Kisah gadis bernama Li Mei adalah putri raja dari Zheng-mi goo yang dikutuk memiliki umur panjang karena dituduh membakar istana selir ayahnya, dia melintasi waktu dari kejaran pengawal istana yang ingin menangkapnya sehingga Li Mei mengalami amnesia karena kecelakaan yang tak terduga. Dan bertemu Shaiming yang menjadi tunangannya.
Mampukah Shaiming membantu Li Mei mengingat semuanya, akankah ingatan Li Mei kembali ? Dan apakah mereka akan bersama dan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 TAMAN JINGSHAN
Shaiming menurunkan tubuh Li Mei dari gendongan tangannya seraya menatap teduh ke arah gadis cantik itu.
Keduanya kembali saling berpandangan mesra serta saling melempar senyuman.
"Li Mei...", bisik Shaiming dengan kedua mata teduhnya.
Laki-laki berwajah tampan itu menggenggam erat kedua tangan Li Mei.
"Disini aku ingin kau bersantai sejenak sebelum melanjutkan aktivitas mu nanti karena kegiatan opera akan semakin padat", kata Shaiming.
"Aku mengerti itu, Shaiming...", sahut Li Mei.
"Kemungkinan akan menguras semua waktu mu selama berlatih di opera saat kita akan mempersiapkan festival musim semi", kata Shaiming.
"Jangan terlalu memikirkan ku, Shaiming... Karena aku akan baik-baik saja...", ucap Li Mei.
"Mmm...", gumam Shaiming seraya mengedarkan pandangannya ke arah sekitar taman Jingshan.
Shaiming memastikan keadaan di taman Jingshan aman bagi Li Mei karena dia tidak ingin utusan Niu mengetahui keberadaan mereka disini.
"Bagaimana kalau kita sambil berjalan-jalan di sekitar area taman ini ?", kata Shaiming.
"Jalan-jalan..., Shaiming...", sahut Li Mei.
"Ya, jalan-jalan. Bukankah tujuan ku membawa mu kemari untuk berjalan-jalan di sini", jawab Shaiming.
"Kau sungguh perhatian pada ku, Shaiming", ucap Li Mei.
"Aku hanya ingin mempercepat penyembuhan mu terutama amnesia yang kamu alami, Li Mei", sahut Shaiming.
Li Mei langsung menundukkan wajahnya ke bawah dengan muram.
"Seandainya aku tidak mengalami amnesia ini mungkinkah kau akan mengkhawatirkan keadaanku ini", kata Li Mei.
Shaiming menatap ke arah Li Mei seraya terdiam.
Terlihat Li Mei memandangi wajah Shaiming yang sedang memperhatikan dirinya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu ?", tanya Shaiming.
"Entahlah..., sepintas saja aku ingin mengatakan hal itu pada mu...", sahut Li Mei.
"Apa kau hanya sekedar menguji ku dengan bertanya demikian pada ku ?", kata Shaiming.
"Tidak, aku tidak ingin menguji ketulusan mu tapi aku hanya ingin mendengar jawaban mu sejujurnya pada ku", ucap Li Mei.
"Jujur !?", sahut Shaiming.
"Iya... Tapi jika kau tidak ingin memberitahukan pada ku alasan mu maka aku tidak akan menanyakannya lagi...", kata Li Mei.
Li Mei diam, hanya berdiri dengan kepala tertunduk dalam, tidak berniat untuk melanjutkan lagi ucapannya.
"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke sana ?", kata Li Mei sembari menunjuk ke arah sebuah jalan di dalam taman.
Jalan-jalan di dalam taman terhubung pada setiap bagian area taman Jingshan yang asri terdapat tanaman bunga peony yang tumbuh subur pada musim semi di area Jingshan yang sejuk.
Li Mei mengalihkan pembicaraan diantara mereka seraya berjalan mendahului Shaiming.
Tiba-tiba Shaiming menarik pelan tangan Li Mei saat gadis itu melangkah maju.
"Li Mei...", ucapnya lembut.
"Ya...", sahut Li Mei.
Li Mei berbalik ke arah Shaiming yang ada di belakangnya seraya menatapnya dengan penuh perhatian.
"Katakan pada ku... Apakah kau lelah sekarang ini ?", kata Shaiming.
"Tidak", sahut Li Mei seraya menggeleng pelan.
"Apa artinya kau meragukan perasaan cintaku pada mu karena itulah kau menanyakannya pada ku ?", kata Shaiming.
"Bukan aku meragukan perasaan mu pada ku, hanya saja pertemuan ini terlalu tiba-tiba bagi kita dan mungkinkah kau akan berubah setelah tahu diriku yang asli", sahut Li Mei.
Shaiming tertegun saat mendengar penjelasan Li Mei, dia lupa bahwa Li Mei tidak mengingat siapa dirinya ataupun diri Shaiming.
Senyum kemudian tergambar di raut wajah Shaiming seusai Li Mei berkata padanya.
"Li Mei...", gumamnya.
Laki-laki tampan itu berjalan mendekat ke arah Li Mei lalu memeluk erat tubuh gadis cantik itu.
