Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedulian?
Suara mesin menyembunyikan panggilan kecil yang menggemaskan itu. Alina mulai melajukan mobilnya. Membelah jalanan yang cukup ramai, mungkin akan semakin ramai. Mengingat sebentar lagi tahun baru, semua orang akan menghabiskan waktu bersama orang tersayang mereka, sedangkan dia.......
Alina menggeleng kecil, dia fokus menatap jalan. Sedangkan bibi, tentu saja memperhatikan nya. Dengan sesekali tawa kecil dari Rosa.
"Kita ke pom bensin dulu." Ujar Alina.
"Ah, kebetulan sekali nona. Beli air minum, sepertinya Rosa haus dan mungkin sedikit cemilan biskuit bayi." Jelas bibi.
"Hmmmm." Balas Alina tanpa menoleh. Bibi keluar dari mobil, tapi dia tidak menuju kamar mandi. Melainkan menuju Alina di kursi kemudi.
"Nona, bisa pegangi Rosa sebentar?" Tapi tidak ada respon dari Alina. "Ya sudah, bibi bawa saja......"
"Letakkan saja dia disana." Ujar Alina, bibi mengulum senyum mendengar nya.
"Sebentar ya. Nanti nenek kembali."
"Nannanana." Respon Rosa saat tubuhnya didudukkan di kursi.
"Sebentar ya nona."
"Iya." Balas Alina kecil, bibi berlalu secepat mungkin. Dan sekarang, hanya dia dengan bayi perempuan itu.
"Mamamamamaa." Alina mendengar panggilan itu lagi.
Matanya langsung menatap wajah yang ditatap dengan kesal itu membalasnya dengan tawa. "Mammamaa. Akhahaha."
"Aku bukan mama mu! OK! Jadi, berhentilah mengatakannya! Aku tidak suka! Kau dengar? Hah!" Kesal Alina, tapi justru dibalas Rosa dengan tubuh yang naik turun seolah kegirangan. Matanya yang berbinar menatap Alina yang kesal padanya.
"Entah sampai kapan kau akan berada di sekitar ku! Kau membuat ku sesak! Kau....."
"Mamamamamaa." Alina terdiam, tangannya disentuh lembut oleh tangan mungil itu. Jari-jari kecil Rosa bergerak seolah mengelus punggung tangannya.
"Mamamamamaa." Panggilnya lagi. "Ekhee, mammama." Sejenak, Alina terpaku dengan wajah mungil dan tatapan polos dengan binar itu.
"Jangan sentuh aku! Aaaaa!" Alina yang ingin melepaskan dan menjauhkan Rosa darinya, justru mendekap erat tubuh mungil itu.
"Hei! Apa kau tidak lihat? Ini antrian, ada mobil di depan mu!" Jelas Alina, dia langsung keluar dari kemudi dengan Rosa yang berada di gendongan nya.
"Sorry mam." Ujar pengemudi yang menabrak mobilnya.
"Mam? Hei, kau dengar ya ......" Alina kembali melayangkan kekesalannya, yang benar saja. Mam? Dia bahkan belum menikah dan memiliki anak.
"Ada apa?" Entah mengapa keributan itu membuat sosok pria di bangku belakang terganggu.
"Maaf tuan, tapi Rick tidak sengaja menyenggol mobil seorang wanita." Lapor pria didepannya.
"Kepala ku sudah pusing sekarang, cepat selesaikan!" Titahnya kesal. Matanya kembali terpejam.
"Sudah Tuan, tampaknya ibunya menghentikan putrinya untuk terus kesal. Mungkin dia baby blues?"
"Baby blues?"
"Iya, dia menggendong bayi perempuan." Pria itu berhenti dari sandaran nyaman nya dan menoleh ke jendela. Tampak mobil bewarna silver itu siapa berjalan setelah seorang wanita yang menggendong bayi masuk.
*************
"Nona masih kesal?" Tanya bibi setelah mobil menjauh dari pon bensin.
"Iya, enak sekali dia memanggil ku mam? Mam? Umurku tidak setua itu!" Kesal Alina.
"Mungkin, karena nona mengendong Rosa." Jelas bibi.
"Kalau tidak ku gendong dia akan kembali masuk rumah sakit dan mungkin aku harus mengeluarkan biaya lagi untuk itu!" Jelas Alina. Tapi kata-kata pedas Alina bermakna lain bagi bibi.
'Nona peduli, dan tidak ingin Rosa terluka. Bibi tau.'
"Nona pulang jam berapa?" Tanya bibi setelah sampai di rumah.
"Sedikit terlambat. Tidak perlu menunggu bi. Aku akan menyelesaikan beberapa desain sebelum libur." Jelas Alina.
"Baiklah nona."
********************
"Baik, sekarang jawab pertanyaan ku!" Tubuh pria dengan jas putih itu tampak sulit bernapas. Sebelumya baik-baik saja, tapi entah darimana orang-orang dengan penampilan menyeramkan ini datang.
"Aku tidak akan menghancurkan apapun, kalau kau jawab pertanyaan ku." Lanjut pria itu mengintrogasi.
"Ini rumah sakit .... Bu-kan sindikat penculikan.... Kalau kehilangan, ke-napa kemari. Kenapa ti-dak ke kantor po-lisi?" Balasnya.
"Aku tidak bisa bernegosiasi. Jawab atau.... Tanggung akibat nya! Bahkan mungkin polisi pun tidak bisa berbuat banyak. Aku tanya sekali lagi! Kau, pernah melihatnya? Atau ini?"
"Aku tidak......"
"Pria itu sudah tiada beberapa bulan lalu. Tolong, lepaskan aku.... " Cicitnya, kepalanya menunduk saat pria dengan bekas luka di pipi itu mendekati nya.
"Lalu, bayi nya? Jawaban mu dan ketepatan nya akan menentukan nasib mu."
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🙏 🙏