Zeline, Anakku! kalian tidak berhak mengambil nya! Jangan ambil Zeline ku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa gelisah
Stella menelan ludah nya perlahan, mengatur nafas dengan teratur. Memegang genggaman tangan nya yang gemetar. Stella bersikap untuk biasa saja
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan Tuan dan Nona. Kedepannya cafe ini akan lebih baik lagi."
"Bukan hanya meminta maaf saja! Anda harus memecat karyawan bodoh ini!"
"Maaf kan saya, Nona. Biarlah karyawan saya, saya yang handle. Saya sekali lagi meminta maaf atas kesalahan yang ia buat dengan ketidaksengajaan. Tapi, memecat nya itu bukan lah hal yang baik."
"Saya pelanggan di sini bertahun-tahun! Harusnya kalian mementingkan kenyamanan para customer! Kalau anda tidak bisa mengurus pelayan ini biar aku yang memberikan nya pelajaran." Lee ingin menampar waiters yang sudah ketakutan itu, namun Stella dengan berani menahan tahan Lee. Ia juga mengingat kan kepada Lee untuk tidak melakukan kekerasan.
Lee semakin marah, Aska yang sudah tidak tahan pun memilih pergi membawa Lee dengan paksa. Stella menatap kepergian Aska
"Lepasin!" Lee menepis tangan Aska. Aska menatap Lee dengan tatapan yang tidak senang, ia pun mengatakan kepada Lee jika diri nya tidak bisa di atur. Aska akan membatalkan pernikahan mereka.
"Jika kau terus-terusan membantah dan tidak menurut, lebih baik kita tidak jadi menikah! Aku tidak ingin memiliki isteri yang pembangkang!" Aska pun masuk ke dalam mobil, Lee mengikuti Aska masuk ke dalam mobil
Wanita itu memilih mengalah, ia juga meminta maaf kepada Aska atas kelakuan nya tadi. Aska memaafkan Lee. Lee segera memeluk Aska dengan manja
"Terimakasih, Jangan katakan hal seperti itu lagi! Aku mencintaimu!"
"Tolong, jangan bersikap kasar lagi dengan orang lain. Pelayan itu tingkah sengaja, dan dia juga sudah meminta maaf. Jangan membuat ku malu lagi di depan umum, kau juga membantah ku di depan orang banyak. Seakan aku tidak memiliki harga diri sebagai laki-laki."
"Maaf kan aku ya? Aku tadi begitu kesal, sehingga melupakan segala nya. Makan siang kita menjadi berantakan karena pelayan tidak tahu diri itu!"
"Kau memulai lagi!"
"Maaf, Aska. Aku begitu sangat kesal, lihat lah bajuku basah."
"Jangan di perpanjang lagi! Kita akan membeli nya!" Aska meminta supir mengantar mereka ke butik.
********
"Maaf kan saya, Bu. Sungguh saya tidak sengaja," Pelayan itu meminta maaf kepada Stella sambil menangis. Stella memegang pundak pelayan itu dengan penuh kasih sayang, ia pun menatap mata sembab karyawan nya. Tersenyum, dan menenangkan bawahan nya.
"Tidak, apa-apa! Ini semua bukan lah kesalahan mu, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Sudah ya? Kalian bisa kembali bekerja seperti biasa, dan jika ada customer yang seperti itu. Kita hanya perlu meminta maaf saja, jika dia tidak ingin memaafkan kita yasudah. Biar kan dia pergi, jangan pernah menangis oke?"
Stella menyemangati para karyawan nya, ia pun berpamitan untuk kembali ke ruangan. Stella meminta Laras untuk memantau para waiters dan karyawan lainnya. Jangan sampai, para customer memiliki kesempatan untuk menghina karyawan. Laras mengangguk mengerti, setelah itu Stella pun berlalu pergi meninggalkan para pekerja lainnya.
Di dalam ruangan, Stella terdiam. Pandangannya begitu kosong, hari ini setelah beberapa tahun. Mereka di pertemukan.
Ke dua nya seperti orang asing yang tak saling mengenal satu sama lain.
