Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.
Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.
Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.
Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
Suster Rina tampak berjalan dengan cepat untuk bisa segera sampai di ruang perawat. Hari ini ia bangun sedikit lebih lambat dari hari biasanya. Sesaat sebelum ia masuk ke dalam ruang perawat, tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan matanya tertuju pada sebuah pemandangan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Rin!" sapa suster Indah sambil menepuk pundak suster Rina.
"Eh!" Suster Rina tampak terkejut.
"Kamu kenapa?" tanya suster Indah. Suster Rina menggeleng pelan.
"Ga apa-apa kog!" Ia tersenyum pada suster Indah. Suster Indah celingukkan mencari apa yang sedang diperhatikan rekan kerjanya itu.
"Aaahh..! Kamu terkejut melihat mereka kan?!" terka suster Indah. Jari telunjuk tangan kananya menunjuk pada objek yang sedari tadi di perhatikan oleh suster Rina.
"Kamu baru pertama kali ya melihat mereka seperti itu?" tanya suster Indah. Suster Rina hanya diam sambil kembali memperhatikan objek tersebut.
"Mereka sudah beberapa kali seperti itu." ungkap suster Indah.
"Akhirnya dokter Adi yang bisa meluluhkan Lia ya, Rin?!" seru suster Indah. Suster Rina tidak menjawab apa-apa.
"Rin!" Suster Indah menepuk pundak suster Rina pelan dan akhirnya membuat suster Rina tersadar.
"Kamu melamun terus!" tukas suster Indah.
"Ga kog!" bantah suster Rina.
"Kamu tahu ga?! Setiap malam itu dokter Adi selalu menemani Lia tidur." ungkap suster Indah. Suster Rina tersentak.
"Menemani tidur bagaimana?" tanyanya.
"Jadi sepanjang malam itu dokter Adi bekerja di kamar Lia sementara Lianya sendiri tidur." jawab suster Indah.
"Dari dulu kan Lia selalu senang menyendiri, tapi sejak ada dokter Adi, dia jadi ingin ditemani setiap malam di kamarnya." tambahnya. Suster Rina kembali menatap dokter Adi dan Lia yang ada di taman.
"Sudahlah! Aku mau mengisi daftar hadir dulu!" seru suster Rina dan kemudian ia masuk ke ruang perawat.
...
"Bukannya ini sudah waktunya kamu pulang?!" tukas Lia pelan. Dokter Adi menoleh ke arah Lia.
"Kamu sudah bosan melihatku?" tanyanya.
"Bu.. bukan begitu!" bantah Lia. Dokter Adi tertawa kecil.
"Baiklah! Ayo kita kembali ke kamarmu!" ajak dokter Adi.
Lia dan dokter Adi beranjak dari taman itu menuju kamar 208. Lia duduk di ranjangnya dan dokter Adi duduk di kursi kayu yang ada di hadapan Lia.
"Kamu tidak pulang?" tanya Lia.
"Kamu tidak suka sendirian kan?! Aku akan menunggu sampai suster Rina ke sini." ucap dokter Adi. Lia hanya menatap dokter Adi.
"Tidak bisakah kamu tersenyum?" tanya dokter Adi.
"Aku sudah bilang kalau aku benci senyuman." jawab Lia.
"Hmm.. sayang sekali! Padahal kamu terlihat sangat cantik saat tersenyum." tukas dokter Adi.
"Dari mana kamu bisa menilai seperti itu? Kamu saja belum pernah melihatku tersenyum!" seru Lia. Dokter Adi memasukkan tangannya ke dalam tas kerjanya untuk mengambil sesuatu. Ia mengeluarkan selembar foto dari dalam tas tersebut.
"Ini!" serunya sambil menunjukkan foto tersebut pada Lia.
"Da.. darimana kamu dapat foto ini??" Lia mencoba merampas fotonya itu dari tangan dokter Adi, tapi tidak berhasil karena dokter Adi lebih cepat mengelak.
"Lihat! Senyummu itu sangat cantik!" pujinya. Wajah Lia memerah karena pujian dokter Adi tersebut.
"Hemm!!" Dokter Adi memandangi wajah Lia di foto itu dan yang ada di hadapannya bergantian, seakan ia sedang membandingkannya.
"Sudaaahh!!" jerit Lia. Wajahnya memerah karena malu.
"Lia.. dokter..!" panggil suster Rina yang tiba-tiba saja sudah berada di kamar 208.
...
