NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Daren selalu percaya skandal bisa diatur seperti rapat.

Siapa yang bicara, siapa yang diam, dokumen mana yang keluar dulu, media mana yang diberi akses, semua tinggal dibagi dalam tabel.

Pagi itu, tabelnya berantakan.

Tiga vendor yayasan mengirim surat kesediaan bersaksi ke kantor hukum Karina. Dua rekening penampung ditemukan. Nama dokter Hendra muncul dalam jalur pembayaran. Video Sinta gagal memukul Alya dan malah membuat Ratna terlihat memakai jaringan pengajian untuk menekan menantu.

Yang paling mengganggu, Rafi tidak bisa dihubungi.

Daren membanting ponsel ke meja.

Yoga berdiri di depannya, wajah pucat. "Mas, saya sudah kirim orang ke apartemen. Pak Rafi tidak ada."

"Tentu tidak ada. Dia di tempat perempuan itu."

"Mbak Alya?"

"Karina," koreksi Daren dingin. "Alya tidak akan menyimpan orang sebodoh itu di rumah Arga."

Yoga menunduk.

Ratna masuk tanpa mengetuk. Ia mengenakan baju putih sederhana, siap untuk acara yayasan siang nanti, seolah dunia masih patuh pada jadwalnya.

"Berapa yang bocor?"

Daren melempar map ke meja. "Cukup untuk membuat komite audit meminta rapat luar biasa."

Ratna membuka map. Matanya bergerak cepat.

"Pak Mahendra?"

"Iya."

"Istrinya?"

Daren terdiam.

Ratna mengangkat wajah. "Apa hubungan istrinya?"

"Dokter Hendra juga menangani Bu Saras."

Untuk pertama kalinya, Ratna tidak langsung menjawab.

Daren melihat itu.

"Ibu tahu?"

"Tahu apa?"

"Bahwa dokter Hendra menangani Bu Saras."

Ratna menutup map. "Dokter Hendra menangani banyak orang."

"Dengan obat yang sama?"

"Jaga mulutmu."

Daren tertawa pendek. "Jadi iya."

Tamparan Ratna mendarat cepat.

Yoga langsung memalingkan wajah.

Daren memegang pipinya, tetapi tidak menunduk.

"Masalahnya bukan aku kurang ajar, Bu. Masalahnya jejaknya terlalu banyak."

Ratna menatap putranya. "Kamu pikir aku melakukan semua ini supaya kamu bisa panik seperti anak magang?"

"Aku panik karena Ibu membuat penyakit orang jadi alat."

"Dan kamu menikmati hasilnya selama bertahun-tahun."

Daren diam.

Kalimat itu tepat. Terlalu tepat.

Ratna mendekat. "Dengar. Rapat luar biasa tidak boleh terjadi sebelum kita mengunci narasi. Hari ini acara yayasan tetap jalan. Kita akan bicara tentang fitnah, keluarga yang diserang, dan menantu yang terlalu ambisius."

"Video Sinta sudah menghancurkan narasi itu."

"Maka kita ganti wajah korban."

"Siapa?"

Ratna menatap Yoga.

Yoga langsung kaku.

"Saya?"

"Kamu terlalu kecil untuk jadi korban utama," kata Ratna. "Tapi cukup untuk jadi orang yang mengaku salah prosedur."

Yoga pucat. "Bu Ratna, saya hanya menjalankan instruksi."

"Instruksi siapa?"

Yoga menatap Daren.

Daren mengerti arah pisau itu.

"Ibu mau memotong Yoga?"

"Kalau satu jari busuk menyelamatkan tangan, potong."

Yoga mundur. "Mas Daren..."

Daren tidak menjawab.

Di kantor hukum Karina, Alya mendengar rekaman baru dari Rafi. Suara Yoga panik terdengar dari panggilan pagi tadi.

`Mas Rafi, jangan bawa-bawa nama saya. Semua ini perintah atas. Kalau saya jatuh, saya tidak jatuh sendiri.`

Rafi duduk di samping meja, wajahnya tegang.

"Dia akan dikorbankan," kata Karina.

Alya mengangguk. "Dan orang yang akan dikorbankan biasanya bicara paling jujur lima menit sebelum tenggelam."

Satria masuk membawa kopi. "Aku bisa cari Yoga."

"Tidak perlu dicari," kata Alya.

Semua menoleh.

Alya menunjuk layar. "Dia akan mencari Rafi."

Rafi mengangkat wajah. "Aku?"

"Kamu satu-satunya orang yang dia anggap cukup lemah untuk diajak menyelamatkan diri."

"Aku tidak suka kalimat itu."

"Kalimat itu menyelamatkanmu semalam."

Rafi tidak bisa membantah.

Karina menutup laptop. "Kalau Yoga datang, jangan bertemu di tempat pribadi."

"Kantor polisi?" tanya Rafi.

"Terlalu cepat," kata Alya. "Dia akan kabur."

Satria tersenyum. "Kafe yang punya CCTV bagus?"

"Dan dekat kantor pengacara."

Karina menatap Alya. "Kamu ingin dia bicara sebagai saksi, bukan tersangka."

"Untuk hari ini."

Rafi mengusap wajah. "Aku dulu pikir kamu kejam karena tidak pernah memanjakan orang."

"Sekarang?"

"Sekarang aku sadar dimanjakan orang lain hampir membuatku masuk penjara."

Alya tidak menjawab, tetapi matanya sedikit melunak.

Ponsel Rafi berbunyi.

Yoga.

