Kanaya Anastasia, harus rela menikah dengan pria yang sudah beristri demi menyelamatkan panti asuhan agar tidak di gusur oleh keluarga Alexander.
Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak, Kanaya hanya di jadikan babu oleh istri pertama yang bernama Bella dan suaminya yang bernama Melvin.
Anehnya, sikap Melvin suka berubah-ubah hingga membuat Naya dilema. Jika tidak ada Bella, sikap Melvin sangat baik pada Naya dan sebaliknya, jika ada Bella maka Melvin akan bersikap jahat pada Naya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.Awas Saja
"Mah,....!" lirih Melvin yang baru saja sadar.
"Melv,....bagaimana keadaan mu nak? apa yang sakit?" tanya Margareta yang sangat khawatir pada anaknya.
Melvin tidak menjawab, pria ini menoleh ke arah Naya yang tertidur sambil duduk di sampingnya.
"Apa Naya baik-baik saja?" tanya Melvin mengusap kepala istrinya.
Naya yang merasa terganggu langsung bangun.
"Kau sudah sadar?"
Naya langsung mengucapkan syukur.
"Kenapa mata mu sembab? berapa lama kau menangis?"
Naya menoleh ke arah mamah Reta.
"Istri mu sejak siang terus menangis, dia sangat takut kau kenapa-kenapa padahal Dokter sudah menjelaskan keadaan mu!"
Senyum Melvin langsung mengembang.
"Kau mengkhawatirkan ku kah?"
"Istri mana yang tidak khawatir di saat suaminya tertembak. Aku ketakutan, tapi kau malah tertawa sekarang."
"Sudah, jangan bertengkar.Sudah hampir pagi, mamah akan pulang sebentar."
Margareta pulang, tinggallah Naya dan Melvin di ruangan ini.
"Mau kemana?" tanya Naya ketika melihat suaminya hendak turun dari brankar.
"Aku ada panggilan ke kamar mandi. Bisakah kau membantu ku?"
Naya langsung membantu Melvin pergi ke kamar mandi. Untung saja luka tembaknya tidak terlalu dalam, Jadi Melvin masih bisa beraktifitas meskipun di dalam hatinya terselubung niat untuk mengerjai Naya.
"Aku akan menunggu di sini," ujar Naya sambil memegang botol infus.
"Jika kau menunggu di luar, kau akan mencabut jarum infus ini. Lihat jarak pintu ke toilet!" kata Melvin membuat Naya bingung. Wanita ini sangat malu jika harus menemani suaminya masuk kedalam toilet.
"Tapi aku....!"
"Naya, aku sudah tidak tahan!" potong Melvin langsung menarik tangan istrinya masuk kedalam toilet.
Naya langsung berbalik badan, wajahnya gugup menahan rasa malu. Ingin rasanya Naya lari keluar ketika mendengar suara percikan air. Melvin hanya buang air kecil, tapi lelaki ini sengaja memperlambatnya untuk melihat reaksi Naya.
"Melv, kenapa lama sekali?" tanya Naya yang sudah tidak tahan lagi.
"Dua menit lagi,...!" canda Melvin.
"Kau ini buang air kecil atau......!" tanpa sadar Naya berbalik badan. Wanita ini terbelalak ketika melihat ujung kepala terong Asia milik suaminya. Untuk yang pertama kali Naya melihat benda itu.
Naya kembali memutar badannya, wanita ini semakin gugup dan jantungnya berdebar sangat kencang.
"Apa yang kau lihat hah?" goda Melvin.
"Melv, cepatlah!" seru Naya, "apa kau tidak malu pada ku hah?"
"Kenapa harus malu? kau istri ku!" tegas Melvin.
Naya tidak mau menanggapi lagi, mereka keluar dari kamar mandi.
"Kenapa wajah mu memerah hah?" Melvin semakin menggoda istrinya.
"Istirahat lah, jangan banyak bicara. Kau masih sakit!" Naya mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah menyelamatkan panti. Jadi, kau harus menepati janji mu!"
"Janji yang mana?" Naya pura-pura lupa.
"Kau bukan anak kecil lagi Naya. Jika kau mengingkar, aku sendiri yang akan merobohkan panti itu." Ancam Melvin membuat Naya tanpa sengaja memukul luka Melvin.
Melvin yang kesakitan langsung mengusap lukanya.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja. Melvin, apa kau baik-baik saja?"
Naya khawatir, panik dan merasa bersalah atas ulahnya.
"Ini sangat sakit, kau sudah memukul luka ku!"
"Aku akan memanggil Dokter!" ujar Naya hendak keluar namun dengan cepat Melvin menahan tangan istrinya.
