Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Sementara itu, di kampus...
Suasana kantin siang itu lebih ramai dari biasanya. Namun di salah satu meja pojok, wajah Maya justru terlihat murung. Sudah beberapa hari berlalu, tapi Angela menghilang tanpa kabar. Begitu juga Raymond.
Maya mengembuskan napas panjang.
"Aku udah chat Angela berkali-kali. Telepon juga nggak pernah diangkat," gumamnya pelan.
Tak lama kemudian Kevin, Rio, Arga, dan Dion datang menghampiri sambil membawa minuman.
"Masih belum ada kabar?" tanya Kevin. Maya menggeleng malas.
"Nggak ada. Kayak ditelan bumi."
"Raymond juga sama. Grup basket sepi. Biasanya dia yang paling rajin ngasih instruksi." Rio mengusap tengkuknya dengan gelisah. Arga mengangguk setuju.
"Gue sampai mikir dia lagi kabur ke luar negeri atau apa."
Dion, yang sedari tadi diam, ikut menghela napas.
"Om dan Tante juga nggak banyak cerita. Mereka cuma bilang Raymond lagi ada urusan penting." Semua kembali terdiam. Rasa penasaran mereka semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba, Ponsel Dion bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat matanya langsung melebar.
Pak Surya.
"Asisten Kak Raymond..." gumam Dion.
Semua spontan menoleh.
"Angkat! Cepat!" desak Maya. Dion segera menerima panggilan itu.
"Halo, Pak Surya."
Suara pria paruh baya itu terdengar tenang dari seberang telepon.
"Mas Dion, akhirnya saya bisa menghubungi kalian."
"Iya, Pak. Sebenarnya Kak Raymond sama Angela ke mana? Kami semua khawatir."
Pak Surya terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Maaf baru memberi kabar. Tuan Raymond memang meminta semuanya dirahasiakan dulu." Jantung Maya berdegup lebih cepat.
"Angela... dia baik-baik saja, kan, Pak?"
"Dia baik. Hanya saja beberapa hari lalu ibunya mengalami kondisi kritis dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Kota. Sejak itu Nona Angela terus menjaga ibunya di sana. Tuan Raymond juga selalu mendampingi mereka."
Semua yang mendengar langsung terdiam.
Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Pantas aja... ternyata selama ini Angela lagi menghadapi masalah sebesar itu."
Kevin menghela napas lega.
"Syukurlah mereka nggak kenapa-kenapa."
Rio mengangguk.
"Setidaknya sekarang kita tahu alasan mereka menghilang."
Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Gue kira Raymond lagi bikin masalah. Ternyata dia lagi nemenin Angela."
Dion kembali bertanya melalui telepon.
"Pak, sekarang mereka masih di rumah sakit?"
"Iya. Kondisi ibu Angela mulai membaik, tapi masih harus menjalani perawatan intensif. Kalau kalian ingin menjenguk, sebaiknya tunggu sampai kondisi beliau lebih stabil. Nanti saya kabari lagi."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Panggilan pun berakhir.
Suasana meja itu berubah hening.
Maya menatap layar ponselnya yang dipenuhi pesan-pesan tak terbalas dari Angela.
Matanya berkaca-kaca.
"Dasar Angela... kenapa nggak cerita sama sekali?"
Kevin menepuk bahu Maya pelan.
"Dia pasti nggak mau bikin kita ikut kepikiran."
Maya mengangguk pelan.
"Iya... tapi begitu semuanya selesai, aku bakal marahin dia dulu sebelum meluk dia."
Mereka semua tersenyum tipis.
Kini rasa penasaran yang selama ini menghantui akhirnya terjawab. Namun, mereka juga sadar bahwa setelah Angela dan Raymond kembali ke kampus nanti, banyak pertanyaan yang sudah menunggu untuk dijawab.
****
Sementara itu, di Rumah Sakit Kota...
