Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 30
Mitha memasuki kios yang menjadi tempat tinggalnya dengan tergesa. Sesekali dia menoleh ke belakang, takut ada orang yang mengikutinya. Istri Marcelo itu merasa ada yang membuntuti dirinya saat dia ikut ke pasar Bu Wiwin.
Wanita itu ingin sekali melihat keadaan pasar di kota T, di mana Bu Wiwin biasa belanja. Mitha menginginkan jajanan pasar tapi memilih sendiri karena belum ada bayangan apa yang hendak dibeli. Bu Wiwin pun terpaksa mengajak anak angkatnya karena takut nanti anaknya ileran karena tidak bisa menikmati makanan yang diinginkan.
"Bu, mereka sudah pergi, belum?" tanya Mitha dengan suara berbisik, takut suaranya terdengar sampai luar kios.
Bu Wiwin mengikuti Mitha masuk ke kios dan langsung menutup pintu, lalu menguncinya. Badannya disandarkan ke pintu yang baru saja dia tutup. Dua wanita beda generasi itu sama-sama gemetar karena takut tertangkap oleh orang-orang yang tadi mengikuti mereka.
"Ibu juga tidak tahu. Sekarang kita jangan keluar rumah dulu sampai besok," sahut Bu Wiwin setelah napasnya kembali teratur.
Mata Mitha terbeliak kaget mendengar sang ibu angkat mengajaknya untuk tidak keluar sampai besok, padahal mereka tadi belanja banyak untuk jualan hari ini. Kalau warung tutup, bagaimana sayuran dan ikan yang telah dibeli?
"Jangan pasang wajah kek gitu! Jelek," ucap Bu Wiwin saat melihat wajah kaget sang anak.
Wanita paruh baya itu terkekeh seraya berlalu meninggalkan Mitha yang masih duduk berselonjor kaki di lantai. Melihat Bu Wiwin berjalan menuju dapur membawa belanjaan mereka tadi, istri Celo mengikuti sambil membawa barang yang tergeletak di sampingnya.
"Kalau hari ini tidak jualan, bagaimana dengan belanjaan kita hari ini, Bu?" tanya Mitha setelah berhasil menyusul sampai dapur.
Bu Wiwin yang sedang membongkar barang belanjaan menoleh ke arah Mitha yang baru saja menyusulnya sembari tersenyum.
"Ada kulkas, Mitha. Untuk apa beli kulkas kalau dibiarkan kosong tak terisi? Sudah, kamu jangan terlalu banyak pikiran! Yang penting jaga kesehatan dan kandungan kamu," tutur Bu Wiwin dengan senyum mengembang sambil menyimpan sayuran ke dalam kulkas.
Mitha tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. Dia malu karena telah melupakan keberadaan kulkas di dalam kios itu karena jarang dibuka. Dua wanita dalam satu atap yang memiliki ke kebiasaan yang sama, yaitu sama-sama tidak suka makanan ataupun minuman dingin.
Istri Celo itu duduk mendekati Bu Wiwin dan ikut membantu membereskan belanjaan. Ibu dan anak yang tidak memiliki ikatan darah itu sama-sama bahu membahu membereskan belanjaan. Kemudian, mereka lanjut membereskan kios yang berantakan.
Satu jam kemudian, mereka sudah selesai membereskan kios. Napas Mitha sampai tersengal karena kelelahan setelah membantu sang ibu. Saking lelahnya, wanita yang tengah berbadan dua itu ketiduran dengan posisi duduk bersandar pintu kulkas.
Bu Wiwin yang melihat hal itu kembali tersenyum. Rasa lelahnya hilang seketika setiap memandang wajah wanita muda yang kini menemaninya di hari tua. Bagi wanita paruh baya itu, kehadiran Mitha adalah sebuah anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya.
Sungguh nikmat mana lagi yang Bu Wiwin dustakan. Di separuh abad lebih hidupnya tiba-tiba datang bidadari cantik berhati malaikat menemani hari tuanya. Kehadiran MItha sangat membantu meringankan pekerjaan dan pikirannya.
Bu Wiwin mendekati Mitha yang kini mulutnya sudah terbuka, tidak seperti tadi yang mengatup rapat. Wanta paruh baya itu pun membangunkan sang anak agar pindah ke kamar saja agar tidak masuk angin. Perempuan yang sedang hamil muda akan lebih mudah terkena masuk angin.
Bu Wiwin mengguncang lengan sang anak dengan lemah lembut. Tak lupa Bu Wiwin juga memanggil nama aslinya agar Mitha segera bangun dan pindah ke kamar.
Mitha yang tidurnya merasa terusik pun membuka mata dan menatap sang ibu yang sedang duduk dengan dengan lutut sebagai tumpuan. Istri Marcelo itu mengucek matanya perlahan lalu menutup mulutnya karena menguap.
"Maaf, Bu. MItha ketiduran tadi," ucap MItha seraya duduk tegak.
"Tidak apa-apa, ibu bangunin kamu cuma biar pindah ke kamar saja. Di sana lebih nyaman karena ada kasur, kamu bisa rebahan gak duduk kek gini pasti habis ini badan pegel-pegel," jelas Bu Wiwin mengulas senyum.
Dengan patuh, Mitha akhirnya pindah ke kamar karena dia tidak ingin merepotkan sang tuan rumah.
***
Di kediaman Weasley, laki-laki tiga anak itu tampak duduk termenung di ruang kerjanya. Laki-laki usia jelita itu sedang memikirkan nasib pernikahan anak dan menantunya. Ditambah lagi, Marcelo berulang kali menanyakan keberadaan sang istri.
Sampai saat ini, anak buahnya belum bisa menemukan keberadaan sang menantu, padahal sudah banyak anak buah yang disebar di kota T. Damian tidak tega melihat keadaan sang anak saat ini yang badannya sudah kurus kering. Makan pun tak seleraa lagi, sehingga badannya semakin kurus dan wajah pun pucat.
"Pi," panggil Zee di ambang pintu ruang kerja Damian di rumahnya.
Damian segera meletakkan map yang tadi dipegangnya. Ayah tiga anak itu lalu berdiri dan berjalan mendekati si bungsu, anak perempuan satu-satunya.
"Iya, Zee. Ada apa?" tanya Damian karena menunggu anaknya cerita dengan sendirinya.
"Kak Mitha sebenarnya di mana, sih? Kenapa lama sekali tidak pulang?" cecar adik kandung Marcelo itu.
Deg
Dada Damian tiba-tiba terasa sesak bagaikan tertimpa pohon yang sangat besar. Ingin rasanya dia menutupi apa yang telah terjadi. Namun, sampai kapan dia sanggup menutupi ini semuanya.
"Sebenarnya Mitha hilang sudah dua bulan, papi sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari dia. Namun, sampai saat ini belum juga ketemu," jawab Damian akhirnya.
Zeera terkejut mendengar penjelasan sang itu. Gadis remaja itu sulit percaya dengan apa yang didengarnya. Kakak iparnya itu sangat baik padanya dan juga baik pada semua penghuni rumah mewah itu.
"Kenapa tidak membiarkan saja? Biasanya juga kalian tidak peduli. Tahunya hanya cara mengisi perut saja,"
*
*
*
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.