Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.
Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.
Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.
Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.
...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ah Yin Datang Berkunjung
Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Zhang Lin, telah disimpulkan bahwa Zhang Lin tidak mengalami masalah pada bagian kepalanya dan bisa dibawa pulang pada saat itu juga.
Dan setelah menyelesaikan pembayaran, Li Na dan Lin Yi langsung membawa Zhang Lin pulang ke rumah sederhana mereka. Seakan-akan mereka adalah keluarga kecil yang tidak terpisahkan lagi. Semuanya begitu natural terjadi diantara mereka.
Ketika sudah hampir sampai di rumah, langkah kaki mereka bertiga langsung terhenti ketika melihat beberapa mobil mewah terparkir di depan rumah sederhana Li Na. Dan tidak jauh dari tempat itu berdiri seorang wanita elegan dengan rambut yang tertata rapi dan baju yang begitu indah dari kain sutra.
Dia tidak lain adalah, Ah Yin.
"Nona Ah Yin? Sedang apa malam-malam di sini?" tanya Zhang Lin.
Ah Yin berlari ke arah Zhang Lin dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir. Dan pada saat itu Zhang Lin menduga jika mungkin Ah Yin pun tahu apa yang menimpa dirinya sebelumnya.
"Tadi saat aku sedang menikmati tehku, tiba-tiba saja aku mendapatkan telepon dari nomormu. Dan pada saat itu awalnya aku mengira kamu ingin memberitahuku sesuatu tentang latihan yang kita janjikan, tetapi ternyata yang berbicara itu orang asing dan kemudian orang itu mengatakan bahwa kamu terluka. Saat aku sampai di lokasi kejadian... disana sudah tidak ada siapa-siapa. Karena itulah aku datang kemari," jelas Ah Yin.
"Dari mana Nona Ah Yin tahu tentang tempat ini?" tanya Zhang Lin.
"Kamu menulisnya di surat lamaran kerjamu. Dan ngomong-ngomong, bagaimana kondisimu? Apa kata dokter? Kenapa kamu sudah pulang? Kenapa tidak dirawat dulu beberapa hari agar bisa dipantau oleh dokter bagaimana perkembangan dirimu?"
Ah Yin benar-benar penuh dengan rasa penasaran yang ingin dijawab. Dan pada saat itu rasanya Zhang Lin tidak bisa memberikan jawaban dengan berdiri di luar karena pada saat itu udara di luar benar-benar sangat dingin menusuk ke tulang.
"Di sini sangat dingin. Apakah kita bisa berbicara di dalam saja?" tanya Zhang Lin dengan langsung menatap kepada Li Na— meminta izin dari pemilik rumah dahulu tentunya.
Dan setelah mendapatkan izin dari pemilik rumah asli, barulah Zhang Lin mengajak Ah Yin untuk masuk ke dalam rumah sederhana Li Na.
Di sana, ketika Zhang Lin mengobrol bersama dengan Ah Yin, Li Na dengan penuh perhatian mempersiapkan minuman beserta dengan sedikit cemilan untuk Ah Yin.
Dan setelah memberikan sedikit jamuan kepada Ah Yin, Li Na duduk bersama dengan Zhang Lin untuk menemani nona bangsawan itu berbicara.
Namun, tiba-tiba...
"Jadi, apakah ini adalah wanita yang kamu bicarakan itu? Wanita yang tinggal berdua bersama denganmu?" tanya Ah Yin.
Zhang Lin yang terkejut karena tidak menyangka jika Ah Yin akan mengajukan pertanyaan seperti itu hanya bisa membuang muka dan tidak berani untuk menatap langsung kepada Li Na—membiarkan Li Na saja yang memberikan penjelasan kepada Ah Yin.
"Itu tidak benar, Nona Ah Yin!" tegas Li Na.
"Maksudnya?"
"Hubunganku dengan Zhang Lin tidak seperti yang kamu pikirkan itu," jawab Li Na. "Memang benar kami berdua tinggal bersama-sama. Tetapi di sini kami tidak tinggal benar-benar berdua, karena adikku pun juga tinggal di sini bersama dengan kami."
"Benarkah?"
Ah Yin mulai tampak senang ketika mendengar penjelasan detail dari Li Na.