"Kita sangat dekat, namun terasa begitu jauh." gumam Stella, tak sadar air mata nya pun terjatuh, membasahi pipi nya yang manis.
"Aku harus apa?" ingin sekali rasanya Stella mengungkapkan segala nya kepada Aska, namun diri nya tak berdaya.
Begitu juga dengan Aska, di dalam mobil ia hanya terdiam. Memikirkan tentang pertemuannya dengan Stella.
"Cafe itu milik Zidan. Namun, kenapa ada Stella? Apakah Stella bekerja di sana? Atau dia meninggalkan suami nya dan mendekati Zidan karena Zidan sudah sukses?" begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dan pikiran buruk di kepala Aska tentang Stella.
Walau mereka sudah lama bersama, namun Aska juga tidak bisa memahami sifat dari Stella. Ia selalu saja salah paham dengan Stella.
"Sayang, aku lapar sekali." ujar Lee dengan begitu manja, bahkan Lee selalu berbicara di dalam mobil. Aska tidak mendengarkan ucapan Lee. Bahkan, ia juga tidak tahu apa yang Lee katakan. Aska hanya fokus kepada Stella.
Sebenarnya, Lee juga tahu jika manager cafe itu adalah mantan kekasih Aska. Lee pernah melihat gambar Stella di dompet Aska, namun ia berpura-pura tidak tahu.
Baginya, masa lalu Aska bukan lah hal yang penting. Ia hanya ingin, membuat Aska tidak mengingat Stella. Jika Lee membahas atau mengatakan jika ia tahu itu adalah Stella. Apa yang di dapat oleh Lee. Mungkin hanya ada pertengkaran, atau mungkin lebih buruk kehilangan Aska. Lee tidak akan membiarkan itu terjadi.
Lee tahu, jika Aska saat ini tidak memperhatikan diri nya karena sedang memikirkan tentang masa lalu nya. Namun, apa yang bisa Lee lakukan. Ia tidak bisa mencegah Aska berhenti memikirkan Stella. Ia memikirkan cara agar tunangan nya tidak bertemu dengan Stella lagi.
"Sayang, aku sangat kesal dengan waiters itu, aku tidak suka makan di sana. Aku akan mem-blacklist tempat itu dari daftar favorit ku!"
Aska masih terdiam, melamun. Memandangi arah luar jendela, Lee menggoyangkan tubuh Aska, membuat Aska merasa terkejut.
"Ada apa Lee?"
"Kau memikirkan apa? Aku sedang berkata jika aku akan mem-blacklist tempat itu. Aku." belum sempat Lee melanjutkan ucapan nya, Aska membungkam mulut Lee dengan pelan.
"Aku mendengar nya, kau bisa pergi dan makan di mana saja yang kau mau. Apapun yang membuat mu bahagia, lakukan lah. Tidak perlu bertanya, tapi aku minta. Jangan melakukan hal yang sama lagi. Mengerti?"
Lee pun mengangguk, tersenyum menatap Aska. Ia begitu senang karena Aska pria yang sangat baik juga lembut. Apapun yang ia mau dan katakan, Aska selalu mendukung nya. Tidak pernah ada kata tidak atau jangan, tapi kehadiran Stella membuat Lee merasa sedikit tidak nyaman.
Benar saja, karena ia tahu. Stella adalah wanita yang selalu Aska cinta. Ia tidak ingin, jika Stella menggeser posisi nya. Lee sudah menikmati segala fasilitas yang di berikan oleh Aska. Jika dia tidak bersama Aska, mungkin Lee tidak akan bisa hidup dengan mewah lagi.
Lee memang berasal dari keluarga kaya, namun bersama Aska. Ia tidak harus meminta uang kepada Mama dan Papa nya. Dan, paman Lee. Selalu bersikap dengan tidak sopan kepada nya. Melakukan hal yang tidak pantas, Lee tidak ingin tinggal bersama mereka lagi. Ia begitu nyaman dengan apartemen yang di berikan oleh Aska dan mami nya.
kasihan Stella