NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH SI BOSS

MENGANDUNG BENIH SI BOSS

Status: sedang berlangsung
Genre:Saling selingkuh / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Rey

Mira tiba-tiba terjebak di dalam kamar hotel bersama dengan Angga—bosnya yang dingin, arogan, dan cuek. Tak disangka, setelah kejadian malam itu, hidup Mira benar-benar terbawa oleh arus drama rumah tangga yang berkepanjangan dan melelahkan.
Mira bahkan mengandung benih dari bosnya itu. Tapi, cinta tak pernah hadir di antara mereka. Namun, Mira tetap berusaha menjadi istri yang baik meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan. Hingga suatu waktu, Mira memilih untuk mundur dan menyudahi perjuangannya untuk mendapatkan hati Angga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS DUA

Di Tangerang.

Mira terlihat cukup bahagia di tempat itu. Dia sangat kerasan dengan lingkungan kerjanya yang baru. Dia bahkan dengan cepat sudah bisa mendapatkan kawan-kawan baru yang solid dan baik. Kesedihannya akan cintanya yang tak terbalas, terkikis sudah.

Dia tinggal si sebuah kontrakan yang cukup dekat dengan perusahaan milik Deva itu. Deva sempat menawari agar Mira tinggal di rumahnya, tapi Mira menolak.

"Tinggal di rumah saya saja, Mir, biar kamu lebih hemat pengeluaran, dari pada kamu mengontrak. Biaya sewa rumah di ibukota terbilang tinggi lho," kata pria itu.

"Toh rumah saya yang di sini juga jarang ditempati," tandasnya.

"Ah, tidak perlu, Pak. Saya tidak mau membebani Bapak, saya tidak mau merepoti. Diberikan pekerjaan sesuai dengan minat dan bakat saya begini, saya sudah berterimakasih," sahut si Mira.

"Apakah tidak apa-apa kalau kamu mengontrak? Kenapa tidak pulang pergi saja? Maksud saya ....saya hanya takut kalau Angga keberatan jika istrinya tidak pulang setiap hari." Pria itu mengulum senyum.

"Capek, Pak, kalau harus PP (pulang pergi) setiap hari. Macetnya ... duh, boros di waktu dan tenaga juga." Mira pun terkekeh pelan.

"Iya juga, sih. Heeemmm ... baiklah, kalau begitu, asal kamu nyaman saja," kata Deva dengan senyum mengembang.

"Oh, ya. Besok saya kembali ke Jakarta, Mir. Mungkin minggu depan saya baru kesini lagi. Tolong kamu buatkan skema rencana mobilisasi keuangan untuk sebulan ke depan, ya," tandasnya.

"Baik, Pak." Mira pun mengangguk pasti.

*****

Hari berganti hari, Mira bekerja dengan sangat giat dan penuh semangat. Dia begitu antusias dalam berkarir, apalagi kini dirinya jauh dari Angga. Beban di hatinya terasa sedikit plong dan berkurang, meskipun kadang-kadang ... dia merindukan suaminya yang dingin tapi juga jago mengomel itu.

Hingga suatu hari, Mira merasa badannya meriang sejak bangun tidur. Dia bahkan mual dan muntah beberapa kali. Mira pun ijin tidak masuk kerja, dia akan pergi ke dokter atau bidan terdekat untuk periksa.

"Duh, aku pasti kecapekan," gumamnya.

Dia pun pergi ke klinik yang cukup dekat dengan kontrakan tempat dia tinggal. Mira sengaja mencari yang terdekat karena tubuhnya sangat lemas dan terasa letih, dia bahkan merasa suhu badannya kian meningkat selama berada di ruang tunggu.

"Hari pertama haid terakhir kapan, Bu?" Seorang bidan bertanya dengan ramah.

"Waduh ... lama sekali, Bu. Mungkin dua bulan yang lalu," kata Mira seraya mencebik, dia mencoba mengingat-ingat.

Bidan itu pun tersenyum.

