Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh
"Mau kemana?" tanya Samuel memutar tubuh istrinya. Ia baru saja sampai di rumah dan melihat istrinya hendak pergi.
Inna menatap Samuel sengit, masih kesal karena sudah membohonginya. "Bukan urusan kamu, Mas." Inna menepis tangan Samuel dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Sayang," panggil Samuel. Namun, mobil istrinya sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah. Samuel menghela napas berat, ia tahu semua ini kesalahanya. Tanpa banyak berpikir, Samuel masuk ke mobilnya dan menyusul Inna
Di perjalanan Inna terus menggerutu. Ia benar-benar di buat kesal kali ini. Suaminya itu sama sekali tak pengertian. Karena terlalu serius memikirkan Samuel, Inna tak menyadari sebuah mobil menyalip. Ia pun terkejut dan langsung membanting setir. Alhasil, mobilnya mencium trotoar dan menyebabkan kepalanya terbentur. Inna meringis kesakitan karena benturan yang lumayan kuat. Karena kaget, kesadaranya mulai berkurang.
Samuel yang berada tepat di belakang mobil Inna langsung panik dan menepikan mobilnya. Ia turun dari mobilnya dan menghampiri mobil Inna.
"Inna buka pintunya, Sayang." Teriak Samuel mengetuk kaca jendela mobil Inna.
Beruntung Inna masih sadar dan berusaha membuka pintu mobilnya. Dengan panik Samuel membuka pintu itu dengan cepat. Ia terkejut saat melihat pelepis istrinya mengeluarkan darah segar.
"Mas...." Inna tersenyum saat melihat suaminya sebelum ia benar-benar hilang kesadaran.
"Sayang, bangun." Samuel menepuk pipi istrinya. Tanpa banyak berpikir, ia menggendong istrinya untuk di bawa ke rumah sakit. Samuel benar-benar cemas kali ini.
"Halo, tolong jemput mobil istri saya. Dia mengalami kecelakaan ringan, nanti alamatnya saya kirim." Ujar Samuel pada seseorang di balik telepon.
"Terima kasih," pungkasnya. Lalu melirik istrinya yang masih belum sadarkan diri. Samuel sangat bersalah atas kejadian istrinya kali ini. Maaf, Sayang.
***
Inna mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum kesadarannya kembali. Penciumannya langsung menangkap aroam menyengat. Yaitu aroma rumah sakit yang khas. Ia meringis saat merasakan nyeri dibagian pelepisnya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Samuel mengecup kening istrinya. Inna menatap Samuel cukup lama, ia masih kecewa padanya. Bagaimana mungkin Samuel membiarkan dirinya menunggu sampai berjam-jam. Itu sangat menyebalkan bukan? Inna memalingkan wajahnya dari Samuel.
"Sayang, Mas minta maaf atas kejadian hari ini." Ucap Samuel penuh penyesalan. Ia menggenggam tangan Inna. Yang terus berusaha di tepis oleh istrinya.
"Maaf, tadi klien mengajak Mas makan siang, jadi mas tidak bisa menolak tawaran mereka." Jelas Samuel.
"Lalu, kenapa mas ada di sini? Sana pergi aja sama klien Mas itu. Bukankah mereka lebih penting?" Ketus Inna terus menghindari tatapan suaminya.
"Sayang, Mas benar-benar minta maaf. Mas janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Apa sangat sulit menghubungi Inna, Mas? Inna seperti orang bodoh tahu, Mas? Menunggu berjam-jam sampai kaki Inna pegal. Sedangkan Mas enak-enakan makan di sana." Inna semakin kesal pada suaminya.
"Maaf, Sayang. Ini tidak akan terulang lagi."
Inna sama sekali tak menggubris permintaan maaf suaminya. Ia terlanjur kesal. Samuel yang melihat itu hanya bisa menghela napas kasar. Ia tahu ini kesalahannya. Sudah seharusnya Inna marah bukan?
