Umur 19 tahun, Nikita diusir dari rumah keluarga angkatnya.
Bukan karena dia berbuat salah. Tapi karena ayah angkatnya, Bagus Permadi, ingin uangnya. Ibu tirinya, Sri, menyebutnya "anak buangan." Saudari tirinya, Dewi, ingin menjualnya sebagai pengganti mempelai untuk kakek tua yang sudah membunuh tiga istri.
Yang Nikita bawa pergi hanya satu: seorang bayi perempuan bernama Sisi -- yang DNA-nya membuktikan bahwa Nikita adalah ibunya, padahal dia tidak pernah melahirkan.
Lima tahun kemudian, Nikita kembali ke Jakarta.
Tapi dia bukan lagi gadis yang bisa diinjak-injak.
Dia adalah Dr. Clarissa Louw -- dokter jenius bertaraf dunia. Dia adalah **jk** -- trader keuangan legendaris yang membuat bursa saham gemetar. Dia adalah **S** -- hacker nomor satu yang namanya hanya bisikan di dunia gelap. Dan itu baru tiga dari **sepuluh identitas rahasia** yang dia sembunyikan di balik wajah dinginnya.
Yang tidak ada yang tahu: Nikita sebenarnya adalah putri kandung Keluarga Kin -- keluarga konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Dua puluh empat tahun lalu, dia ditukar saat lahir. Seorang gadis lain -- **Celine** -- telah menikmati hidupnya, kasih sayang lima kakak laki-lakinya, dan seluruh warisan yang seharusnya menjadi milik Nikita.
Sekarang Celine berdiri di antara Nikita dan keluarga kandungnya, tersenyum manis di depan semua orang sambil menancapkan pisau dari belakang.
Lima kakak kandung Nikita? Mereka semua membenci Nikita. Mereka semua memuja Celine.
Tapi satu per satu, topeng Celine akan retak. Satu per satu, kakak-kakak itu akan **tersadar** -- dan penyesalan mereka... akan datang terlambat.
Dan di tengah badai identitas palsu dan pengkhianatan keluarga, ada satu misteri yang Nikita simpan paling dalam di hatinya: seorang anak laki-laki bernama ***Ko Ken*** yang pernah menyelamatkannya 14 tahun lalu di hutan belantara. Anak laki-laki yang mengajarinya memasak, yang menaburkan kelopak bunga di rambutnya, yang berjanji akan kembali -- lalu menghilang tanpa jejak.
Budiman Ethan -- CEO termuda dan paling ditakuti di Jakarta -- memasak untuknya dengan cara yang persis sama seperti *Ko Ken*. Bibirnya terasa familier. Aroma tubuhnya membangkitkan kenangan yang menyakitkan.
*Apakah dia Ko Ken? Atau hati Nikita hanya terlalu rindu untuk berpikir jernih?*
Tiga anak kembar yang tersebar. Satu rahasia kelahiran yang mustahil. Lima kakak yang harus memilih sisi. Dan satu perempuan yang menolak berlutut di hadapan siapa pun -- termasuk keluarga kandungnya sendiri.
**Nikita tidak butuh pengakuan dari Keluarga Kin.**
**Karena dia sendiri sudah menjadi kerajaan.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Celine Menghasut Lima Saudara
Malam di Kin Estate terasa lebih berat sejak konferensi pers Hansen.
Ruang keluarga yang biasanya terang kini hanya menyalakan lampu sudut. Kevin duduk di sofa utama dengan tablet berisi laporan saham Kin Group. Yansen berdiri dekat jendela, sesekali memeriksa ponsel dan berita hiburan yang ikut menyeret nama keluarganya. Jayden duduk di sandaran sofa, diam tidak seperti biasa.
Hansen akhirnya pulang sore tadi.
Wajahnya masih menyimpan bekas bengkak samar. Ia tidak ikut duduk, melainkan berdiri di dekat rak minuman dengan satu tangan memegang gelas air. Sejak video dirinya jatuh dari panggung menyebar, ia hampir tidak membuka media sosial.
