Rumah tangga diibaratkan sebuah perahu yang tengah berlayar di lautan lepas! Dimana suami sebagai nahkodanya, sementara isteri dan anak berperan sebagai penumpangnya. Nahkoda bertugas mengemudikan perahu agar perahu bisa sampai ditujuan dengan selamat, sementara penumpang akan mengikuti kemanapun perahu itu berlayar.
Terkadang dalam perjalanan berlayar kita dibuat bahagia dengan keindahan di lautan, angin sepoi-sepoi dan ikan-ikan yang berenang di lautan menjadi kebahagiaan yang akan kita dapatkan selama berlayar.
Lalu bagaimana jika ditengah perjalanan perahu dihadapkan dengan hantaman keras gelombang ombak dan juga badai di lautan?
Sama halnya dengan rumah tangga, gelombang ombak bisa kita artikan pihak ketiga atau wanita idaman lain.
Perahu akan bisa bertahan dari terjangan badai dan ombak besar, jika nahkoda sekuat tenaga mempertahankan kemudinya agar tetap seimbang, meski dihantam ombak dahsyat sekalipun. Tapi jika nahkoda memutuskan untuk tidak mempertahankan kemudi perahunya.
Maka yang akan terjadi adalah! Badan perahu akan retak lalu perlahan akan dimasuki oleh debit air laut yang semakin lama akan semakin menenggelamkan perahu hingga membuat PERAHU KARAM.
Begitu juga dengan rumah tangga, jika ditengah perjalanan dalam kehidupan berumahtangga, seorang suami tidak bisa tahan dengan godaan dari wanita lain, dan tidak mau mempertahankan pernikahannya!
Membiarkan wanita idaman lain untuk terus memasuki kehidupan rumah tangganya.
Maka yang akan terjadi adalah pernikahan itu akan hancur dan berujung dengan perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopi_sopiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Aku pamit dulu! Salam untuk si kembar," kata Darren dengan wajah sedikit gerogi.
"Iya Bang, besok aku tunggu kabarnya," kata Qiara.
Darren pun masuk kedalam mobil, pandangannya lurus kedepan dan mulai melajukan mobilnya. Setelah keluar dari gerbang rumah Qiara, Darren mengerem mobilnya dan menepi sejenak.
"Padahal aku sudah belajar bicara tadi sebelum kesini! Tapi rasanya sulit sekali untuk bicara dengan Qiara." Kata Darren lalu mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sementara itu Qiara tersenyum lega kini bukti foto dan video serta berkas gugatan besok pagi akan segera didaftarkan ke pengadilan negeri agama. Rasanya Qiara bangga terhadap dirinya sendiri, bukan hal mudah untuk mengambil keputusan seperti ini! Tapi Qiara berhasil melawan rasa cintanya terhadap Dimasta, dan memilih melepaskan daripada harus lebih dalam lagi terluka.
Malam harinya, Qiara tengah menemani Wili dan Wilo didalam kamarnya!
"Mi, apa kita tidak akan pernah lagi tinggal satu rumah dengan Papih?" tanya Wilo.
"Sepertinya akan begitu mulai hari ini dan seterusnya," kata Qiara.
"Mi, kakak kangen waktu Mimi sama Papih ketawa bareng, makan malem bareng terus kita main bareng dikamar Mimi sama Papih," kata Wili.
Qiara pun kembali harus merasakan sesak dihatinya setiap kali mendengar jeritan hati buah hatinya.
"Sayang, kan kita hanya engga tinggal satu rumah lagi sama Papih! Tapi nanti kalau Kaka sama Ade mau kita main sama-sama sama Papih, kapanpun itu Mimi pasti akan usahakan," kata Qiara.
"Tapi kenapa mba Suci jahat sama Mimi?" tanya Wilo.
"Iya Mi, kenapa mba Suci rebut Papih dari kita?" tanya Wili.
"Karena engga semua orang didunia ini punya hati yang baik, punya niat yang baik," kata Qiara.
"Pokoknya kakak benci sama mba Suci," kata Wili.
"Iya Ade juga! Nanti Papih engga akan sayang lagi sama kita Mi, tapi Papih sayangnya sama mba Suci," kata Wilo.