Setelah melewati masa kritis, kondisi Bu Sulastri akhirnya berangsur membaik. Atas bantuan Raymond, beliau kini dipindahkan ke ruang VVIP agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman. Ruangan itu terasa tenang, hanya terdengar suara lembut alat monitor yang sesekali berbunyi.
Angela duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan ibunya.
Bu Sulastri menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nduk... kamu pasti capek ya, jagain ibu selama ini?" Angela langsung menggeleng sambil tersenyum hangat.
"Nggak kok, Bu. Angela nggak capek. Yang penting Ibu cepat sembuh." Bu Sulastri mengusap pipi putrinya pelan.
"Kamu ini... dari kecil selalu bilang nggak capek, padahal ibu tahu kamu pasti kurang tidur." Angela terkekeh kecil.
"Kalau Ibu udah sehat, rasa capeknya juga hilang sendiri." Ia kemudian mengambil mangkuk bubur hangat yang baru saja diantar perawat.
"Yuk, Bu. Sekarang makan dulu. Angela yang suapin." Bu Sulastri mengangguk pelan.
"Iya."
Dengan penuh kesabaran, Angela menyuapi ibunya sedikit demi sedikit. Sesekali ia meniup bubur itu agar tidak terlalu panas.
Belum lama suasana hangat itu berlangsung, terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk," sahut Angela.
Pintu perlahan terbuka.
Raymond melangkah masuk lebih dulu sambil membawa satu keranjang berisi buah-buahan segar. Di belakangnya berjalan seorang pria tua berwibawa dengan rambut yang sudah memutih, tetapi sorot matanya masih tajam.
"Itu buat Tante," ujar Raymond sambil meletakkan parcel buah di atas meja.
"Terima kasih, Raymond," balas Angela dengan senyum tulus. Kakek Raymond ikut mendekat ke arah ranjang pasien.
Baru beberapa langkah, Bu Sulastri mendadak membelalakkan mata. Wajahnya berubah antara terkejut dan tak percaya.
"Pa... Pak Arman?"
Pria tua itu ikut menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut, menatap wajah Bu Sulastri beberapa detik, seolah sedang mengingat sesuatu.
"Lho..." Matanya perlahan melebar.
"Sulastri?" Ruangan itu langsung hening.
Angela dan Raymond saling berpandangan bingung.
"Kakek... kenal sama ibu?" tanya Raymond heran. Pak Arman tersenyum tipis, lalu mengangguk.
"Tentu saja kenal."
Beliau menatap Bu Sulastri dengan sorot mata penuh kenangan.
"Kamu... anaknya Surono, kan?" Air mata Bu Sulastri langsung menggenang.
"Iya, Pak... saya Sulastri. Dulu Bapak sering datang ke rumah. Bapak dan almarhum ayah saya bersahabat sejak muda." Pak Arman menghela napas panjang. Wajahnya dipenuhi rasa haru.
"Astaga... sudah puluhan tahun kita tidak bertemu. Terakhir kali, waktu ayahmu masih membuka bengkel kayu di desa." Bu Sulastri mengangguk sambil mengusap air matanya.
"Sejak ayah meninggal, kami kehilangan kontak. Saya nggak pernah menyangka bisa bertemu lagi... apalagi di tempat seperti ini."
Pak Arman mendekat, lalu tersenyum hangat.
"Surono dulu pernah menyelamatkan hidup saya. Budi baiknya tidak pernah saya lupakan."
Mendengar kalimat itu, Angela dan Raymond sama-sama terkejut.
Tak seorang pun menyangka, ternyata keluarga mereka telah terhubung oleh sebuah persahabatan yang sudah terjalin sejak puluhan tahun silam. Sebuah takdir yang baru kini mulai memperlihatkan benang merahnya.
Suasana ruang VVIP kembali tenang setelah pertemuan penuh haru antara Pak Arman dan Bu Sulastri. Obrolan mereka sesekali diselingi tawa kecil, mengenang masa-masa ketika almarhum Surono masih hidup.
