Follow IG : base_author
Membaktikan kehidupannya untuk imamnya, peran yang dilakoni Thalia Ruth selama 4 tahun menjalani hidup berumah tangga dengan Andre Miles, suaminya. Di tinggallkan kedua orang tuanya karena kecelakaan menjadikan Thalia yang yatim piatu sepenuhnya menggantungkan hidupnya pada Andre dengan kepercayaan yang tanpa batas. Bagaimana Thalia menjalani kehidupannya setelah Andre mencampakkannya setelah memperoleh semua yang diinginkan?? bahkan ibu mertua pun mendukung semua perbuatan suaminya yang ternyata sudah direncanakan sejak lama.
Menjadi lemah karena dikhianati atau bangkit melawan suaminya... manakah yang dipilih Thalia?
Siapkan tisu dan alat tempur sebelum membaca 😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Base Fams, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 30
Dengan lantunan shalawat yang mengalun merdu, Hana menidurkan Bella di kamarnya seraya mengusap punggung putrinya itu. Seharian ini putri kecilnya rewel, sampai-sampai Hana kewalahan menghadapinya. Bella sejak tadi kerap meminta gendong, karena kondisinya yang tengah berbadan dua, Hana tidak bisa terus-terusan menggendong Bella.
Hana menghembuskan napas lega, sesudah memastikan putrinya benar-benar terlelap. Kemudian Hanna turun. Ia mendekati lemari, menyiapkan pakaian suaminya yang kini berada di dalam kamar mandi.
Hana mendekati Mazhar yang baru saja selesai membersihkan diri, kemudian memberikan pakaian kepada suaminya itu. Mazhar tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. "Terimakasih, Umy, " tutur katanya santun, dan Hanna tidak hentinya bersyukur bisa menjadi istri seorang Mazhar Ahmed, selain bertutur kata lembut pria itu juga baik dan shaleh.
Mazhar menggunakan pakaiannya, kemudian ia mengajak Hana untuk duduk di sofa dengan Hana duduk di atas pangkuannya.
"Bagaimana pekerjaan Mas hari ini?" Hana mengangkat tangannya, memainkan rambut basah Mazhar yang acak-acakan. Membuat level ketampanan pria itu semakin bertambah dengan penampilannya sekarang.
"Alhamdulillah, semua berjalan lancar... hanya ada satu klien yang agak rumit."
"Ceritakan, " ya sebagai seorang istri, Hanna berusaha menjadi pendengar baik untuk mendengar cerita suaminya.
"Jadi, ada sepasang suami istri memutuskan untuk berpisah dengan alasan sudah tidak menemukan kecocokan lagi. Keduanya sama-sama sibuk bekerja, dan waktu kebersamaan mereka menjadi berkurang. Itulah yang menjadi penyebab utamanya, dan tadi keduanya sempat beradu mulut mengenai hak asuh anak."
"Ya Allah... selalu saja anak-anak yang menjadi korban."
"Ya, kamu benar, Sayang... "
"Lalu, apa yang terjadi berikutnya?" setelah puas bermain dengan helaian rambut sang suami, Hana memindahkan tangannya ke belakang leher suaminya.
Mazhar tersenyum penuh maksud, "berikan hadiahku dulu." pintanya yang mendapatkan pukulan kecil dari pemilik hatinya. "Come." Bujuknya semakin melebarkan senyuman. Senyuman terbaik Mazhar yang disukai Hana.
Hana melabuhkan kecupan di pipi Mazhar, "sudah, sekarang lanjutkan ceritanya."
"Hanya pipi?"
"Mas... " Hana melototkan matanya, pura-pura marah, membuat Mazhar tertawa. "Pelankan suaranya, nanti Bella bangun." desis Hana
"Baiklah, Umy sayang, " Mazhar pun terdiam kemudian ia menghadiahkan kecupan di bibir Hana sebelum ia melanjutkan ceritanya.
"Mas sudah meminta anak buah Mas, buat cari informasi tentang Thalia."
"Lalu, bagaimana dengan hasilnya Mas?" tanya Hana berharap kabar yang di bawa suaminya sesuai harapan.
"Erlangga sudah mencari informasi ke bandara, dan benar, tanggal 2 Thalia menjadi salah satu penumpang pesawat tujuan Singapura."
Ponsel Hana yang tergeletak di meja bergetar. "Siapa yang menghubungiku malam-malam. " Gerutu Hanna, membuat Mazhar tersenyum.
Hana bangkit, mengambil benda pipinya itu. "Bang Reza." Begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya, tanpa pikir panjang Hana menerima panggilan dari saudaranya itu.
"Hallo, Assalamu'alaikum Bang... " Sapa Hana.
"___"
Hanna meneteskan air matanya, menggelengkan kepalanya. "Inalilahi wainalilahi rojiun.. Umy... "
.
.
.
