Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Puluhan pria berbaju hitam menyerbu dari dua arah.
Arka berdiri di tengah gang dengan napas stabil. Jika ini terjadi beberapa hari lalu, ia mungkin harus menghitung setiap gerakan agar tidak menguras tubuh terlalu keras. Sekarang cincin giok di jarinya terus mengirim qi halus ke meridian, seperti air mengisi sumur yang baru digali.
Ia melangkah.
Langkah pertama tampak biasa.
Pria paling depan mengayunkan tongkat besi. Arka bergeser setengah badan, membiarkan tongkat itu menyapu udara, lalu sikunya menghantam dada lawan. Pria itu terlempar mundur dan menabrak tiga orang di belakangnya.
Langkah kedua, Arka sudah berada di sisi lain.
Seseorang mencoba menangkap bahunya. Pergelangan orang itu justru tertangkap lebih dulu, diputar, lalu tubuhnya jatuh mencium aspal.
Langkah ketiga, suara tulang retak kecil terdengar dari tongkat yang patah oleh tendangan Arka.
Para penyerang awalnya masih percaya jumlah bisa menyelesaikan semuanya. Mereka berteriak, mengepung, mengayun, dan menerjang seperti gelombang hitam.
Namun gelombang itu terus pecah sebelum menyentuh karang.
Arka memakai Langkah Bintang Hantala. Tubuhnya bergerak pendek, hemat, tetapi selalu muncul di tempat yang salah bagi lawan. Setiap kali seseorang merasa sudah mengunci jalannya, Arka justru keluar dari celah yang tidak mereka lihat.
Satu orang tersungkur.
Dua orang menabrak temannya sendiri.
Tiga orang jatuh sambil memegangi perut.
Dalam beberapa menit, gang yang tadi penuh teriakan berubah menjadi tempat orang-orang besar mengerang di lantai.
Pria berkacamata hitam mulai berkeringat.
"Kalian semua maju! Jangan takut!"
Tidak ada yang bergerak.
Salah satu anak buahnya mundur dengan wajah pucat. "Bang... dia bukan manusia biasa."
"Diam!"
"Kita yang mengepung dia atau dia yang mengepung kita?"
Kalimat itu membuat yang lain ikut goyah.
Arka merapikan lengan bajunya. "Masih mau membawa dokter?"
Pria berkacamata hitam menggertakkan gigi. Ia ingin menjawab kasar, tetapi tubuh anak buahnya yang bergelimpangan membuat kata-katanya kehilangan tenaga.
Tiba-tiba suara sirene polisi mendekat.
Beberapa mobil berhenti di ujung gang. Pintu terbuka. Polisi turun cepat, mengepung lokasi.
Yang pertama maju adalah seorang perempuan tinggi berkulit sawo matang dengan rambut dikuncir. Seragam lapangannya rapi, ikat pinggang taktis menegaskan pinggang ramping, dan langkahnya membawa tenaga seperti orang yang terbiasa membuat preman berhenti bernapas sebelum sempat berdebat.
Matanya tajam.
"Semua tiarap! Tangan di atas kepala!"
Pria-pria berbaju hitam yang baru saja dipukul Arka justru seperti menemukan penyelamat. Mereka cepat-cepat jongkok, sebagian bahkan langsung menempelkan dahi ke tanah.
Pria berkacamata hitam mencoba bicara. "Bu Polisi, kami--"
Perempuan itu menendang bahunya cukup keras untuk membuatnya jatuh terduduk.
"Aku sudah suruh diam?"
Pria itu menahan marah. "Saya mau melapor. Dia yang memukul kami semua."
Perempuan itu menatap tubuh-tubuh besar yang berceceran di gang, lalu menatap Arka yang berdiri sendirian tanpa luka berarti.
"Kamu mau bilang satu orang mengalahkan kalian puluhan orang?"
"Memang!"
"Kamu kira aku lahir tadi pagi?"
Beberapa polisi muda menahan senyum.
Arka mengangkat tangan dengan wajah polos. "Bu Polisi, saya sedang lari pagi. Mereka tiba-tiba muncul dan mau menculik saya."
Pria berkacamata hitam hampir muntah darah. "Bohong! Dia--"
"Diam." Mata perempuan itu menyipit. "Satu kata lagi, aku tambah pasal menghalangi petugas."
Pria itu langsung menutup mulut.
Perempuan itu berbalik pada Arka. "Nama?"
"Arka Pradana."
"Kamu korban?"
"Sepertinya begitu."
"Sepertinya?" Ia mendekat satu langkah. "Korban normal tidak berdiri sesantai kamu di tengah orang-orang yang jatuh."
"Mungkin saya korban yang tenang."
Tatapan perempuan itu makin tajam.
Arka baru sadar jawaban itu tidak membantu.
"Ikut ke kantor. Buat laporan dan beri keterangan."
"Saya korban."
"Korban juga bisa memberi keterangan." Ia menunjuk mobil. "Naik."
"Nama Ibu Polisi?"
Perempuan itu menatapnya dari atas sampai bawah, seolah menimbang apakah pertanyaan itu perlu dijawab dengan kata-kata atau tendangan.
"Shania Anggraini."
"Baik, Bu Shania."
"Jangan terlalu akrab."
Arka mengangkat kedua tangan dan berjalan ke mobil polisi.