Angela yang melihat ibunya bisa tersenyum lagi akhirnya ikut merasa lega. Namun, ketenangan itu kembali terusik.
"Masuk," sahut Angela.
Pintu terbuka perlahan.
Maya muncul lebih dulu dengan buket bunga matahari di tangannya. Di belakangnya menyusul Kevin, Rio, Arga, dan Dion. Begitu melihat Angela berdiri di sana, wajah Maya langsung berubah kesal sekaligus lega.
"Angela!" Maya berjalan cepat lalu langsung memeluk sahabatnya erat.
"Kamu bikin aku khawatir tahu nggak? Chat nggak dibales, telepon nggak diangkat. Aku sampai kepikiran yang aneh-aneh." Angela balas memeluk Maya sambil tersenyum meminta maaf.
"Maaf, May. Aku benar-benar nggak sempat pegang HP." Maya mengembuskan napas panjang.
"Kalau Pak Surya nggak ngabarin, kita nggak bakal tahu kalau kamu ada di sini."
Kevin ikut mendekat sambil tersenyum tipis.
"Gimana kabar Tante sekarang?" Angela menoleh ke arah ibunya.
"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Tinggal pemulihan."
"Syukurlah," ucap Kevin lega. Rio mengangkat kedua tangannya.
"Gue sama Arga udah mikir kalau Raymond diculik mafia."
"Enak aja," sahut Raymond datar. Arga terkekeh.
"Ya habis, lu ngilang beberapa hari. Grup basket sepi banget."
"Latihan juga berantakan," tambah Kevin.
Raymond hanya menghela napas.
"Maaf. Ada urusan yang lebih penting."
Semua langsung memahami maksudnya. Tatapan mereka beralih ke Bu Sulastri yang sedang tersenyum dari atas ranjang.
Dion maju selangkah.
"Selamat siang, Tante."
"Selamat siang juga, Nak."
Maya menghampiri ranjang sambil menyerahkan bunga.
"Tante, ini buat Tante. Semoga cepat sembuh ya."
Bu Sulastri menerima bunga itu dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nak. Kalian baik sekali sudah mau datang menjenguk."
"Nggak usah sungkan, Tante. Angela itu sahabat kami," jawab Maya.
Saat suasana mulai hangat, Rio menyenggol pelan lengan Arga sambil berbisik.
"Woy... lihat deh."
"Apa?"
"Itu Raymond."
Arga memperhatikan ke arah yang ditunjuk Rio.
Raymond tanpa sadar mengambil gelas di meja, menuangkan air hangat, lalu menyerahkannya kepada Angela.
"Nih."
"Makasih."
Beberapa detik kemudian, Angela hendak berdiri mengambil tisu.
Belum sempat melangkah, Raymond sudah lebih dulu mengambil kotak tisu dan meletakkannya di samping Angela.
"Nggak usah jauh-jauh."
Kevin mengangkat sebelah alis.
"Hmm..."
Rio menyeringai lebar.
"Perhatian banget ya."
Dion menahan senyum.
"Gue baru sadar... sepupu gue ini berubah total."
Angela yang menyadari tatapan teman-temannya langsung salah tingkah.
"Kalian jangan lihat ke sini terus deh."
Maya menyipitkan mata bergantian melihat Angela dan Raymond.
"Kayaknya... ada sesuatu yang belum kalian ceritain ke kita semua."
Ruangan seketika menjadi sunyi.
Angela langsung menelan ludah.
Sementara Raymond tetap berdiri dengan wajah datar, meski sorot matanya sesaat beralih ke Angela.
Rahasia yang selama ini mereka simpan tampaknya tak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi.
Maya menyipitkan mata bergantian menatap Angela dan Raymond.
"Kayaknya... ada sesuatu yang belum kalian ceritain ke kita semua."