Tidak berapa lama pintu pun terbuka. "Mama...." teriak Elya berlari ke arah Inna yang diikuti Rey dan Diana. Mendengar itu Inna tersenyum bahagia. Samuel membantu Elya naik ke atas brankar.
"Mama, ini sakit ya?" Tanya Elya sambil menunjuk perban di pelepis Inna.
"Sedikit." Jawab Inna. Elya yang mendegar itu langsung memeluk Inna.
Diana duduk di sisi Inna, lalu menatap menantunya dengan tatapan cemas.
"Apa yang terjadi, Sayang? Dan kamu El, kenapa tidak menjaga istrimu huh?" tanya Diana sambil mengelus kepala Inna. Lalu beralih menatap putranya kesal.
"Inna yang salah Ma, kurang hati-hati di jalan." Jawab Inna sebelum Samuel menjawab
"Lain kali hati-hati dong, Sayang. Mama tidak suka kamu sakit seperti ini."
"Iya Ma." Sahut Inna tersenyum pada Diana. Lalu pandangan Inna pun tertuju pada Rey.
"Hai Rey." Sapanya.
"Hai, gimana rasanya jadi pembalap huh?" canda Rey. Inna tertawa renyah mendengarnya.
"Lumayan." Jawab Inna. Samuel merasa cemburu saat melihat Inna tertawa begitu lepas pada Rey.
"El keluar sebentar, Ma." Samuel langsung beranjak keluar. Membuat Inna terdiam sambil menatap punggung Samuel yang menghilang dibalik pintu. Sebenarnya Inna tidak benar-benar marah pada Samuel, hanya saja ia masih kesal.
Diana menyadari keanehan putranya pun langsung melayangkan pertanyaan pada Inna. "Inna, hubungan kalian baik-baik aja kan?"
"Iya, Ma. Kami baik-baik aja kok." Jawab Inna meyakinkan Diana.
"Alhamdulillah kalau begitu. Memang dalam rumah tangga itu pasti ada cekcok sedikit. Tapi itulah yang membuat hubungan semakin harmonis. Mama harap kalian pandai dalam menyelesaikan masalah. Jangan sama-sama keras." Nasihat Diana.
"Iya Ma, Inna mengerti." Inna mengangguk pelan.
"Ma, Rey keluar sebentar." Pamit Rey yang dijawab anggukan oleh Diana. Lalu ia pun langsung beranjak keluar untuk menyusul sang Kakak.
"Ya ampun, Elya tertidur." Kata Inna saat melihat Elya tertidur sambil memeluknya. Pantas saja tidak ada lagi ocehan dari mulutnya.
"Hari ini Elya belum tidur siang, asik main sambil nunggu kalian." Jelas Diana. Inna tersenyum sambil mengusap kepala Elya.
Selang beberapa saat, Samuel kembali masuk dan kelihatan lelah. Ia langsung merebahkan diri di sofa, lalu memejamkan matanya. Hal itu tak luput dari pandangan Inna dan Diana. Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Inna karena sudah mengabaikan suaminya.
"Ma, jika seorang istri mengabaikan suami apa itu dosa? Tapi itu semua karena suami yang salah duluan."
"Dosa sayang, semarah apapun kita pada suami. Sebagai seorang istri, tidak baik terlalu lama mengabaikan suami. Dulu Mama juga pernah marah sama Papa, lalu mama abaikan Papa sampai dua hari. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Mama terjatuh dari tangga hingga kaki Mama terkilir. Dari situ Mama sadar, mengabaikan suami itu dosa besar dan berdampak pada diri kita sendiri. Alhasil Mama menangis sambil minta maaf sama Papa. Sampai sekarang Mama tidak lupa itu." Jelas Diana panjang lebar. Dan itu semakin membuat Inna merasa bersalah. Mungkin saja kejadian hari ini balasan Inna karena sudah mengabaikan Samuel. Bahkan Inna terlalu membangkang dan mengabaikan larangan suaminya.
