Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak,ayah sama saja!
Ke esokan harinya, Bintang terlihat bangun lebih siang dari pada biasanya. Damian yang malam itu kembali memutuskan untuk tidur di sofa pun terlihat bingung saat melihat Bintang yang tak kunjung bangun.
“Udah mau jam empat, masih nggak bangun juga?”Gumam Damian dengan bingung, kemudian pria itu hanya mengedikkan bahunya acuh dan berlalu dari ruangan itu untuk kembali ke sofa setelah menunaikan hajatnya di kamar mandi.
“Biarinlah dia istirahat dulu, lagian dia pasti capek karna main semalaman.”Gumam Damian, tadi malam dia memang agak sedikit beringas dan mereka baru benar benar istirahat setelah jam menunjukkan pukul enam pagi.
Tok tok tok!
Di tengah keheningan di dalam kamar itu, terdengar suara ketukan di luar pintu bahkan tanpa mengecek terlebih dahulu siapa si pengetuk Damian sudah bisa menebak siapa yang saat ini hendak mengganggu ketenangannya.
“Iya, sebentar.”Ujar Damian, pria itu bangkit dari sofanya dan membuka pintu kamar hotel mereka yang nampak masih sangat berantakan dengan berbagai barang yang ada di sana.
“Loh, belum siap siap? Hari ini kita janji mau main bareng, kan?”Tanya Wicaksono yang keheranan karna Damian masih mengenakkan piyama tidurnya yang tebal.
“Kayaknya papa duluan aja deh, soalnnya Bintang masih tidur. Dia kecapean.”Jawab Damian tanpa malu sedikit pun, bahkan dia tentunya ingin mengatakan itu kepada Wicaksono agar pria itu tahu jika dia dan Bintang memang menjalani kehidupan rumah tangga selayaknya suami dan istri sungguhan.
“Masih tidur? Sejak kapan?”Tanya Raisa keheranan, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi kepada Bintang saat ini.
“Dari jam enam pagi tadi.”Jawab Damian dengan jujur.
“Kalian mainnya sampai jam berapa?”Tanya Wicaksono dengan hati hati.
“Sampai jam 6.”Jawab Damian dengan polosnya.
“Ma, panggil dokter!”Ujar Wicaksono, dia seperti merasakan dejavu karna hal ini pernah menimpa dia dan juga Raisa ketika mereka masih menjadi pengantin baru.
“Iya pa.”Balas Raisa, dia pun langsung menelpon dokter kepercayaannya di negara ini.
“Udah kamu cek belum?”Tanya Wicaksono penasaran.
“Apanya pa?” Damian terlihat bingung.
“Belum kamu cek ya? Dasar! Kamu tuh harus peka.”Ujar ayahnya dengan nada yang kesal.
“Ya apanya? Aku kan nggak tahu.”Balas Damian yang nampak semakin bingung, terlebih saat keduanya membahas tentang dokter dan hendak membawa dokter ke sini.
“Ma, cek dulu Bintangnya.”Pinta Wicaksono.
“Iya pa, mama cek dulu ya.”Balas Raisa, dia kemudian langsung masuk ke dalam kamar Damian dan memeriksa Bintang sekenanya.
“Bintang, bangun sayang.”Pintanya dengan nada yang sangat ramah.
“Bintang.”Panggilnya sekali lagi, tangannya terangkat untuk memegang pipi Bintang tapi dia malah salah fokus karna tubuh Bintang terasa sangat panas saat ini.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raisa pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dengan terburu buru.
“Dugaan kita benar pa, Bintang nggak sadar dan badannya panas banget.”Ujar Raisa saat dia sudah sampai di dekat suaminya dan juga Damian.
“Hah? Bagaimana bisa? Tadi malam dia baik baik saja.”Ujar Damian tak percaya.
“Ya kamu mainnya keganasan mungkin.”Balas Wicaksono.
Raisa hanya menggeleng gelengkan kepalanya, karna baik anak atau pun ayahnya sama saja. Dia juga pernah seperti ini sebelumnya, drop karna kelelahan menemani Wicaksono di atas ranjang.
Damian terdiam, benar apa yang di tebak oleh ayahnya. Tadi malam dia memang sangat beringas, dia menghajar Bintang mati matian bahkan sama sekali tidak menjedanya. Damian menyurai rambutnya kasar, dia lepas kendali karna Bintang terlalu nikmat untuk dia abaikan terlalu lama.
Selang beberapa menit, dokter kepercayaan Raisa pun akhirnya sampai di kamar hotel itu. Pria yang nampakknya masih seumuran dengan Raisa itu pun langsung masuk ke dalam kamar Bintang.
