Cinta sebagai sebuah permainan?
Itulah yang Jenny selalu lakukan, Cinta hanya sepotong permainan dunia bagi gadis yang memiliki segalanya, karenanya dia ingin selalu menang dan memang dia selalu menang, hingga dunianya sedikit kacau karena seorang pria mulai mengacaukan permainan cintanya, dan dia tak akan pernah tinggal diam.
Jonathan, Pria sempurna penakluk semua wanita, semua terjebak hanya dari sorot matanya, dia tertantang untuk masuk pusaran permainan Jenny dan berusaha memenangkannya.
Siapa yang akan menang? atau mereka terjebak dalam permainan yang mereka buat masing-masing?
Benar, Cinta adalah permainan.
Karena itu, Lets The Game Begin!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Wanita mahluk yang paling susah dimengerti.
Jonathan mengangguk, senyum tadi belum lepas dari wajahnya, apalagi sejenak mengingat wajah salah tingkah gadis itu, baru sejenak tak melihatnya, rindunya sudah menggebu sekarang.
"Tapi dia mendorongku pergi, dia ingin aku melupakannya dan menghapuskan perasaan ini padanya, dia mengatakan bahwa perasaanku padanya hanya sekedar obsesi belaka," kata Jonathan lagi, sorot matanya kembali menyuram, dia kembali meneguk birnya, membuang semua pandangan karena dia tahu matanya menunjukkan seberapa sakit hatinya.
Valerie mengulum senyumnya, cukup berat ternyata permasalahan kakaknya ini, dia bersikap sedikit serius akhirnya.
"Lalu? kau setuju?" tanya Valerie.
Jonathan hanya melirik Valerie. Valerie langsung tahu apa jawabannya, Valerie lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melipat tangannya ke dadanya, "Kak, aku berpikir jika seseorang sepertimu pasti akan mudah dalam percintaan, namun ternyata kau sama saja, kau juga bodoh jika sudah jatuh cinta," kata Valerie lagi geram melihat tingkah laku kakak sepupunya ini.
Jonathan yang mendengar hal itu hanya mengerutkan dahinya, apa maksud Valerie ini?
"Kak, biar aku memberitahumu, wanita itu adalah mahluk yang paling susah dimengerti, kami ini selalu mengatakan hal yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kami rasakan, dan berharap ada pria yang tahu apa maksud kami sebenarnya, yah, aku tahu itu sikap kami yang menyebalkan, anyway, dia mungkin mendorongmu pergi namun aku rasa ada sedikit dari dirinya ingin kau tetap ada di sana karena bagaimana pun kau adalah pria yang dia sukai, dia hanya masih bimbang dengan segalanya, jika aku jadi dia pun, aku akan mengambil sikap yang sama, namun jika orang yang aku cintai itu tidak menyerah, terus menunjukkan seberapa dia mencintaiku dan lebih memilih diriku, pasti, di suatu titik aku akan tersentuh dan mungkin akan lebih memilihnya," kata Valerie lembut, Jonathan yang mendengar hal itu langsung mengerutkan dahi.
"Dia wanita yang berbeda, dia keras kepala dan selalu mengikuti apa yang ada dalam pikirannya," kata Jonathan lagi, tahu percis bagaimana Jenny itu.
"Come on, semua wanita itu tetap sama, sekeras apapun mereka mereka di luar, mereka selalu punya sisi lembut di dalam, mereka akan luluh pada yang memberikan kasih sayang dan yang berjuang, jadi kalau aku jadi dirimu, aku akan terus menunjukkan seberapa cinta aku padanya, tak peduli sekuat apapun dia mendorongku pergi, aku akan kembali mengejarnya, wanita itu suka saat mereka berlari, ada yang mengejar mereka, dan menangkap mereka dalam cinta, itulah wanita, dan lagi pula kau ingin hidup seperti ayahmu, hidup dengan segala kepalsuan yang ada?" tanya Valerie yang berhasil menyulut rasa ingin memiliki dari Jonathan, matanya kembali bercahaya, liar ke segala arah seakan mencari sesuatu, dia lalu menatap asistennya.
"Rian, batalkan kepergian ku, pantau terus dimana Nona Jenny sekarang," kata Jonathan, membuat Valerie mengembangkan senyumannya, Sepupunya ini harus hidup bahagia dengan kisah cintanya.
"Baik Tuan," kata Rian, Asisten Jonathan dengan patuh.
"Nona Jenny dan yang lain sedang bersiap menuju ke bandara ini, Tuan," kata Rian menyampaikan kabar yang baru saja dia dapatkan beberapa saat setelah Jonathan menunggu di sana, Valerie yang mendengar hal itu segera mengerutkan dahinya.
"Dia di sini?" kata Valerie tak percaya.
"Ya, aku mengajaknya, kemari bersama dengan calon suaminya, juga tunanganku," kata Jonathan, Valerie membesarkan kembali matanya.
"Dia sudah punya calon suami?"
"Ya."
"Gila, Kak, kau benar-benar suka tantangan tapi tenang saja, aku akan membantumu, katakan padaku apa yang harus aku lakukan, maka aku akan melakukannya untukmu,," kata Valerie dengan percaya dirinya, siap membantu setiap saat sepupunya ini.
