Hana dijodohkan dengan Rendra, kakaknya. Hana pikir dia akan baik - baik saja namun ternyata dia salah. Satu per satu kejadian datang dan menggoreskan luka di hatinya. Dia juga merasa menyesal karena sudah memutuskan Andra, pacarnya. Apakah Hana bisa mempertahankan pernikahannya? Atau dia akan kembali pada Andra yang dia anggap sebagai jodohnya?
Ingin tahu kelanjutannya? Baca cerita ini ya. Semoga menghibur!!!
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febri Siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 30
"Momo!" teriak Hana ketika melihat sahabatnya sudah sampai di kampusnya.
Momo tersenyum lalu menghampiri Hana. "Maaf ya aku telat."
Hana menggeleng sambil tersenyum. "Aku senang banget kamu ambil s2 juga di kampus ini. Jadi kita bisa bareng setiap hari."
"Kalau begitu kamu temani aku ke bagian administrasi ya."
"Siap bos." Mereka berdua pun pergi menuju gedung administrasi kampus.
"Berarti kamu serius mau buka toko kue? Kenapa tidak restoran saja?" tanya Momo. Setelah selesai mengurus berkas yang di perlukan mereka langsung pergi ke kantin.
"Karena aku suka makan kue." Hana tersenyum sembari menunjukkan gigi nya yang tersusun rapi.
"Dasar. Oh iya kamu hutang cerita sama aku."
"Cerita apa?"
"Mengapa kamu tinggal di rumah orang tua mu? Kamu kabur ya dari Kak Ren?" tanya Momo dengan nada menyelidik.
"Sini sini." Hana menyuruh Momo untuk lebih mendekat.
"Kenapa sih?" tanya Momo dengan berbisik.
"Aku akan kasih tahu kamu tapi aku minta tolong supaya kamu tidak berteriak karena terkejut."
"Iya ada apa?"
"Aku akan bercerai dengan Kak Ren." Suara Hana terdengar sangat pelan.
"Apa?" teriak Momo. Dia benar - benar terkejut. Sesaat kemudian dia sadar telah menjadi pusat perhatian dan langsung menutup mulutnya.
"Kan sudah ku bilang jangan teriak. Kalau ada yang dengar bagaimana," gerutu Hana sambil memukul pelan lengan Momo.
"Maaf maaf. Tapi kenapa bisa cerai? Bukannya orang tua mu sangat mendukung pernikahan kalian?"
"Ya mau bagaimana lagi. Kak Ren belum bisa melupakan mantan pacarnya."
"Hana, itu bukan alasan perceraian kalian. Bukankah masih bisa dibicarakan baik - baik?"
"Tapi Ayah sudah tahu kebenarannya dan Ayah mendengarnya langsung dari mulut Kak Ren."
"Jadi maksudmu Ayah yang menyuruh kalian bercerai?"
Hana mengangguk.
"Lalu menurutmu bagaimana? Menurut Kak Ren bagaimana? Ayah tidak bisa asal menyuruh kalian bercerai kalau kalian sendiri tidak ingin melakukannya."
Hana terdiam. "Perkataan Momo memang benar. Sepertinya aku terlalu gegabah dan hanya mengikuti emosi Ayah. Ini kedua kalinya kata cerai ada di antara aku dan Kak Ren. Apa yang harus aku lakukan?"
"Hana." Momo melambaikan tangannya di depan wajah Hana untuk menyadarkan sahabatnya yang sepertinya sedang melamun.
Tuk. Momo menyentil dahi Hana dan langsung membuat gadis itu tersadar dari lamunannya ditambah dengan bonus kesakitan. Hana mengusap dahi nya dengan raut wajah kesal.
"Makanya jangan melamun. Kesamber baru tahu rasa."
Hana menjawab perkataan Momo dengan mengerucutkan bibirnya.
"Apa berkas cerai sudah kamu ajukan?" tanya Momo.
Hana mengangguk. "Nanti siang Ayah akan mengambilnya lalu menyerahkannya pada Kak Ren untuk di tandatangani."
"Siang nya jam berapa?"
"Mana aku tahu."
"Coba tanya Ayah mu."
"Memangnya kenapa?"
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu? Kamu serius ingin bercerai dengan Kak Ren?" tanya Momo.
Lagi - lagi Hana diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia ragu karena hati dan pikirannya terbagi dua. Di satu sisi dia tidak ingin kehilangan kakak lelaki nya dan di satu sisi dia juga tidak bisa hidup dengan Rendra apabila lelaki itu masih berhubungan dengan Ella. Dia tidak ingin ada orang ketiga dalam hubungan mereka atau pun menjadi pengganggu hubungan orang lain. Di tambah keluarganya masih belum memaafkan Rendra jadi kemungkinan untuk mempertahankan pernikahannya akan sangat sulit. Sebuah pilihan yang tak akan bisa untuk di pilih, keluarga atau suami yang belum mencintainya.
"Masih ada waktu untuk pergi ke pengadilan. Kita akan sampai disana sebelum Ayah mu. Bagaimana?" tanya Momo sambil melihat jam tangannya.
"Aku bingung."
"Ayolah. Mana Hana yang aku kenal dulu? Hana yang tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan. Hana yang selalu tahu apa yang terbaik untuk dirinya."
"Tapi sekarang kasusnya beda Mo."
"Sekarang tenangkan dirimu dan pikirkan baik - baik. Aku akan menunggumu disini sampai kamu mendapatkan jawabannya. Pergi atau tidak. Tapi jangan lama - lama karena waktu kita hanya sedikit."
Hana mengangguk dan mencoba mengikuti apa kata Momo.
Jarum jam terus berputar. Momo tetap setia menunggu Hana yang masih diam seperti orang bersemedi. Dia hanya berharap agar Hana bisa membuat keputusan yang terbaik dan tidak ada penyesalan di kemudian hari. Jika ingin yang terbaik tentu saja harus ada pengorbanan.
Hana menghela napas kemudian menatap Momo. Masih ada keraguan dalam dirinya.
"Bagaimana? Kamu sudah membuat keputusan?"
"Ada sesuatu yang bisa aku lakukan tapi ini sangat beresiko."
"Kalau menurutmu itu bisa membuat semuanya jadi lebih baik maka lakukan saja. Aku akan membantumu." Momo tersenyum.
"Kalau begitu temani aku ke pengadilan. Aku harus mengambil berkas itu." Hana berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya.
"Ayo." Momo pun mensejajarkan langkahnya dengan Hana.
#bersambung
ada ekstra part nya kah?
Semangat thor, ceritanya bagus.
Sekalian mau izin promosi thor. Yuk mampir ke cerita aku..
-Kebahagiaan Dari Negeri Gingseng
-Hidup Kembali Menjadi Gadis SMA.
Ditunggu ya....
happy ever after yaa💖
Krna suka Bgt sa ceritax, tetap mnjadi pembaca setia dong... 😍😍