Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 KHSC
Dua minggu setelah jatuhnya keluarga Bagaswara, kedamaian benar-benar menyelimuti kediaman Bhaskara. Namun, kedamaian itu pecah pada pukul tiga dini hari ketika Nareswari terbangun dengan rasa mulas yang luar biasa. Ia mencoba mengatur napas, namun kontraksi yang datang terasa berbeda dari biasanya—lebih intens dan berirama.
"Juna..." bisik Nares sambil meremas lengan suaminya yang tertidur di sampingnya.
Juna, yang selama beberapa minggu terakhir tidur dengan mode 'siaga satu', langsung terduduk tegak. Matanya seketika jernih, hilang semua rasa kantuknya. "Nares? Ada apa? Apa sudah waktunya?"
"Air ketubanku... kurasa sudah pecah," rintih Nareswari, wajahnya memucat namun matanya menatap Juna dengan keyakinan.
Dalam sekejap, Juna berubah menjadi pria yang penuh perhitungan. Ia menggendong Nares dengan hati-hati menuju mobil yang sudah disiapkan di depan lobi rumah. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Juna terus menggenggam tangan Nares, menciumi punggung tangannya berulang kali.
"Tarik napas, sayang. Aku di sini. Kita akan melewatinya bersama," bisik Juna, suaranya tenang meskipun jantungnya berdegup kencang melebihi saat ia melakukan transaksi bisnis miliaran dolar.
***
Rumah sakit swasta terbaik di Jakarta telah menyiapkan tim medis paling kompeten. Namun bagi Juna, semua peralatan canggih itu tidak berarti apa-apa dibandingkan melihat penderitaan di wajah Nares. Selama berjam-jam, Nares berjuang melewati pembukaan demi pembukaan.
Juna tidak meninggalkan sisi Nares sedetik pun. Ia membiarkan lengannya dicengkeram, bahkan kemeja mahalnya basah oleh keringat dan air mata Nares.
"Aku tidak kuat, Juna... ini sakit sekali," bisik Nares di tengah isak tangisnya saat pembukaan hampir lengkap.
Juna mendekatkan wajahnya ke wajah Nares, menyatukan kening mereka. "Kau wanita terkuat yang pernah aku kenal, Nareswari. Ingat perjuangan kita? Ingat bagaimana kau bertahan menghadapi dunia sendirian sebelum ada aku? Kau bisa melakukan ini demi anak kita. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Kata-kata Juna menjadi bensin bagi kekuatan Nares. Dengan satu dorongan terakhir yang menguras seluruh energinya, sebuah suara tangisan yang melengking pecah di ruangan itu.
Pukul 08.15 pagi, seorang bayi laki-laki lahir ke dunia.
Juna terpaku. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh saat dokter meletakkan bayi merah itu di dada Nares. Keajaiban kehidupan ada di depannya. Pria dingin yang ditakuti di dunia bisnis itu kini menangis tersedu-sedu sambil menciumi kening istri dan anaknya.
"Terima kasih, Nares... terima kasih banyak," bisik Juna parau.
***
Sore harinya, ruangan VIP itu dipenuhi bunga. Nares sudah tampak lebih segar meski masih lelah, sedang menyusui bayi mungil yang memiliki rambut hitam pekat seperti Juna namun bentuk mata yang lembut seperti Nares.
"Siapa namanya?" tanya Ibu Juna yang datang dengan wajah berseri-seri, memeluk menantunya dengan sayang.
Juna menatap Nares, meminta persetujuan lewat tatapan mata. Nares mengangguk pelan.
"Arkananta Bumi Bhaskara," ucap Juna dengan bangga. "Arkananta berarti cahaya yang selalu terang. Aku ingin dia menjadi cahaya yang menghapus semua kegelapan masa lalu keluarga ini, dan Bumi... karena dia akan menjadi pijakan yang kuat bagi kita semua."
Nares tersenyum, menyentuh pipi bayinya yang halus. "Arka... pahlawan kecilku."
Momen itu menjadi simbol bahwa dendam masa lalu telah benar-benar terkubur. Nama besar Bhaskara kini bukan lagi tentang kekuasaan yang kejam, melainkan tentang cinta dan perlindungan.
***
Satu bulan kemudian, setelah Nares pulih sepenuhnya, mereka mengunjungi makam orang tua Nareswari. Kali ini, mereka datang bukan untuk menangis atau menuntut keadilan, melainkan untuk membawa kabar bahagia.
Juna berdiri di depan nisan ayah Nares, menggendong Arka di pelukannya.
"Ayah," Juna memulai, sebutan yang kini ia gunakan dengan tulus. "Keadilan sudah ditegakkan. Nama Ayah sudah bersih. Dan ini... adalah cucu Ayah. Aku berjanji akan menjaganya dan Nareswari dengan nyawaku sendiri. Aku akan memastikan dia tumbuh menjadi pria yang jujur seperti Ayah."
Angin sepoi-sepoi bertiup, seolah memberikan restu dari alam semesta. Nares meletakkan karangan bunga lili putih kesukaan ibunya. Ia merasa beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya benar-benar telah terangkat.
***
Waktu berlalu dengan cepat. Satu tahun kemudian, taman belakang kediaman Bhaskara disulap menjadi tempat pesta yang ceria. Tidak ada lagi suasana kaku korporat; yang ada hanyalah tawa anak-anak dan kehangatan keluarga.
Arka, yang sudah bisa berjalan tertatih-tatih, mengejar bola di rumput. Juna, yang kini lebih sering pulang tepat waktu dan mendelegasikan tugas kantor kepada Rio, tampak sedang memanggang daging di sudut taman, sesekali menggoda istrinya.
Nares menghampiri Juna, melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. "Kau tahu, Juna? Kadang aku masih merasa ini semua seperti mimpi."
Juna membalikkan badan, memegang wajah Nares dengan kedua tangannya. Matanya masih menatap Nares dengan intensitas yang sama seperti saat pertama kali ia menyadari ia jatuh cinta.
"Ini bukan mimpi, Nares. Ini adalah takdir yang kita perjuangkan," kata Juna. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan berlian biru yang langka.
"Aku ingin kita memperbarui janji kita. Bukan karena kontrak, bukan karena kebutuhan ahli waris, tapi karena kau adalah napasku," bisik Juna.
Nares tertawa kecil dengan air mata bahagia yang menggenang. "Aku sudah menjadi milikmu sejak lama, Juna Bhaskara."
Di bawah cahaya matahari terbenam yang berwarna keemasan, mereka berciuman. Di kejauhan, Arka berteriak kegirangan saat berhasil menangkap bolanya. Kehidupan mereka kini lengkap. Luka lama telah menjadi bekas luka yang menguatkan, dan masa depan terbentang luas, penuh dengan janji-janji kebahagiaan yang tak akan pernah berakhir.
Kisah Juna dan Nareswari bukan lagi tentang sebuah kontrak atau balas dendam, melainkan tentang bagaimana dua jiwa yang terluka bisa saling menyembuhkan dan membangun sebuah kerajaan yang fondasinya adalah cinta sejati.
TAMAT