Sebuah keluarga sederhana yang penuh tawa dan kebahagiaan… hingga suatu hari, semuanya berubah.
Sebuah gigitan dari anjing liar seharusnya bukan hal besar, tapi tanpa mereka sadari, gigitan itu adalah awal dari mimpi buruk yang tak terbayangkan.
Selama enam bulan, semuanya tampak biasa saja sampai sifat sang anak mulai berubah dan menjadi sangat agresif
Apa yang sebenarnya terjadi pada sang anak? Dan penyebab sebenarnya dari perubahan sang anak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Aru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Dimas berjalan mendekati tangga yang berada di depannya, dia terdiam saat melihat seseorang dengan tangan yang seperti akar, dengan mata yang merah dan bintik putih. "Bang, aman bang?" Tanyanya mendekat perlahan.
Saat ia mendekat kearah pria tersebut, tiba-tiba saja ia merangkak kearah Dimas dengan cepat, Dimas yang melihat itu dengan segera dia berjalan mundur menjauh dari orang tersebut. "**J*ng!" Teriak Dimas.
"Tolong bantu gue." Pinta pria itu tiba-tiba, Dimas tak langsung menjawab dan hanya menatap orng tersebut dengan ragu. "Gue.. bisa kasih lo apapun." Ucapnya lagi.
"Minta pulau." Canda Dimas, mendengar hal tersebut pria itu hanya mengangguk karena dia sudah tak tahan dengan infeksinya. Dimas yang melihat itu pun sedikit tak percaya, tetapi karena kasihan dan ingin mengetahui apa yang terjadi akhir ia mengiyakan untuk mencari obat untuk pria tadi.
Dimas sekarang berasa di depan ruangan obat yang berada di lantainya. Saat ia memasuki ruangan itu, tercium aroma obat yang kuat. "Bau banget." Ucapnya.
Ia dengan segera mencari vaksin rabies dan suntikan untuk pria yang berada di tangga tadi. "1, 2, alah ambil semua lah." Dimas pun meraih semua suntikan yang ada dan membawanya menggunakan sebuah kantong kresek yang ia temukan di dalam sana.
Dimas dengan segera berjalan kearah pria tadi dan dengan hati-hati meletakkan vaksin rabies tersebut ke depan pria tadi. Dengan segera pria itu meraih kantong kresek tersebut dan mengambil vaksinnya.
Ia menyuntikkan vaksin itu dengan tangan kanan nya yang belum berubah menjadi akar, dengan perlahan tubuhnya mulai membaik dan tangannya yang tadinya akar besar, sekarang mulai menyusut dan kembali menjadi tangan biasa. "Ahh... Akhirnya balik." Ucapnya.
"Oke, mana pulau gue?" Tanya Dimas secara tiba-tiba dengan menyodorkan tangannya, pria yang mendengar itu hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Nanti dah, belum bisa manggil anak buah gue lagi." Ucapnya singkat seperti tak merasa bersalah.
"Tau gitu gak gue tolong lo." Dimas pun memutar badan ingin meninggalkan pria itu, tapi ia baru teringat sesuatu yang membuat berhenti melangkah. "Btw lo tadi kenapa?" Tanya nya.
"Pertama-tama kenalin gue Mahen, dan ya seperti yang lo lihat, bahwa ada monster di sini." Mahen pun meraih tasnya yang ternyata masih berada di dekatnya.
Mahen berjalan ke arah Dimas perlahan dan memberikan beberapa dokumen dan catatan yang ia dapatkan. "Gak tau kenapa bisa kayak gini, tapi seharusnya semua ini berhubungan sih."
Dimas dengan tenang menerima dokumen itu dan membaca salah satu dokumen. Saat membacanya ia sedikit kaget bahwa para monster dapat bermutasi.
"Jadi dengan kata lain dunia ini hancur?" Tanya Dimas.
"Nggak, cuma negara kita, tapi bisa aja sampai luar negeri, seperti yang lo lihat tadi, gw udh berubah jadi monster dan monster tadi nyebarin serbuknya." Ucap Mahen menjelaskan secara singkat.
"Terus 2 lagi? Bloodgrin sama Plagishell?" Tanya Dimas yang menunjukkan nama beserta foto yang berada di dokumen.
"Kurang tau, tapi kayaknya semua monster memakan manusia sih." Ucap Mahen.
Dimas hanya mengangguk paham, Mahen yang melihat itu pun akhirnya berjalan naik melewati Dimas dan pergi ke arah ruangan obat untuk membuat vaksinnya.
Dimas yang melihat itu hanya mengikuti Mahen dari belakang dan melihatnya sedang meracik obat, ia sedikit bingung karena di waktu seperti ini Mahen masih bisa tenang.
"Di waktu beginian malah ngebuat mainan Lo." Ejek Dimas, Mahen yang sedang fokus pada penelitiannya, dengan melihat dokumen lain tentang vaksin rabies dengan level yang lebih tinggi lagi.
Bersambung....