Suster Rina mengikuti dokter Adi ke ruang kerjanya. Dokter Adi menutup rapat pintu ruang kerjanya begitu mereka berdua sudah berada di dalam ruangan itu.
"Apa kamu tidak merasa kalau tindakkanmu itu tidak seperti seorang dokter untuk Lia?" tukas suster Rina.
"Maksudmu?" ucap dokter Adu balik bertanya.
"Sikapmu pada Lia itu bukan seperti seorang dokter tapi seperti kekasihnya." terang suster Rina, ia tampak sedikit emosional.
"Apa kamu tidak pernah membaca artikel tentang cara pengobatanku?" tanya dokter Adi. Suster Rina terdiam.
"Ini pekerjaanku, Rin! Begini cara aku bekerja!" ungkap dokter Adi, ia pun tampak sedikit emosional.
"Aku bersikap seperti itu agar bisa membuat Lia nyaman dengan keberadaanku. Aku memang sengaja membuat Lia terbawa perasaan padaku agar ia bisa lebih terbuka padaku." jelas dokter Adi. Suster Rina menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu tidak takut kalau Lia akan menganggapmu yang 'lain'?" tanya suster Rina.
"Aku memang berharap Lia menganggapku dekat seperti kekasihnya, dengan begitu aku bisa membuatnya sembuh." tukas dokter Adi.
"Apa kamu tidak takut kalau perasaan Lia akan dalam kepadamu?" tanya suster Rina lagi.
"Nanti ketika keadaannya sudah stabil dia pasti bisa mengerti tentang semuanya ini." terang dokter Adi.
"Bukankah kamu yang sangat mengharapkan Lia bisa sembuh?" Dokter Adi menatap suster Rina dengan seksama.
"Aku hanya berjuang untuk mewujudkan apa yang kamu inginkan!" aku dokter Adi.
"Lagipula ini kan menjadi persyaratan darimu agar aku bisa menikah denganmu?!" Suster Rina menatap dokter Adi.
"Apa benar kamu melakukan hal ini hanya karena itu menjadi persyaratan menikah denganku?" tanya suster Rina. Dokter Adi mengangguk pelan.
"Apa sedikitpun tidak ada perasaanmu pada Lia?" tanyanya lagi.
"Aku selalu bersikap profesional terhadap para pasienku. Aku tidak pernah terbawa perasaan pada pasienku." terang dokter Adi.
" Kalau begitu, kalau aku menyuruhmu untuk menghentikan semuanya apa kamu mau menghentikan semua yang kamu lakukan pada Lia?" Dokter Adi tersentak mendengar pertanyaan suster Rina.
"Kamu yakin mau aku menghentikan semuanya ini?" ucap dokter Adi balik bertanya. Suster Rina menatap kedua mata dokter Adi secara bergantian.
"Akan sangat jahat kalau aku tiba-tiba saja menghentikan semuanya, tapi kalau memang keinginanmu seperti itu, beri aku waktu dalam satu minggu ini agar bisa mengembalikan kondisi Lia seperti sedia kala sebelum ada aku di sini!" pinta dokter Adi. Dokter Adi dan suster Rina saling berpandangan dalam keheningan.
...
"Suster Rina." pangg Lia lembut.
"Ya Lia?!" sahut suster Rina sambil merapikan rambut Lia dengan sisir.
"Kamu sangat baik padaku, bolehkan aku menganggapmu sebagai kakakku?" tanya Lia. Suster Rina tersentak.
"Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sebelum kamu memintanya, Lia!" seru suster Rina. Hatinya bergetar, ia terharu mendengar permintaan Lia itu.
"Terima kasih ya suster sudah merawatku sampai saat ini." ucap Lia. Suster Rina mengangguk, matanya tampak berkaca-kaca.
"Bolehkan aku bercerita sedikit tentang perasaanku?" tanya Lia lagi.
"Boleh! Aku akan mendengarkannya dengan baik!" seru sester Rina. Suster Rina duduk di kursi kayu yanga ada di samping ranjang Lia yang biasa digunakan oleh dokter Adi.
"Sus, entah kenapa belakangan ini jantungku sering berdebar-debar dengan kencang." aku Lia.
"Kenapa bisa begitu?" tanya suster Rina.
"Entahlah, sus! Setiap kali berada bersama dokter, jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya." ungkap Lia. Seketika jantung suster Rina seperti berhenti berdetak.
"Apa mungkin aku menyukai dokter?" tanya Lia.
...
Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
benci dokter Adi 😡