Ruangan langsung diam.

Karina memberi isyarat. Rekaman dinyalakan.

Rafi mengangkat telepon. "Halo."

Suara Yoga bergetar. "Mas, kita perlu ketemu. Sekarang."

"Untuk apa?"

"Mas jangan pura-pura tidak tahu. Mereka mau lempar semua ke saya. Saya punya bukti. Tapi saya butuh jaminan."

Rafi menatap Alya.

Alya mengangguk pelan.

"Jaminan apa?"

"Nama saya tidak masuk laporan utama."

Karina menggeleng.

Rafi berkata, "Aku tidak bisa janji itu."

Yoga mengumpat pelan. "Mas, kalau saya bicara, Mas Daren habis."

Alya mencondongkan tubuh.

Rafi bertanya, "Bu Ratna?"

Hening di ujung sana.

Lalu Yoga berbisik, "Kalau nama beliau masuk, kita semua mati."

Panggilan terputus.

Rafi menatap layar.

Satria bersiul pelan. "Nah. Itu bukan orang administrasi yang takut ditegur. Itu orang yang tahu kuburan."

Di tempat acara yayasan, Ratna berdiri di belakang panggung. Para undangan mulai datang. Kamera media bersiap. Bu Ningsih tidak hadir, alasan sakit kepala.

Daren mendekati ibunya.

"Kalau Yoga bicara?"

Ratna merapikan bros di kerudungnya.

"Maka kita pastikan orang tidak percaya pada mulutnya."

"Bagaimana?"

Ratna menatap panggung.

"Kita beri mereka cerita yang lebih menarik."

Pembawa acara memanggil namanya.

Ratna berjalan ke depan dengan senyum yang sama seperti biasa.

Namun kali ini, di barisan belakang, seorang wartawan membuka ponsel dan menerima file anonim.

Judul file itu singkat.

`Daftar pasien Dokter Hendra.`

Wartawan itu tidak langsung membuka file di ruang acara. Ia sudah terlalu lama meliput keluarga besar untuk percaya hadiah gratis.

Ia mengirimnya ke redaktur, lalu ke satu kontak dokter independen yang sering membantu membaca istilah medis.

Lima belas menit kemudian, redakturnya membalas.

`Tahan Bu Ratna di panggung. Ini besar.`

Ratna baru selesai bicara tentang ketahanan keluarga ketika pertanyaan pertama dilempar.

"Bu Ratna, apakah Yayasan Pradipta memakai dokter Hendra untuk menangani pasien VIP di luar prosedur resmi?"

Senyum Ratna tidak bergerak.

"Saya tidak memahami maksud pertanyaan itu."

"Ada daftar pasien dan pembayaran. Nama Mas Arga Pradipta termasuk di dalamnya."

Daren berdiri di sisi panggung, wajahnya berubah.

Ratna menatap wartawan itu. "Saya minta media tidak menyebarkan data medis pribadi."

"Berarti data itu asli?"

Ruangan langsung riuh.

Daren memberi isyarat pada staf keamanan. Salah satu staf maju, tetapi beberapa kamera langsung mengarah kepadanya.

Ratna mengangkat tangan, memaksa semua orang melihat dirinya lagi.

"Kami akan melakukan investigasi internal."

Dari pintu samping, Yoga muncul.

Wajahnya pucat, tetapi tangannya menggenggam amplop.

Daren melihatnya dan langsung berjalan cepat. "Yoga, jangan bodoh."

Yoga mundur ke arah wartawan.

"Saya sudah bodoh terlalu lama, Mas."

Kalimat itu terekam jelas.

Di kantor Karina, Alya memutar ulang bagian itu sekali.

Karina tersenyum tipis. "Dia memilih panggung yang benar."

"Karena panggung lain akan menguburnya."

Rafi menatap layar. "Kalau Yoga bicara, apakah aku tetap harus bersaksi?"

"Iya."

"Aku berharap kamu bilang tidak."

"Berhenti berharap hal yang membuatmu terlihat menyedihkan."

Rafi mengangguk, anehnya patuh.

Di belakang panggung, Daren menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

`Dokter Hendra tidak ada di klinik. Kalau dia bicara, bukan hanya namamu yang keluar.`

Daren menatap pesan itu.

Lalu untuk pertama kalinya, ia mencari ibunya bukan untuk meminta perintah.

Ia ingin tahu apakah Ratna juga sedang takut.

Ratna tidak terlihat takut ketika Daren menemukannya di ruang persiapan.

Ia sedang menghapus lipstik yang sedikit keluar garis, tenang seperti perempuan yang baru selesai menghadiri arisan biasa.

"Ibu lihat Yoga?"

"Lihat."

"Dia membawa amplop."

"Orang kecil selalu berpikir kertas bisa membuatnya besar."

Daren menutup pintu. "Kalau kertas itu berisi instruksi pembayaran?"

Ratna menatap cermin. "Maka kita sebut dia pemalsu."

"Kalau ada tanda tanganku?"

"Kamu seharusnya bertanya itu sebelum menandatangani apa pun."

Daren tertawa tidak percaya. "Jadi kalau aku jatuh, Ibu akan bilang aku bergerak sendiri?"

Ratna berbalik.

"Kalau kamu ingin menjadi penerus keluarga ini, berhenti meminta jaminan seperti anak kecil."

Di luar, suara wartawan makin keras.

Daren akhirnya mengerti. Bagi Ratna, anak pun hanya berguna selama masih bisa berdiri di depan peluru.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!