?," ujar Miska datar seraya mengangkat alisnya.
Rehan menggaruk tengkuknya dan tampak sedikit canggung. "Kalau kamu mau nonton… ya, datang aja."
"Kenapa bilang hal itu padaku?," tanya Miska seraya menyipitkan matanya.
Rehan terdiam sesaat, lalu menghela napas. "Gak tau. Mungkin karena tadi aku lihat kamu suka main basket."
"Suka? Aku cuma benerin arah bola," dengus Miska.
Rehan pun tersenyum tipis, lalu melirik ke arah sekeliling mereka. Di sudut lapangan, beberapa santri putra masih ada yang membereskan peralatan olahraga, tapi mereka tampaknya mulai memperhatikan interaksi antara dirinya dan Miska.
"Ekhem. Pokoknya kalau mau nonton, besok jam empat sore di sini. Assalamualaikum...."
Tanpa menunggu jawaban, Rehan segera berbalik dan berjalan pergi. Sementara, Miska masih menatap punggungnya dengan tatapan aneh.
Kenapa Rehan terkesan nervous?
Miska pun mendengus, lalu berbalik menuju asrama.
"Datang atau enggak? Entahlah. Lagian, kenapa gue harus peduli?," batinnya.
BERSAMBUNG...