NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Cepat, Cinta Masih Secuil Persen

Teriakan usiran Anjani kedua kali, Jeong langsung melejit berlari keluar dengan jantung hampir meledak.

Setelah beberapa menit dan yakin Anjani sudah selesai sampai berganti baju, dia kembali mengetuk pintu.

“Anjani! Aku minta maaf! Sungguh aku minta maaf! Aku tidak bermaksudー"

"Tak apa! Kau pulang saja!"

Diusir ... Jeong menghela napas, ingin mendebat, tapi rasanya salah.

“Baiklah. Aku akan kembali nanti," katanya mengalah. Paham, Anjani pasti sangat malu, atau bahkan marah. “Dan meminta maaf secara benar padamu."

Selepas kepergian Jeong ....

Berulang Anjani menampar kepalanya sendiri, merutuk kebodohan. Berguling di kasurnya menggulung diri dengan selimut sambil bibir terus berisik.

"Bagaimana bisa aku sebodoh itu?! Bagaimana?!"

Posisi itu juga tak membuatnya merasa baik, lalu memilih duduk dengan rambut acak-acakan dan wajah lunglai menatap dinding bersama kepingan kenangan konyol, puluh menit berlalu. “Gara-gara tikus sialan itu ... bagaimana aku menghadapi Jeong setelah ini?”

Menyalahkan tikus pun 'tak ada guna, Jeong sudah melahap habis tubuh polosnya dengan kedua mata melotot lebar.

...****************...

Sudah satu minggu sejak kejadian memalukan itu, Anjani sama sekali belum berani menghadapi Jeong. Padahal lelaki itu sudah berulang kali mencoba menemuinya.

Perasaan malu masih membumbung segenap jiwa dan sulit sekali untuk terkikis.

Sampai di akhir pekan ini, di pukul 09.15 malam, tepat Anjani keluar dari kerja paruh waktu terakhir, Jeong berhasil menghadangnya.

“Anjani tunggu!"

Padahal sudah ancang-ancang akan kembali kabur, ternyata misi menghindar yang tak ada guna.

Malah sekarang saling berhadap badan setelah ditarik Jeong, mencegahnya beranjak.

Jeong tidak ingin kehilangan kesempatan bicara lagi.

“Sampai kapan kau akan terus menghindariku?! Sampai kapan kau akan marah padaku?!"

Anjani tertekan, sulit lari. Sekarang hanya bisa pasrah dalam posisi terhadang. Dibuangnya pandangan ke sisi lain untuk menepis kalut.

“Anjani kumohon. Aku minta maaf sepenuhnya atas kejadian itu. Aku sama sekali tak ada maksud untuk kurang ajar padamu. Aku ... aku benar-benar minta maaf, akuー"

"Bukan kau!" pungkas Anjani cepat, matanya berani mencuat kali ini, pipinya memerah masak hasil melawan rasa malunya.

"Ya?" Jeong mengerut kening, menatap ke dalam mata yang kini lurus menyambut.

"Bukan kau yang salah," terang wanita itu. "Justru ...." Ragu menyergap, lidah Anjani mendadak kaku. Wajah dipalingkannya ke sisi kanan kemudian menyambung dengan suara lemah, "Justru aku yang salah."

“ ... Kau yang salah?”

Pelan dan kaku, Anjani mengangguk lalu berakhir runduk. "Aku yang salah karena tidak peka posisi. Aku yang salah karena memanggil lalu mendorongmu pergi. Aku ... aku menghindarimu karena malu, bukan karena marah padamu.”

Untuk beberapa saat Jeong sibuk mencerna, kemudian ... malah terkekeh.

Anjani jadi mendongak dengan wajah terheran-heran. "Kenapa malah tertawa? Apa yang lucu?"

Jeong segera mengatur ekspresi. Berdeham kecil kemudian kembali menatap paras manis yang nampak lucu. Dua tangan mungil yang sempat dilepas dia gamit kembali, ada senyuman tipis kali ini.

Setara sikap itu, Anjani justru semakin bingung, tapi tidak menyela dengan kata dan pertanyaan. Diam menunggu dalam versinya yang masih dengan ketidaksiapan diri. Ditambah, wajah Jeong mendadak serius hanya dalam hitungan kurang sepuluh detik, hilang senyum yang tipis tadi.

Sampai kemudian ....

“Anjani ... ayo menikah denganku."

Tidak ada pedang menebas, tongkat memukul, panah menembus dada, atau sengatan listrik yang sampai membuat tegang sekujur tubuh, Anjani melengak karena kata-kata yang singkat itu. Perasaannya seperti disembur panas, namun juga beku di waktu sama. Sulit dideskripsikan secara benar.

“Aku tahu ini sangat tak tahu malu,” Jeong memulai lagi sambil diperketatnya genggaman atas dua telapak tangan Anjani, tatapan tak lepas saling bertukar sorot.

“Tapi, Anjani ... soal ajakan ini, aku sungguh serius Aku ingin menikahimu. Aku tidak bercanda dan aku bukan orang yang akan meminta berulang kali ... kecuali hanya padamu.”

Raut mendalam menekan permohonan, seperti itu pertunjukan Jeong, membuat Anjani terendap.

Tak lama tenggelam dalam pikiran, sibuk mencerna ucap per kata lelaki itu, memainkan penilaiannya dalam senyap. Jika hanya mengandalkan mata, maka sudah jelas Jeong tidak bercela dan Anjani tidak akan berpikir sampai separuh menit berlaluーsatu detik pun cukup untuk mengatakan 'ya'.