"Tidak usah, aku masih bisa menahannya!" kata Melvin lagi.
"T-tapi......!"
"Sudah, temani aku saja!"
Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sebenarnya Naya masih sangat mengantuk. Wanita ini pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah.
"Kehidupan seperti apa yang akan aku jalani sekarang?" Naya bertanya di dalam hatinya.
Tidak mendapatkan jawaban, Naya memutuskan untuk keluar.
"Istri ku....!" Panggil Melvin, tanpa sadar Naya menjawab. Melvin tersenyum, tapi tidak dengan Naya yang sibuk membuang pandangannya.
"Berhenti menggoda ku atau ku colok luka mu!" Naya mengancam.
"Sudah mulai berani ya sekarang?" Melvin semakin menggoda.
Naya hanya menarik nafas dalam lalu melirik pintu. Seorang Dokter dan perawat masuk untuk memeriksa keadaan Melvin setelah itu keluar kembali.
Tak berapa lama mamah Reta masuk dengan membawa makanan dan pakaian.
"Naya, ini pakaian mu dan pakaian Melvin. Ini juga ada makanan, makanlah. Kalian pasti lapar."
"Terimakasih mah," ucap Naya.
"Suapi aku cepat, aku lapar!" titah Melvin.
Menurut saja karena ada Margareta. Naya menyuapi suaminya makan, sesekali Melvin menggoda Naya, membuat wanita ini menahan jengkelnya.
"Mamah pergi dulu, masih ada urusan. Jika ada apa-apa hubungi mamah segera ya...!" pesan Margareta sebelum pergi.
Melihat mamah Reta yang sudah keluar dari ruangan, Naya yang kesal langsung meletakan piring di atas nakas.
"Aku masih lapar, cepat suapi aku!"
"Sebenarnya kau ini tidak sakit. Kau hanya mengerjai ku, menyebalkan!"
"Ya sudah, makanan lah. Kau pasti lapar, kalau kau sakit siapa yang akan mengurus kita berdua?''
Naya duduk di sofa sambil menikmati makanan yang di bawa mertuanya. Melvin terus memperhatikan istrinya, membuat Naya merasa risih.
"Kenapa melihat ku terus hah?"
"Kau ini jika di lihat cantik juga. Tapi sayang, galak!"
"Melvin, sekali lagi kau menggoda ku akan ku lempar kau dengan sendok ini," ancam Naya yang sudah kesal.
"Lempar saja hati mu, aku akan menyambutnya!"
Bukannya takut Melvin semakin menggoda Naya.
"Awas saja kau!" seru Naya benar-benar kesal.
Musibah yang di alami Melvin kemarin di manfaatkan pria ini untuk mengusik istrinya.
Sehari dua hari telah berlalu, keadaan Melvin sudah semakin membaik bahkan pria ini sudah di izinkan untuk pulang. Mereka tidak pulang ke apartemen karena Margareta tidak mengizinkannya.
Sementara itu, Amber dan Bella yang saat ini sudah mendekam di balik jeruji besi mulai merasa gelisah apa lagi Johan tidak bisa di andalkan.
"Bagaimana ini bu, sampai kapan kita berada di tempat terkutuk seperti ini?"
Bella mendengus kesal.
"Paman mu yang bodoh itu, jika dia tidak menembak Melvin sudah pasti kita akan bebas!"
"Jadi, apa gunanya pengorbanan ibu selama ini jika kita masuk ke dalam tempat ini."
"Diam kau!" sentak Amber, "semuanya ibu lakukan demi masa depan mu. Bertahun-tahun ibu menyembunyikan masalah ini, kenapa kau hanya bisa menyalahkan hah?"
"Tenang saja bu, masih ada Fredik. Naya, perempuan itu bisa kita jadikan umpan lagi. Melvin itu bodoh, mamahnya juga kalau bergerak sangat lambat. Jadi, kita bisa mengancam mereka menggunakan Naya."
"Jadi, menurut mu Fredik harus menculik Naya. Begitu?"
"Iya bu,...!"
"Ibu akan memikirkan caranya!"
"Cepat bu, aku sudah tidak betah lagi tinggal di tempat seperti ini."
Bella adalah anak yang manja, bisanya cuma mengeluh dan meminta. Amber juga tidak masalah akan hal seperti itu, wanita ini berpikir jika Bella adalah anak satu-satunya, jadi apa pun akan dia lakukan demi kebahagiaan Bella.
Toorrr ayo mangaat dilanjut lagi, seru lhoo ini ceritanya !!!
Forgive but no forget ! 😝