"Iya. Benar. Dan lagi pula hubungan yang terjalin di antara diriku dan juga Zhang Lin itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Karena hubungan diantara kami berdua itu terjalin karena sebuah kecelakaan yang tidak terhindarkan."
Li Na menceritakan semuanya langsung kepada Ah Yin tanpa melewatkan pun sedikit adegan yang ada.
Dan karena menceritakan semua itu kepada Ah Yin, tanpa sadar mereka berdua kini menjadi jauh lebih dekat dan juga menjadi jauh lebih akrab dari yang bisa dibayangkan.
Jika saja pada saat itu Zhang Lin tidak meminta kepada Ah Yin untuk segera pulang kembali ke rumahnya, maka kemungkinan besar malam itu Ah Yin akan menginap di rumah Li Na saking akrabnya mereka berdua. Bahkan mereka juga bertukar nomor headphone.
...
Setelah melihat dan juga memastikan bahwa Ah Yin setelah benar-benar pergi, Li Na dan Zhang Lin kembali masuk ke dalam rumah sederhana mereka sambil menikmati oleh-oleh mahal yang diberikan oleh Ah Yin.
"Ini adalah pertama kalinya bagiku mendapatkan seorang teman orang kaya seperti, Ah Yin. Dan ini semua bisa terwujud berkat dirimu, Zhang Lin. Terima kasih."
Li Na benar-benar sangat terlihat senang pada saat itu ketika tahu bahwa dirinya kini telah mendapatkan seorang teman kaya raya seperti, Ah Yin.
"Apakah memiliki teman orang kaya itu adalah hal yang bagus?" tanya Zhang Lin polos.
Li Na memukul pundak Zhang Lin keras. "Dasar bodoh! Dan tentu saja itu adalah hal yang bagus. Memiliki teman orang kaya itu adalah anugerah paling indah. Karena pada saat kamu memiliki teman orang kaya, maka kamu akan sering mendapatkan hadiah mewah dan juga mahal seperti ini."
Li Na memamerkan kepada Zhang Lin semua hadiah yang dia dapatkan dari Ah Yin. Semua itu benar-benar barang-barang mewah dan juga makanan-makanan mahal dari restoran bintang lima. Restoran yang tidak akan mungkin bisa dimasuki oleh Li Na.
"Semua ini benar-benar harum uang..."
Li Na berbaring di tumpukan hadiah yang ada. Sedangkan untuk Zhang Lin, tidak tahu kenapa, tetapi sejak tadi ia merasa ada sesuatu yang tidak beres!
Perasaan aneh itu terus saja muncul. Dan puncaknya ketika sebelumnya ia bersama dengan Li Na mengantarkan Ah Yin masuk ke dalam mobil yang membawanya kembali pulang ke rumahnya.
"Li Na, coba tolong kamu matikan lampu!" seru Zhang Lin dengan serius.
Namun pada saat itu Li Na tidak menganggap serius apa yang dikatakan oleh Zhang Lin; karena biar bagaimanapun juga wanita itu tampaknya benar-benar tidak mempercayai Zhang Lin.
"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan? Dan untuk a—"
Belum selesai wanita itu berbicara, tiba-tiba saja suara ledakan petasan terdengar beruntun di luar rumah mereka; hal itu benar-benar sangat mengejutkan dan juga sangat menakutkan sampai-sampai membuat listrik yang menerangi rumah mereka padam.
"Aaaaa!!!"
Li Na berteriak karena merasa sangat ketakutan. Dan ketika melihat wanita itu bergetar hebat karena takut, Zhang Lin langsung berlari ke arahnya dan kemudian memeluk tubuh mungilnya dengan erat untuk membuatnya jauh lebih tenang dan juga jauh lebih merasa aman.
Teriakan Li Na tidak berhenti untuk waktu dekat. Teriakan itu terus bertahan sampai suara ledakan dari petasan itu berakhir. Dan tepat ketika mereka ingin memeriksa apa yang terjadi di luar, tiba-tiba saja sosok putih muncul di hadapan mereka berdua dan membuat keduanya sama sama berteria karena merasa kaget.
"Whaaaaaaaa!!!"
...
-Bersambung-