Angela langsung tersedak ludahnya sendiri.
"Hah? A-apa maksud kamu?"
Maya menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Jangan pura-pura polos."
Rio ikut menyahut sambil menunjuk Raymond.
"Biasanya dia mana pernah peduli sama orang. Barusan aja dia tiga kali bantuin Angela tanpa diminta."
Kevin mengangguk pelan.
"Terus selama beberapa hari ini, dia juga terus ada di rumah sakit."
Arga menyeringai jahil.
"Kalau bukan karena sayang, mana mungkin Pangeran Kampus rela ninggalin latihan basket."
Dion menatap sepupunya sambil menahan tawa.
"Gue juga baru lihat Raymond sesabar ini ngurusin seseorang."
Semua mata langsung tertuju pada Raymond.
Sementara Raymond tetap memasang wajah datar, seolah tidak merasa sedang menjadi pusat perhatian.
"Aku cuma membantu orang yang membutuhkan."
"Ciee..." Rio dan Arga mengucapkannya bersamaan.
Raymond melirik tajam.
"Kalian banyak waktu, ya?"
Rio langsung mengangkat kedua tangan.
"Oke... oke... bercanda."
Melihat suasana semakin ramai, Bu Sulastri justru tersenyum geli.
"Teman-teman kalian akur sekali."
"Iya, Bu," jawab Angela sambil menahan malu.
Maya kemudian duduk di samping ranjang.
"Tante, Angela ini keras kepala. Dia nggak mau ngerepotin siapa pun. Makanya kami baru tahu Tante sakit."
Bu Sulastri menghela napas pelan.
"Itu memang sifat Angela sejak kecil."
Angela hanya bisa tersenyum tipis.
Saat itulah seorang dokter bersama perawat masuk membawa map pemeriksaan.
"Selamat siang."
"Siang, Dok," jawab mereka serempak.
Dokter membuka hasil pemeriksaan sambil tersenyum.
"Syukurlah, kondisi Ibu Sulastri berkembang sangat baik. Tekanan darah sudah stabil, fungsi jantung juga membaik. Kalau kondisi seperti ini terus bertahan, kemungkinan dua atau tiga hari lagi sudah boleh pulang."
Ucapan itu langsung disambut wajah-wajah lega.
"Alhamdulillah..." ucap Angela lirih.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Raymond yang berdiri di sampingnya pelan menggenggam tangan Angela di balik tubuh mereka, sehingga tidak langsung terlihat oleh yang lain.
"Gue bilang juga apa," bisiknya pelan. "Tante pasti sembuh."
Angela membalas genggaman itu sebentar.
"Terima kasih..."
Sayangnya, momen kecil itu tidak luput dari pandangan seseorang.
Maya.
Matanya membulat.
'Barusan... Raymond pegang tangan Angela?'
Ia mengerjap beberapa kali, memastikan dirinya tidak salah lihat.
Sebelum sempat berkata apa pun, Raymond sudah melepaskan genggamannya dan kembali memasang wajah dingin seperti biasa.
Maya menatap Angela penuh selidik.
Dalam hati, ia bergumam,
"Nggak mungkin... mereka cuma teman."
Belum lama dokter meninggalkan ruang VVIP, kembali terdengar suara ketukan di depan pintu.
"Silakan masuk," ujar Angela.
Pintu terbuka perlahan.
Sepasang suami istri berpenampilan elegan melangkah masuk. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap, sementara wanita di sampingnya tampil anggun dengan gaun berwarna krem.
Mereka adalah Edward Wijaya dan Diana Wijaya, kedua orang tua Raymond.
"Maaf kami baru sempat datang menjenguk," ucap Diana dengan senyum hangat sambil membawa sebuket bunga lily putih.
Edward meletakkan sebuah keranjang buah di atas meja.
"Semoga Ibu lekas pulih."
Bu Sulastri tersenyum haru.
