Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dadang
Kabar tentang kepindahan perusahaan tambang membuat Pie sedih. Oto pun sedih karena harus berjauhan dengan sang kekasih yang dia sayang. Jarak yang jauh membuat mereka akan sulit bertemu.
"Maaf, mas harus ikut bos mas pindah lahan, dik."
"Iya, mas."
"Jangan bosan nunggu kabar dari Mas ya."
"Iya, Mas. Hati-hati di sana. Jaga hati tetep buat aku ya." Oto tertawa kecil. Ia mencubit pipi Pie gemas.
"Hati mas sudah milik adik Pie. Jangan khawatir, Mas akan setia di sana."
"Janji?"
"Janji, sayang." Oto menggenggam dan sedikit mengeratkan genggamannya pada Pie. Ia sungguh tak siap harus berjauhan, ia akan merasa sangat rindu pada gadis ini. Namun, ingin bagaimana lagi? Pekerjaan yang mau menerimanya hanya di sana.
"Mas akan sering-sering pulang."
"Kemana?"
"Ke sini."
Pie bersemu. Kata 'pulang' seolah mereka sudah menikah. Oto sudah diterima dengan baik oleh keluarga Pie.
"Hati-hati di sana To. Jaga kesehatan, jaga diri. Sering-sering jenguk Pie."
"Iya, bu. Mohon doanya biar Oto segera kembali untuk melamar adik Pie."
"Ya, Ibu doakan, To."
Oto berpamitan pada orangtua Pie pada sore hari, karena ketika malam ia sudah harus berangkat menuju daerah yang menjadi lahan baru.
"Si Oto ada menghubungimu, Pie?" Mama yang sedang menggoreng tempe menoleh ke arah Pie yang duduk bersandar di pintu kulkas.
"Ada, Ma. Tapi jarang. Dia bilang di sana sanga sulit sinyal." Pie lesu karena seharian ini belum mendapat kabar dari Oto. Pesan dari pagi pun belum dibalas oleh pria itu.
"Yang penting tidak putus komunikasi."
Pie diam. Terlihat wajahnya tertekuk, membuat Mama tersenyum kecil.
"Sabar. Jodoh tidak akan ke mana."
"Ya, Ma."
"Dik, Ulang tahun besok ingin hadiah apa?"
"Tidak perlu hadiah. Kalau bisa kita bertemu."
"Mas tidak bisa janji. Tapi kalau hadiah bisa mas kirim ke Pak Bagus. Beliau ada rencana pergi ke sana."
"Tidak usah, Mas."
"Mas belikan boneka, mau?"
"No."
"Ayolah, dik. Mau ya? Mas maksa. Nanti malam Mas mau ke pasar malam lihat-lihat boneka untuk adik."
"Mau ya? Nanti Mas telepon kalau sudah di pasar malam."
"Iya."
"Kenapa suaranya lesu?"
"Kangen."
"Mas juga kangen. Sabar ya."
"Sudah dulu, Mau mandi."
"Iya, dik."
Pie akan melakukan kegiatan lulur badan terlebih dulu sebelum mandi. Ia sudah terbiasa merawat tubuhnya usai lulus sekolah. Kulitnya yang sawo matang terlihat bersih karena rajin luluran.
Yang menjadi PR-nya kali ini adalah jerawat kecil-kecil yang memenuhi hampir permukaan wajahnya. Pie bingung kenapa jerawat begitu banyak, padahal sebelumnya jerawat muncul hanya satu atau dua saja dan itu bergantian.
"Halo? Dik, sudah tidur?"
"Belum, baru selesai nonton. Ada apa, Mas?"
"Kok ada apa. Ini ada boneka besar, mau boneka apa? Teddy bear, panda, hello kitty, keroppi atau apa, dik?"
"Kan sudah ku tolak."
"Mas maksa. Mas belum ada beri hadiah untuk adik. "
"Tidak penting hadiah. Kehadiran mas yang kutunggu."
"Ayo pilih yang mana."
"Panda."
"Yakin?"
"Iya."
"Oke. Mas bayar dulu ya."
"Makasih, Mas."
"Sama-sama, Sayang."
Pie menatap kuku-kuku jari tangannya, ia baru sadar belum potong kuku.
"Panda akan meluncur ke rumah adik. Tunggu ya."
