Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 16
JAUHI SAJA
Myra masih terdiam ketika dia dan Silas keluar dari ruangan itu.
Amber beserta kedua anaknya menyambutnya. Terutama Pedro yang menyeringai sembari membawa segelas beer berjalan ke arah Silas. “Duduklah dulu, kita bisa berbincang sambil menikmati minuman.”
“Pikirkan ujung perbincangan itu, baru temui aku.” Silas menoleh ke Myra. “Istriku tidak sabar dimanja malam ini, itu sebabnya aku tidak punya waktu.”
Kata Silas yang membuat Myra terkejut namun ia juga terheran, kenapa Silas berkata seperti itu?
Tak banyak bicara lagi. Silas melangkah pergi bersama Myra yang masih dia genggam. Sementara Pedro meneguk beernya dan Amber menatap tak suka.
“Dia pikir hanya dirinya yang berkuasa, cih.” ia menyeringai kecil dan melangkah pergi.
Oona hanya diam menatap kakaknya yang masih diam memperhatikan kepergian Silas.
“Apa rencanamu? Dia hanya satu orang, menghancurkannya akan lebih mudah.” ujar wanita itu dengan entengnya. Sementara Pedro mulai meletakkan gelas kristal itu ke meja.
“Jangan anggap remeh. Dia lebih licik dari seekor Rubah.”
Di halaman luar mansion Bianco. Myra melepas genggaman tangannya dan menghentikan langkahnya sejenak saat Silas sudah membuka pintu mobil.
“Kau sudah pernah menikah?”
Pria itu berhenti sejenak, lalu menoleh.
“Never.”
“Lalu siapa wanita itu? Dia berkata soal kedua anak yang kau asuh. Elion dan Elina, benar?”
“Ya.” Jawab singkat Silas.
Myra masih menatap bingung dan berkerut alis. Ia tak bisa berkata-kata, namun Silas yang menyadari istrinya masih diam dan enggan melangkah. Ia menutup kembali pintu mobilnya dan menghampirinya hingga berdiri di depan Myra.
“Jika kita tidak segera pergi, maka mereka akan menghabisi mu.” ucap Silas terdengar berbisik.
Mendengar itu, Myra masih mengernyitkan keningnya dan Silas menyentuh belakang kepala Myra lalu mencium kening wanita itu cukup dalam dan singkat sebelum akhirnya melirik ke arah mansion Bianco. “Ayo.”
Myra tak berkutik lagi, kali ini dia mengikuti langkah suaminya dan masuk ke mobil.
Sementara dari arah rumah. Pedro mengamatinya dengan tatapan tajam serta mengintai dan menyeringai bak devil.
.
.
.
Dalam perjalanan yang hening dan sunyi. Myra menoleh ke Silas yang masih fokus menyetir. Tak sesekali angin menerpa wajahnya karena jendela mobil yang terbuka lebar.
“Siapa pria tua itu?” tanya Myra yang kali ini suaranya pelan dan lembut.
“Dia kakek angkat ku. Ayah dari ibu angkatnya, Lynda Wolfe.” Ujar Silas. “Tenang saja, dia tidak berbahaya, tapi cukup teliti.”
Perlahan-lahan Myra mulai mengerti. Bahwa Silas merupakan anak angkat saja, tapi bagaimana bisa dia membangun semua bisnisnya? Dan apa yang sudah Lynda Wolfe itu lakukan kepada Silas hingga menjadikan pria itu tak lagi sama seperti pria yang Myra kenal dulu.
Wanita itu kembali diam sembari menunduk. “Pria yang memakai kemeja putih— ”
“Pedro Bianco.” potong pria itu yang tangannya semakin erat menggenggam setir mobil. “Dia mengincar mu. Jauhi sebisa mungkin.”
Ia berkerut alis dan menoleh ke Silas. “Kenapa?”
Pria itu menoleh balik sehingga tatapan mereka bertemu 5 detik. “Jika kau tidak ingin berbaring di atas ranjang dan mejanya dengan kedua paha terbuka lebar.”
Seketika Myra merinding mendengar hal vulgar itu.
Ia berpaling kesal. “Kau juga melakukan hal yang sama seperti Pedro.”
“Apa kau mau bersamanya? Atau bersamaku?”
Myra tak menjawabnya meski bibirnya mengerucut kesal. Namun jujur saja, dia lebih baik bersama seseorang yang sudah dia kenal meski Silas juga sama menyebalkan nya.
