Thalita gadis cantik yang berumur dua puluh dua tahun. Dengan terpaksa menerima perjodohan yang dibuat sepihak oleh laki-laki paruh baya yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri.
Dia dijodohkan dengan sahabatnya sendiri yang bernama Adriel Raditya Afkar. Pemuda dingin berumur dua puluh tiga tahun. Di usianya sekarang, Adriel sudah menjabat sebagai CEO dari perusahaan milik ayahnya. Dia juga sudah memiliki kekasih bernama Faranisa.
Persahabatan yang semula terjalin cukup baik, harus retak gara-gara Thalita tidak mau menolak perjodohan mereka. Alhasil karena hal tersebut, Adriel menjadi sangat membenci Thalita. Lalu dia membawa kekasihnya tinggal serumah dengan istrinya sendiri.
Tidak sanggup menahan sakit hati, melihat suaminya bersama wanita lain, akhirnya Thalita mengurus perceraian mereka. Akan tetapi setelah mereka resmi berpisah. Adriel baru menyadari jika dia mencintai istrinya.
Penasaran sama kisah Adriel dan Thalita, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenab Usman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Berhenti.
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Jika kamu belum mau melakukannya sekarang. Malam malam ini tolong temani aku," Fara mengulangi lagi permintaannya. Wanita itu sangat yakin bahwa Adriel pasti akan memenuhi tidak akan menolak keinginan dirinya.
"Adriel, apa kamu juga tidak mau tidur bersamaku?" menyentuh tangan kekasihnya yang hanya diam seperti lagi berpikir dan mempertimbangkan sesuatu.
"Eum... baiklah! Nanti malam aku akan menghubungi Thalita dan menyuruhnya berbohong pada papa. Lagian semua ini kesalahan dirinya yang menerima perjodohan ini," ucap Adriel akhirnya mengambil keputusan. Benar kata Fara, Jika dia ingin menyakiti Thalita maka harus memulainya dari sekarang.
Cup!
"Aku mencintaimu," Fara tersenyum dan mengalungkan tangannya pada leher Adriel dan mengecup bibir kekasihnya lebih dulu. Lalu setelah itu bergantian Adriel yang membalas ciumannya. Untuk sementara ini hanya itulah yang bisa mereka nikmati. Sebab jika sampai melakukan hubungan suami-istri, Adriel belum mau, sebelum mereka resmi menikah dan menjadi pasangan halal.
Akhirnya dari sore sampai malam harinya. Adriel hanya menghabiskan waktunya bersama sang kekasih sambil menonton televisi. Seharusnya dia bukan melakukannya bersama Farah. Tapi dengan istrinya sendiri, sebab apa yang dia perbuat saat ini pasti sangat melukai perasaan Thalita sebagai istri sahnya.
*
*
Sementara itu di kediaman keluarga Afkar Thalita sedang membantu asisten rumah tangga menyiapkan untuk makan malam mereka. Gadis itu belum tahu bahwa malam ini suaminya tidak akan pulang karena sedang menemani kekasihnya di Apartemen.
Tap!
Tap!
"Papa! Kenapa Papa sudah datang ke sini, bukankah belum waktunya kita makan malam?" tanya Thalita melihat kedatangan ayah mertuanya.
"Tidak ada apa-apa. Papa hanya ingin menanyakan Adriel kenapa sampai jam segini dia belum juga datang?" tanya beliau seakan-akan tidak tahu bahwa putranya lagi bersama Faranisa. Meskipun Tuan Marcel hanya diam di rumah dan jarang pergi keluar. Namun, pria paruh baya itu memiliki orang kepercayaan untuk menyelidiki ke mana saja pergi putra semata wayangnya itu
Seperti malam ini tujuannya bertanya pada Talita adalah agar menantunya itu segera menelepon adriel dan menyuruh pulang untuk makan malam bersama. Jika dia tidak memiliki tujuan lain maka Tuan Marcel sudah menelponnya sendiri.
"Eum... Adriel lagi bertemu dengan Riko untuk membahas pekerjaan, Pa. Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi dia akan pulang," jawab Thalita tidak mungkin menyebutkan bahwa suaminya lagi menemui Faranisa. padahal Ayah mertuanya lebih tahu daripada dia.
Tahlita juga belum mengetahui jika sejak tadi sore Adriel menghabiskan waktunya di Apartemen bersama wanita lain. Apabila Thalita sampai mengetahui hal tersebut alangkah terlukanya dia. Belum juga genap pernikahan mereka dua hari. Tapi Adriel sudah bermesraan dengan wanita lain. Dua orang pasangan dewasa yang berbeda lawan jenis menghabiskan waktu bersama dalam ruangan tertutup. Sudah bisa dipastikan apa saja yang mereka lakukan.
