Melati...
Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.
Cantik, anggun dan berkelas.
Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.
Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu
Hampir tengah malam, tapi Dara masih terjaga. Brian belum pulang, atau mungkin dia nggak pulang malam ini, biasanya seperti itu.
Berjalan mondar mandir didepan pintu apartemen Melia. Sesekali ia lipat tangannya, kemudian berjalan lagi. Sejurus kemudian berhenti dan mengulurkan tangan, tapi ia urungkan. Begitu terus selama beberapa menit.
Dara ragu.
Setelah mendengar percakapan Brian dan Zain tadi, Dara merasa masih punya harapan mempertahankan Brian.
Dari segi kehormatan, Melia bukan saingannya. Dara masih original, bersegel rapat tanpa cacat. Meski dari keluarga miskin, tapi harga dirinya terjaga dengan baik. Dara juga pintar memasak, bukankah banyak nilai plus di dirinya?
Sedang Melia, dia wanita simpanan, bekas orang. Laki-laki yang Dara pikir suaminya itu, ternyata hanyalah sebuah mesin penghasil uang bagi Mel.
Dara merinding, ia menyapu lengannya. Bagaimana bisa Mel membuka pahanya didepan lelaki yang tidak ia cintai? Ini diluar logika Dara.
Bagaimanapun, ia tidak akan bisa, bahkan jika hanya dicium lelaki yang tidak ia cintai, apalagi jika harus melayaninya di atas ranjang.
Tapi memikirkan Brian yang terlihat begitu memuja Mel, wanita yang semua orang anggap ja lang itu, Dara jadi ragu.
Jelas-jelas Brian tahu, tapi dia tetap maju tanpa melihatnya sama sekali.
Jika mengingat itu, semangat Dara kembali surut.
Klik.
Pintu unit terbuka, Mel keluar. Dara yang sedang melamun, tersentak mundur.
"Ngapain Dar?" Sapa Mel heran. Dia nggak bisa tidur, lalu iseng cek CCTV dari ponsel. Agak heran dengan pergerakan didepan pintu. Seseorang berjalan mondar mandir, lalu berhenti, sebentar kemudian mondar-mandir lagi.
Terakhir Mel lihat, wanita itu terdiam lama disana. Untuk memastikan, akhirnya Mel keluar, dan benar itu Dara.
"Eh, Mel... Anu..." Dara tergagap. Pandangan mata Mel yang mengintimidasi membuat nyali Dara tambah ciut.
Padahal maksud Melia, dia hanya bertanya. Tapi Dara merasa, Mel akan menjambaknya.
"Sini masuk." Ajak Mel sambil melebarkan daun pintu.
Tapi Dara masih bimbang di sana.
Mel yang kesabarannya setipis tisu kena air, langsung menyeret lengan Dara.
Melia mendudukkan Dara di sofa.
"Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Mel tanpa basa-basi. Ia duduk tepat disebelah Dara.
"Eh, itu... A-aku mau ambil rantang." Jawab Dara asal. Untung-untungan aja sih, dia terlanjur gugup. Tak tahu harus ngomong dari mana, lalu teringat rantang yang tak di bawa Brian saat bersama Mel. Bisa jadi rantang itu memang Brian kasih untuk Mel.
Meski heran, tapi Mel beringsut juga, ke dapur mengambil rantang lalu kembali ke ruang tamu.
Dara meringis, jadi benar rantang itu untuk Mel. Sakit mengetahui fakta jika Brian lebih memilih memberikan makanan yang ia buat dengan penuh cinta untuk wanita lain.
"Masakan kamu enak semua, thanks yaa..." Ucap Mel tulus, dia meletakkan rantang itu di atas meja bersama secangkir teh chamomile.
Dara mengangguk lemah, ia mencoba tersenyum ke Mel.
"Diminum, Dar..." Tawar Melia. "Atau mau kopi?"
Dara menggeleng, "aku nggak ngopi. Ini aja, makasih." Dara meraih cangkir itu dan menyesapnya sedikit. Enak banget, ini teh apa sih? Pikir Dara sambil menyesap lagi yang kedua kalinya.
Melia tersenyum, ia sengaja kasih teh chamomile yang dicampur sedikit madu, agar Dara sedikit rileks, dari tadi tegang banget mukanya.
"Hei Dar, boleh aku tanya..." Pancing Mel saat Dara masih menikmati aroma tehnya.
Melia tahu, Dara ini sebenarnya mencintai Brian. Hanya sifatnya yang pemalu, membuatnya sulit mengakui perasaannya.