"Terima kasih banyak."
Saat Diana melangkah semakin dekat ke ranjang pasien, senyumnya perlahan memudar. Dahinya berkerut, seolah sedang mengingat sesuatu.
Tatapan Bu Sulastri pun berubah.
Keduanya saling memandang selama beberapa detik.
Tiba-tiba...
"Sulastri?"
"Diana?"
Suara mereka terdengar hampir bersamaan.
Angela, Raymond, Maya, Kevin, Rio, Arga, dan Dion saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Kalian... saling kenal?" tanya Raymond.
Diana menutup mulutnya karena terkejut.
"Ya Tuhan... benar-benar kamu?"
Air mata langsung memenuhi pelupuk matanya.
Bu Sulastri tersenyum sambil mengangguk.
"Iya... ini aku, Sulastri."
Tanpa ragu, Diana menghampiri dan memeluk sahabat lamanya itu dengan hati-hati.
"Aku pikir kita nggak bakal ketemu lagi."
Bu Sulastri membalas pelukan itu sambil menahan tangis.
"Aku juga."
Edward yang sedari tadi memperhatikan akhirnya ikut tersenyum lebar.
"Jadi benar... aku nggak salah lihat."
Bu Sulastri menoleh ke arah Edward.
"Edward... ternyata kamu juga masih sama. Bedanya sekarang rambutmu sudah mulai ada uban."
Ucapan itu membuat semua orang tertawa kecil.
Edward ikut terkekeh.
"Kalau kamu masih suka jahil seperti dulu, berarti memang benar Sulastri."
Diana mengusap sudut matanya.
"Dulu kami bertiga selalu bersama waktu SMA. Aku, Sulastri, dan Edward. Bahkan kami sering satu kelompok kalau ada tugas sekolah."
Pak Arman yang duduk di sofa ikut tersenyum.
"Rupanya dunia memang sempit."
Edward mengangguk pelan.
"Siapa sangka, ayah saya bersahabat dengan ayah Sulastri. Sekarang kami juga dipertemukan lagi setelah puluhan tahun."
Diana menggenggam tangan Bu Sulastri dengan hangat.
"Setelah lulus SMA, keluargaku pindah ke Jakarta. Nomor telepon berubah, alamat juga berubah. Sejak saat itu kita benar-benar kehilangan kabar."
Bu Sulastri menghela napas.
"Iya. Berkali-kali aku mencoba mencari kalian, tapi tidak pernah berhasil."
Angela memperhatikan percakapan itu dengan takjub.
"Berarti... Mama sama Tante Diana sudah berteman sejak SMA?"
"Iya," jawab Diana sambil tersenyum. "Dulu ibumu terkenal paling pintar sekaligus paling baik hati di sekolah."
Bu Sulastri langsung tersipu malu.
"Ah, kamu masih ingat saja."
Edward tertawa pelan.
"Mana mungkin lupa? Banyak murid yang mengagumi Sulastri waktu itu."
Mendengar ucapan ayahnya, Raymond tanpa sadar melirik Angela.
Sementara Maya menangkap tatapan itu dan kembali menyipitkan mata.
'Raymond... kenapa setiap pembicaraan selalu berakhir dengan kamu melihat Angela?'
Perasaan penasarannya semakin kuat.
Di sisi lain, Diana memperhatikan interaksi Raymond dan Angela sejak tadi.
Tatapan seorang ibu tentu sulit dibohongi.
Raymond yang biasanya dingin kini tampak selalu berdiri tak jauh dari Angela, seolah ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.
Diana hanya tersenyum tipis dalam hati.
"Anak ini... ternyata ada sisi lembutnya juga."
Tak ada yang menyadari, pertemuan dua keluarga yang dipenuhi kenangan masa lalu itu perlahan mulai membuka jalan menuju terungkapnya rahasia besar yang selama ini disembunyikan Raymond dan Angela.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y