"Oh seperti itu! Coba kamu hubungi dia dan suruh kembali sebelum jam makan malam. Bukannya dia sudah mengambil cuti, kenapa harus menemui rekan bisnisnya. Apalagi orang yang ditemui adalah Riko. Kenapa tidak disuruh datang ke rumah saja," gerutu Tuan Marcel agar Thalita tahu maksud perkataannya.
"Iya, Papa kembali saja ke depan. Nanti setelah selesai membantu bibi menyiapkan untuk makan malam. Thalita akan menelpon Adriel dan menyuruhnya pulang,"
"Terima kasih, Nak. Maafkan Om, sudah banyak menyusahkan dirimu," kata Tuan Marcel memaksakan untuk tersenyum. Sebelum meninggalkan ruangan dapur bersih dan kembali lagi ke depan, karena sejak tadi beliau sedang membaca koran.
"Nona, pergilah jika ingin menelepon Tuan Muda Adriel, pekerjaan ini biar saya yang selesaikan agar disaat makan malam tuan muda tidak terlambat," titah si bibi merasa tidak enak karena majikannya sibuk membantu sejak tadi padahal Ia dan rekannya sudah melarang agar Thalita tidak membantu pekerjaan mereka.
Mungkin saja Thalita tidak memiliki pekerjaan lain dan malas untuk mengira-ngira suaminya sedang ada di mana, bersama siapa dan berbuat apa? makanya gadis itu mencari kesibukan dengan membantu para asisten rumah tangga.
Walaupun Thalita tidak terlalu pandai saat memasak. Setidaknya dia bukanlah gadis pemalas yang tahunya hanya menikmati makanan saja dan tidak tahu proses pembuatannya.
"Baiklah kalau begitu tolong bibi teruskan ya, Aku akan kembali ke kamar, karena ponselku berada di sana," Thalita menepuk pelan pundak sang asisten disertai senyuman kecil.
"Asih, aku begitu kasihan melihat Nona Thalita. sepertinya tuan Adriel tidak menyukainya. Masa' iya baru sehari kemarin mereka menikah, hari ini sudah pergi menemui rekan bisnisnya. Seharusnya Tuan Muda Adriel mengajak Nona Thalita pergi berbulan madu atau menghabiskan waktu berdua di dalam kamar kan?" ucap si bibi pada rekan kerjanya.
"Kamu jangan sembarangan berbicara, bagaimana jika tuan besar mengetahui bahwa asisten rumah tangga menggunjing putranya. Bisa-bisa kita dipecat gara-gara ikut campur yang bukan urusan kita," tegur wanita yang bernama asih dia sudah bekerja di kediaman Afkar kurang lebih selama tiga belas tahun. Sedangkan rekannya yang berbicara tadi, baru bekerja beberapa bulan terakhir ini.
"Ma--maaf, aku hanya merasa kasihan pada Nyonya Thalita. apa kamu tidak melihat raut mukanya sangat tertekan,"
"Lalu walaupun kita mengetahuinya, bisa berbuat apa? Di sini kita hanya mencari rezeki bukan mencari masalah. Jadi mulai saat ini jangan pernah sembarangan berbicara lagi. apa yang aku katakan ini untuk kebaikan kita bersama," ucap Asih tidak ingin juga membuat teman satu pekerjaannya merasa tersinggung dengan nasehat yang dia berikan.
"Iya, maaf! aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," jawab pelayan yang berkata tadi. Lalu setelahnya mereka berdua kembali lagi melanjutkan tugas mereka menyiapkan beberapa macam makanan kesukaan Adriel dan Thalita di atas meja makan. Semua yang mereka lakukan tentu saja atas perintah Tuan Marcel.
Ttttddd!
Ttddddd!
"Adriel, Kamu ke mana sih Kenapa teleponku tidak diangkat-angkat juga tanya Talita pada dirinya sendiri sambil mencoba menghubungi suaminya untuk kesekian kali. Namun, setelah dia menyerah karena tak kunjung diangkat oleh orang yang dia hubungi. Ponsel Thalita yang baru saja dia letakkan di atas ranjang tempat tidur sudah menyala, karena ponsel gadis itu sengaja dibuat mode silent.
Sebelum menggeser tombol hijau pada layar ponsel tersebut. Talita melihat terlebih dahulu siapa yang menghubunginya, ternyata yang menelepon adalah Adriel.
📱 Thalita :"Halo, Adriel kamu di mana? Kenapa belum pulang? Papa sudah menanyakan dirimu sejak tadi," tanya Thalita secara beruntun. Tanpa dia ketahui siapa orang yang menghubunginya.
📱 Faranisa : "Wah, wah! Ternyata kamu benar-benar istri idaman ya, yang begitu mengkhawatirkan suaminya." cibir Fara tersenyum menyeringai.