Steven tidak ada.
Ia memilih tinggal di RS Angel City untuk mengawasi kondisi Liana dan berkoordinasi dengan tim medis, alasan yang tidak bisa dibantah siapa pun.
Ama Kin duduk di kursi berlengan dekat perapian dekoratif. Wajah tuanya tampak lebih keras dari biasanya. Setelah Engkong Kin berdiri dan mengumumkan ancaman pencabutan warisan, posisi Ama di rumah itu tidak lagi senyaman dulu.
Pintu terbuka pelan.
Celine masuk membawa nampan teh.
"Ko Kevin, Ko Yansen, Ko Jayden, Ko Hansen," katanya lembut. "Aku buat teh jahe. Kalian belum makan malam dengan benar."
Hansen menatapnya sebentar, lalu membuang muka.
Celine seperti tidak melihat itu. Ia meletakkan cangkir satu per satu, gerakannya hati-hati, seolah takut membuat siapa pun semakin marah.
"Aku tahu kalian semua lelah karena aku," katanya.
Tidak ada yang menjawab.
Kevin tidak mengangkat wajah dari tablet. "Kalau tahu, istirahat saja."
Kalimat itu tidak kasar, tetapi cukup dingin untuk membuat jari Celine berhenti.
Ia tersenyum kecil, terluka secukupnya. "Aku hanya ingin membantu."
Yansen menutup ponsel. "Membantu apa?"
Celine duduk di ujung sofa, tidak terlalu dekat. Posisi itu membuatnya terlihat seperti orang luar yang tahu diri, padahal semua orang di ruangan itu pernah terbiasa membiarkannya duduk di tengah.
"Aku mendengar Papa dan Engkong bicara dengan pengacara keluarga."
Kevin akhirnya menatapnya.
Celine cepat menunduk. "Aku tidak sengaja. Aku lewat di koridor."
Jayden mengerutkan alis. "Bicara apa?"
"Tentang Nikita." Celine menggenggam ujung rok. "Tentang bagaimana semua aset keluarga harus diperiksa ulang karena putri asli sudah kembali."
Hansen tertawa pendek, kasar. "Jadi sekarang kita semua harus memberi jalan untuk dia?"
"Ko Hansen, jangan begitu." Celine buru-buru menggeleng. "Nikita memang berhak. Dia putri kandung Papa dan Mama. Aku tidak punya hak berkata apa-apa."
Setiap kata terdengar patuh.
Tetapi ruangan justru makin tegang.
Celine melanjutkan dengan suara makin pelan, "Aku cuma takut kalian yang selama ini bekerja untuk keluarga jadi tersingkir. Ko Kevin mengurus Kin Group bertahun-tahun. Ko Yansen membangun koneksi media. Ko Jayden membawa nama Kin di sirkuit. Ko Hansen... meski belakangan banyak masalah, tetap bagian dari bisnis keluarga."
Hansen menggenggam gelas lebih erat.
"Kalau Nikita masuk ke struktur waris, itu wajar," kata Kevin.
Celine menatapnya dengan mata basah. "Iya, Ko. Sangat wajar. Tapi kalau nanti Nikita menikah dengan Pak Ethan?"
Nama Ethan membuat ruangan bergerak halus.
Yansen menyipit. "Apa hubungannya?"
"Budiman Group jauh lebih kuat dari Kin Group." Celine menelan ludah. "Aku bukan menuduh. Aku cuma berpikir, kalau Nikita punya hak di Kin dan menikah dengan Pak Ethan, apa keputusan keluarga kita nanti masih murni keputusan Kin? Atau... pelan-pelan, semua akan mengikuti Budiman?"
Jayden turun dari sandaran sofa. "Kamu bilang Nikita akan menyerahkan Kin ke Budiman?"
"Tidak!" Celine langsung panik. "Aku tidak bilang begitu. Jangan salah paham. Nikita pasti tidak seburuk itu. Dia hanya... sangat dekat dengan Budiman sekarang. Oma Budiman bahkan datang ke Villa Puspa Asri. Aku dengar mereka sudah sangat akrab."