"Ma, itu artinya Inna sudah berdosa pada Mas El. Mungkin kecelakaan ini juga salah satu hukuman yang Allah berikan pada Inna atas dosa Inna pada Mas El. Inna selalu mengabaikan larangan Mas El supaya Inna tetap di rumah." Tanpa sadar Inna meneteskan air matanya.
"Kalau begitu, segera minta maaf sama suami kamu, Sayang. Ridho suami, maka ridho dari Allah." Diana menatap Inna penuh kasih sayang. Menghapus jejak air mata menantunya dengan ketulusan.
"Iya Ma, Inna akan minta maaf." Ucap Inna sambil menatap Samuel yang tertidur di sofa.
Malam hari, Inna terbangun dari tidurnya dan melihat Samuel tertidur di sebelahnya dengan posisi duduk. Samuel memang sengaja meminta Inna untuk menginap di rumah sakit. Supaya Inna benar-benar istirahat. Inna sangat keras kepala jika di rumah, selalu ada saja yang ia kerjakan. Oleh karena itu Samuel membiarkan Inna menginap di rumah sakit.
Inna menyandarkan punggungnya di kepala brankar. Lalu menggoyangkan lengan Samuel. Ia tak tega membiarkan Samuel tidur dalam posisi duduk.
"Mas, bangun." Suara Inna terdengar lemah.
Samuel bergerak dan mulai membuka matanya. Karena kaget, ia langsung duduk tegak dan menatap Inna lekat.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Samuel cemas. Inna yang mendengar itu tersenyum dan menggeleng pelan.
"Apa tidak sakit tidur seperti itu?" tanya Inna lembut. Tangannya bergerak untuk mengusap pipi Samuel.
"Sedikit." Jawab Samuel dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
"Maaf." Ucap Inna dengan mata berkaca-kaca. Samuel yang melihat itu mengubah posisinya duduk di sebelah Inna.
"Hei, jangan menangis. Mas baik-baik aja, Sayang." Ucap Samuel menangkup wajah istrinya. Lalu memberikan kecupan hangat di bibir istrinya. Dan itu berhasil meloloskan air mata di pelupuk mata istrinya.
"Inna minta maaf sama Mas. Inna sudah mengabaikan Mas dan melawan Mas terus. Inna...." Samuel menutup mulut Inna dengan telunjuk. Karena tidak ingin mendengar ocehan tak jelas istrinya.
"Kamu banyak sekali bicara, Sayang. Membuat Mas ingin mencium terus dan terus." Goda Samuel dan itu berhasil mengembangkan senyuman di wajah istrinya.
"Mas...." Inna merengek karena malu. Samuel tertawa renyah, lalu menarik Inna dalam pelukan. Mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra.
"Jangan tinggalkan Inna, Mas. Inna tahu, Inna masih seperti anak kecil. Mungkin Mas bosan dengan sikap kekanakan Inna. Inna minta maaf." Ucap Inna kembali menangis. Samuel tersenyum geli mendengar perkataan istri kecilnya itu.
"Kamu terlalu berlebihan, Sayang. Siapa juga yang mau ninggalin istri langka seperti kamu huh? Cerewet, cengeng, manja dan kekanakan." Ledek Samuel yang berhasil membuat Inna tersenyum. Inna semakin mengeratkan pelukannya. Menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan.
I love you, ucap Inna dalam hati. Ia masih malu untuk mengucapkan kata-kata itu secara gamblang. Cukup lama keduanya terdiam dalam keheningan.
"Ya sudah, kita tidur ya?" Ajak Samuel yang dijawab anggukan oleh Inna. Lalu kedunya tidur dengan posisi saling berpelukan. Inna merasa bahagia. Ah tidak, dia benar-benar bahagia. Dan berharap hubungannya kedepannya semakin harmonis.
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,
Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan
Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu