" Aku mencintaimu, Adibah." Reza.
" Stop mengatakan cinta padaku, Reza. Kamu itu adalah suami adikku!" Adiba.
Aisyah tanpa sengaja mendengar pernyataan yang sangat begitu amat menyakitkan hatinya mendengar suaminya menyatakan cinta kepada kakaknya sendiri.
lalu bagaimana dengan perasaan Aisyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
" Anak itu, kapan bisa dewasanya." Komentar adibah saat melihat postingan status WA Aisyah.
" Umi, lihat deh." Adiba memperlihatkan postingan video saat Aisyah lagi masak. Bahkan tertulis lagi masak untuk makan siang suami tersayang, tak lupa dengan emotji love disana.
" Yang lagi jatuh cinta bawaannya pamer terus, pake acara di posting segala. Lebay," komentarnya lagi tapi sambil cekikikan merasa geli.
Apa-apa harus di posting ke status, apa-apa harus nulis status. ' Selamat bekerja suamiku, sayang' Sungguh menggelikan membacanya. Namun bagi orang yang sedang jatuh cinta justru nampak bahagia, sebab itulah seluruh kontak di wa harus mengetahui bahwa saat itu hati sedang bahagia.
" Kayak gini sebenarnya boleh gak sih Umi? Apa ini termasuk pamer?" tanya Adiba. Saat ini keduanya sedang duduk santai di sofa sambil menikmati cemilan dan secangkir minuman yang segar-segar.
Umi Jannah menoleh ke anak pertamanya, dia terus memperhatikan saat Adiba banyak komentar tentang postingan yang di unggah oleh anak keduanya tersebut.
" Mungkin maksud adik kamu bukan pamer, hanya saja dia terlalu bahagia. Sangking bahagianya, dia ingin menunjukkan pada dunia. Dan itu sah-sah saja bukan suatu yang salah," jawab umi.
" Oh gitu, tapi terkesan nya alay banget. Jadi kayak pamer gitu," lanjutnya masih dengan komentar.
" Sekarang Umi tanya sama kamu, melihat dan membaca status adik kamu di wa apa kamu merasa iri sehingga berpikir jika apa yang Aisyah posting dan tulis terkesannya pamer." tanya umi Jannah nampak serius.
Adiba menatap kedua mata uminya dalam.
" Bukan iri, hanya saja geli melihat Aisyah menulis seperti itu. Apalagi di status wa. Bisa saja kan banyak yang membacanya." kata Adiba. "
" Apa kamu cemburu?" tanya umi kembali. Iri dan cemburu sebenarnya beda tipis.
" U-umi ngomong apa sih. Enggak lah, masa Adiba cemburu. Justru Adiba seneng melihat Aisyah bahagia, cuma saja tidak perlu di pamerkan di media sosial begitu, takutnya nanti orang berpikir beda," katanya.
" Adibah. Seseorang yang memposting kebahagiaannya di media sosial bukan berarti pamer, sebaliknya cara berpikirmulah yang mungkin perlu diubah. Kamu mungkin perlu memperluar pola pikir dan menjadi open minded sehingga tidak berprasangka buruk pada niat orang lain."
Adiba terdiam, dia bahkan tertunduk saat ini tanpa belaan apapun lagi.
" Umi yang mengandung dan melahirkan kamu. Membesarkan kamu sehingga umi sangat mengenal kamu lebih dari siapapun. Kamu bisa membohongi seluruh dunia tapi tidak dengan Umi."
Adiba masih terdiam bahkan dia diam diam menghapus air matanya yang tiba-tiba keluar tanpa izin tanpa sepengetahuan Umi.
" Umi sangat bangga sama kamu sayang, demi kebahagiaan Aisyah kamu bahkan rela mengorbankan perasaan kamu sendiri." Mendengar perkataan Umi Adiba langsung menoleh ke arahnya seakan mengatakan bagaimana mengetahuinya.
" Umi tahu alasan kamu menolak Reza dulu bukan karena penyakit yang kamu derita kan?" lanjut Umi sambil mengulurkan tangan lembut surai panjang Adibah yang saat ini sedang membuka jilbabnya.
" Tapi karena Aisyah juga menyukai Reza. Umi sangat bangga sama kamu, tapi jangan lakukan itu lagi Adibah. Jika hati kamu tahu sayang sebenarnya pasti dia bakalan merasa bersalah." Umi berkata lembut sekali hingga membuat Adiba tak kuasa menahan air mata.
" Apa kamu menyesal sekarang?" Tanya Umi.
" Tidak Umi. Justru sekarang Adiba bahagia melihat mereka bahagia. Tidak ada yang perlu disesali, karena Allah bakal menemukan jodoh yang jauh lebih baik lagi untuk Adiba. Hanya saja mungkin bukan sekarang, mungkin menunggu waktu yang tepat," jawabnya tulus tidak ada kebohongan dari pancaran matanya Umi dapat melihat itu.
Umi tersenyum kemudian menarik tubuh adik berhala memeluknya. Umi bangga dan bersyukur karena Adibah memiliki pola pikir yang sangat dewasa sekali dan juga begitu menyayangi Aisyah bahkan sampai rela mengorbankan perasaannya.
" Umi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Dan Umi yakin Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah dan menetapkan jodoh yang terbaik untuk kamu."
" Amin ..." Adik bahagia bisa mengaminkan yang memejamkan kedua matanya merasakan kehangatan peluk karena kasih sayang Umi.
Dalam hatinya yang paling dalam ia sudah mengikhlaskan Reza. Adiba berkomentar mengenai status postingan Aisyah bukan karena iri apalagi cemburu hanya saja merasa geli karena Aisyah selalu menulis kegiatannya dimana pun dan kapanpun untuk laki-laki yang pernah ia sebut namanya di dalam doa dulu.
***
Waktu malam telah tiba saat ini di kediaman Reza. Aisyah sedang menunggu kedatangan sang suami. Iya duduk di sofa sambil menonton TV. Setelah semua Mas kanan sudah iya sajikan di meja makan barangkali suaminya itu ingin makan malam bersama dengan dirinya. Tidak banyak berharap, namun Aisyah tidak ada salahnya untuk mencoba.
Aisyah benar-benar ingin membuka lembaran baru dan memberi kesempatan untuk Reza. Iya sangat berharap semoga dengan usahanya kali ini benar-benar bisa meluluhkan dan membuka lebar pintu hati suaminya tersebut dan hidup bahagia seperti Umi dan abinya dalam pandangannya kedua orang tuanya itu selalu nampak bahagia dan Aisyah menginginkan hal yang serupa.
Mendengar bunyi suara mobil di depan rumah Aisyah buru-buru merapikan rambut wajah dan juga baju. Wanita itu bersiap-siap untuk menyambut kedatangan suaminya dengan wajah ceria.
" Assalamualaikum." Salam Reza.
" Waalaikumsalam." Dengan wajah senyum terpancar kebahagiaan Aisyah menghampiri suaminya meraih tangan lalu menciumnya dengan takzim dan mengambil tas di tangan kiri Reza.
Reza nampak terdiam seakan terpandang melihat penampilan Aisyah yang nampak berbeda malam ini. Tidak seperti biasanya istrinya itu berpakaian minim sekali bahkan sangat seksi di matanya. Biasanya Aisyah selalu berpakaian panjang yang menutupi tubuhnya walaupun tidak mengenakan jilbab di dalam rumah. Dan kali ini sangat berbeda sekali, baju tidur yang seksi bahkan cuma setengah paha hingga menampilkan kulit mulus nan putih itu. Rambut panjang hitam tebal terurai, riasan tipis membuat wanita itu nampak cantik alami. Reza menelan ludah, rasa gerah semakin menjadi dalam tubuhnya.
" Mas, kok malah bengong sih. Mandi dulu gih," ujar Aisyah mengejutkan Reza yang terbengong-bengong menatap dirinya. Sebenarnya Aisyah sangat males sekali iya grogi dan menjadi salah tingkah saat ini namun Aisyah berusaha untuk tetap tenang.
" I-iya, aku mandi dulu." Reza buru-buru berjalan ke kamar, iya harus segera mandi bukan semata ingin menghilangkan rasa gerah melainkan untuk menghilangkan pikiran kotornya.
Aisyah mengerutkan keningnya melihat suaminya itu berjalan terburu-buru ke kamar tanpa berkomentar apapun mengenai penampilannya malam ini. Aisyah menghela nafasnya mencoba untuk berpikir positif. Kemudian Aisyah mengikuti langkah suaminya ke kamar untuk meletakkan tas dan juga jas yang iya bawa.
Di dalam kamar mandi Reza langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Bayangan wajah istri dan juga tubuh indahnya itu tidak mau hilang walaupun ia sudah membasuh kepalanya dengan air dingin.
" Astaghfirullahaladzim." Berkali-kali Reza beristighfar. " Ya Allah lama-lama aku bisa gila jika seperti ini."
Cukup lama Reza berada di dalam kamar mandi membuat Aisyah resah. Aisyah pun mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan bahwa suaminya itu baik-baik saja.
Tok, tok ...
" Mas ... Mas kamu didalam baik-baik aja kan?" Teriak Aisyah sambil terus mengetuk pintu.
" Ada apa?" jawab Reza.
" Kamu di dalam sudah hampir 1 jam loh, nanti masuk angin karena terlalu lama di sana." Aisyah sangat khawatir, entah apa yang dilakukan suaminya itu di dalam kamar mandi. Apa mungkin menghindari dirinya. Entahlah, Aisyah mencoba untuk tetap berpikir yang positif.
" Iya sebentar lagi selesai," jawab Reza.
" Oke." Aisyah merasa lega karena tidak terjadi sesuatu yang tak inginkan pada suaminya yang terlalu lama di dalam kamar mandi.
Aisyah kembali duduk di tempat tidur di samping baju santai yang sudah ia siapkan untuk suaminya itu. Sambil menunggu Aisyah kembali memainkan handphonenya.
Ceklek ...
Pintu kamar mandi terbuka, Aisyah meletakkan handphonenya di tempat tidur yang menatap suaminya.
Deg ...
Ternyata Reza keluar dengan hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggang tubuh kekar yang berotot perut sixpack berkotak-kotak melebihi roti sobek membuatnya meneteskan air liur.
" Pegang perut suami sendiri dosa nggak sih?" Ucapnya tanpa sadar yang terus mas deh memandangi perut kotak-kotak milik suaminya itu.
" Apa kamu sengaja ingin menggodaku, hem?" Entah sejak kapan Reza sudah berdiri tepat di hadapan Aisyah bahkan laki-laki itu sedikit membungkukkan badannya hingga jarak di antara keduanya begitu dekat.
Aisyah menatap bola mata suaminya yang berwarna coklat, tetesan air dari rambut yang basah membuatnya tanpa sadar menyentuh wajah suaminya tersebut.
" Iya." kata Aisyah tanpa sadar. Seperti dia tersihir dengan ketampanan suaminya.
Cup ...
Assalammu'alaykum