“Gimana bang?”Tanya Raisa, dokter ini adalah teman baiknya yang berasal dari negara mereka dan kerja di sini.
Pria itu tersenyum tipis, “Dia drop, karna kecapean. Butuh istirahat beberapa hari baru bisa pulih sepenuhnya.”Ujar Dean, dokter tampan yang nampaknya hanya bisa mengulum senyumnya saat melihat kondisi si pasien.
“Pengantin baru ya?”Tanyanya dengan nada yang menebak.
“Iya.”Balas Damian singkat.
“Nggak apa apa, ini biasa terjadi kok. Santai saja, setelah ini masih bisa lanjut.”Ujar Dean dengan wajah yang nampak menahan tawanya.
Damian memerah, untuk pertama kalinya dia merasa malu karna sudah membuat Bintang drop karna keganasannya di ranjang.
“Nanti aku akan suruh suster buat antar kursi roda ya, di lihat dari kondisinya sepertinya beberapa hari ini dia akan kesulitan berjalan.”Ujar Dean sekali lagi.
Raisa terbelalak, matanya membulat sempurna kemudian beralih kepada Damian yang nampak hanya bisa menggaruk tengkuknya dengan kasar.
“Separah itu ya dok?”Tanya Damian memastikan.
“Nggak apa apa, biasa kalo pengantin baru. Nanti kalo istrinya sudah sembuh, agak di tahan aja mainnya. Iya tahu masih candu candunya, tapi kasian juga istrinya.”Dean memberikan sedikit wejangan.
“Iya, dok.”Balas Damian, dia nampaknya sepenuhnya mengerti dengan apa yang di katakan oleh dokter itu kepadanya.
“Kalau gitu aku balik ke rumah sakit dulu ya, Raisa.”Ujar Dean kepada temannya itu.
“Makasih ya udah mau bantuin padahal kamu lagi ambil jatah libur.”Ujar Raisa tak enak hati.
“No problem, lagi pula ini kan menantu kamu. Jadi pasti aku bantu.”Ujar Dean dengan nada pelan, dia menepuk bahu Damian kemudian tersenyum mengejek ke arah pria itu.
“Tidak apa apa, ini sering terjadi kok.”Ujarnya menahan senyum.
“Iya dok.”Balas Damian, dia sebal sebenarnya ketika Dean mengejeknya tapi dia juga malu kepada pria itu karna Damian yakin di antara mereka semua yang ada di sini pastilah dia yang paling mengerti seberapa beringasnya Damian tadi malam itu.
“Sama sama.”Balasnya singkat, “Saya kembali dulu, tuan.”Sambungnya, kali ini kalimat itu menuju kepada Wicaksono yang nampak hanya mengamati dari belakang.
“Terimakasih banyak ya, nanti sekretarisku akan mengurus bayarannya.”Balas pria itu.
“Baik, tuan.”Balas Dean, setelah itu dia kembali memberikan kode kepada Raisa dan benar benar meninggalkan ruangan itu setelahnya.
Setelah di tinggalkan oleh Dean, Wicaksono terlihat tersenyum bangga kepada anak sulungnya itu.
“Kamu sama kayak papa, kita perkasa.”Ujar Wicaksono, dia menepuk nepuk pelan bahu Damian yang nampak sangat tegas itu.
Damian menoleh, dia sama sekali tidak menyangka jika akan mendengar kata kata ini dari ayahnya sendiri.
“Apa ini suatu ke banggaan, pa?”Tanya Damian penasaran.
“Ya nggak gitu juga.”Ujar Wicaksono.
Raisa menggeleng gelengkan kepalanya pasrah, dia terlihat kasihan ketika melihat Bintang yang nampak sangat pucat itu.
“Nggak anak, nggak papanya sama saja.”Ujar gadis itu setengah berbisik.
“Udah nggak usah khawatir, dia nggak kenapa kenapa kok. Cuma kecapean dan sedikit demam karna drop.”Ujar Raisa, meskipun Damian tak memperlihatkannya secara gamblang tapi Raisa tahu jika pria itu diam diam menyimpan ke khawatiran untuk Bintang.
“Aku nggak khawatir kok.”Bantah Damian.
“Iya iya, kalau begitu lebih baik kalian berdua cariin makanan sehat buat Bintang. Dia butuh makanan yang bisa menambah tenaga secepat mungkin.”Ujar Raisa.
Damian hendak menolak, tapi Wicaksono terlihat segera menarik tangan anaknya itu.
“Udah turutin saja, dia tahu mana yang baik buat Bintang saat ini.”Ujar pria itu, setelahnya dia pun langsung menarik paksa Damian untuk mencari makanan yang di maksud oleh Raisa.