Slow update..😁
"Setiap tangis ku akan menjadi kutukan bagi mu.. Setiap Air mata ku yang menetes karna mu. Akan selalu menjadi masa kelam yang akan selalu kau ingat. Setiap derita yang kau torehkan di setiap inci tubuh ku, akan menjadi karma penyesalan yang akan terus membelengu jiwa mu... Ini bukan sekedar umpatan atau kutukan belaka. Tapi ini api kemarahan seorang wanita yang sudah kau hancurkan hidup nya..." Aelin Dirwantar.
"Aku akan mengambil seluruh kehidupan mu. Merenggut setiap senyum mu. Menghisap semua sari pati hidup mu. Hingga kamu memohon untuk tiada. Tapi aku tidak akan membiar kan hal itu. Karna mu cinta ku terluka. Jangan salah kan takdir atau pun siapa pun. Karna ini adalah salah mu telah berani menyingung seorang Davin Arselion.." Davin Arselion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cymut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buang !!
...29😇...
"Hentikan mobil nya...!!!" Titah Davin, yang langsung membuat Darren mengerem mendadak.
Ciiitttt....
Suata decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan.
Tubuh Davin dan Lussi sedikit terlemparke jok depan, namun Davin segera menjaga tubuh Lussi agar tidak terjerembab jatuh.
"Sangat menyusah kan..." Umpat Davin saat kepala Lussi berada di pangkuan nya.
Darren menghela nafas nya dalam, ia sedikit kaget tadi, atas perintah tanpa aba- aba dari Davin.
Membuat kaki panjang nya menekan terlalu dalam pedal rem, hingga menyebab kan dorongan yang cukup besar.
"Anda baik - baik saja tuan...?" Tanya Darren yang langsung membalik kan badan nya ke arah belakang.
Memasti kan jika sang majikan tidak terluka dan baik- baik saja.
"Buang wanita murahan ini... Keluarkan Dia...!!" Titah Davin mutlak, sembari mendorong tubuh Lussi dengan gaya menjijik kan.
Bugh...
Tubuh Lussi membentur pintu mobil, bahkan kepala nya sedikit memar karna terbentur kaca mobil.
Davin mengusap kasar pakaian nya, seolah mengatakan jika diri nya baru terkena kotoran yang sangat menjijik kan. Bahkan kini raut wajah Davin terlihat sedikit kesal.
Darren langsung mengangguk mendengar perintah Davin.
Ia tahu jika majikan nya tidak pernah berubah, jika majikan nya tidak pernah bisa satu mobil dengan orang asing. Bahkan istri siri nya saja di tinggal kan di pinggir jalan begitu saja. Apa lagi seorang wanita genit mengalah kan ulat kaki seribu ini.
Darren langsung membuka pintu mobil, berlari memutar, lalu membuka pintu mobil.
Dengan sekali gerakan, Darren mengangkat tubuh Lussi tanpa beban, seperti ia sedang mengangkat sebuah kapas.
Darren meletak kan tubuh yang sudah tak sadar kan diri itu di pinggir jalan.
Ia berharap Lussi cepat sadar, sebelum orang- orang jahat memanfaat kan tubuh nya di saat sang pemilik tak sadar kan diri.
Darren kembali tersentak, saat tas berwarna merah terlempar melintasi diri nya, dan mendarat tepat di samping tubuh Lussi yang tak sadar kan diri.
Siapa lagi pelaku nya jika bukan Davin, yang langsung memberikan intruksi untuk segera pergi kepada Darren lewat lirikan mata tajam bak elang nya.
Tidak ingin membuat Davin semakin kesal, Darren bergegas masuk kembali ke dalam mobil.
Lalu melajukan mobil nya membelah jalanan yang cukup senggang karna malam sudah semakin gelap, meninggal kan Lussi yang masih setia tidur di atas trotoar dingin.
...----------------...
Mobil mewah Davin akhir nya tiba di rumah utama.
Rumah mewah bak istana yang menjadi tempat pengurungan bagi Aelin.
Davin menatap nanar rumah besar di hadapan nya.
Sekelebat kenangan, mulai berputar seperti kaset tanpa jeda di kepala nya.
Menampil kan punggung seorang wanita yang sedang menarik tangan Davin yang tersenyum lebar, bahkan Davin memeluk pinggang ramping wanita dalam memori nya.
Davin menghela nafas dalam, menarik dalam udara dingin masuk ke dalam paru- paru nya.
"Tuan selamat datang....!!" Seru kepala pelayan dengan tubuh membungkuk memberi hormat.