Sebuah pesan dari Oto masuk, Pie segera membaca dan bibirnya seketika mengulas senyuman. Ia benar-benar tak menginginkan hadiah, ia hanya ingin bertemu namun, Oto juga ingin menghibur Pie kala dirinya tak bisa pulang untuk bertemu. Pie penasaran dengan boneka panda yang dibelikan oleh Oto untuknya.
Dua hari kemudian..
Pie kala itu sedang bermain facebook, ia beberapa kali memberi komentar pada sebuah grup yang menampung segala curhatan para member.
"Pie, ada Oto di luar." Mama yang membuka pintu kamar Pie, anak gadisnya itu sedang asyik berbaring sembari memainkan ponselnya.
"Mas Oto?" Pie begitu terkejut hingga ia meloncat berdiri menatap Mama.
"Iya, baru datang. Dia bawa kotak besar. Katanya hadiah untukmu. Ayo keluar, kita makan bersama."
Pie.mengikuti Mama ke luar kamar menemui Oto yang menyambut kehadirannya dengan senyuman lebar. Keduanya terasa sangat bahagia, rasa rindu yang selama hampir tiga minggu terpendam akhirnya meleleh.
"Kenapa tidak bicara apa-apa?" Pie yang sedikit kesal karena kedatangan Oto yang membuatnya tak bersiap-siap.
"Kejutan." Oto menyunggingkan senyuman.
"Aku terkejut. Kupikir ini mimpi."
"Hehe. Mendadak Pak Bagus mengajak dan kebetulan mas sedang libur."
"Oh ya, ini boneka pesanan adik." Oto menarik kotak besar setinggi dada orang dewasa.
"Besar sekali. Pasti mahal." Bibir Pie mengerucut. Ia merasa bersalah sudah membuat kekasihnya membuang-buang uang.
"Tidak, kok. Jangan pikirkan harga. Mas senang bisa memberi apapun yang adik suka."
"Ya, ya. Terima kasih, Mas. Boleh ku buka sekarang?"
"Boleh. Ayo buka."
Pie tersenyum manis, ia mulai membuka ikatan kotak tersebut dan tiba-tiba menyembul kepala boneka panda yang besar.
"Astaga, besar sekali, Mas." pekik Pie tertahan.
Oto tersenyum bahagia menatap binar kebahagiaan Pie.
"Supaya jadi teman tidur adik di kamar."
Boneka yang sebesar tubuh Pie begitu nyaman ia peluk. Ia merasa hangat ketika memeluk boneka tersebut.
Kehadiran Oto yang hanya beberapa jam membuat Pie kembali sedih. Namun, ia harus sabar. Mereka berjauhan karena Oto ingin cepat melamarnya. Pie merasa ia harus bersikap dewasa.
"Sedang apa, dik?"
"Memeluk dadang."
"Siapa itu? Adik ada pacar di sana?"
"Boneka panda ku beri nama dadang, Mas. Jangan marah."
"Oh, astaga. Mas pikir adik selingkuh. Haha."
"Namanya lucu. Kenapa dadang?"
"Entah. Spontan saja."
"Bayangin jadi mas ya?"
"Aku mau tidur. Bye."
"Maaf dik, mas bercanda."
"Tidak suka."
"Iya, Mas tidak begitu lagi."
Bibir Pie mengerucut jika ingat pacarnya ini.
"Kapan ketemu lagi?"
"Baru kemarin kita ketemu, dik. Sudah kangen ya?"
"Jarak jauh susah. Apalagi mas sulit dihubungi."
"Yah, mau gimana lagi, dik. Sinyalnya jelek. Nanti mas coba beli kartu perdana lain. Siapa tau lebih bagus."
"Iya."
"Oto kemarin bawa apa?"
"Boneka, Ma."
"Besar?"
"Iya. Itu ada di kamar."
"Hadiah ulang tahun?"
"Iya, Ma."
"Mama pikir Oto kembali ke sini bawa semua barangnya."
Pie hanya tersenyum kecut. Ia berharap tidak terlalu lama berjauhan dengan Oto. Rasanya berbeda saat ia berpacaran secara nyata tapi LDR dengan berpacaran secara virtual.
"Pie, besok libur ke kebun. Mama mau bantu tetangga masak."
"Iya, Ma."
Pie mencoba mengisi waktunya yang terlalu luang untuk mendekor kamar sesuai keuangannya.
"Kalau aku jadi nikah sama mas Oto nanti tinggal dimana ya?" gumam Pie ketika ia akan tidur siang.