NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Arsip Lama

Perpustakaan kota tampak sepi sore itu, hanya ada beberapa pengunjung yang tenggelam dalam buku masing-masing, ditemani suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit. Veron sudah menunggu di meja pojok dekat jendela, dikelilingi beberapa koran lama yang menguning dan map berisi kliping berita yang sudah rapuh di tepiannya.

"Gue nemu ini pas nyari soal sejarah sekolah kita di katalog digital,"

katanya sambil menyerahkan salah satu kliping kepada Josh, tangannya berhati-hati seolah kertas itu bisa hancur kapan saja.

Berita itu berasal dari lebih dari dua puluh tahun lalu, dengan judul yang membuat Josh membeku sesaat, matanya terpaku pada setiap huruf yang tercetak:

"Siswa SMA Dilaporkan Hilang Misterius, Terakhir Terlihat Pukul 02.02 Dini Hari."

Josh membaca artikel itu perlahan, tangannya sedikit gemetar memegang kertas rapuh tersebut. Isinya menceritakan seorang siswa yang menghilang tanpa jejak setelah beberapa tetangga melaporkan mendengar suara aneh dari rumahnya tepat pukul 02.02. Tidak ada penjelasan resmi dari pihak berwajib, dan kasus itu akhirnya ditutup begitu saja tanpa titik terang, seolah dilupakan oleh waktu.

"Ini bukan satu-satunya,"

Veron menambahkan, menyerahkan beberapa kliping lain yang telah ia susun rapi dalam urutan tanggal.

"Ada tiga kasus serupa dalam dua puluh tahun terakhir. Semuanya terjadi di waktu yang sama persis, dan semuanya melibatkan remaja seusia kita, sekitar enam belas sampai tujuh belas tahun."

Josh merasa tangannya semakin gemetar memegang kertas-kertas itu satu per satu.

"Berarti ini bukan cuma soal gue doang yang ngalamin."

"Kayaknya emang bukan," Veron menjawab pelan, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jarang sekali ia tampilkan secara terbuka.

"Tapi gue belum nemu hubungan pastinya. Semua korban nggak saling kenal, tinggal di lokasi berbeda-beda di kota ini, bahkan beda sekolah juga kalau dilihat dari tahun kejadiannya."

"Terus kenapa jamnya selalu sama persis?" Josh bertanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Veron.

Veron menggeleng pelan, tidak memiliki jawaban pasti untuk pertanyaan itu, meski matanya terus menatap deretan kliping dengan tatapan yang semakin serius, seolah sedang menyusun kepingan puzzle yang belum sepenuhnya lengkap.

Petugas perpustakaan, seorang wanita paruh baya yang sudah bekerja di sana selama lebih dari dua dekade, sesekali melirik ke arah meja mereka dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ketika Veron akhirnya memberanikan diri bertanya apakah beliau mengingat kejadian-kejadian tersebut, wanita itu hanya menggeleng pelan sambil berkata bahwa beberapa hal memang lebih baik dibiarkan terkubur bersama waktu, sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya sendiri, seolah enggan melanjutkan percakapan itu lebih jauh. Sikapnya yang tiba-tiba berubah dingin itu justru membuat Josh dan Veron semakin yakin bahwa ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi di balik semua ini, sesuatu yang bahkan orang dewasa di kota mereka enggan membicarakannya secara terbuka.

Mereka melanjutkan pencarian hingga menjelang petang, menyisir setiap arsip yang bisa mereka temukan, namun tidak menemukan informasi lebih jauh selain fakta yang semakin mengganggu bahwa keempat kasus tersebut, termasuk yang mungkin akan menjadi kasus kelima jika mereka tidak segera menemukan jawaban, memiliki satu kesamaan yang mencolok dan tidak bisa diabaikan: semuanya dimulai dengan penampakan sosok pria berjas hitam yang tidak pernah teridentifikasi hingga kini.

Sebelum meninggalkan perpustakaan, Veron sempat memfotokopi seluruh kliping yang mereka temukan, memastikan mereka memiliki salinan sendiri untuk dipelajari lebih lanjut di rumah masing-masing. Petugas perpustakaan mengawasi mereka dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah mempertimbangkan apakah harus memperingatkan kedua remaja itu untuk berhenti menggali terlalu dalam, namun akhirnya memilih diam dan membiarkan mereka pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Dalam perjalanan pulang, langit sudah mulai gelap, lampu-lampu jalan baru saja menyala satu per satu. Josh tidak banyak bicara sepanjang jalan, pikirannya sepenuhnya dipenuhi bayangan sosok itu berdiri diam di ujung gang, mengamatinya tanpa sepatah kata pun, seolah menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar mengamati.

Sesampainya di rumah, ia mendapati ibunya sedang sibuk di dapur seperti biasa, sama sekali tidak menaruh curiga apa pun terhadap keresahan yang tersembunyi di balik wajah tenang anaknya. Ia mencium aroma masakan yang menenangkan begitu memasuki rumah, sesuatu yang untuk sesaat membuatnya merasa dunia masih baik-baik saja, sebelum ingatan tentang kliping berita yang baru ia baca kembali menghantui pikirannya. Josh naik ke kamarnya, menyimpan salinan kliping yang diberikan Veron di dalam laci mejanya yang paling dalam, lalu duduk termenung di tepi ranjang, menatap kosong ke arah dinding.

Ia menyadari, waktu sudah tidak lagi berpihak padanya. Jika pola yang sama benar-benar terus berulang seperti yang tercatat dalam arsip-arsip lama itu, maka malam-malam berikutnya akan menjadi jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia duduk di tepi ranjangnya, menatap deretan fotokopi kliping yang tersebar di atas selimut, mencoba menghafal setiap nama dan tanggal yang tertera meski pikirannya terus dibayangi rasa cemas yang sulit ia jelaskan. Sesekali ia melirik ke arah jendela kamarnya yang tertutup gorden rapat, memastikan tidak ada bayangan aneh yang mengintip dari luar sana, sebuah kebiasaan baru yang tanpa sadar mulai ia lakukan setiap beberapa menit sejak semua kejadian ini bermula.

Ia meraih ponselnya, hendak mengirim pesan kepada Veron untuk mendiskusikan langkah selanjutnya, ketika layar ponselnya tiba-tiba padam sendiri tanpa sebab, meski baterainya masih terisi penuh. Ruangan seketika terasa lebih dingin, dan dari arah pintu kamarnya yang tertutup rapat, terdengar suara ketukan pelan tiga kali, teratur, seperti seseorang yang sabar menunggu untuk dipersilakan masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!