Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : PERTEMUAN YANG MENYEBALKAN BAG. 1
**3 Tahun yang lalu**
"Nona! Nona, gawat!"
Teriakan Ah Yao memecah keheningan kamar. Ye Ning yang sedang bersandar santai menikmati suapan buah dari Chun Tang hanya mengernyit malas.
"hmm?"
Ah Yao berhenti di ambang pintu, napasnya tersengal-sengal.
"Rombongan opera yang Nona pesan, sudah dicuri oleh Kediaman Adipati Zhao! Saya menunggu dari pagi, tetapi mereka tak kunjung datang. Akhirnya saya memeriksa ke jalan takut mereka tersesat atau terjadi sesuatu, rupanya pelayan pribadi Tuan Muda Bai yang membawa mereka pergi!"
Ye Ning langsung terperanjat dari duduknya. Tuan muda Bai? Bai Zhilan? Beraninya pria itu merampok rombongan operaku! Tanpa membuang waktu, Ye Ning menarik Chun Tang untuk ikut bersamanya. Ia harus tahu apa motif Zhilan. Apakah pria itu sengaja mengibarkan bendera perang secara terang-terangan? Keluarga Xiao dan keluarga Bai telah terlibat perang dingin yang mematikan. Seluruh ibu kota tahu aturan tidak tertulisnya: bermitra dengan keluarga Xiao berarti menyinggung keluarga Bai, dan begitu pula sebaliknya.
**Restoran Keluarga Xiao yang berdiri dekat Kediaman Adipati Zhao**
Ye Ning menatap tajam ke arah kediaman keluarga Bai dari lantai 2 restorannya yang kini ramai oleh rombongan opera. Itu adalah kelompok opera terbaik dari wilayah Utara, yang dengan susah payah ia datangkan sebagai hadiah ulang tahun Ibu Suri dua hari lagi.
Lan Wu, penjaga restoran kepercayaan Ibunya, muncul membawa laporan.
"Nona, Ternyata Bai Zhilan membayar mereka dua kali lipat dari tarif asli."
"Luar biasa sekali kau, Bai Zhilan!" desis Ye Ning geram.
Dua kali lipat berarti empat puluh tael perak. Sebagai pebisnis muda yang cerdas, Ye Ning merasa harga dirinya diremehkan. Namun, mengeluarkan delapan puluh tael perak hanya untuk merebut rombongan itu kembali jelas tidak mungkin. Baginya, itu terlalu mahal dan uang tidak boleh dikeluarkan begitu saja.
Otaknya berpikir cepat. Sesaat kemudian, senyum kecil terukir di wajah cantiknya. Ye Ning mengajak Chuntang untuk berganti pakaian. Ia menyerupai seorang penari lengkap dengan cadar penutup wajah, sedangkan Chun Tang menyamar sebagai ketua kelompok. Bersama-sama, mereka menuju ke tengah kerumunan di gerbang samping kediaman Adipati Zhao.
Melihat pemeriksaan identitas para rombongan demi keamanan. Ye Ning mengedipkan mata pada pelayannya sebagai isyarat untuk memulai.
"Huaaa! Tolong... berikan kami keadilan!" Chun Tang tiba-tiba berteriak histeris sembari pura-pura menangis pilu.
Dalam sekejap, warga sekitar yang penasaran mulai berkumpul. Ye Ning langsung mengambil posisi, memerankan sosok gadis penari yang lemah dan tersakiti.
"Bibi, ada apa dengan kalian?" tanya salah seorang warga. Ya, umpan telah dimakan.
Chun Tang semakin mengencangkan tangisnya, menarik lengan Ye Ning dan berkata sendu "Keluarga Adipati Zhao sungguh kejam! Kami rakyat kecil telah ditindas!"
"Ceritakan saja, Kami akan membantumu menuntut keadilan!" sorak kerumunan yang kian membeludak. Para pelayan kediaman Bai mulai panik karena gagal membubarkan massa.
"Bulan lalu, anakku diundang menari oleh Tuan Muda Bai dengan iming-iming empat puluh tael perak!" racau Chun Tang dengan suara serak.
"Tapi setelah selesai, anakku justru ditahan selama tujuh hari penuh hanya untuk menghiburnya saat bosan! Begitu dia puas, anakku diusir tanpa dibayar satu koin tembaga pun!"
Desas-desus liar langsung menyebar. Masyarakat selalu menyukai skandal bangsawan yang menindas rakyat kecil. Massa yang emosional mulai berteriak anarkis, bahkan melemparkan sayuran busuk ke arah para pelayan kediaman Bai.