Ya, yang menghubungi Thalita adalah Fara, bukannya Adriel, karena pemuda itu terlelap tidur di depan TV di mana tempat tadi dia dan Fara menonton acara drakor yang disukai oleh kekasihnya.
📱 Thalita : "Fara, di mana adriel kenapa kamu memegang ponselnya?" seru Thalita mulai memiliki perasaan tidak enak.
📱 Fara : "Ha... ha... kamu ini bodoh atau bagaimana Thalita. Apakah sebelum pergi tadi Adriel tidak memberitahumu, bahwa dia akan datang ke Apartemenku?" bukannya menjawab tapi gadis itu balik melemparkan pertanyaan yang membuat Thalita sakit hati.
Deg!
"Adriel... ternyata benar dugaanku tadi, jika kamu bertemu para di apartemennya? kenapa kamu tega sekali,"
Gumam Thalita mengepalkan tangannya erat. Untuk menahan dirinya agar tidak memaki kasar Fara maupun Adriel.
📱 Fara : "Thalita kenapa kamu diam saja? Apakah yang aku katakan ini benar? Hugh... kasihan sekali kamu! Baru juga kemarin siang dinikahi olehnya, tapi hari ini Adriel sudah tidur bersamaku," secara terang-terangan para mulai menunjukkan sifat aslinya pada Tahlita hanya di depan Adriel dia seolah menjadi peri yang nyasar hidup di dunia.
📱 Thalita : "Fara, kamu jangan pernah mencoba untuk membohongiku. Aku tahu kamu sedang berbohong, sekarang tolong berikan ponselnya pada suamiku. Aku lebih mengenal Adriel jauh sebelum dirimu. Jadi aku tahu dia tidak mungkin melakukan perbuatan terlarang bersama dirimu. Apalagi statusnya sudah memiliki istri," jawab Thalita begitu meyakinkan. Padahal dia sendiri mulai ragu dengan keyakinannya.
📱 Thalita : " Kamu pikir aku bodoh yang akan langsung percaya pada perkataanmu. kamu salah mencari lawan Farah aku bukanlah tandinganmu kamu paham?" meskipun hatinya terasa sakit, akan tetapi Thalita berusaha menahannya agar Fara dan Adriel tidak bisa semena-mena merendahkan dia dengan cara menghianati pernikahannya.
📱 Fara : "Ternyata kamu memiliki kepercayaan diri yang tinggi Thalita. Jika kamu tidak percaya maka buktikan saja. Malam ini suamimu akan tidur bersamaku di Apartemen, karena dia belum puas untuk melanjutkan percintaan yang kami lakukan sejak tadi sore,"
📱 Thalita : "Baiklah, mari kita buktikan. Sekarang berikan ponselnya pada Adriel karena aku ingin berbicara langsung padanya," kata Thalita sambil menjatuhkan tubuhnya di samping tempat tidur dan bersandar di sana.
📱 Fara : "Aku kan sudah bilang saat ini Adriel sedang tidur. Dia kelelahan setelah pertempuran panas kami. Jadi tunggulah dia bangun. Nanti aku akan memberitahunya, oke. Bye bye," sebelum mendengar jawaban dari Thalita lagi. Fara sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon tersebut dan meletakkan kembali ponsel Adriel di atas meja dekat tempat mereka menonton tadi. Saat menelpon Thalita, dia sengaja menjauh agar Adriel tidak mendengar apa yang dia katakan pada istri kekasihnya itu.
"Thalita, sudah sejak dulu aku tidak menyukaimu, ditambah sekarang kau sudah berani merebut Adriel dariku. Maka bersiap-siaplah. Karena setelah aku menyelesaikan kontrak pekerjaanku, maka kau akan ditendang oleh Adriel dari kediaman keluarga Afkar, karena hanya akulah satu-satunya wanita yang pantas menjadi nyonya besar di sana."
Fara tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa sangat puas sudah berhasil membohongi Thalita. Sebab apa yang dia katakan tidaklah benar, yang benar hanya Adriel sedang tidur karena lelah menemaninya menonton. Bukan kelelahan karena mereka habis melakukan percintaan layaknya pasangan suami istri.
"Adriel... aku harap apa yang dikatakan oleh Fara tidaklah benar. Jika sampai kamu melakukannya, maka aku tidak bisa menjamin perasaan yang aku miliki akan hilang dengan sendirinya." Thalita bergumam sendiri sambil meremas dress yang ia pakai untuk menahan sesak di dadanya.
Namun, Thalita tidak menjatuhkan air mata, karena dia belum tahu pasti apa yang telah terjadi di Apartemen milik Faranisa. Lagian apabila dia menangis sekarang, sebentar lagi adalah waktunya jam makan malam. Thalita tidak ingin Ayah mertuanya mengetahui bahwa dia habis menangis.
