Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sudah lebih dari sebulan Abi menyembunyikan kejadian kelamnya bersama Arsila. Hingga detik ini, wanita itu tak pernah sekalipun muncul menemuinya. Awalnya Abi takut Arsila datang dan menghancurkan hubungannya dengan Mentari. Namun hari demi hari berlalu dengan tenang.Perlahan ia meyakinkan diri, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Malam ini Abi tampil rapi. Ia berniat mengajak Mentari makan malam di sebuah restoran terkenal.
“Bi, kenapa harus di restoran itu sih? Aku nggak mau dilihat banyak orang, apalagi sekarang kamu lagi masa pemilihan,” ucap Mentari sedikit keberatan.
“Apa sih, Sayang. Nggak apa-apa. Toh nanti juga kamu akan sering tampil di depan banyak orang sebagai istriku,” balas Abi sambil tersenyum. “Ayo, berangkat.”
Mau tak mau Mentari menuruti. Ia masuk ke dalam mobil yang memang Abi belikan untuknya.
Setibanya di restoran, Abi turun lebih dulu, lalu dengan lembut membukakan pintu untuk Mentari. Mereka bergandengan tangan melangkah masuk. Namun tepat di depan pintu, langkah Abi terhenti.
Matanya terpaku pada satu sosok yang berdiri tak jauh dari sana.
Arsila.
Jantung Abi seakan berhenti berdetak. Sebelum Mentari menyadari keberadaan wanita itu, Abi buru-buru menarik tangannya.
“Sayang, kamu masuk duluan ya. Aku mau ke toilet sebentar,” ucap Abi cepat, berusaha terdengar tenang.
Mentari menatapnya ragu. “Tapi jangan lama-lama ya, Bi. Aku agak nggak nyaman di sini.”
Abi mengusap rambut Mentari singkat, lalu mengangguk.
“Nggak kok, cuma sebentar.”
Mentari pun akhirnya masuk sendirian ke dalam restoran.
Begitu Mentari menghilang dari pandangan, Abi langsung berbalik dan melangkah cepat mendekati Arsila. Dadanya berdegup keras. Dalam benaknya hanya satu pikiran yang berputar..
Ia yakin Arsila sengaja datang ke tempat itu untuk menemuinya.
Selama sebulan ini, ketakutan itu terus menghantuinya. Ketakutan bahwa suatu hari Arsila akan muncul… dan merusak segalanya dengan Mentari.
"Abi? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arsila kaget saat tiba-tiba pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Justru aku yang harus bertanya. Apa yang kamu lakukan di sini?” balas Abi dengan tatapan tajam, penuh kecurigaan.
“Itu bukan urusanmu,” jawab Arsila dingin. Ia hendak melangkah pergi, namun lengannya tiba-tiba dicengkeram kuat.
“Lepaskan aku!” bentaknya.
“Aku tahu niatmu datang ke sini,” ujar Abi dengan suara rendah namun mengancam. “Kamu mau merusak hubunganku dengan Mentari, kan? Aku nggak akan biarkan itu terjadi.”
“Apa yang kamu bicarakan?” Arsila menatapnya geram. “Aku bahkan tidak tahu kamu ada di sini!” Ia memberontak, berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku, Bi!”
Dalam pergulatan itu, sebuah benda pipih terjatuh dari saku Arsila. Abi refleks menunduk dan memungutnya. Seketika jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar. Ia bukan orang bodoh,ia tahu betul apa benda itu.
“Ini apa..? napas Abi tercekat.
Dengan panik Arsila langsung merebut benda itu dari tangannya.
“Ini bukan milikmu. Ini milikku sendiri,” ucapnya tegas, wajahnya pucat namun sorot matanya keras.
Tanpa menunggu reaksi Abi, Arsila berbalik dan berlari masuk ke dalam restoran, menghilang di antara keramaian.
Abi masih terpaku di tempatnya. Otaknya dipenuhi pertanyaan dan dugaan yang membuat dadanya sesak.
“Tidak…” gumamnya lirih, rahangnya mengeras.
“Anak itu akan jadi penghalang hubunganku dengan Mentari. Anak itu akan menghancurkan karier yang sedang kubangun.”
Matanya menggelap oleh ketakutan dan ambisi yang bercampur jadi satu.
“Tidak… dia tidak boleh hidup.”
Niat awalnya makan malam romantis, namun Abi justru meninggalkan Mentari sendirian di restoran itu. Kepalanya gelap. Satu-satunya tujuan yang tersisa kini hanyalah Arsila,mengajaknya bicara, membujuknya agar menggugurkan janin yang sedang dikandungnya.
Begitu melihat Arsila berlari keluar restoran, Abi refleks menekan pedal gas. Mobil melaju cepat, napasnya memburu, pikirannya kalut.
Namun segalanya terjadi terlalu cepat.
Sebuah motor menyalip dengan kecepatan tinggi dari sisi kanan. Abi tersentak, refleks membanting setir dan dalam sepersekian detik itu, tabrakan tak terhindarkan.
Brak!
Tubuh Arsila menghantam kap mobil dengan keras, kaca depan retak disertai bercak darah. Wanita itu terlempar ke tengah jalan, tubuhnya jatuh menghantam aspal. Abi membeku di balik kemudi, matanya membelalak.
Arsila kejang sesaat… lalu perlahan kaku, tak bergerak.
Sunyi mendadak menyergap. Hanya suara mesin mobil yang masih menyala, dan detak jantung Abi yang berdegup liar menyadari, dalam satu detik yang fatal, ia telah membunuh Arsila.
Kini Abi hanya bisa menangis pilu dalam kesendiriannya. Penyesalan itu terlalu dalam, terlalu kejam untuk ditanggung sendiri. Terlebih saat ia dengan begitu pengecut melemparkan kesalahan fatal itu pada Mentari. Menjadikannya tameng atas dosa yang tak sanggup ia akui.
Perlahan Abi bangkit dari tepi tempat tidur. Langkahnya gontai saat ia menarik laci meja, lalu mengambil sebuah toples kecil berisi obat-obatan. Tangannya gemetar.
Hampir enam tahun lamanya ia mengonsumsi pil-pil itu. Sebagai pelarian. Sebagai cara paling mudah untuk melupakan semua kejadian yang menghancurkan hidupnya satu per satu.
“Aku tersesat… dan semakin tersesat, Tari,” lirihnya parau.
Tanpa ragu lagi, Abi menenggak beberapa pil sekaligus. Menutup mata, membiarkan pahit itu meluncur ke tenggorokannya,seolah berharap rasa sakit di kepalanya bisa menenggelamkan rasa bersalah di hatinya.
Bersambung
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