Akibat kekacauan itu, rombongan opera terpaksa langsung digiring masuk ke dalam gerbang tanpa pemeriksaan lagi.
Melihat situasinya mulai lepas kendali, Ye Ning dan Chun Tang hendak menyelinap kabur. Sialnya, mereka justru tertangkap oleh pengawal rahasia Tuan Muda Bai.
Tanpa bisa kabur, Ye Ning diseret masuk ke dalam kediaman untuk menghadap sang pelaku eh maksudnya Tuan Muda Bai. Sebelum dibawa masuk, Ye Ning dengan tegas meminta mereka melepaskan Chun Tang. Pria seperti Zhilan tidak akan berani membunuhnya karena latar belakang keluarganya, namun berbeda dengan Chun Tang jika mengikutinya masuk.
Ye Ning dituntun menyusuri koridor menuju ruang kerja Bai Zhilan. Sepanjang jalan, ia sudah menyusun kalimat untuk memaki Zhilan. Namun, begitu pintu ruang kerja terbuka dan sepasang matanya menangkap sosok yang ada di dalam ruangan, seluruh kalimat yang sudah ia siapkan diotaknya mendadak lenyap.
Astaga, siapa pria tampan ini? batin Ye Ning menjerit spontan. Pria berpakaian hitam bermotif benang emas itu sedikit dingin, namun memiliki pesona yang sungguh memikat. Ye Ning Sadarlah! Ingat leluhurmu!
Beruntung bakat aktingnya menyelamatkannya dari tingkah bodohnya. Ye Ning langsung melangkah maju dan duduk di kursi tanpa menunggu dipersilakan.
Tanpa mengatakan apapun, Zhilan menggeser sebuah kotak kayu berisi empat puluh tael perak ke arahnya. Tindakan itu justru kembali menyalakan amarah Ye Ning.
"Kau...!" Ye Ning berdiri, menunjuk wajah Zhilan dengan kesal. Zhilan menarik senyum tipis yang tampan sekaligus ejekan.
"Ini bayaranmu, Nona? Penari? Ah, aku mendadak lupa. Tarian apa yang kau persembahkan untukku selama tujuh hari berturut-turut?"
Ye Ning menggerutu pelan dengan menjawab "Tarian Penghormatan untuk prajurit yang tewas.
"Apa?" Alis Zhilan bertaut.
"Bukan apa-apa," potong Ye Ning cepat.
Lalu melanjutkan "Tuan Muda Bai yang terhormat, saya tidak butuh uang. Kembalikan saja rombongan opera itu. Saya bersusah payah mendatangkan mereka dari Utara."
Zhilan terkekeh, "Kenapa aku harus mengembalikannya? Gara-gara drama kecilmu tadi, kami terpaksa membayar mereka di muka sebesar lima puluh tael perak. Jika kau ingin membawa mereka kembali, tebus dengan seratus tael perak."
Mata Ye Ning membelalak kaget "Kenapa harganya jadi tidak masuk akal?!"
"Harga itu sudah sangat murah, Nona," sahut kepala pelayan yang berdiri di samping Zhilan. Kemudian melanjutkan "Dampak dari keributan yang Anda buat tadi telah mencoreng reputasi kediaman kami. Jika kami membawa masalah ini ke pengadilan, kerugian Anda bahkan tidak akan cukup ditebus dengan seratus tael perak."
Ye Ning terdiam membuka dan menutup mulutnya. Ia harus mengakui kekalahannya hari ini. Bai Zhilan jauh lebih licik daripada yang ia duga. Pada akhirnya, Ye Ning pulang dengan langkah lesu. Tidak ada rombongan opera, dan ia harus memutar otak lagi untuk mencari hadiah pengganti bagi Ibu Suri.
**Ruangan Kerja Bai Zhilan**
Shao Zu memberikan laporan terperinci mengenai kondisi luar kediaman yang perlahan mulai kondusif setelah drama penari fiktif tersebut.
"Tuan Muda, mengapa Anda melepaskan putri dari keluarga Xiao begitu saja?" tanya Shao Zu penasaran.
Zhilan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, senyum tipisi terukir di bibirnya.
"Aku ingat betul, gadis itu adalah cucu kesayangannya pak tua Wen. Jika aku menyakitinya hari ini, menurutmu apakah kaki tuanya itu tidak akan datang untuk merobohkan gerbang kediaman kita besok pagi?"
Shao Zu terdiam, meski tidak sepenuhnya paham, ia memilih menutup mulutnya. Dalam hati ia membatin, mungkin tuannya kali ini hanya sedang tidak ingin mencari perkara dengan Singa Tua Keluarga Wen.