"Belajar dan bekerja saja yang baik," kata Jonathan berdiri, berjalan mendekati asistennya, dia sejenak berhenti, melirik pada sepupunya yang memiliki gaya sensual itu. "Tapi terima kasih, ingat, berhentilah merokok, tak bagus untukmu," kata Jonathan menyerahkan sebungkus rokok kepunyaan Valerie pada Rian, Valerie yang melihat itu langsung gelagapan, mencari bungkusan rokoknya yang ternyata memang diambil oleh Jonathan, Valerie langsung mendengus pelan, sudah dibantu malah begitu, pikirnya.
Jonathan keluar dari Lounge itu, membisikan sesuatu pada Rian, Rian mengerti dan dengan patuh mengikuti apa yang di perintahkan oleh Jonathan.
----****----
Jenny keluar dari mobil yang membawanya, matanya sedikit dia sipitkan untuk melihat keadaan di sekitar bandara, hari ini cukup bersalju, dan dinginnya juga lumayan menusuk.
Dia mengedarkan matanya sebelum tangan Anxel merangkul bagian pinggangnya, seketika membuatnya kaget, namun dia segera sadar dan mulai berjalan menuju ke arah bandara yang tak terlalu besar itu.
Mereka masuk ke dalam pemeriksaan pertama, kepala pelayan Jonathan pun ikut serta mengantar mereka, sepertinya memang di beri tanggung jawab untuk menjaga mereka.
Wajah Jenny terlihat dingin dan diam, walau berhasil menutupi mata bengkak dan sembabnya dengan riasan, namun siapapun tahu wajahnya begitu suram, sorot matanya sangat redup, membuat Anxel tak tahu lagi harus bagaimana.
"Aku ingin ke kamar kecil dulu," kata Jenny disaat mereka menunggu waktu agar pesawat pribadi yang akan membawa mereka siap.
"Baiklah, aku akan mengantarmu," kata Anxel baru saja ingin berdiri, Chintia melirik mereka sejenak.
"Tak perlu, aku bisa sendiri, aku bukan anak-anak," kata Jenny sedikit ketus, moodnya memang tak baik, seolah mencari tapi tak tahu apa yang harus dia temukan agar dia merasa kembali utuh, apakah Jonathan?
Jenny berjalan, kali ini tak ada sikap percaya diri yang terlihat, bahkan hanya seperti gadis yang terlalu lelah hanya untuk melangkah, dia segera berjalan masuk ke lorong kamar kecil itu.
Jenny masuk, melirik sejenak dirinya dalam kaca itu, tampak tak ada cahaya di wajahnya, ah, dia kenapa bisa begini? rasanya begitu lelah, lelah sekali hanya untuk mengendalikan perasaan hati.
Saat dia masih terpaku menatap kaca itu, seorang wanita masuk dengan langkahnya yang tegas, suara boot yang dia gunakan seolah mengoyak keheningan kamar kecil itu, dia segera berdiri di samping Jenny, mencuci tangannya langsung, mengeringkannya dengan tisu lalu melirik Jenny dari kaca itu, memperhatikannya dengan sangat seksama.
Jenny awalnya tak memperhatikan hal itu, namun karena wanita itu hanya diam saja, Jenny lalu meliriknya, gadis itu punya rambut pirang yang panjang, wajahnya sensual sesuai dengan gayanya, dia masih memandang Jenny, dan Jenny hanya mengerutkan dahinya, memandang aneh, dia tak pernah melihat wanita ini.
Jenny tak mengambil pusing, dia lalu mencuci tangannya ingin segera keluar dari kamar mandi itu, saat Jenny ingin mengambil tisu, wanita itu menghalangi dirinya mengambil tisu itu.
"Ehm, permisi," ujar Jenny.
Wanita itu segera membalikkan tubuhnya, menyandarkan tubuhnya ke westafel lalu melipat kedua tangannya sambil kembali memperhatikan Jenny dari atas hingga bawah, dia seperti menilai semuanya, membuat Jenny mengerutkan dahinya, menatap dengan wajah kesal, dia sedang tak ingin berdebat, namun kenapa sepertinya semuanya benar-benar membuatnya kesal.
"Maaf, apa kau punya masalah denganku?" tanya Jenny lagi tak suka cara wanita ini memangnya.
"Tak buruk, pantas saja dia begitu menyukaimu," kata Valerie yang tersenyum sedikit sinis, dia minggir dan melangkah pergi, membuat Jenny semakin bingung karenanya, siapa wanita itu? dan apa maksud perkataannya? ah, banyak orang aneh akhir-akhir ini, pikir Jenny.
🏃 🏃 🏃..... otw....
Dari Judulnya kayaknya seru deh...
ah... pasti Seru Karya Quin....
akhirnya....
😍😍😍
Terima Kasih untuk Karya-karya nya....
💕💞💖👍👍
semoga aja Cuma prank ya.....
siapa lagi sie....
Apakah Anxel sudah bebas?
next ke Meadow...
akhirnya JJ bersatu lagi
😂😂😂
biar gak kabur lagi