Melia melihat masih ada kemungkinan Dara akan berjuang mempertahankan Brian. Mel menyeringai, ini bagus, ia akan coba ngomporin Dara.
"Soal apa?" Jawab Dara.
"Apa kamu nggak berniat mencegah Brian kawin lagi?"
Uhukk...
Dara tersedak teh, ia terbatuk-batuk sambil memukul dadanya.
Melia meraih tisu dan memberikan ke Dara. Ia juga membantu Dara melap bajunya yang basah.
"Maaf..." Ucap Dara tak enak.
"It's oke..." Balas Mel.
Dara cukup terkejut dengan pertanyaan Mel. Kenapa wanita ini? Bukannya dia memang ingin menikah juga dengan suaminya?
"Kamu serius nanya gitu?" Selidik Dara, ia mulai rileks dan mulai berani menatap Mel. Ternyata mata Mel nggak begitu tajam, malah terkesan sayu. Dara biasa melihat Mel yang full make up, Mel yang polosan, baru ia lihat malam ini.
"Yah, mana ada sih wanita yang mau dimadu? Bener nggak?"
Dara menghela nafas, "kamu benar." Lirih Dara. "Tapi aku hanya nikah dibawah tangan, tidak ada hukum yang melindungi hak-hakku." Lanjut Dara.
"Mau aku bantu?" Seringai Melia.
***
"Bagaimana dengan Dara?" tanya pak Darmawan saat Brian mengutarakan maksudnya.
Mereka sedang duduk di ruang tamu, Brian dan kedua orang tuanya, juga Zain.
"Dara setuju, ia tidak keberatan. Aku akan menikahi Melia besok pagi." Jawab Brian mantap.
"Pa, sebenarnya Dara itu nggak rela kalau Kakak nikah lagi." Sahut Zain. "Lagian, apa Mama sama Papa tahu siapa Kak Lia itu? Dia bukan wanita baik-baik!" Zain ngotot membela Dara. Tidak seharusnya wanita sebaik Dara tersakiti dengan keegoisan Kakaknya.
Alisha menghela nafas, ia menatap anak sulungnya.
"Kamu akan menyakiti Dara." Ucap Alisha.
"Aku akan tetap bertanggung jawab dengan hidup Dara, nafkahnya, kesejahteraannya, semuanya masih jadi kewajibanku sampai Dara menemukan laki-laki yang tepat." Brian tetap ngotot.
Sudah lama ia menunggu moment ini, saat ia bisa menikahi Melia, cintanya.
Pak Darmawan hanya bisa menghela nafas, ia tahu, Brian sudah berjanji kepada almarhum temannya, Agung Adiguna.
Dulu saat Melia menolak pinangannya, Agung tetap menginginkan Brian jadi menantunya apapun yang terjadi. Meskipun Melia sudah minggat entah dimana.
Agung yang keras kepala, tentu saja membiarkan anaknya itu minggat, toh pasti akan pulang sendiri kalau sudah nggak ada duit. Tapi Agung lupa, Lia mewarisi sifat egoisnya.
Sampai ia mati, anak itu tak kunjung pulang.
Brian yang memang mencintai Lia sejak dulu, tentu saja berjanji dengan senang hati. Agung bahkan menulis wasiat, ia mempercayakan semua aset dan perusahaannya atas nama Brian, sampai nanti Dewan bisa memikul tanggung jawab.
Sampai takdir mempersatukan Dara dan Brian melalui insiden kecelakaan itu.
Bukannya Darmawan tak tahu pekerjaan Lia apa selama ini, diam-diam dia mencari tahu keberadaan anak itu tanpa sepengetahuan Agung ataupun Brian.
Ia berharap dengan menikahi Dara, Brian bisa move on dari Melia. Tapi ternyata, ia salah.
"Brian... apa dengan menikahi Lia, kamu akan bahagia?" Alisha bertanya sebagai seorang ibu.
"Aku janji akan bahagia, Ma." Jawab Brian yakin, membuat Zain melengos.
"Bahagia di atas penderitaan orang lain." Cibir Zain.
"Kalau begitu, menikahlah. Restu Mama menyertaimu." Pupus Alisha. Sekuat apapun mereka melarang Brian, anak itu tidak akan mundur. Apa yang menjadi keinginannya, itulah yang akan terjadi.
Doa Alisha, mudah-mudahan rumah tangga anaknya berjalan penuh keberkahan. Ia yakin Brian akan bertanggung jawab dengan pilihannya.
Brian tersenyum lalu menghampiri Alisha, ia memeluk ibunya, "makasih, Ma."
Zain membanting pintu kamarnya.
***
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.
great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣
you did it JENG KELIN ❤️🌹