"Aku memang mencintaimu, tapi bukan berarti aku bisa kamu kendalikan sesuka hatimu, Adriel. Sesabar nya aku pasti memiliki rasa lelah. Sehingga aku memilih untuk berhenti dari perjalanan yang tidak tahu akan berujung sampai kemana," ucapnya lagi menghiru udara sebanyak mungkin lalu di hembuskan dengan perlahan.
Setelah merasa lebih tenang, Thalita kembali berdiri dan memperbaiki riasan wajahnya. Agar tidak terlihat bahwa dia lagi merasa tertekan karena memiliki banyak pikiran.
Tok!
Tok!
"Iya, sebentar," Thalita sedikit berteriak ketika mendengar pintu kamarnya diketuk dari.
Ceklek!
"Ada apa Bi Asih?" tanyanya pada asisten rumah tangga.
"Maaf Nona, Saya disuruh oleh Tuan Marcel untuk memanggil Nona, karena beliau sudah mengajak untuk makan malam," jawab Bi Asih dengan sopan.
"Huem, Baiklah! Ayo mari kita turun," ajak Thalita menutup pintu kamarnya dan berjalan serempak dengan sang asisten rumah tangga tersebut.
Tiba di lantai bawah, melihat Thalita sudah berjalan mengarah pada meja makan. Tuan Marcel menatap iba pada menantunya itu. Namun, beliau tidak mempunyai pilihan lain selain mengorbankan Thalita untuk menyelamatkan putranya dari keserakahan Faranisa.
Lelaki paruh baya itu tidak memungkiri apabila ada orang yang mengatakan bahwa dirinya egois, yang memikirkan kepentingannya sendiri. Tanpa memikirkan perasaan wanita yang dihancurkan oleh putranya. Akan tetapi apa yang beliau lakukan untuk membantu Thalita juga. Agar bisa mendapatkan laki-laki yang gadis itu cintai yaitu Adriel putranya.
"Pa," ucap Thalita singkat dan menarik salah satu kursi yang kosong. namun sebelum dia ikut menyusul duduk gadis itu mengambil piring dan mengisinya, lalu diberikan pada Tuan Marcel.
"Ini, Papa harus makan yang banyak. Agar tetap sehat seperti sekarang," meskipun rasanya untuk menatap makanan saja dia sudah tidak berselera tapi Thalita tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
"Terima kasih, Nak. Apakah adriel tidak bisa pulang sekarang?" tanya Tuan Marcel sambil menerima piring yang sudah diisi oleh sang menantu beliau pun mulai memasukkan beberapa macam lauk.
"Iya, Adriel belum bisa pulang karena dia diajak makan malam bersama oleh rekan bisnisnya yang lain dan juga Riko," Thalita tersenyum dan ikut mengisi piring untuk dirinya sendiri beserta dengan lauknya juga.
Sambil menikmati makanan yang seharusnya enak. Namun, terasa hambar tidak memiliki rasa apa-apa. Sesekali Thalita akan menjawab apabila mertuanya bertanya. Jika tidak hanya diam saja, mereka berdua hanya larut dengan pikirannya masing-masing.
Tuan Marcel yang mengerti mungkin saja sang menantu sedang malas untuk berbicara. Tidak banyak berbicara, karena tidak ingin membuat suasana hati menantunya semakin kacau.
"Thalita, Papa akan duluan kembali ke depan. Setelah ini kembalilah ke kamar kalian untuk beristirahat. Papa lihat wajahmu sangat lelah mungkin karena beberapa hari ini selalu sibuk," ucap Tuan Marcel setelah selesai menghabiskan makanan di dalam piringnya.
"Iya Pa, Thalita memang ingin istirahat karena rasanya begitu lelah," jawab gadis itu yang memang hanya ingin memiliki waktu untuk sendiri.
"Kalau begitu kamu istirahat saja dan tidak usah memikirkan Adriel. Papa tidak ingin kamu sampai sakit hanya karena terlalu banyak pikiran dan lelah,"
"Oke, Papa tidak perlu khawatir. Thalita akan menjaga kesehatan dan juga waktu untuk beristirahat," tidak tega melihat mertuanya harus banyak menanggung beban pikiran. Thalita pun mengangkat tangannya ke atas seakan memberi semangat pada dirinya sendiri dan menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
Tidak lama setelah mertuanya meninggalkan meja makan. Thalita pun memilih untuk berpamitan pada Bi Asih dan membiarkan para asisten itu membereskannya bekas makan mereka. Sebab Thalita ingin cepat-cepat kembali ke kamar untuk menunggu apakah Adriel akan menelpon dia atau tidak seperti perkataan Fara tadi.
...BERSAMBUNG....
sungguh² mantap sekali ✌️🌹🌹 🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘 😘