NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pernikahan di Kantor Urusan Agama

Mematikan adalah suasana yang tercipta di dalam ruangan sempit berbau buku tua saat prosesi itu berlangsung dengan sangat kilat. Udara di ruangan terasa padat dan tidak bergerak, seolah semua makhluk hidup telah berhenti bernapas. Maya Anindya duduk mematung dengan jemari yang saling bertautan erat di atas pangkuan rok sekolahnya yang masih terlihat kusut dan terkena noda air mata lama. Di sampingnya, Arga Dirgantara duduk dengan sikap sempurna seolah sedang berada di tengah upacara militer yang sangat sakral serta kaku, tubuhnya tegak seperti tiang baja.

"Silakan tanda tangan di sebelah sini, Saudari Maya," ucap petugas pencatat pernikahan itu dengan nada bicara yang sangat rendah serta hati-hati. Matanya terlihat penuh kebingungan melihat pasangan yang datang tanpa persiapan apapun, hanya dengan seragam sekolah dan seragam militer.

Maya Anindya meraih pulpen plastik murah itu dengan telapak tangan yang terasa sangat dingin serta berkeringat dingin. Setiap sentuhan pada pulpen itu terasa seperti menyentuh benda yang akan mengubah kehidupannya selamanya. Dia menatap buku nikah berwarna merah di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk antara benci, kesedihan, dan juga rasa butuh akan perlindungan. Tidak ada bunga, tidak ada musik, bahkan tidak ada satu pun anggota keluarga yang menyaksikan momen paling bersejarah dalam hidupnya tersebut hanya dia, Arga, dan petugas yang terkejut.

"Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu sebelum pengamanan di gerbang depan berganti posisi," desak Arga Dirgantara sambil menatap jam tangan logam di pergelangan tangannya. Jarum jam yang berjalan cepat membuatnya semakin tertekan, takut akan tertangkap dalam situasi yang tidak diinginkan.

Gadis itu menorehkan tanda tangannya dengan napas yang terasa sangat sesak seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja habis disedot keluar. Setiap huruf yang dia tulis terasa seperti beban yang semakin berat, menandakan akhir dari masa mudanya yang bebas. Setelah prosesi itu selesai, sang perwira segera berdiri dan memberikan hormat singkat kepada petugas yang tampak kebingungan melihat pasangan beda usia tersebut. Arga Dirgantara meraih buku nikah itu lalu menyimpannya di balik saku seragam hijau loreng yang dia kenakan dengan sangat rapi serta penuh wibawa.

"Mulai sekarang, nama belakangmu adalah bagian dari kehormatanku sebagai seorang prajurit negara," tegas Arga Dirgantara sambil menatap tajam ke dalam manik mata istrinya. Suaranya tegas dan pasti, membuat Maya menyadari bahwa dia tidak lagi hanya Maya Anindya dia sekarang milik negara dan milik Arga.

Maya Anindya hanya mampu terdiam saat merasakan sebuah cincin logam yang sangat polos dilingkarkan ke jari manisnya secara paksa. Logam cincin itu terasa dingin dan kaku di jari dia, seperti rantai yang mengikatnya. Dia merasa seperti sedang diikat oleh rantai besi yang tidak terlihat namun sangat kuat untuk membelenggu masa mudanya selamanya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu menariknya keluar dari gedung Kantor Urusan Agama menuju mobil dinas yang sudah bersiap dengan mesin yang menderu pelan, menandakan bahwa perjalanan mereka belum selesai.

"Ke mana Anda akan membawa saya setelah ini, Tuan Arga?" tanya Maya Anindya dengan nada suara yang terdengar sangat letih serta putus asa. Semua kekuatan dia telah habis digunakan untuk menahan tangis dan mengikuti semua perintah Arga.

Arga Dirgantara tidak segera menjawab melainkan hanya menatap lurus ke arah jalanan aspal yang mulai diguyur oleh air hujan yang sangat deras. Hujan turun dengan deras, membuat jalanan licin dan sulit dilihat. Dia memutar kemudi dengan gerakan yang sangat tangkas seolah-olah sedang menghindari kejaran musuh yang tidak kasatmata di balik kegelapan. Suasana di dalam kabin mobil itu kembali menjadi sangat sunyi hingga hanya menyisakan suara detak jantung mereka yang saling berpacu tidak beraturan.

"Kita akan pulang ke rumah dinas dan di sana kamu akan mempelajari semua aturan main yang berlaku," jawab Arga Dirgantara dengan nada bicara yang mengandung rahasia tersembunyi. Matanya tetap menatap jalan depan, namun kilatan di matanya menunjukkan bahwa aturan-aturan itu tidak akan mudah untuk Maya.

 

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!