"Baiklah, silahkan Ibu ke kamar mandi dulu, Ibu bisa buang air kecil dan menampung urinnya di sini," tandasnya seraya memberikan sebuah wadah untuk menampung urin kepada Mira.

"Waduh ... masak aku hamil sih?" bisiknya dengan perasaan gamang.

Mira pun pergi ke kamar mandi dan menampung pipisnya di sebuah cawan yang ia bawa, lalu ia serahkan kepada bidan tersebut.

Semenit, dua menit, lima menit, sungguh membuat hati Mira gelisah.

"Waduh, kenapa tadi aku tidak beli testpack sendiri? Duh, aku deg-deg an. Dih, mana aku tahu kalau aku hamil? Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku haid, aku juga tidak sadar kalau sejak menikah aku belum datang bulan." Mira terus menggerutu dengan dirinya sendiri.

"Hasilnya sudah keluar, Bu." Suara bidan itu mengagetkan Mira dari lamunannya.

"Hasilnya garis dua, Bu. Selamat, ya ... ibu hamil," tandasnya.

JEDIAAARRRRR

Mira pun terbelalak dalam bisu.

"Hasilnya garis dua, Bu. Selamat, ya ... ibu positif hamil," kata bidan di klinik itu.

Mira pun terbelalak dalam bisu. Dia masih tertegun. Ini seperti fakta yang tak bisa diterima begitu saja oleh nalar sehatnya.

"Hamil? A aku hamil?" gumamnya, setengah ragu.

"Apakah aku hamil benih Pak Angga? Ya Tuhan ... kok bisa?" Dia terus bermonolog dengan pikirannya sendiri yang masih syok.

"Bu Mira? Ibu baik-baik saja, kan?" tanya Bu Bidan saat melihat Mira kebingungan.

"Eh, iya, Bu. Saya baik-baik saja, kok ..., saya hanya sedikit kaget." Wanita itu tersenyum simpul.

"Baiklah, nanti akan saya resepkan vitamin penambah darah, asam folat, dan pereda mual. Untuk sementara, Ibu istirahat yang cukup dulu, ya. Perbanyak makanan bergizi dan hindari stress," titah bidan tersebut.

"Baik." Mira pun mengangguk gamang.

Wanita hamil itu pun meninggalkan klinik setelah menebus obat. Dia masih bingung dengan perasaannya, antara senang atau sedih, antara kesal dan bahagia.

"Bagaimana aku akan memberitahukan hal ini kepada dia? Aku bahkan memblokir nomor dan seluruh akun sosmednya." Mira berbisik lirih sambil melihat macetnya jalanan. Dia berjalan pelan di trotoar sambil menikmati suasa di luaran.

"Bagaimana ini? Kok hamil? Duuh ... bodohnya aku, kenapa aku tak memakai alat kontrasepsi? Jadi rumit, kan?" dengusnya.

"Kenapa juga aku harus sesubur ini? Biasanya tuh teman-teman di kantor juga sering cerita, mereka rutin ML dengan cowoknya tapi kagak hamil-hamil? Lah ini gua ...? Masak cuma 2 kali main saja langsung bunting?" Mira menghela nafas panjang, lalu ia hempaskan dengan gusar.

"Eh dua kali apaan? Yang kedua kemarin itu dia main sampai 8 ronde, Njir ...! Eh tapi kayaknya ini yang jadi justru yang main pertama itu deh! Ahhh ... tau lah, pusing, aing ...!" sungutnya, lantas berlalu pulang.

Mira benar-benar puyeng. Tak pernah terpikirkan oleh dirinya bahwa dia akan mengandung benih si boss—yang beberapa waktu yang lalu telah menyakitinya dan menolak cintanya.

"Kalau aku mengandung anaknya, itu artinya aku tidak bisa pergi dari hidupnya? Apakah aku harus terus menjalani pernikahan ini? Bukankah dia tidak pernah mencintaiku? Aku aja yang ke-gr-an ketika berhasil menjadi istri kontrak pria dingin itu." Mira terus berbicara sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!