"Kamu mengurus nya dengan baik bukan??" Tanya Davin dingin, bahkan Darren bisa merasakan tusukan di tubuh nya karna ucapan majikan nya yang benar- benar menusuk dan sangat mengintimidasi.
"Saya selalu memastikan semua nya sesuai Tuan.. Dan Nona Aelin juga sudah tidur..."
"Dasar anak muda,,,, baru jam segini dia sudah tidur... Aku seperti mengasuh seorang bocil dalam rumah ku.. Tapi sayang nya muka polos mu tidak mempan untuk ku... Lihat saja di sisa umur mu ini.. Aku akan sangat membuat mu menderita Aelin Dirwantar...." Batin Davin dengan seringgai devil di wajah nya.
Tanpa basa- basi, Davin melangkah masuk melewati kepala pelayan yang hanya bisa menunduk dalam.
Kepala pelayan perlahan mengangkat wajah nya, lalu menatap Darren yang masih berdiri dengan posisi yang sama, yaitu kepala tertunduk.
"Apa dia sudah membaik?" Tanya sang kepala pelayan dengan wajah khawatir dan sedih, lalu berjalan mendekat ke arah Darren.
"Belum ada kemajuan, namun dokter ahli akan segera tiba..."
"Aku harap dia cepat membaik dan segera kembali... Rasa nya aku ingin langsung melenyap kan gadis bocah itu..." Rahang sang kepala pelayan mengeras dengan emosi yang meluap, dapat terlihat rasa benci dan amarah yang bercampur menjadi satu. Namun tak dapat di salur kan.
"Jangan melakukan apa pun, tanpa perintah Tuan Davin.. Jangan berani menyentuh Nona Aelin..." Sinis Darren yang sedikit tidak suka dengan Kepala pelayan yang selalu ingin melakukan inisiatif sendiri.
Bagaimana pun dingin nya hati nya, entah mengapa ada rasa iba yang bersarang di hati Darren saat melihat derita yang menghadang Aelin, yang notabene nya adalah gadis remaja yang masih lugu.
Bahkan Darren bisa melihat, jika di mata Aelin, gadis kecil itu tidak tahu apa- apa.
Tidak ingin berlama- lama menghadapi kepala pelayan, Darren bergegas masuk ke dalam mobil, melajukan mobil sang majikan meninggal kan kepala pelayan yang memutar bola mata nya kesal.
Davin berjalan masuk ke dalam, pandangan nya terlempar ke setiap arah ruangan besar yang sudah lama tak ia kunjungi.
Setiap tempat serta desain rumah besar ini tetap sama, tidak ada perabotan apa pun yang bergeser atau pun berubah posisi.
Semua nya masih tetap sama, sama seperti saat ia meninggal kan rumah besar ini.
Tanpa sadar, air mata bening luruh begitu saja di sudut mata Davin, yang langsung di usap nya dengan kasar.
Davin menghenti kan langkah nya, saat kini diri nya sudah berada di depan pintu kamar Aelin.
Tangan nya terulur hendak menyentuh gagang pintu di depan nya, namun ia melempar pandangan nya pada lantai atas.
Ke dua mata nya semakin memanas, saat telinga nya mendengar suara tawa yang selalu membuatnya rindu.
"Tuan...!!" Panggil suara wanita paruh baya, yang tak bukan adalah Mrs. Tissa yang sudah berada tak jauh dari Davin.
Tangan Davin tertarik kembali, saat melihat Mrs. Tissa di depan nya.
"Kau??"
"Iya Tuan, seperti perintah anda. Saya akan menjadi mertua jahat yang akan menyiksa Aelin... Sebuah kehormatan bisa bekerja dengan tuan..." Senyum di wajah Mrs. Tissa mengembang.
Sangat berbeda dengan tatapan tajam dan merendah kan yang di tujukan kepada Aelin saat makan malam tadi.
"Ada beberapa hal yang perlu saya sampai kan pada Tuan.. Bisa---"
"Kita bicarakan besok saja..." Sosor Davin dengan cepat, memotong ucapan Mrs. Tissa yang langsung bungkam.
"Baik Tuan.." Jawab Mrs. Tissa patuh, lalu membungkuk kan tubuh nya memberi hormat pada Davin, lalu berlalu pergi.
Davin kembali menatap pintu di depan nya, lalu memutar knok pintu dengan perlahan.
Davin melangkah dengan perlahan masuk ke dalam kamar Aelin, berusaha untuk tidak membuat kaki nya mengeluar kan suara sedikit pun.
Netra Davin terhenti pada Aelin yang sudah tertidur dengan posisi tidak biasa.
...----------------...
...****************...
Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
Davin & Ael1in biar bahagia1. thor