"Tanpa mu hidup ku akan kosong bagaikan gelas tanpa air dan kau adalah harapan ku yang selalu menyemangati hidup ku selama ini", kata Shaiming.
"Shaiming...", sahut Li Mei bergumam pelan.
Shaiming masih mendekap erat tubuh Li Mei dengan wajah tertunduk dalam lalu berkata kembali.
"Tidak perlu melihat sisi asli seseorang yang aku cintai karena aku mencintai mu apa adanya dirimu, Li Mei", ucap Shaiming.
"Shaiming !!!", sahut Li Mei membalas pelukan laki-laki yang menjadi tunangannya itu.
"Li Mei...", ucap Shaiming.
Keduanya saling berpelukan erat satu sama lain di bawah rindangnya bunga peony yang bermekaran indah di area taman Jingshan.
Shaiming memeluk Li Mei di bawah taburan bunga peony yang berterbangan di sekitar mereka berdua.
Angin berhembus lembut di sekitar area taman Jingshan yang indah.
Senyum menghias lembut di wajah mereka berdua saat mereka saling berpandangan, Shaiming mengusap wajah Li Mei dengan lembutnya.
"Yang membuat ku merasa lega adalah bisa melihat mu berada dekat di sisi ku, Li Mei...", ucap Shaiming.
"Begitu pula diri ku, Shaiming...", sahut Li Mei.
"Apa kau ingat sesuatu, Li Mei ?", bisik Shaiming.
"Apa ?", sahut Li Mei.
"Tentang bunga peony", kata Shaiming.
"Bunga peony...., tidak ! Aku tidak mengingat apa-apa... Kenapa kau menanyakan tentang bunga peony ?", ucap Li Mei.
"Tidak ada...", sahut Shaiming.
Shaiming lalu menolehkan kepalanya ke arah tanaman bunga peony yang tumbuh di taman Jingshan.
Ingatan Shaiming teringat pada kenangan lama dimana dia bersama Li Mei di istana awan, kediaman Li Mei sebelum mereka melintasi waktu ke masa depan.
Saat itu Li Mei berlatih ilmu pedang yang sangat dikuasai oleh gadis berwajah cantik itu.
Li Mei selalu melatih ilmu pedangnya dengan menggunakan pedang Ratu Caihong di bawah taburan bunga peony. Dan Shaiming menemani setiap latihan Li Mei sembari dia duduk di gazebo tua yang tak jauh dari Li Mei berlatih pedang.
Biasanya mereka akan berlatih bersama ilmu pedang secara berpasangan di bawah bimbingan Ratu Caihong sendiri atau mereka hanya berlatih berdua saja.
Gambaran kenangan sewaktu Li Mei tidak mengalami amnesia dan masih mengingat semuanya terlintas jelas di benak Shaiming.
Tak terasa perasaannya berubah menjadi terharu ketika mengenang kisah mereka di masa lalu.
Shaiming mendekap erat tubuh Li Mei kembali, berusaha menenangkan gejolak hebat yang terjadi dalam hatinya saat mengingat kenangan itu.
Kedua matanya terpejam rapat-rapat sedangkan pandangannya terarah ke bawah sembari terus menggumamkan pelan nama Li Mei dalam hatinya.
"Li Mei... Kapan kenangan indah itu kembali lagi pada kita di kehidupan baru ini... !?"
Gumam Shaiming dalam hati kecilnya ketika kenangan-kenangan indah itu datang silih berganti di benak pikirannya.
Raut wajah Shaiming berubah muram bila mengenang semua itu tetapi ada hal yang menjadi dirinya sangat lega saat ini, adalah dia dapat tetap bersama Li Mei dalam keadaan apapun.
Shaiming tidak terlambat untuk menyelamatkan Li Mei dari keterpurukan hidup setelah gadis muda itu melintasi waktu saat menghindari kejaran pasukan Raja Zheng-mi goo yang ingin menangkapnya setelah peristiwa mencekam di Istana Merah yang menewaskan selir Haoran.
Memang saat kejadian itu, Shaiming mendengar kabar kejadian kebakaran di Istana Merah. Setelah seorang pengawal pribadinya memberitahukan padanya.
Sebelum Li Mei pergi ke Istana Merah untuk menerima undangan selir Haoran, dia mengatakan pada Shaiming jika dia akan pergi kesana untuk menemui selir Haoran yang mengundangnya pada perjamuan pesta.
Belum sempat Li Mei kembali dari Istana Merah, terdengar kabar bahwa istana milik selir Haoran terbakar hebat.
Shaiming yang mendengarnya langsung bergegas menyusul Li Mei di Istana Merah.
Tepat pada situasi genting terjadi di Istana Merah, dia menyaksikan pertengkaran antara Li Mei dengan Raja Zheng-mi goo yang menuduhnya telah membakar istana.
Pada saat itu Li Mei yang berupaya membela dirinya dari tuduhan ayahnya memutuskan melarikan diri dari Istana Merah dengan melintasi waktu, menggunakan kesaktian yang terkandung di dalam pedang emas Ratu Caihong.