Bersamaan Hana yang sedang berduka atas wafat Ibunya, di tempat yang berbeda Thalia harus menghadapi Andre lagi.
"Buatkan susu untuk Mona!" Perintah pria itu dengan tiba-tiba. Thalia sedang memotong buah pun menatap Andre sekilas. Membuatkan susu untuk Mona? yang benar saja. Gerutu Thalia dalam hatinya, kemudian ia pun melanjutkan aktivitasnya.
Andre tidak terima diacuhkan, pria itu marah. Ia menarik kasar tangan Thalia, hingga pisau yang ada di genggaman Thalia terhempas masuk ke bawah meja dapur. "Apa kamu tuli?" hardik Andre.
"Tidak, aku mendengarnya." Jawab Thalia membalas tatapan tajam Andre.
Andre tersenyum senang, melihat amarah yang ditunjukkan Thalia. "Bagus.. dengarkan aku baik-baik.. mulai saat ini kamu harus melayani Mona."
Thalia mengerutkan keningnya, "apa?" tanya Thalia menatap suaminya tidak percaya. "kamu memintaku untuk melayani istri barumu itu?"
"Of course... dan kamu harus menuruti perintahku." Paksa Andre. Tentu, Thalia menolak keras perintah gila dari suaminya itu. Kurang puaskah pria itu menyiksa dirinya bahkan pergerakannya di dalam rumah pun diawasi. Lalu baru saja, pria itu memintanya untuk melayani Mona.
"Don't be crazy. Aku tidak mau!" Tolak Thalia mentah-mentah, tidak memikirkan resiko apa yang akan dapatinya setelah ia menolak perintah Andre. Thalia mengambil pisau buah yang tergeletak di lantai, tapi dengan cepat Andre menahan tangannya. "Let me go!!" pekik Thalia.
"Tidak akan sebelum kamu menuruti perintahku."
Cengkraman itu semakin kuat, Andre melintirkan tangan Thalia menarik hingga tubuh mereka saling bersentuhan. "Lepaskan aku, sebelum pisau ini melukaimu!!" Ancam Thalia.
"Turuti perintahku!" Andre menuntut jawaban, dan lagi Thalia tetap menolaknya dengan tegas, membuat cengkraman Andre bertambah kuat.
Andre mencoba merebut pisau dari tangan Thalia. Thalia pun menjauhkan pisau itu, akan tetapi pergerakan Andre sangat cepat. Andre berhasil mengambil alih pisau. Kemudian...
Srekk.. mata pisau menggores tangannya. Thalia memejamkan mata, meringis kesakitan. Darah keluar dari tangannya, menetes ke lantai. "Lepaskan aku, Andre."
"Andre apa yang kamu lakukan?" Bu Nita yang berada di anak tangga, setelah mengantar Mona ke kamarnya pun terkejut.
"Tolong bereskan kekacauan yang ada di dapur, Ma.." Alih-alih menjawab pertanyaan Ibunya, Andre meminta bantuan kepada Ibunya itu. "Wanita ini membuat masalah lagi."
Andre menarik Thalia sampai kamar mandi yang terletak di kamar mereka. Ia menghempaskan tubuh Thalia hingga tubuh Thalia membentur dinding membuat Thalia jatuh duduk.
"Sudah aku peringatkan, agar kamu tidak mengulangi kesalahan. Tapi kamu dengan sengaja mengulanginya lagi. Kamu menantangku, hah?!" bentak Andre seperti kerasukan setan, sambil berkali-kali memukul tubuh Thalia.
Thalia tidak bisa melawan, pandangannya mulai berkabut. Apa aku akan mati? bisik Thalia disisa kesadarannya. Air mata tidak bisa di bendung lagi pun mengalir di pipinya. Tubuh Thalia lunglai di bawah shower.
"Rasakan!! Itu akibatnya jika kamu tidak mau menurutiku!"
Itulah kalimat yang di dengar Thalia sebelum wanita itu terjatuh ke lantai putih yang dingin. Sempat ia juga merasakan air menetes mengenai tubuh sebelum akhirnya sepasang mata itu tertutup rapat, dan semuanya berubah menjadi gelap
Nampak seseorang menggunakan stelan putih, berlari mendekatinya. Seseorang yang tidak dikenal itu duduk di dekatnya. "Bangunlah, kamu akan baik-baik saja."
Suara lembut itu membangunkannya. Thalia memaksakan dirinya membuka mata. Nampak samar, sosok pria yang sedang tersenyum menatapnya. "Siapa anda? "
Pria itu mengulurkan tangannya membuat perasaan Thalia menghangat, dan ia begitu saja menyambut uluran tangan itu.
Siapa dia hayoo? 😳
Mas Mazhar mungkin. 🤣🤣
orang dewasa pada sibuk ghibah 🤪🤣
si cewe menikmati dan takut kehilangan