...***...
Satu hari berlalu begitu cepat. Tidak ada momen apapun toh kala itu langit sudah semakin larut dalam kegelapan.
Dan kini, di pagi hari. Myra yang masih mengenakan piyama tidur, ia menuju ke dapur dalam keadaan rambut yang sedikit berantakan.
“Di mana tuan kalian?” tanya Myra sesekali ketika ia berpapasan dengan seorang pelayan di lorong mansion.
Pelayan itu menunduk. “Tuan Silas pergi sejak subuh tadi, Nyonya.”
“Dia mesin kerja hah?” kata Myra mengering kecil seperti menyindir hingga pelayan itu tak berani membalas nya dan Myra melangkah pergi dan berhenti di tengah ruangan mansion.
“Ibu Myra!”
Suara kecil itu memanggilnya tanpa pamrih.
Myra menoleh lalu tersenyum lebar menatap ke si kecil Elina yang duduk di kursi meja makan bersama Elion.
Tentu saja Myra membalas lambaian tangannya dan berjalan menghampiri mereka.
“Good morning!”
“Selamat pagi! Pestanya menyenangkan? Kau pasti terlihat sangat cantik dari yang lain!” kata Elina tersenyum lebar.
Myra mengangguk. “Aku tidak suka pesta.” kata Myra tersenyum lalu melirik ke Elion yang masih diam dengan wajah angkuh.
“Selamat pagi!” sapa Myra sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Elion yang seketika menatapnya diam. “Tidak ada balasan?”
“Dia memang seperti itu— ”
“Kata paman Silas, tidak boleh menyentuh meja makan sebelum kau mandi.”
Seketika Myra menatap dirinya sendiri yang masih mengenakan piyama. “Oh, aku mengerti. Dia ayah yang tegas.”
“Dia bukan ayahku.” ketus Elion yang membuat senyum Myra garing karena terkejut.
“Tapi bagiku dia ayahku!” kata Elina yang masih menunjukkan senyumannya kembali.
Myra tersenyum menatap Elina, saat dia menatap Elion senyumannya berubah menjadi penuh tanya dan heran. Hingga ia teringat akan wanita bermata silver malam itu. -‘Wanita itu ibu dari kedua anak ini. Tapi kenapa ditinggal ke Silas?’ batin Myra.
“Kau tidak makan bersama kami?”
“Dia tidak perlu makan, dia belum mandi. Cepat habiskan makananmu sebelum kita terlambat ke sekolah, Elina.” ucapan itu terdengar tegas, tapi seolah menggebu dan kesal.
Myra yang mencoba memahaminya, dia tersenyum ke Elina. “Kau harus menurut dengan kakakmu.” kata Myra sehingga gadis cantik itu mengangguk kecil.
Dari arah belakang. Saat Myra berbalik badan. Ia melihat Hana si wanita rambut pirang putih sudah berdiri di sana, entah sejak kapan?
Kali ini penampilannya lebih simpel dengan rambut tergerai bebas.
“Saya harap Anda menikmati pembicaraan tadi, Nyonya.” kata Hana.
“Ya. Bicara dengan anak-anak lebih menyenangkan daripada dengan pria dewasa.” kata Myra yang seakan menyindir Silas.
Mendengar itu, Hana hanya tersenyum kecil. “Tuan Silas sedang mengurus bisnisnya. Jika Anda butuh sesuatu, katakan saja padaku.”
“Kalau begitu aku butuh kau membantuku kabur dari sini.”
“Apa?”
Myra tersenyum kecil. “Just kidding! (hanya bercanda)!”
Kedua wanita itu mengerti. Sampai Myra kembali menatap Hana lalu menoleh ke arah kedua anak yang masih lahap menyantap makanannya.
“Sebenarnya... Aku butuh sesuatu. Sesuatu informasi dan cerita sebenarnya dari kedua anak itu.” kata Myra membuat Hana sedikit tegang.
“Semalam aku bertemu dengan ibu dari kedua anak itu. Silas sendiri yang mengatakannya, tapi selebihnya, aku tidak tahu.” jelas Myra. “Kau bisa memberitahuku?”
Wanita itu terdiam menatap Myra. Begitu juga sebaliknya.
“Apa yang ingin Anda tanyakan?”
Myra tersenyum puas ketika Hana membuka pertanyaan seperti itu.