⚠️Jangan boom like⚠️
follow author dulu sebelum baca yok
~
Gue menikah dengan musuh bebuyutan gue yang datang dari masa lalu. Bisa-bisanya sekarang doi malah mengajar di kelas gue. Hey, Abang Guru, I kehed you! Sumpah, gue kehed banget, anjoy! Aaaaaaaaargh…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk UKS
"Apa-apaan nih orang datang-datang langsung sengak banget gini?" Batin Brian.
Awalnya Brian mengakui kehebatan Bagas dalam bermain basket. Kenyataannya Bagas memang terlihat punya jam terbang tinggi dalam bidang basket. Dengan lihai Bagas men-dribble bola lalu melakukan sedikit freestyle saat melalui Brian sebelum akhirnya melakukan slam dunk.
"Maksudlu apa?" ucap Brian. Wajahnya meninggi, dadanya terbusung, alisnya naik sebelah.
Bagas berjalan mendekat. Senyum yang terukir di wajahnya hanya sebelah sisi, menguarkan keangkuhan yang dimilikinya.
"Maksud gue, lu... pa-yah..." ucap Bagas pelan dengan mata yang beradu dengan mata Brian.
Brian mendekat, ia mengadu hidung di hadapan Bagas. "Gue gak kenal sama lu, lu juga ga tahu siapa gue! Daripada banyak bacot, lebih baik kita buktikan siapa di antara kita yang payah!" Mereka berdua kini saling atu tatap seakan tatapan keduanya mengandung listrik.
ZEEEET... ZEEEET... ⚡⚡⚡
"JHON, BOLA!" teriak Brian dengan tatapan yang masih ia sorotkan kepada mata Bagas.
Salah seorang teman Brian pun melemparkan bola lalu Brian menangkapnya.
"Nih," Brian melempar bola dengan kuat kepada Bagas.
BLAAAP... Bagas menangkapnya dengan mantap. "Gue kasih kesempatan buat lu duluan yang membuktikan bahwa LU PAYAH!" lanjut Brian.
Keduanya pun berdiri berhadapan dengan sikap sedikit membungkuk. Bola kini berada di tangan Bagas, sedangkan Brian bagian menahannya di depan ring agar upaya Bagas memasukkan bola ke keranjang gagal.
CIIITT... CIIIT... DUG DUG...
Suara alas sepatu berdecit menggesek lantai lapangan basket itu diiringi dengan suara bola dipantul-pantulkan.
Bagas bergerak maju lalu melakukan manuver zig-zag agar dapat melewati Brian. Brian membuka kedua tangannya. Gayanya sama-sama membungkuk sejajar dengan kuda-kuda yang dilakukan Bagas.
PLAAAAP...
Bagas menepuk bola di tangannya setelah memutarnya untuk mengindari tangan Brian yang nyaris merebut bola. Tubuh mereka saat ini saling beradu.
Siapakah yang akan berhasil, Bagas yang membuat sebuah serangan atau Brian yang bertahan dari serangan Bagas?
CIIIIIIITTT...
Sepatu Bagas berdecit. Ia memutar tubuhnya membelakangi Brian lalu melalui Brian menuju ring basket.
"BRIAAAAAN... CELINE!"
Suara tinggi seorang gadis memecah konsentrasi Brian. Itu adalah Helen. Ia berteriak dari pintu hall.
Bagas nyaris melakukan slam dunk untuk kedua kalinya tapi ia tiba-tiba membeku seperti batu. Bola yang ada di tangannya hanya ia pegang tanpa melakukan apa-apa dan langkahnya terhenti.
Tidak demikian dengan Brian. Pemuda itu sudah lari meninggalkan lapangan. Ia keluar hall. Bagas berbalik dengan bingung. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi.
Bagas berjalan menuju pintu keluar. Tentu saja ia sudah kehilangan jejak Brian dan Helen yang berlarian entah kemana.
Ketika sampai di luar pintu hall, Bagas menyaksikan sebuah pemandangan yang lagi-lagi membuatnya terpaku.
BRAK BRAK BRAK BRAK...
Hentakan sepatu Brian begitu tegas menjejak lantai. Ia berlari sambil menggendong Celine di punggungnya, disusul oleh Helen yang berlarian beberapa belas meter di belakangnya. Mereka baru sana melalui Bagas.
"Celine!" Bagas membulatkan mata. Ia baru saja melihat gadis yang dikenalnya basah kuyup, lemas terlunglai di gendongan Brian.
Bagas pun menghentikan laju ayunan kaki Helen. Ia menarik tangan Helen.
"Apa yang terjadi?" tanya Bagas.