"Hei, kata siapa Papih engga sayang lagi sama kalian? Papih itu akan selalu sayang sama kalian kok," kata Qiara berusaha menguatkan hati kedua anaknya, padahal hatinya sendiri tengah hancur porak-poranda.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, yang mengarah ke kamar Wili dan Wilo.
Klekkk.
"Hallo krucil-krucil Papih," sambut Dimasta yang baru saja masuk kedalam kamar Wili dan Wilo.
Qiara pun sontak geram dengan kehadiran tiba-tiba Dimasta ke rumah ini.
"Mas, kamu pikir rumah ini hotel yang bisa kamu masuk keluar seenaknya? Engga bisa gitu dong mas!" kata Qiara.
"Papih," kata Wili dan Wilo.
"Hei, sayang kalian kangen Papih engga?" tanya Dimasta.
Wili dan Wilo hanya menundukkan wajah mereka dan tidak mau menjawab pertanyaan Dimasta.
"Loh kok murung! Papih mulai malam ini akan tidur di rumah ini lagi, nemenin kakak sama Ade. Kalian pasti seneng kan?" tanya Dimasta.
"Mas, aku mau ngomong berdua! Keluar dari kamar Wili dan Wilo," kata Qiara sambil menarik tangan Dimasta keluar kamar anak-anak mereka.
Qiara membawa Dimasta sampai depan pintu rumahnya.
"Hei, hei Qiara! Apa-apaan si kamu, aku ini suami kamu loh, selagi aku belum mengucap kata cerai sama kamu, kamu wajib menghormati aku," kata Dimasta.
"Dengar mas, keputusan aku sudah final untuk bercerai dari kamu! Tolong hormati itu, dan jangan pernah datang dulu ke rumah ini tanpa izin aku," kata Qiara.
Tak lama pintu rumah Qiara diketuk oleh seseorang. Qiara pun terpaksa harus mengakhiri perdebatannya dulu dengan Dimasta , lalu membukakan pintu rumahnya.
Klek.
"Mamah, Papah!" kata Qiara dengan terkejut.
"Qiara, kamu itu bener-bener ya Qiara," kata Mamahnya Qiara dengan wajah kesal langsung menyerobot masuk ke dalam rumah.
"Qia, kamu sama anak-anak sehat, nak?" tanya Papahnya Qiara.
"Sehat Pah! Mamah sama Papah kok tumben engga ngabarin dulu?" tanya Qiara.
"Mah, Pah! Wah Dimas engga nyangka udah sampe jam segini, engga macet ya Mah, Pah?" tanya Dimasta.
"Iya lagi gak macet, Dimas ayo kita duduk udah lama kan kita engga ngobrol-ngobrol," kata Mamahnya Qiara.
"Mas tunggu! Kamu yang nelpon mamah aku?" tanya Qiara.
"Sudah Qiara, sini duduk! Kamu itu memang harus mamah nasehati tau enggak!" kata Mamahnya Qiara.
Dimasta, Qiara, Mamah, Papahnya Qiara pun duduk di sofa. Terlihat wajah marah dari mamahnya Qiara, sementara Qiara masih kesal dengan ulah Dimasta karena sudah lancang melibatkan orangtuanya.
"Ini ada apa si Mah? Kenapa mamah marah-marah sama Qia?" tanya Qiara.
"Kamu tuh punya otak ya dipake Qia! Kamu lihat, betapa sempurnanya suami kamu, dia sayang sama kamu, sama Mamah, sama Papah sama anak-anak. Tapi karena satu kesalahan saja kamu malah minta cerai sama Dimas!" kata Mamahnya Qiara.
"Mah, sudah biarkan Qiara mengurus rumah tangganya sendiri," kata Papahnya.
"Oh engga bisa dibiarkan ini anak Pah! Dia itu kalau bertindak otaknya engga pernah dipake," kata Mamahnya Qiara.
Qiara pun menatap tajam kearah Dimasta, kedua tangan Qiara mengepal ingin rasanya Qiara tinju wajah Dimasta yang berpura-pura terlihat baik dan polos itu.
🔥🔥🔥
Jangan Lupa untuk Like, Komen Votenya ya Mak.
memang ya pelakor semakin di depan
cerita enak' di baca
pisah adalah jalan yang terbaik.
yang menabur benih kejahatan dia juga yang menuai hasilnya siapa yg berselingkuh dia juga yg nemuin kehancuran dihidupnya.