Di kantor polisi, ia ditempatkan di ruang pemeriksaan kecil. Shania duduk di seberang meja, membuka buku catatan, lalu menatapnya tanpa berkedip.
"Nama."
"Arka Pradana."
"Umur."
"Dua puluh tiga."
"Pekerjaan."
"Sopir."
Pena Shania berhenti.
"Sopir?"
"Iya."
"Sopir macam apa yang membuat puluhan orang mengejarnya pagi-pagi?"
"Sopir yang disukai banyak orang?"
Shania meletakkan pena.
"Kamu pikir ini panggung lawak?"
"Tidak."
"Jawab serius."
"Saya sopir pribadi Bu Bianca Lestari, kadang membantu konsultasi perusahaan. Sebelumnya bekerja di Nirwana Club."
Alis Shania terangkat.
"Nirwana Club? Lestari Intimates? Dua tempat itu bukan lingkungan sopir biasa."
"Rezeki saya agak luas."
"Mulutmu juga luas."
Arka memilih diam.
Shania membuka berkas awal yang baru dibawa polisi muda. Laporan dari lokasi menyebutkan para pria berbaju hitam mengaku hendak membawa Arka ke rumah sakit untuk menemui Rangga Wiratama. Beberapa di antara mereka membawa tongkat besi. Ada saksi warga yang melihat mereka mengepung lebih dulu.
Secara hukum, posisi Arka sebagai korban cukup kuat.
Masalahnya, luka para penyerang terlalu rapi.
Tidak ada senjata tajam. Tidak ada pukulan liar. Semua jatuh karena titik yang tepat, sambungan yang dikunci, napas yang dipukul keluar. Orang awam tidak melakukan itu.
"Kamu pernah latihan bela diri?"
"Sedikit."
"Sedikit seperti apa?"
"Senam pagi."
Shania tersenyum dingin.
"Arka, aku tidak suka orang yang menganggap polisi bodoh."
"Saya juga tidak suka diculik waktu lari pagi."
Mereka saling menatap.
Pintu ruang pemeriksaan tiba-tiba diketuk. Seorang polisi muda masuk dan berbisik pada Shania sambil menyerahkan data tambahan.
Shania membaca cepat. Wajahnya berubah makin curiga.
"Kamu orang Nirwana Club, tapi sekarang jadi sopir pribadi Bianca Lestari. Tadi malam juga terlihat bersama Liana Putri." Ia mengangkat mata. "Kamu ini sopir atau kolektor wanita kaya?"
Arka batuk kecil.
"Bu Shania, itu pertanyaan pekerjaan atau pribadi?"
"Jawab."
"Saya bekerja sesuai kontrak."
"Kontrak macam apa yang membuat perempuan-perempuan itu percaya padamu?"
"Mungkin karena saya mengemudi dengan baik."
Shania menutup berkas dengan keras.
"Aku bisa menahanmu lebih lama kalau kamu terus bermain kata."
Sebelum Arka menjawab, pintu kembali terbuka.
Leon Putra masuk dengan langkah cepat.
"Shania, orang ini tidak perlu kamu tekan."
Shania terkejut. "Bang Leon?"
Leon menatap Arka, lalu menghela napas. "Dia adik iparku."
Ruangan hening.
Shania menatap Leon.
Arka menatap Leon.
Polisi muda di pintu menatap lantai sambil berusaha keras tidak tersenyum.
"Adik ipar?" suara Shania naik setengah nada.
Leon tampak sudah menerima nasib. "Pacar Liana."
Arka ingin menjelaskan, tetapi melihat wajah Leon yang serius, ia menelan kata-kata itu. Setelah kejadian hotel, penjelasan apa pun mungkin hanya memperburuk keadaan.
Shania bersandar di kursi.
"Bang Leon, kamu yakin?"
"Aku jamin dia bersih. Masalah pagi ini murni sekelompok orang Rangga Wiratama mencoba menculiknya. Kalau ada yang perlu ditindak, tindak mereka."
"Dia menjatuhkan puluhan orang."
"Mereka membawa senjata dan menyerang lebih dulu."
"Kamu bahkan belum lihat rekaman."
"Aku tahu cukup."
Shania menatap Leon lama. Ia tahu seniornya itu keras kepala, tetapi tidak biasa melindungi orang tanpa alasan. Apalagi memakai kata adik ipar.
Akhirnya ia menutup buku catatan.
"Baik. Karena Bang Leon menjamin, dia boleh pergi. Tapi kalau nanti ada bukti lain, aku akan panggil lagi."
Arka berdiri. "Terima kasih, Bu Shania. Saya akan menjadi warga yang taat hukum."
"Jangan membuatku menyesal membiarkanmu keluar."
"Saya akan berusaha."
"Jangan berusaha. Lakukan."
Leon menepuk bahu Arka dan membawanya keluar.
Begitu pintu tertutup, Shania langsung menoleh pada polisi muda.
"Ambil semua rekaman sekitar lokasi. ATM, toko, kamera lalu lintas, apa pun. Aku mau lihat sendiri."
"Siap, Kak Shania."
"Dan jangan panggil dia sopir biasa lagi." Mata Shania menyipit. "Sopir biasa tidak membuat Bang Leon datang sendiri pagi-pagi."