"Celine pingsan Kak! Celine pingsan!" Helen hanya dapat berkata-kata singkat. Napasnya terengah-engah, wajahnya pun tampak panik. Matanya merah seolah hendak mengeluarkan butiran bening dari keduanya.
"Hah?" Bagas yang tidak paham mengapa hal itu terjadi ingin melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, tapi Helen kini yang berganti menariknya berlari mengikutinya.
"Pokoknya ke UKS dulu!" ucap Helen sambil menarik Bagas.
Sesampai mereka di UKS, Bagas, Brian dan Helen mengelilingi tempat tidur Celine. Seorang petugas memeriksa Celine lalu meminta bantuan Helen untuk menggantikan pakaian Celine dengan pakaian kering. Brian dan Bagas pun keluar dari ruangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Bagas kepada Brian. Mereka berdua tengah menunggu di luar UKS.
Brian berjalan bolak-balik dengan raut wajah khawatir. "Gak tahu," jawabnya singkat tanpa memandang ke arah Bagas.
"Hei, bocah! Lu pacar Celine kan? Masa bisa ga tahu kenapa dia kaya gitu?" ucap Bagas hampir meneriaki Brian.
"Kalau gue bilang ga tahu ya ga tahu! Celine pingsan di toilet, cuma itu yang gue tahu!" jawab Brian yang tiba-tiba berhenti mondar-mandir. Ia bicara dengan ekspresi geram menatap mata Bagas.
"Jangan-jangan benar kalau Celine mengalami pem-bully-an," ucap Bagas yang menyandarkan punggungnya ke dinding dengan kasar. Kepalanya ikut ia lekatkan ke dinding dengan wajah yang menengadah. Kedua tangannya masuk ke dalam kedua saku celana sampingnya.
"Pem-bully-an?" Mata Brian membulat. Kedua bola matanya itu langsung bergerak ke samping dengan cepat. Jelas sekali ada rasa bersalah yang mendadak menyerangnya.
"Gara-gara dia pacaran sama idola cewek-cewek di sekolah ini," lanjut Bagas sambil menegakkan kepalanya dan memandangi Brian dengan tatapan memburu.
Brian diam seribu bahasa. Ia tak kian membalas ucapan Bagas. Tentu saja, sebab kejadian ini memang gara-gara Brian.
NGIIIIKKK...
Pintu UKS terbuka. Petugas keluar dari ruangan. Saat di pintu petugas medis itu kembali menoleh ke arah dalam dengan posisi pintu terus dibukanya.
"Oh, iya... Usahakan setelah teh manisnya dihabiskan, tidak usah masuk kelas dulu. Kalau bisa pulang saja. Suruh dia istirahat," ucap petugas itu.
"Iya Kak," jawab Helen. Petugas medis itu pun pergi.
Bagas dan Brian berebut untuk masuk ke dalam ruangan UKS. Sesampai di dalam mereka mendapati Celine sedang duduk bersandar di bantal sambil menyeruput teh hangat.
"Apa yang terjadi?" Bagas dan Brian bertanya bersama-sama. Lalu, keduanya saling pandang dengan perasaan kesal.
"Ngaku aja Cel, lu di-bully lagi kan sama geng cewek-cewek pemuja Brian garis keras?" ucap Helen.
Celine yang sedang menyeruput teh lalu meneguknya perlahan itu pun tersedak.
"Uhuk... uhuk..."
"Serius?" Brian membulatkan matanya sambil bergumam. Ia menanti jawaban lain dari mulut Helen, tapi sayangnya kata-kata itu baru saja keluar dari sana dan tak akan bisa ditarik lagi.
"Apa gue bilang! Sat!" umpat Bagas.
"Benar itu, Pol?" tanya Bagas dengan mata yang memburu.
Celine alias Cepol masih mengatur napasnya. Lehernya masih terasa gatal dan sesak akibat tersedak barusan. Ia menelan salivanya dengan kasar saat menangkap sorotan tajam mata Bagas.
Celine mengondisikan dirinya. Ia berlagak sombong.
"Bukan urusanmu. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mengurusi urusan satu sama lain?" ucap Celine tanpa melihat mata Bagas.
"LU PIKIR BOKAP-NYOKAP LU GA AKAN TAHU KALAU ADA APA-APA TERHADAP DIRI LU, HUH?" ucap Bagas kesal.
"Hei... Hei... Ada apa ini? Celine, lu kenal sama dia?" tanya Brian.
Helen membulatkan mata, sama halnya dengan Celine. Keduanya membayangkan hal yang berbeda tapi dengan inti cerita yang sama, PEPERANGAN!
jangan lupa membeli kawah
inget ya cel
kamu udah menikah