Sementara Jeong terus menunggu dalam harapan. Dari diam yang tidak menyerah, yang artinya dia ingin jawaban Anjani sekarang juga.

"Aku sudah pernah menikah dan gagal. Apa kau tahu, Jeong?" tanya Anjani lebih dulu, hasil dari menimang beberapa saat.

Tanggapan Jeong tidak terkejut, malah tersenyum. Berhasil membuat kening Anjani sedikit berkerut dan mata menyipit tipis. “Kau sudah tahu?”

Senyum sekali lagi, Jeong mengangguk. “Ya, aku tahu. Kau sendiri yang mengatakannya.” Saat di sungai Hangang malam itu. Tapi dia Jeong, sudah lebih dulu tahu. Bahkan kelancaran proses perceraian itu, dia yang melakukannya.

“Dan kau 'tak keberatan?"

“Tidak!" tegas Jeong sambil menggeleng. “Sama sekali tidak.”

Sekarang terdiam. Antara senyuman yang maknanya jelas bukan bercanda apalagi terselip ejek, tapi ketulusan yang putih, Jeong membuat Anjani cukup dilema.

Benar, jika keberatan karena dirinya janda, pria itu sudah pasti mundur sedari lama.

“Anjani ... aku tidak bisa menunggu lagi. Aku ... ingin jawabanmu sekarang."

Itu cukup jadi tekanan.

"Atau jika kau membutuhkan waktu ... aku hanya sanggup memberimu dua jam saja."

Perasaannya tentu saja masih terkejut, tidak mudah bagi Anjani memutuskan tanpa berpikir. Bagaimana pun ini terlalu cepat. Padahal beberapa waktu kemarin Jeong baru saja mengakuinya sebagai pacar. Tiba-tiba langsung minta menikah ... rasanya tak beda seperti diterjang ke awang-awang untuk menghilang.

Setelah mendesah panjang, “Baiklah, aku akan ambil waktu dua jam yang kau berikan. Selama waktu itu, aku ingin sendiri. Biarkan aku pulang dan berpikir tanpa gangguan. Jangan hubungi aku sebelum aku menghubungimu."

Jeong tersenyum disertai dua kali anggukan. "Baiklah. Kalau begitu ayo kuantar pulang."

“Tidak!" tolak cepat Anjani. "Aku akan naik bus." Dia menarik dua tangannya dari genggaman Jeong. "Itu boleh kau masukkan hitungan, karena aku akan mulai berpikir di sana sambil menatap gerak jalanan."

Tidak ada alasan untuk menahan, Jeong mengangguki lagi dan melepas Anjani berlalu, dengan perasaan berat.

Wanita itu berjalan ke arah halte tanpa ingin diikutinya.

Dalam hati resah dan penuh harap, "Kumohon ... jangan tolak aku, Anjani.”

***

Setengah jam kemudian Anjani sudah ada di dalam rumah lotengnya. Mengempas diri ke atas kasur dengan pandangan lurus ke langit-langit.

Pertanyaan tentang dirinya sudah sesak memenuh pikiran, dan dari semua itu harus sesegera mungkin melahirkan jawaban atas permintaan Jeong yang terhitung waktu hanya sisa 80 menit.

Sulit sebenarnya, tapi Jeong sedang menunggu.

"Di satu sisi ... aku masih terluka atas perceraianku dengan Ahn Woojun dan perlakuannya. Tapi di sisi lain ... Jeong membuatku terbiasa dengan hadirnya.”

Dilema menyerang.

Jika dipikirkan secara sehat, ajakan Jeong sudah pasti adalah obat. Dinikahi pria tampan dan perhatian setelah dikhianati mantan suami, itu jackpot. Apalagi jika terbukti Jeong seorang yang kaya raya.

Tapi bukan itu yang menjadi pertimbangan Anjani.

Justru karena hati dan pikirannya belum steril dari Ahn Woojun, dia takut akan melukai Jeong karena perasaan yang belum bisa dikatakan move on.

Bahkan yang disebut cinta, terhadap Jeong ... belum dirasa ada. Atau jikapun ada, mungkin banyaknya baru secuil persen.

Selain itu ... dampak ketakutan dari trauma atas kegagalan sebuah hubungan pernikahan, hadir lebih kuat menyapa hati dan itu 'tak cukup baik.

Runyam rasanya.

Dan saat kebimbangan itu dalam timbangan ....

"ANJANII!"

Suara panggilan datang mengentak, Anjani langsung bangkit dari rebahnya. Melebarkan mata saat mengenali milik siapa suara itu.

“Ahn Woojun!”

"Anjani kumohon buka pintunya!!!!”

Ketukan berubah jadi gedoran.

"Untuk apa dia ke sini lagi?"

Tidak terjawab, tapi akan sangat berisik jika Anjani membiarkannya.

Pilihannya adalah membuka pintu dan menghadapi. Dia beranjak gegas, melakukan apa yang harus.

Saat pintu dibuka ....

“Apalagi yang kau inginkan?” semburnya langsung. “Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, Ahn Woojun! Barang-barangmu juga sudah aku keluarkan. Kau bisa mengambilnya di gudang bawah.”

Habis kata itu dari mulutnya, daun pintu ditarik Anjani kembali untuk ditutup, tapi Woojun menahan dengan tangannya.

“Anjani! ... semudah inikah kau mencampakkan aku?”

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!