Hansen mencibir. "Tentu saja. Dia pintar mencari pelindung."
"Ko Hansen, jangan bicara begitu." Celine menatapnya seperti memohon. "Aku tidak mau kalian makin bermusuhan dengan Nikita. Aku hanya takut kalian terluka lagi. Kalau nanti Papa memberi sebagian saham kepadanya, kalian harus siap. Kalau nanti Engkong mengubah wasiat, kalian juga harus siap. Aku... aku sudah tidak punya apa-apa. Aku bisa pergi kapan saja. Tapi kalian berbeda."
Kalimat itu membuat Ama Kin menghela napas berat.
"Anak ini masih memikirkan kalian," kata Ama Kin akhirnya. "Sedangkan kalian semua sibuk merasa bersalah sampai lupa menjaga rumah sendiri."
Kevin menatap Ama, lalu Celine.
Di masa lalu, kalimat seperti itu akan langsung menekan rasa tanggung jawabnya. Celine rapuh, Celine tidak punya tempat lain, Celine harus dilindungi. Pola itu terlalu lama hidup di rumah ini.
Namun sejak malam Liana berlutut, ada suara kecil yang terus mengganggu Kevin.
Celine, kamu terlalu pandai bicara.
Malam ini, suara itu muncul lagi.
Ia melihat bagaimana Celine tidak pernah berkata Nikita jahat. Tidak secara langsung. Ia hanya meletakkan kemungkinan demi kemungkinan di meja, lalu membiarkan mereka takut sendiri.
Tetapi Kevin juga tidak bisa mengabaikan kata saham, wasiat, dan Budiman.
Kin Group bukan hanya urusan perasaan. Ada ribuan karyawan, proyek, dan kontrak yang bergantung pada stabilitas keluarga. Jika Nikita benar-benar masuk, jika Budiman ikut berdiri di belakangnya, struktur kekuasaan akan berubah.
Kevin menutup tablet.
"Celine," katanya datar, "mulai sekarang, jangan menyebut soal warisan di depan Mama."
Celine membeku sedikit, lalu cepat mengangguk. "Aku tahu. Aku tidak akan membuat Mama sedih."
"Dan jangan bicara seolah Nikita sudah pasti akan merebut sesuatu."
Wajah Celine memucat. "Aku tidak bermaksud..."
"Aku tahu kamu tidak bermaksud." Kevin berdiri. "Itulah masalahnya."
Yansen menatap Kevin, tidak sepenuhnya mengerti tetapi cukup sadar ada sesuatu yang berubah.
Hansen meletakkan gelas keras-keras. "Ko Kevin, kamu mulai membela dia?"
"Aku membela akal sehat."
Jayden menoleh ke arah pintu, gelisah. "Aku mau keluar sebentar."
Tidak ada yang menahannya.
Pertemuan itu berakhir tanpa keputusan, tetapi udara di dalam ruangan sudah berubah. Celine berhasil menanam ketakutan. Kevin berhasil menahan sebagian. Yang tersisa adalah racun yang tidak langsung membunuh, tetapi cukup membuat semua orang sulit tidur.
Larut malam, Celine kembali ke kamarnya.
Begitu pintu tertutup, ekspresi rapuh di wajahnya hilang.
Ia berjalan ke meja rias, membuka laci paling bawah, lalu mengeluarkan kotak kecil berlapis kain merah muda. Di dalam kotak itu ada beberapa benda lama: foto masa kecil Nikita yang pernah ia simpan, potongan berita konferensi pers, dan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening.
Celine mengambil botol itu.
Cahaya lampu meja menembus cairan tanpa warna.
Di label kecil yang hampir terkelupas, hanya ada kode singkat dari pemasok lama Hansen.
Ia memutar botol itu dengan dua jari.
"Kalau kata-kata tidak cukup," bisiknya, "mungkin kita perlu cara lain."