Edrico Stevanus, pria single, belum pernah menikah, tiba-tiba harus menjadi hot daddy? Bagaimana bisa?
Ikuti yuk petualangan Rico—sang bodyguard dalam keribetannya mengurus seorang balita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 ~ Surat dari Starla
“Kakak tunggu!” Tisha—adik kandung Rico, mengejarnya hingga ke luar gedung.
“Apa sih, Sha! Aku mau cari Lala!” elak Rico berbalik menuruni tangga dengan cepat.
“Kak! Ini dari Mbak Lala!” Teriakan Tisha sontak menghentikan langkah kaki Rico.
Pria itu berbalik dengan cepat, kembali menghampiri adiknya itu. Dadanya berdebar semakin kuat. “Apa?” serunya tergesa.
Tisha menyodorkan sebuah amplop berwarna merah muda, yang segera diterima oleh Rico. Tidak sabar merobek ujung amplop tersebut bahkan hingga isinya turut robek menjadi dua.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Jika ada yang mengira Lala menyebutkan semua perilaku Rico, jawabannya salah. Karena memang perempuan itu bungkam, hanya mengatakan bahwa perpisahan ini murni keinginannya.
Tiger tidak mau melakukan permintaan terakhir Lala. Namun membantunya menyelesaikan masalah. Undangan yang telah disebar, kembali dikirim ulang. Berisi permohonan maaf dan sejumlah uang sebagai kompensasi. Tiger juga mengantar Lala untuk bertemu orang tua Rico maupun orang tua Lala.
Dengan tegar, wanita itu menyampaikan permohonan maaf atas keputusan sepihaknya. Tiger dan Jihan membantu memberi kompensasi pada kedua belah pihak.
Setelah kepergian Lala, Tiger mencari informasi apa yang sebenarnya terjadi pada pasangan itu. Karena pasti ada hal yang membuat Lala kekeh dengan keputusannya. Pria itu hanya bertanya terakhir kali mereka bertemu.
Tak butuh waktu lama, para ahli IT yang bekerja keras pun bisa meretas CCTV kejadian demi kejadian. Mulai dari klinik hingga mengikuti sampai di rumah sakit.
Sebelum hari-H, Tiger membawa orang tua Rico dan membeberkan penemuannya agar tahu titik permasalahan. Karena sebelumnya, mereka sangat marah pada Lala.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Rico terduduk di salah satu anak tangga, menyatukan kertas yang berisi hasil karya tangan Lala. Manik matanya bergerak ke kiri dan kanan untuk membaca deretan huruf yang tertulis.
...-*Surat dari Starla*-...
...Edrico Stevanus, pria paling menyebalkan namun tetap tersayang. Ketika kamu membaca tulisan ini, mungkin aku sudah tidak berada di pelupuk matamu....
...Maaf, aku menyerah. Bukan karena aku tidak mencintaimu, justru aku sangat mencintaimu. Dan inilah keputusan terbaik untuk kita semua. Rain sangat membutuhkanmu, tapi dia membenciku. Haruskan aku hidup dalam kebencian putramu? Tentu tidak ‘kan?...
...Jangan biarkan pengorbananku sia-sia ya. Berbagai usaha sudah aku coba, tapi sama sekali tak membuahkan hasil. Dia bahagia bersamamu, kamu pun pasti begitu. Apalagi, sudah berkumpul bersama ibunya....
...Aku berharap, kalian bisa menjadi keluarga yang utuh dan bahagia. Biar Rain hidup layaknya anak-anak pada umumnya dan bisa kembali ceria....
...Jangan cari aku, aku baik-baik saja. Tetap membawa cintamu di mana pun aku berpijak. Terima kasih satu bulan penuh warna dan kejutan luar biasa, yang telah kita lalui. 💖...
Bahu kokoh Rico tampak menegang. Lama-kelamaan bergetar, dua tangannya meremas kuat kertas itu. Menunduk dengan tangis yang pecah.
Pilihan yang sulit jika memang dihadapkan antara Lala dan Rain. Antara cinta dan tanggung jawab. Ia sendiri tidak bisa memaksa Rain, dalam kondisinya yang masih menjalani pengobatan psikis. Karena bisa memicu emosional anak itu dan berakibat fatal pada tubuhnya.
“Starla!” teriak Rico menggema di pelataran gedung sembari mendongak ke langit.
Orang-orang yang ada di gedung, turut keluar. Menyaksikan betapa rapuhnya seorang pria yang selama ini selalu berdiri kokoh dan tahan banting.
“Biarkan dulu sementara waktu. Dia sendiri yang tahu apa yang terbaik untuknya.” Tiger membisik di telinga Jihan yang berada di pelukannya.
“Sedih banget sih kisah mereka. Salah Rico sendiri, kenapa nggak dari dulu coba! Pasti nggak akan kacau begini,” sahut Jihan menatap nanar pengawalnya itu.
“Kamu lupa? Kisah kita bahkan lebih menyedihkan dari ini!” Tiger menunduk, menatap istrinya.
“Jangan diingetin!” cebik Jihan mengeratkan pelukannya. Tidak ingin mengingat masa kelam hubungan mereka beberapa waktu silam.
Bersambung~
lanjutkan perjuanganku utknya...
bahagiakan Dia... kok jadi nyayi sih aku 😅